
Ehmz... Elin terbangun ketika suster datang menghampirinya. Matanya terasa berat sekali, entah pukul berapa dia tidur. Itu semua karena dia yang keasikan nguping Arya dan Lexi yang entah pukul berapa mereka tertidur, tetapi ketika Elin bangun Arya sudah tidak ada di ruanganya.
"Apa mungkin Arya sudah pergi? Memang mereka ngobrol sampai jam berapa dan juga apa mereka tidak mengantuk," batin Elin.
"Nona Elin, nanti setelah kita bersih-bersih langsung melanjutkan pemeriksaan yah." Suster mulai membuka pakaian Elin untuk di ganti dan dibersihkan tubuhnya. Sementara Elin sendiri kaget ketika matanya melihat jam di dinding yang menujukan jarum pendem keangka pukul sepuluh dan jarum panjang keangka dua.
"Astaga apa aku terlalu lelap tidurnya," batin Elin lagi, entah apa yang terjadi selama ia tertidur hingga ia tidak mendengarnya lagi dan terbangun karena suster yang datang akan membersihkan tubuhnya.
Tidak lama Elin pun sudah segar, dengan pakaian yang bersih, dan Lexi pun masuk dengan wajah yang tampan dan tidak kalah segar. Yah, ternyata Lexi juga baru selesai bersih-bersih. Harum sabun mandi dari tubuh Lexi membuat Elin ingin terus-terusan berada di samping Lexi.
"Kamu udah bangun." Lexi meletakan makanan yang baru saja ia beli di atas lemari kabinet. Mungkin Elin bosan dengan makanan rumah sakit, makanya Lexi sengaja beli untuk Elin juga. Toh kalau Elin tidak mau masih bisa diberikan pada yang lainnya.
Elin sendiri hanya membalas dengan anggukan kepala dan seulas senyum tipis. "Aku semalam seperti mendengar suara Arya, tetapi kenapa dia tidak ada sekarang, apa itu hanya mimpi?" lirih Elin tidak menjawab pertanyaan Lexi yang sudah jelas-jelas Elin sedang duduk. Atuh sudah bangun, dan mata Elin juga terbuka lebar yang artinya dia juga sedang sadar tidak sedang tidur. Pertanyaan yang aneh memang si Lexi.
"Dia tadi pagi langsung pulang. Memang dia semalam datang untuk menemani aku jaga kamu. Dan juga laki-laki itu terlalu takut kalau aku berbuat apa-apa sama kamu." Lexi duduk di samping Elin dengan membukan makanan yang tadi dia beli.
"Pantas, aku pikir mimpi, tetapi terasa sekali suara Arya yang nyatanya," balas Elin, sudah jelas itu adalah ekting agar Lexi tidak tahu kalau semalam dirinya menguping pembicaraan mereka.
"Kamu makan dulu yah, mau makan yang barusan aku beli atau mau makanan yang dari rumah sakit?" Lexi menunjuk makanan yang tadi dia beli dan tidak lupa juga dirinya menunjuk makanan yang dari rumah sakit.
"Nanti saja aku masih kenyang semalam makan terlalu banyak," tolak Elin dengan membekap mulutnya dengan tangannya.
"Tadi dokter sudah datang ke sini, tapi kamu masih tidur dan beliau mengatakan nanti pukul sebelas kamu harus sudah siap untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, dan dokter juga bilang ada kemungkinn untuk menjalani operasi hari ini juga." Lexi kembali membuka makanan yang ada di hadapanya.
Sontak saja Elin langsung melotot. "Apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Elin masih tidak percaya.
"Apa aku kelihatan pembohong? Jadi kamu mau makan yang mana karena pasti ini sangat menguras tenaga kamu nanti, belum kamu nanti kalau jadi operasi malah akan di minta berpuasa jelas akan lebih butuh banyak tenaga."
Elin pun melihat menu yang ada di depan Lexi untuk memilih makanan yang ingin dia makan. "Aku mau pake ini saja." Elin menujuk makanan yang Lexi beli. Wanita itu akan buru-buru mengambil makanannya agar Elin makan sendiri, tetapi Lexi lagi dan lagi menahanya.
"Biar aku yang suapin kamu, aku sedang ingin memperbaiki kesalahan aku, aku sangat menikmati peran ini," ucap Lexi dengan menyodorkan satau sendok nasi beserta lauknya.
Elin pun tidak bisa mengelak lagi, ia kembali memberikan kesempatan untuk Lexi menyuapinya meskipun jelas-jelas Elin merasa kurang nyaman. Setelah Elin selesai makan kini bergantian Lexi yang makan dengan lahap.
"Kamu itu makanan kesukaanya apa?" tanya Lexi pada Elin yang nampak diam saja. Lexi yang tahu kalau saat ini Elin sedang tegang makan laki-laki itu mencoba membuka obrolan, agar Elin sedikit lupa tentang keteganganya.
