
Jiara yang merasakan bahwa suaminya menyembunyikan sesuatu pun memutuskan meninggalkanya dan membiarkan Lucas yang akan berbicara sendiri. Biarkan saja Lucas yang nantinya akan datang pada dirinya untuk membicarakan yang terjadi.
Sementara Lucas terus menatap punggung wanita yang dicintainya, wanita yang sudah ia buat hidupnya menderita, dan wanita itu juga yang sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa dengan menghadirkan seorang anak, dan wanita itu juga yang membuat ia ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Karena Jiara saja selama ini berjuang dengan kerja keras untuk bisa memaafkan kesalahan-kesalahan dirinya.
Laki-laki itu segera tersadar dari lamunanya setelah ia menyadari bahwa wanita yang ia perhatikan tidak ada di hadapanya lagi. Jiara menghilang ditelan lorong rumah sakit, dan hal itu menbuat Lucas teringat kembali apa rencananya yang ingin menemui dokter Eka. Setelah bertanya-tanya dengan petugas rumah sakit, akhirnya Lucas tahu di mana ruangan dokter Eka, dengan perasaan yang tidak menentu Lucas pun mengetuk pintu ruangan kerja dokter yang menangani sakit Elin, sebelumnya memang dirinya sudah membuat janji dengan papahnya.
Namun karena pertemuannya dengan Jiara sehingga dia menunda pertemuannya
"Masuk..." Terdengar sahutan dari dalam sana, tanpa menunggu lama laki-laki itu langsung menekan gagang pintu ruanganya dan menunduk dengan ramah sebagaai salam pertemuan, mengingat ini adalah pertemuan pertama Lucas dengan dokter Eka, yang mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya.
Dokter Eka nampak mengernyitkan dahinya, tetapi setelahnya tersenyum dengan ramah, membalas senyum laki-laki tampan yang berdiri di hadapanya.
"Maaf Dok, kalau kedatangan saya mengganggu jam istirahat Anda. Saya Lucas sodara Elin pasien Anda, sebelumnya kami sudah membuat janji dengan papah Eric, tapi maaf baru sempat datang," ucap Lucas dengan senyum yang ramah, dokter Eka buru-buru menggelengkan kepalanya dan senyum teduh pun si berikan dari wanita paruh baya itu.
"Tidak sama sekali, silahkan duduk Lucas, kebetulan sudah saya tunggu kedatangan kamu dari tadi," balas Dokter Eka dengan ramah.
Lucas pun mengikuti ucapan dokter Eka duduk di kursi berhadapan dengan dirinya. "Maaf Dok tadi ada urusan mendadak, jadi sudah di tengah perjalanan ke mari harus di tunda dulu."
"Tidak masalah, gimana apa kamu sudah tahu kondisi Elin?" Lucas langsung menjawab dengan anggukan yang sangat yakin.
__ADS_1
"Saya tahu Dok, itu sebabnya saya datang ke sini untuk memeriksakan diri dan juga besar harapan saya agar saya bisa membantu Elin, sodara kembar saya." Suara Lucas terdengar bergetar dan itu menandakan bahwa dirinya memang sangat serius dengan niatanya.
"Semua anggota keluarga sudah setuju?" tanya Dokter Eka lagi, sebenarnya tidak terlalu penting sih, yang terpenting adalah apa yang dilakukan Lucas itu atas kesadaranya sediri bukan karena paksaan dari orang lain. Namun untuk mengantisipasi hal buruk terjadi sehingga dokter Eka harus memastikan semua izin Lucas setidaknya kantongi.
Laki-laki itu langsung menunduk. "Saya ingin Anda merahasiakan pada keluarga saya, hanya Papah yang tahu niat saya, dan yang lain saya harap mereka tidak tahu, terutama Elin."
Dokter Eka cukup lama diam dan seolah ia tidak setuju dengan ide Lucas itu.
