
Jiara hari ini benar-benar merawat Kia dengan baik, mulai dari membersihkan badanya hingga saat ini hendak menyuapi makan putri cantiknya.
Bohong apabila Jiara langsung bisa dekat dan seolah menerima dengan ikhlas putrinya. Dalam batinya tetap berperang antara benci dan kasih sayang. Terutama mata gadis itu yang sangat mirip dengan laki-laki yang pernah ia lihat ketika memperkosanya.
"Kia, makan yah sayang, Bunda suapin yah," ujar Jiara sembari membuka jatah makan dari rumah sakit.
Zakia nampak meperhatikan makanan yang ada di pangkuan bundanya. "Bunda, makananya tidak enak," lirih anak kecil yang rambutnya di kucir dua itu.
Jiara menatap putrinya yang nampak murung itu. "Kia ingin makan pakai apa?" tanya Jiara mencoba bersikap sabar, dan mengerti apa yang diarasakan oleh Zakia. Putrinya sudah hampir satu bulan berada di rumah sakit tentu bosan dengan menu yang itu-itu terus.
"Sama Ayam yang bunyi kluyuk-kluyuk Bunda," jawab Zakia dengan antusias. Jiara nampak menyipitkan matanya, bingung apa yang putrinya katakan itu.
"Ayam KFC itu loh Nak Jia. Dia pernah lihat anak tetangga makan ayam itu, dan Kia di beri setengah mungkin dia merasa enak dan pengin makan itu lagi." Ambu mencoba menjelaskan apa yang diinginkan oleh anak asuhnya itu. Kembali mata Jiara memanas ketika mengetahui betapa memprihatinkanya anaknya selama ini hidupnya. Meskipun Jiara tidak banyak uang saat ini tetapi ia ingin menuruti apa yang putrinya inginkan makan dengan ayam kriuk-kriuk.
"Ambu apa Zakia boleh makan ayam seperti itu saat ini?" tanya Jiara, mungkin dengan menuruti apa yang Kia inginkan anak itu akan kembali bersemangat untuk berjuang melawan sakitnya.
"Ambu tidak tau sayang, coba kamu tanya sama dokter, takut Ambu juga. Takut tidak boleh."
"Kia, Bunda nanti tanya sama dokter dulu yah boleh atau tidak Kia makan ayam itu, dan kalau boleh nanti Bunda belikan ayam yang Kia mau, tapi untuk saat ini Kia makan yang ini dulu yah," bujuk Jiara.
Anak kecil itu pun akhirnya mengangguk. Jiara pun membalasnya dengan senyuman "Anak Bunda memang pintar," lirih Jiara sembari menghadiahkan ciuman pada buah hatinya.
__ADS_1
Lucas berdiri di ruangan yang security katakan, di kamar itulah Jiara beserta anaknya sedang berada . Entah perasaan apa justru Lucas merasakan dadanya bergemuruh. sangat berat untuk membuka pintu itu dan masuk kedalamnya.
"Kenapa aku justru jadi deg-degan seperti ini. Dan kenapa aku bisa sampai sini, ada apa sebenarnya dengan perasaan ini," batin Lucas heran sendiri dengan apa yang ia lakukan. Namun rasa penasaran dan ingin tahu pun membuat Lucas menekan pintu ruangan di mana anak Jiara di rawat.
Sama halnya Jiara, pandangan pertama Lucas terfokus pada anak kecil yang cantik tetapi terlihat kurus dan juga sedikit pucat. Hatinya teriris ketika melihat gadis kecil yang rambut tipis berwarna coklat di kuncir dua.
"Tuan Lucas?" guman Jiara, tidak menyangka bahwa orang yang membuka ruangan putrinya adalah atasanya. "Gimana bisa Tuan Lucas tahu saya ada di sini?" imbuh Jiara, wanita berhijab itu masih bingung, apakah ini mimpi atau justru ini adalah kenyataan di mana bosnya datang menyusul dirinya.
Lucas jalan masuk ke dalam ruangan itu, pandangan matanya seolah tidak berkedip melihat putri dari sekretarisnya yang sedang sakit. Selang infus menancap di pergelangan tangan sebelah kiri. Gadis itu tengah makan dengan tidak berselera.
Tangan Lucas terulur membelai rambut bocah yang kebingungan, dengan tatapan Lucas yang menakutkan. "Bunda... Bunda takut," lirih Zakia, kedua matanya di pejamkan tidak ingin melihat laki-laki yang menyeramkan itu.