Elin melirik sekilas pada Lexi yang tengah menatapnya penuh damba. "Aku tidak ada makanan favorite semua makanan aku makan," balas Elin dengan enteng.
"Kalau alergi atau pantrangan? Kan kamu dulu pernah menjalani pengobatan yang cukup lama dan serius pasti ada dong makanan yang di pantrang oleh dokter," ucap Lexi tetap fokus dengan makananya.
__ADS_1
Elin kembali mencoba berpikir makanan apa yang kira-kira dilarang oleh dokter, selama dirinya menjalani pengobatan. Namun sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak ada pantrangan apapun. Semuanya boleh di makan asal bukan racun."
Sontak saja Lexi terkekeh dengan jawaban Elin, yang ternyata Elin memang cerita orangnya.
Setelah sarapan Elin dan Lexi langsung menuju ruangan dokter Eki tentu dengan suster yang mendampingi Elin. Wanita itu pun melakukan cek satu persatu, tanpa terlewatkan.
"Lin, kondisi anak kamu sudah siap untuk di lahirkan dan memang HPL kamu hanya tinggal beberapa hari lagi, tetapi karena berat badan anak kamu dan semuanya sudah aman, kamu siap kan kalau hari ini menjalani operasi cesar?" tanya dokter Eki, meskipun sebenarnya dari malam juga sudah yakin kalau hari ini akan lahiran, tetapi demi kebaikan bersama ditunda hingga siang tiba, dan tentu menunggu dokter Eka juga.
Lexi yang sudah tahu kabar ini pun terlihat biasa saja. Laki-laki itu sudah konsultasi dengan dokter Eki sehingga ia tahu kalau hari ini Elin akan lahiran.
Elin sendiri cukup terkejut dengan apa yang dokter Eki katakan. "La... lahiran hari ini Dok, cesar?"
"Iya, kenapa? Kenapa kamu kayak tegang gitu? Apa operasi cesar itu sangat menakutkan?" tanya dokter Eki kembali dengan senyum yang teduh.
Tangan Elin saling bertaut, wanita itu masih ada rasa trauma, dengan serangkaian operasi yang sangat menyakiti tubuhnya dan saat ini di harus kembali menjalani operasi lagi demi melahirkan buah hatinya.
"Apa tidak bisa normal saja Dok? Kalau operasi aku masih saangat takut, dan pasti itu sangat menyakitkan, dalam masa penyembuhanya," ucap Elin dengan nada yang lirih.
Dokter Eki hanya bisa tersenyum samar. "Elin sekarang tegnologi dalam bidang kesehatan semakin maju, bahkan paska operasi saja bisa langsung berjalan. Klau dulu ada rasa-rasa sulit untuk penyembuhanya, kalau sekarang kamu tidak usah khawatir. operasi itu tidak sehoror jaman dulu yah. Jadi kamu tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja."
"Kamu tidak usah khawatir nanti ada aku yang akan temanin kamu," ucap Lexi dan sontak saja Elin menggeleng dengan kuat.
"Baiklah kalau kayak gitu. Aku akan hubungi Om Eric untuk menemani kamu menjalani operasi siang ini." Lexi pun tahu bagaimana perasaan Elin sehingga memilih menghubungi Eric untuk menemani di ruang operasi nanti.
Sementara dokter Eki yang belum begitu tahu hubungan antara Elin dan Lexi pun hanya menyimak saja.
"Kalau begitu. Mari kita siap-siap menjalani langkah selanjutnya sembari menunggu papah kamu datang," ucap dokter Eki, dan Elin pun kembali terdiam, hanya bisa berdoa dalam hatinya agar semuanya baik-baik saja. Dengan gerakan lembut Elin mengusap perutnya di mana sejak tadi buah hatinya seolah tahu kalau ia akan lahiran dan di dalam sana sudah sangat antusias berjingkrak-jingkrak ingin segera keluar.
[Hallo, ada apa Lex?] tanya Eric, baru saja sambungan telepon Lexi terhubung Eric sudah kangsung mengangkatnya.
[Om Eric saat ini di mana?] tanya Lexi basa-basi terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya.
[Ada di kantor, ada apa sih Lex, kenapa om jadi deg-degan begini?] cecar Eric tidak perduli saat ini ada di dalam ruangan meeting. Eric langsung tidak fokus dengan pekerjaanya.
[Om, apa bisa datang ke rumah sakit saat ini?]
Deg! Jantung Eric seolah langsung berhenti berdetak, ketika mendengar apa yang Lexi katakan. [Rumah sakit Lex, ada apa dengan Elin?] tanya Eric, dengan suara yang sedikit terdengar berat itu.
[Om, jangan panik yah. Elin baik-baik saja kok. Elin saat ini mau melahirkan. Barusan Elin bilang kalau ingin di temanin oleh Om, makanya Lexi telpon Om Eric.] Lexi berusaha menjelaskan dengaan baik-baik agar Eric di sebrang telepon tidak berpikiran buruk.
