
Cukup lama Elin mengajak ngobrol sang kakek sembari dalam hati yang paling dalamnya wanita itu ingin kalau kakeknya akan sadar sama halnya saat ia berbicara dengan Lucas. Namun sayang sudah lebih dari dua jam Elin bercerita dan juga dia sudah membahas apapun itu mengenai dengan perasaanya yang telah memaafkan semua kejadian buruk yang menimpanya, tetapi Philip juga tidak kunjung sadar. Sehingga Elin pun memutuskan untuk pulang dan juga berharap kalau sang kakek bisa bangun untuk menjadi saksi bahwa ia dan Lucas sudah berdamai. Wanita itu sudah memutuskan akan membuka lembaran baru, berdamai dengan semua yang telah terjadi dan memaafkan semua pelaku kejahatan padanya. Kemarahan hanya akan membuat dia semakin terpuruk.
"Gimana Sayang?" tanya Darya begitu Elin ke luar dengan wajah sedihnya.
"Kakek masih ingin istirahat Mah. Padahal Elin sudah memaafkan Kakek," jawab Elin dengan wajah yang sedih. "Apa Kakek marah dengan Elin?" tanya Elin, ada rasa bersalah kenapa ketika kakeknya masih sehat Elin tidak juga mengatakan kalau dia sudah memaafkan perbuatan kakeknya, tetapi ketika semuanya sudah seperti ini Elin hanya diselimuti dengan rasa penyesalan. Meskipun kejahatan Philip sangat jahat tapi Elin sudah mulai membuka hati untuk berdamai.
"Tidak apa-apa kamu pulang saja kasihan Eril pasti nungguin kamu. Untuk Kakek kamu jangan lupa doakan Kakek terus yah, dan biarkan Kakek, di sini dengan mamah," ucap Darya, mana tega Darya membuat Elin menyesal seperti itu sedangkan memang kata dokter juga ketika kondisi sudah tua maka akan sangat banyak kesempatan untuk sakit, seperti yang dialami oleh Philip.
Seperti yang dikatakan oleh Darya Elin pun langsung menurut saja, pulang karena Elin juga sebenarnya sudah sangat kangen dengan putranya.
"Ngomong-ngomong Eril sekarng sudah bisa apa yah?" tanya Elin seolah wanita itu sudah tidak sabar untuk tburu-buru bertemu dengan Eril putranya.
"Sepertinya dia sudah bisa manjat pohon," jawab Lexi dengan sedikit berkelakar, sontak saja Elin langsung terkejut dengan ucapan Lexi.
"Gila kamu yah, anak belum lengkap usia empat puluh hari masa bisa panjat pohon," protes Elin dengan mata yang melotot pada Lexi. Namun justru laki-laki itu tertawa dengan renyah.
"Ya kali Lin anak usia dua minggu bisa apa selain nangis dan teriak-teriak karena haus dan lapar. Tapi senyum dia aku rasa bakal seperti aku yang manis," imbuh Lexi mulai narsis.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kalau manis dan tampanya, asal jangan kelakuanya saja mirip kamu, bisa gila aku kalau kelakuan mirip kamu," dengus Elin, untuk membayangkan saja dia tidak mau.
"Jangan lah Lin, biar aku saja yang seperti ini dan juga jangan sampai Eril menuruni sifat buruk aku. Menyesalnya sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak," balas Lexi dengan wajah yang serius.
Elin langsung menatap pada Lexi dengan serius. "Apa iya kamu sampai tidak bisa tidur nyenyak karena sebuah penyesalan?" tanya Elin, wanita itu tidak menyangka kalau memang seorang pendosa atau penjahat pun bisa merasakan tidur tidak nyenyak.
"Yah, tentu aku bahkan merasakan tidur tidak bisa nyenyak membayangkan kalau kamu akan marah dan masih banyak lagi, kalau tidak percaya kamu bisa tanya Lucas, aku rasa dia juga merasakan hal yang sama dengan aku," balas Lexi.