"Kamu tahu, kalau donor hati tidak semuanya berhasil, meskipun sejauh ini banyak yang sudah berhasil, tetap tetap akan ada resiko yang diterima terutama bagi pendonor dan penerima. Bisa saja ada penolakan transplantasi, bagi penerima, atau justru bagi pendonor yang kondisi tubuhnya tiba-tiba drop di tengah-tengah operasi misal pendarahan tiba-tiba dan efek yang buruk lainnya, itu sebabnya lebih baik kamu bicarakan dulu dengan keluarga kamu. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti pada saat proses transplantasi. Tentu saya sebagai dokter akan berusaha semaksimal mungkin, dan berdoa agar hal semacam itu tidak akan terjadi, karena pasti kami juga akan menanggung resikonya, tetapi untuk antisipasi hal itu terjadi lebih baik bicarakan pada keluarga kamu."
Dokter Eka berbicara dengan sangat pelan dan lembut agar Lucas memikirkan resikonya setidaknya keluarganya tidak menuntut, apabila sesuatu terjadi pada Lucas.
"Kamu punya keluarga, istri atau anak?" tanya Dokter Eka lagi. Lucas pun menjawan dengan anggukan.
Lalu dokter Eka, menggelengkan kepalanya dengan wajah pasrah. "Bicarakan ini dengan istri kamu, kalau beliau mengizinkan saya akan bikin surat pernyataan dan akan kami lakukan prosedur lanjutan untuk mengetahui organ hati Anda sehat atau tidak.
Seketika tubuh Lucas merasakan lemas. "Saya tidak ingin membuat istri saya terbebani dan terfikirkan dengan ini semua, Dok."
"Iya saya paham Lucas, tapi asal kamu tahu nanti juga dia akan tahu, dan dia akan merasa lebih kecewa ketika dia tahu tindakan kamu, karena tidak diberitahu akan rencana kamu, yang ada istri kamu merasa kalau kamu tidak butuh dukungan dari dia. Bicarakan baik-baik setelah itu kamu dan istri kamu datang ke sini, langsung kita lakukan pemeriksaan, dan apabila semuanya ok, besok kita akan langsung adakan transplantasi karena Elin sudah sering merasakan sesak dan nyiri di ulu hatinya itu tandanya sakitnya sudah semakin parah."
__ADS_1
"Lagi, Lucas hanya pasrah dan itu tandanya ia harus jujur pada Jiara.
"Tunggu, apa kamu pernah mengalami sakit bawaan, misal jantung, atau yang lainya?" tanya Dokter Eka hanya memastikan sedangkan sebelumnya Eric sebagai ayahnya sedah memberikan konfirmasi bahwa Lucas tidak memiliki pernyakit bawaan.
(Eric, Lucas, dan yang lainya sudah tahu, bahwa sakit jantung bawaan yang dulu dokter katakan pada Eric ketika Lucas baru lahir, yang memicu perceraian di antar Eric dan Darya adalah sebuah sabotase, alias kebohongan yang direncana agar Eric dan Darya berpisah.)
Lucas menggeleng dengan yakin, berharap besar bahwa setelah pemeriksaan nanti dia tetap bisa melakukan donor, meskipun di adalah pengonsumsi al-ko'hol.
"Ok kalau gitu kamu rundingkan dengan istri kamu, saya tunggu secepatnya, makin cepat Elin juga semakin besar kemungkinan untuk sembuh."
Sengaja dokter Eka berbicara seperti itu agar Lucas cepat membicarakan pada istrinya. benar saja Lucas langsung beranjak bangun, tetapi dia tidak menemui istrinya. Malainkan tangannya merogoh ponselnya dan langsung menghubungi Lexi.
Lucas pikir dirinya tidak harus meminta izin sana dan sini mengingat donor hati yang terpenting atas dasar kemauan sendiri. Namun salah dia harus izin dengan Jiara, bahkan belum izin saja ia sudah memikirkan bagaimana cemasnya Jiara nanti.
Memang yang dipikirkan oleh Lucas benar, biasanya prosedur donor organ tubuh memang yang terpeting adalah kemauan dan keikhlasan dari pendonor sendiri, tetapi berbeda dengan yang terjadi pada Lucas sebagai sodara kembar penerima. Dokter Eka hanya tidak mau apabila terjadi apa-apa nantinya dia dipersalahkan.
Apabila keluarga tahu terutama istri justru akan menjadi penguat untuk pasien dan pastinya keinginan untuk sembuh akan semakin besar.
"Huh, maaf Jiara semoga nanti kamu tahu dan bisa memaklumi berada di posisi aku yang ingin memberikan kesembuhan untuk Elin."
__ADS_1