__ADS_1
[Lahiran. Elin mau lahiran? Apa kondisinya baik-baik saja?] tanya Eric seolah ia masih belum yakin kalau kondisi putrinya baik-baik saja.
[Om Eric jangan khawatir. Elin baik-baik saja dan saat ini kondisinya sangat baik. Elin hanya ingin ada Om di sampingnya saat ini.]
[Baiklah Om akan ke sana sekarang akan menemanin Elin.]
Eric langsung memutuskan sambungan teleponya secara sepihak dan menatap rekan bisnis yang lain yang sedang meeting bersama dengan dirinya. Eric langsung meminta Jaxtion untuk menggantikan tugasnya. Tentu Eric tidak lupa menjelaskan kenapa tiba-tiba dirinya pergi dari ruang meeting itu. Dan tidak lupa juga banyak yang mendoakan agar putrinya lancar dalam menjalani operasinya.
Sesuai yang di minta oleh Elin, bahwa Lexi tidak dulu mengabarkan kabar bahagia ini, pada keluarga yang lain. Sesuai yang di minta Elin bahwa ia ingin hanya sang papah dulu yang menemaninya untuk menemaninya dalam proses persalinan yang pertama ini. Tegang itu yang saat ini Elin rasakan oleh sebab itu dirinya meminta Eric yang menemaninya karena hanya Eric yang bisa membuat perasaanya tidak tegang lagi.
"Aku sudah telpon Om Eric, dan saat ini Beliau berkata sedang datang ke mari," ucap Lexi dengan mengusap punggung tangan Elin, untuk mengurangi keteganganya.
Sementara itu Elin hanya membalasnya dengan anggukan. Wanita itu berusaha membuat perasaanya kembali tenang. Ia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pandangan pata Lexi berpindah ke perut Elin yang saat ini sudah berganti dengan pakaian operasi. Tangan kekar Lexi mengusak perut yang buncit itu, hingga sekujur tubuh Elin meremang.
"Sayang, Papah tahu kamu pasti saat ini sedang bahagia, karena sebentar lagi kita akan bertemu. Dan papah minta agar kamu kuat dan jangan sakiti Bunda yah. Kamu anak pintar pasti semuanya akan baik-baik saja," ucap Lexi dengan merasakan bahwa bayinya seolah tahu dengan apa yang ia katakan, hal itu terlihat dari tangan Lexi yang merasakan bahwa buah hatinya menendang-nendangnya.
"Kamu yang kuat yah, aku tahu kamu wanita kuat pasti bisa melewati ini semua." Kini pandangan Lexi terfokus pada Elin yang tengah tegang. Dan Elin hanya membalasnya dengan anggukan dan senyum tipis.
Tidak lama pun Eric datang dengan wajah memerah, dan nafas tersengal. Elin dan Lexi langsung teralih fokusnya pada laki-laki yang masuk dengan tergesa. Terlihat segurat kecemasan dan juga ada garis bahagia dari wajah paruh baya Eric.
"Papah... Elin senang Papah cepat datangnya. Elin takut nanti di dalam sana hanya seorang diri," adu Elin dengan suara yang terdengar lirih dan iba.
"Papah akan terus ada di samping kamu hingga memastikan kalau kamu akan baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba kamu menjalani operasi ini?" Mata Eric awas menatap Elin bergantian dengan Lexi, untuk meminta jawabanya.
"Dokter menyarankan agar operasi cesar secepatnya pasalnya Elin sering pusing dan berhubung kondisi bayi sudah cukup kuat untuk lahiran dan juga semuanya aman, dokter menyarankan lebih baik lahiran sekarang, toh HPL paling hanya menghitung beberapa hari lagi." Lexi yang mengambil alih pertanyaan dari Eric. Meskipun dalam batin Lexi ada perasaan takut kalau ia berbohong, tetapi Elin yang lagi-lagi meminta agar Lexi jangan dulu menceritakan kondisinya
Padahal Lexi dan Elin merahasiakan kondisi tubuhnya keluarganya akan segera tahu.
"Syukur lah kalau tidak ada sesuatu, om hanya takut kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam kehamilan Elin, sehingga memaksa Elin lahiran lebih awal." Eric seolah tahu apa yang terjadi di antara Elin dan Lexi.
Deg! Jantung Lexi seolah berhenti memompa darah, hal yang sama pun Elin bisa rasakan.
"Maafkan Elin, Pah. Elin melakukan ini semua agar Papah jangan bersedih," gumam Elin dalam batinya.
"Maafkan Lexi, Om.Kami melakukan ini semua demi kebaikan bersama.
...****************...
__ADS_1
#Mampir Ke karya others yang baru juga Yah judulnya DINIKAHI ANAK KONGLOMERAT🙏🙏🙏