"Yah, aku mencoba mengerti hanya sedikit kaget saja, aku berpikir kalau orangĀ seperti kalian tidak akan merasakan hal itu, bagaimana ketakutan dialam bawah sadar. Hingga mimpi-mimpi kita hanya ada kegelapan," ucap Elin, meskipun hal itu sudah dilalui dan Elin mencoba melupakannya, tetapi Elin masih sesekali terbawa mimpi yang mengerikan.
Mereka pun masih terus bercerita satu sama lain, hingga tidak terasa mereka kini sudah sampai di depan rumah mewah Philip.
Elin langsung jalan dengan sedikit tergesa, ketika kendaraan roda empat yang Lexi kemudikan sudah berhenti, bahkan wanita itu sepertinya lupa kalau dia saat ini baru pulang dari rumah sakit. Elin benar-benar ingin cepat-cepat bertemu dengan putranya.
"Eril.... Eril... Bunda pulang," pekik Elin dengan suara cemprenya. Tentu suster yang menjaga Eril sudah di kabarkan kalau Elin akan pulang hari ini, sehingga Eril juga sudah di dan-danin dengan pakaian yang lucu dan terlihat tampan dan sangat menggemaskan, tetapi rupanya jadwal Elin yang terlalu siang bahkan sudah masuk sore membuat penampilan Eril kembali ke anak bayi pada umumnya, hanya memakai kaus dalam yang tipis dan celana kolor bayi dan yang mengemaskanya lagi bocah bayi itu masih pulas tertidur.
"Oh, ya Tuhan, kamu lucu sekali Sayang," ucap Elin dengan terisak ketika melihat Eril tidur dengan pulas udah gitu wajah polos saat tidur membuat Elin ingin segera membangunkanya.
__ADS_1
"Sus, apa Eril sudah cukup lama tidurnya?" tanya Elin dengan pengasuh putranya.
"Sudah Nyah, dan sekarang juga kalau Nyonyah mau dibangunkan tidak apa-apa," balas suster Silvi yang menjaga Eril, dan Elin pun langsung mengusap-usap pipi mulus putranya, dan dengan lucunya Eril membuka matanya sebelah seolah tengah mengintip siapa yang kira-kira mengganggunya. Belum juga bibir Eril langsung monyong yang seolah dia ingin protes pada orang yang mengganggunya tidur.
Lexi dan Elin pun terkekeh dengan kelakuan putranya itu.
"Coba lihatlah gaya dia tidur itu sangat mirip dengan kamu," balas Lexi dengan menunjuk putranya.
Elin langsung menatap Lucas dengan sengit.
"Bagaimana bisa dia gaya tidurnya sama kayak aku, sedangkan memang bayi itu seperti itu tidurnya," balas Elin dengan bibir meruncing.
"Tuhkan kamu memang sangat mirip dengan putra kita, dari segi bibir dan juga semua yang ada dalam wajah Eril itu ambil dari kamu, bahkan aku sepertinya tidak ada yang mirip sama sekali," balas Lexi dengan mengukur hidung Elin yang kecil daan mungil dengan hidung Eril yang sama.
Elin pun langsung senang dong dengan jawaban Lexi tandanya dia diakui sebagai orang tuanya. "Iya karena Eril memang anakku." Elin yang sudah sangat kangen dengan buah hatinya pun langsung mengangkatnya dan di letakan di pangkuanya setelah beberapa kali Elin mencium pipinya.
"Aku akan temui papah kamu, untuk secepatnya menikahkaan kita rasanya aku tidak kuat kalau lama-lama berjauhan dengan kalian. Aku ingin menjaga kalian." Lexi kembali membahas pernikahan. Memang tadi pagi saat Eric mendatangi kamar Eril, laki-laki itu masih pulas tertidur sehingga tidak tahu kalau calon mertuanya datang mengecek putranya.
__ADS_1
"Hemzz... bukan karena ingin yang aneh-aneh kan? Aku nggak suka dengan pikiran kotor kamu." Elin menatap tajam Lexi, dan dalam pikiran wanita itu masih merasakan gimana jahatnya Lexi Memper-kosanya saat itu.
Lexi hanya menundukkan wajahnya menandakan rasa bersalah.