Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode bab 221


__ADS_3

Dokter menatap Jiara dan juga Eric bergantian dengan Darya juga, di mana saat ini Darya hanya duduk dengan pasrah. "Saya hanya kasih kesempatan enam jam untuk kalian berusaha menarik kembali jiwa Tuan Lucas yang sudah terlepas dari jasadnya, tetapi apabila dalam waktu enam jam tidak ada perubahan terpaksa kami akan tetap melepas alat-alat itu, karena alat itu hanya akan menyakiti tubuh Lucas yang sudah menyerah untuk bertahan hidup."


Jiara pun mengangguk dengan pasrah. "Saya tahu Dok, saya akan berusaha dengan baik memanfaatkan waktu enam jam yang Anda berikan." Jiara menatap Eric bergantian dengan Darya. Di mana di mata mereka ada sedikit gurat kebahagiaan. Itu tanda mungkin akan ada keajaiban.


Meskipun tidak yakin, tetapi Jiara akan tetap berusaha demi putrinya yang sampai saat ini masih belum mengerti apa yang terjadi dengan papahnya. Jiara kali ini menatap pada Eric dan Darya yang masih terisak ketika mendengar ucapan dokter Handoko. Harapan mereka untuk berkumpul kandas sudah, yang ada saat ini mereka harus berusaha agar keajaiban itu datang, dan juga bersabar, dan ikhlas.


"Pah, Mah, kalian masuk duluan yah. Jia belum siap," ucap Jiara dengan tubuh duduk lemas di kursi yang bersebrangan dengan ke dua mertuanya. Sementara Zakia sudah mau bersama suster Tini, ketika baru turun dari mobil melihat wahana permainan di lantai bawah. Zakia mau turun dan  bermain dengan suster-nya.


Eric menatap Jiara yang sedang bersedih. "Kamu yakin kami yang duluan masuk ke dalam?" tanya Eric, tidak tega tentu dengan Jiara yang tampak tenang, tetapi tidak dengan hatinya yang pasti hancur, memilkirkan bagaiaman ia melewati hari tanpa suami membuat dia sangat sesak dadanya, belum cara memberitahukan pada Zakia akan kenyataan ini. Mungkin kalau dia tidak malu wanita itu sudah menangis menjerit di tempat itu juga.


Jiara kali ini juga menatap pada Eric dan mencoba mengembangkan senyum terbaiknya. Meskipun bibir tersenyum tetapi tidak dengan hatinya yang menangis sesak. "Jia yakin Pah, Mah, Jia ingin menenangkan pikiran ini dulu."


"Baiklah kalau gitu kami masuk dulu. Papah berharap besar semoga di waktu enam jam ini Tuhan benar-benar berbaik hati dan memberikan kesempatan untuk Lucas kembali, dan memperbaiki kesalahanya dan menjaga kamu dan Zakia." Eric melihat Jiara yang menunduk dan menggigit bibir bawahnya hatinya semakin sakit.


Wanita berhijab itu masih sangat berharap kalau apa yang terjadi saat ini adalah mimpi buruknya, dan ketika ia bangun Lucas memberikan senyum terbaiknya memberikan kecupan mesra di keningnya dan memberikan ucapan-ucapan cintanya. Namun, takdir begitu kejam membuat sekenario yang sangat buruk ini.


"Mah, kita bertemu Lucas yah. Anak kita pasti sangat rindu dengan Mamah," ucap Eric sembari membantu Darya yang masih lemas untuk  berdiri.


Darya dan Eric pun masuk ke dalam ruangan yang mana sangat dingin, di mana putra mereka tertidur untuk selamanya dengan alat medis yang masih membantu untuk bertahan hidup memaksa alat-alat vitalnya bekerja sementara dalam kenyataanya alat-alat vital sudah berhenti beroperasi.

__ADS_1


"Darya duduk di kursi yang Eric ambil sementara dirinya memilih berdiri di samping Lucas tangan Eric membelai rambut laki-laki yang nampak pucat dan tambah kurus. Tangan Eric membelai rambut Lucas yang lepek.


"Nak, ini Papah dan Mamah ada di samping kamu. Papah sangat kaget ketika dokter mengatakan kamu sudah menyerah berjuang untuk tetap hidup. Nak, ingin rasanya papah marah sama Tuhan, karena rasanya papah tidak memiliki kesempatan untuk menjaga kamu, untuk menujukan pada kamu bagaimana sayangnya papah sama kamu." Eric terisak dan menghentikan kata-katanya tenggorokanya sakit, dan sangat sakit ketika ia kembali teringat bahwa yang saat ini ia ajak untuk bercerita dan membagi keluhnya adalah tubuh yang tidak ada penunggunya, jiwanya telah terlepas dari tubuhnya.