"Tuan Lucas, Anda membuat takut anak saya," ulang Jiara dengan menepis tangan Lucas yang terus membelai rambut Zakia, sedangkan kali ini Zakia sudah di ambil alih oleh Jiara kembali di peluk, bukan hanya Jiara yang heran kenapa Lucas bisa ada di sini, rupanya Ambu pun bingung dengan sosok laki-laki tampan yang berpenampilan rapih, hanya karena tidak ganti baju dari kemarin, sehingga sedikit terlihat kelelahan.
Lucas mengerjapkan kedua matanya, dia baru sadar apa yang dia lakukan. "Maaf Jia, aku suka melihat anak kamu sangat cantik," ucap Lucas dengan masih mengamati Zakia yang kali ini berada di gendongan Jiara dengan wajah bersembunyi di dada bundanya.
"Ngomong-ngomong kenapa Anda bisa ada di sini Tuan, tempat ini bukanya jauh sekali dari Jakarta, tidak mungkin kan tiba-tiba Anda kesasar ke tempat ini?" tanya Jiara dengan tatapan yang cukup sinis.
"Tidak, aku memang dengan sengaja mencari kamu hingga kesini, entah mengapa aku melihat kamu berubah dan pergi tiba-tiba tanpa pamit dan tidak pulang hingga jam kerja berakhir dan ternyata ini jawabannya. Anak kamu sakit danĀ membutuhkan Bundanya," Lucas terus memperhatikan anak yang ketakutan itu.
"Siapa nama anak kamu?"
__ADS_1
"Zakia, di panggil Kia," jawab Jiara dengan singkat, dan wanita berhihjab itu masih penasaran dan tentu heran kenapa bosnya bisa-bisa jauh-jauh datang kesini dengan alasan mencemaskan dirinya. "Apa, Tuan Lucas serius menawarkan diri untuk menikah dengan aku, lalu apa yang harus aku lakukan. Aku sangat butuh uang yang ditawarkanTuan Lucas. Papah dan Kia membutuhkan uang yang banyak untuk pengobatanya, aku tidak mau dua orang yang paling aku sayangin, menyerah dengan sakitnya," batin Jiara termenung ingin ia bertanya pada Lucas apakan penawaran kemarin masih berlaku.
"Jia, kalau Ambu pulang sebentar tidak apa-apakan, Ambu ,mau bawa pakaian kotor untuk di cuci, nanti Ambu balik lagi untuk gantian dengan Jia, jaga Kia," ucap Ambu menyela obrolan Jiara dan Lucas. Dan suara Ambu berhasil mengagetkan Jiara dari lamunanya.
"ya tidak apa-apa Ambu, tidak masalah kok biar nanti Jiara yang jaga Kia, Ambu istirahat ajah di rumah, pasti Ambu juga cape sudah satu bulan ini jaga Kia, terima kasih buat Ambu karena jaga Kia selama Jia tidak ada," balas Jiara dengan mencium tangan Ambu dengan takzim.
"Iya sama-sama, Abu senang juga bisa jaga anak cantik ini. Ambu pulang yah sayang, kamu cepat sembuh. Katanya kalau sudah sembuh mau lihat gajah, nanti kita lihat gajah dan harimau. Kia mau?" tanya Ambu dengan suara yang terlihat sekali sabarnya.
"Mau Ambu, nanti liatnya sama Bunda kan?" tanya si kecil dengan antusias sembari menatap Jiara.
Ambu menatap Jiara, dan di balas anggukan oleh Jiara .
"Iya dong, nanti kan Bunda bareng sama Kia, buat jalan-jalan." Ambu mencoba memberi semangat pada gadis kecil itu.
"Holeh... nanti juga beli ayam yang kliuk-kliuk yah Bun," celoteh Zakia dengan menatap wanita yang di panggil bunda dengan bahagia.
"Tentu Sayang, Bunda akan turuti apa yang Kia mau, tapi syaratnya harus sembuh, dan makanya dihabisin," jawab Jiara dengan sabar.
"Ok deh."
Lucas terus memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu yang terlihat sangat menyayangi. "Kalau memang yang di kataakan oleh laki-laki tadi benar, kalau Jiara adalah korban pemerkosaan dan dia tidak tahu siapa yang melakukanya sungguh jahat laki-laki itu, kenapa mau meperkosa wanita tanpa dosa, kenapa tidak membayar wanita yang siap memuaskan dia di ranjang saja, dari pada memperkosa, membuat hidup orang lain menderita, dan tentu anak ini juga ikut menderita. Pasti laki-laki itu adalah laki-laki miskin yang tidak mau modal untuk sebuah kenikmatan," batin Lucas, pandangannya benar-benar tidak bisa lepas dari Jiara dan Zakia.
__ADS_1