
Dengan malas Elin bangun dan membuka pintu kamarnya ketika asisten rumah tangganya mengetuk pintu kamarnya, dan berkata bahwa ada tamu yang mencari dirinya. "Ada tamu siapa Bi?" Elin semakin heran pasalnya ia di sini hampir tidak ada kenalan. Tetapi asisten rumah tangganya mengatakan ada tamu.
'Arya dan Marni kalau mau datang pasti kasih kabar dulu, terus kira-kira tamu itu siapa?' batin Elin.
"Den Lexi, Non."
Wajah Elin seketika berubah memerah dan nampak cemas sekali. Gamang antara menemuinya atau justru menghindari. Cukup lama dia berdiri di ambang pintu. Hingga Jiara datang menghampirinya.
"Kenapa Tan (Tante, mengikuti panggilan Zakia) kok kayaknya bingung banget?" tanya Jiara yang akan membutkan susu untuk Zakia.
"Kak." Elin memberi kode agar Jiara masuk ke dalam kamarnya. Jiara pun mengikuti Elin, masuk ke dalam kamar adik iparnya.
"Ada apa sih, kok kayaknya penting banget Tan?" Jiara duduk di atas kasur.
"Di luar ada Lexi, menurut Kakak temuin atau tidak?" tanya Elin dengan wajah yang memohon sebuah jawaban.
Jiara nampak berpikir. "Kamu sendiri gimana siap tidak bertemu dengan dia dan hati kamu gimana. Kalau kamu tanya aku pasti aku jawabnya temui. Karena kalau kakak sekarang perinsifnya anak yah. Kebahagiaan anak nomor satu, kalau tidak ada anak mungkin kakak akan memilih untuk tidak menemuinya."
Elin diam sejenak, dia sebagai anak juga tau rasanya apabila hidup tanpa orang tua yang lengkap, ia sangat ingin orang tuanya bersatu lagi, dan sekarang dia juga akan menjadi ibu dan itu artinya anaknya juga suatu saat akan ingin melihat kedua orang tuanya bersatu. Kalau tidak bersatu belum tentu ada laki-laki yang mau menerima Elin dengan segala kekuranganya, dan juga Lexi pasti akan menginginkan mengasuh anaknya juga, yang ada nanti mental anaknya suatu saat akan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya.
"Kakak mau bikin susu dulu yah, nanti Kia keburu nangis. Udah pengin tidur dia." Tanpa menunggu jawaban dari Elin, Jiara langsung kembali mengayunkan kakinya menuju dapur.
Elin masih terdiam, menetapkan hatinya agar tidak terlihat gugup dan takut menghadapi Elin. Dengan yakin Elin pun akan menemui Lexi. Kenapa ketika papahnya bisa memaafkan semua pelaku, Jiara pun bisa memaafkan Lucas yang dia juga memperkosa Jiara. Kenapa Elin sendiri tidak bisa memaafkan Lexi?
Dengan hati yang yakin, dan Elin pun akan menemui Lexi. Andai Elin bersembunyi terus tidak akan ada selesainya masalah yang dia hadapi sehingga mulai saat ini wanita itu yakin kalau akan memulai perjalanaan hidup yang baru.
Tidak lupa Elin memakai switer. Dengan langkah yang sedikit sulit Elin berjalan menghampiri Lexi yang sedang duduk di taman belakang.
Kelopak mata Lexi tidak bisa berkedip ketika melihat wanita dengan perut buncit berjalan perlahan ke arah dirinya. Ini sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun, ketika Elin mau menemuinya.
__ADS_1
'Kenapa wanita hamil itu auranya cantik sekali ya Tuhan,' batin Lexi, dengan menelan salivanya kasar. Otaknya bahkan memutar hal yang telah berlalu.
Tanpa sadar kini Elin sudah duduk di hadapaan Lexi. Senyum manis terlihat di wajah Lexi, sangat berbeda dengan Lexi yang dulu, yang penuh dengan wajah yang mengerikan dan bengis.
"Terima kasih karena mau menemuiku." Lexi tidak bisa lepas dari pandangan Elin.
Elin mengangguk samar, "Apa ada yang penting, sampai-sampai datang menemui aku?" Suara Elin yang lembut membuat Lexi malah semakin gugup.
"Sebelumnya aku minta maaf baru datang saat ini. Sudah sejak kemarin- kemarin sebenarnya aku ingin menemui kamu, hanya saja aku tidak memiliki keberanian. Aku terlalu pengecut untuk menemui kamu." Kedua mata Lexi terfokus pada perut Elin yang sudah besar, dan juga tangan Elin yang sejak tadi mengucap perutnya, membuat Lexi juga menginginkan hal yang sama. Ingin rasanya mengusap perut Elin juga. Ingin menyapa buah hatinya.
Lagi, Elin hanya mengangguk samar. Bahkan kedua matanya menatap ke tanganya yang sedang mengusap perutnya.
"Sebelum aku ke sini, lebih dulu aku sudah bertemu kedua orang tua kamu, dan mereka meminta aku menemui kamu untuk membicarakan anak kita."
"Apa yang minta agar kamu ke sini adalah Papah? Lalu Papah berkata apa?" Perlahan Elin mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap Lexi yang sama-sama sedang menatap Elin, sehingga kedua mata mereka salin bertemu. Namun buru-buru Elin memalingkan wajahnya kembali.