Begitupun dengan Darya ketika mendengar suaminya terisak wanita paruh baya itu pun semakin terisak sembari memeluk tubuh sang putra. "Nak, apa salah mamih, kenapa kamu tinggalkan mamih. Nak, mamih berharap kamu sembuh dan kamu menyuapi mamih seperti saat mamih sakit. Nak, bangunlah, mamih sangat sayang sama kamu. kamu adalah anak terhebat mamih. Kamu memang bersalah, tetapi kamu adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab, kamu juga abang yang bertanggung jawab, kamu mau mengakui kesalahan kamu dan berusaha menebusnya, tetapi tidak dengan nyawa kamu Nak. Mamih kehilangan kamu."


Eric yang sedang sedih pun memberi dukungan pada sang istri tercinta. "Mamah yang kuat yah, Lucas pasti tahu kalau kita sangat kehilangan dia."


"Nak, Papah sempat berjanji kalau kamu sembuh dan papah akan mengajak kamu untuk mengunjungi kampung halaman kita dulu. Agar kamu tahu bagaimana kita berjuang bagaimana kita hidup dalam ke sederhana tetapi bahagia. Ayo buktikan kalau kamu anak yang kuat dan hebat. Papah janji kalau kamu sembuh, kita akan berlibur untuk beberpa hari dan papah akan mengajak kamu untuk bermain di sawah, seperti dulu Elin lakukan. Dia adalah anak yang sangat senang bermain di sawah dengan bermain layangan, dan rumah-rumahan di tengah sawah saat kemarau. Kamu pasti tidak pernah merasakanya. Itu permainan yang sangat Elin sukai dan kamu wajib mencobanya."


Eric dan Darya terus berbicara, mengajak berkomunikasi dengan sang putra, meskipun kesempatan untuk bangun sangat kecil, yang terpenting hati mereka bisa lega dengan cara mengajak ngobrol pada putra mereka.


Sementara di luar ruangan otak Jiara terus berputar bagaimana caranya dia memancing agar Lucas kembali bangun.


Namun, baru beberapa langkah, wanita berhijab itu langsung berhenti. "Tapi bagaimana kalau justru kondisi Elin juga memburuk setelah tahu kabar ini." Jiara kembali meletakan bokongnya di kursi yang lain.


"Ya Tuhan tunjukan kekuatan untuk aku, mana yang harus aku lakukan," jerit Jiara dalam batinya. Jiara kembali termenung menatap kosong lalu lalang orang-orang yang ada di hadapanya.


"Tapi bukanya Elin juga nantinya akan tahu kalau Lucas adalah pendonor hatinya, dan juga dia sudah tidak ada. Hanya waktu yang akan membuka semua fakta ini," batin Jiara, dalam pikiranya ia kembali berdoa pada Tuhan, agar diberikan kekuatan untuk dirinya mengambil keputusan.

__ADS_1


Dengan tubuh yang ragu, Jiara pun tetap mengayunkan kakinya menuju kamar Elin. Dia yakin Elin pasti sudah kuat untuk menerima kabar berita ini tentunya dia berharap dengan kejujuran Jiara Elin akan membantu membangunkan Lucas.


Kini tubuh Jiara sudah berada di depan pintu rungan Elin dengan ragu wanita berhijab itu mengetuk pintu rungan  itu.


"Masuk...!!" Suara sahutan dari dalam ruangan, tetapi wanita berhijab itu seperti tidak mendengarnya. Ia masih sama dengan tadi mengetuk terus menerus pintu itu. Hingga Lexi yang penasaran pun membuka pintu itu dengan perasaan yang gondok ingin memarahi siapa pelaku yang mengetuk pintu kamar Elin terus menerus. Padahal Elin baru saja tertidur setelah ia mengeluh perasaanya tidak enak.


"Jiara..." pekik Lexi, dengan heran ketika tangan Jiara akan mengetuk pintu lagi.


"Kenapa Ji?" tanya Lexi yang melihat kalau Jiara seperti orang bingung.


"Lex... Lucas sudah meninggal."


Jeduerrr... Lexi pun langsung terkejut, dan berlari meninggalkan Elin yang masih pulas tertidur untuk menuju kamar Lucas. Sementara pandangan Jiara langsung tertuju pada Elin yang sedang tertidur.


"Elin apa kamu tahu di balik tidur pulas kamu, Lucas saat ini menunggu ma'af dari kamu?"


...****************...


Sembari menunggu Lucas benar-benar meninggal atau hanya prank. yuk mampir ke novel baru other, siapa tahu terhibur dengan bambang Felix dan Neng Jojo....

__ADS_1


Dukung karya other yah, masukan boleh ditulis di kolom komentar...



__ADS_2