"Om Elin tidak berkata apa-apa. Beliau hanya meminta aku dan kamu berbicara mengenai anak kita. Terlebih kamu akan segera melahirkan. Om Elic berkata kalau aku harus tahu perjuangan seorang wanita yang sedang melahirkan agar aku tidak lagi memperlakukan wanita dengan kurang ajar. Dan aku sekarang sangat menyesal telah membuat kamu seperti ini."
"Elin, maafkan aku. Izinkan aku menebus kesalahan-kesalahan aku yang dulu. Aku berjanji tidak akan menyakituimu sedikit pun. Aku janji akan membuat kamu dan anak kita bahagia." Lexi terus menatap Elin yang bergeming dalam kebisuanya.
"Aku memang laki-laki brengsek, laki-laki kurang ajar, bejad dan sangat jahat, tetapi aku ingin kamu memberi satu kali kesempatan pada aku, agar aku bisa membuktikan pada kamu, kalau aku layak untuk jadi suami dan ayah untuk kamu dan anak kita," ucap Lexi dengan raut wajah yang sangat serius.
Kali ini Elin mengangkat wajahnya. "Apa kamu juga berkata seperti itu pada Papah dan Mamah?"
Lexi langsung membalas dengan anggukan, "Tapi Om Eric tidak memberikan jawaban, karena yang berhak memberikan jawabanya adalah kamu. Aku bersalah pada kamu. Aku sudah menyesal, dan aku sudah menerima hukumanya."
"Aku sendiri tidak tahu yang kamu ucapan itu benar-benar penyesalan atau justru hanya karena kasihan saja pada aku dan anak ini. Dan aku juga tidak tahu hukuman apa yang kamu maksud." Elin bersikap tenang dan tentu berbeda dengan dulu yang selalu ketakutan.
"Aku sudah mendapatkan hukumanya. Aku pulang ke negara kelahiranku, tetapi selama di sana aku sakit yang harus sampai operasi, dan perasaan bersalah yang hampir setiap saat menghantui aku. Aku sudah menerima hukuman itu Elin, dan sekarang tolong berikan kesempatan satu kali saja aku untuk menebus kesalahan-kesalahku."
__ADS_1
Lexi melakukan ini bukan ingin mendapatkan rasa simpati dari Elin, yang dia lakukan hanya ingin Elin tahu bahwa Tuhan itu adil memberikan hukuman juga pada dirinya.
Elin kembali menunduk dan kembali berpikir, padahal dalam hatinya ingin berkata iya, dirinya akan memberikan satu kali kesempatan lagi, tetapi rasanya bibirnya berat untuk mengucapkan itu semua.
"Aku dengar dari dokter Eki kamu harus menjalani opnam dan operasi kenapa tidak kamu lakukan?" Lexi yang melihat kalau Elin nampak bingung pun langsung mengalihkan dengan obrolan lain.
Wanita dengan perut buncit itu cukup kaget ketika Lexi tahu gimana kondisi kesehatanya. Bahkan dia menyebut dokter Elin, dan berati Lexi selama ini tahu tentang perkembangan sakitnya. "Apa selama ini dokter Eki mengatakan semua hasil pemeriksaan aku? Lagi pula aku baik-baik saja."
"Aku yang meminta dokter Eki mengatakan semuanya tentang kamu ke aku. Karena kesehatan kamu tanggung jawab aku juga. Kamu tidak baik-baik saja, dokter Eki berkata resikonya kalau kamu tidak operasi atau opnam. sakit itu bisa fatal untuk kesehatan kamu. Apa kamu tidak kasihan pada keluarga kamu, orang-orang yang sayang pada kamu, dan anak kamu? Ayolah Elin, semuanya demi kebaikan kamu, kamu untuk sementara istirahat di rumah sakit. Kalau soal operasi pastinya melihat kondisi fisik kamu, apalagi kamu sedang berbadan dua pasti tidak sembarangan."
Ingin Lexi menggenggam tangan Elin untuk memberikan kekuatan. Namun, Lexi takut kalau Elin masih trauma dengan sentuhanya.
Elin sendiri nampak berpikir dengan apa yang Lexi katakan, ia harus kuat setidaknya demi buah hatinya. Kasihan kalau dia harus hidup di dunia ini tanpa seorang ibu.
"Apa aku nanti tidak akan merepotkan Papah dan yang lainya. Elin tidak mau membuat cemas yang lainya."
"Aku bisa merahasiakan apa yang sedang kamu alami, dan aku rasa dokter Eki dan doker Eka bisa diajak kerja sama. Mereka bisa berkata kalau yang kamu alami tidak terlalu berbahaya atau apa alasan apa lah terserah mereka dan mengakibatkan kamu di opnam, agar tidak membahayakan kesehatan kamu dan anak kamu. Nanti aku bisa atur semuanya." Lexi yakin kalau Elin pasti mau untuk menjalani opnam untuk mempersiapkan persalinan dan tentunya operasi yang di sarankan dokter Eki, agar sakitnya tidak semakin parah.
"Kalau di opnam mulainya kapan?" tanya Elin.
"Aku akan tanya dokter Eki, dan kamu tenang saja aku pastikan semuanya baik-baik saja." Lexi pun merogoh ponselnya dan hendak menghubungi dokter Eki.
Ada rasa bahagia ketika Elin mau menjalani pengobatan tidak seperti biasanya akan menolak terus-terusan apabila dokter Eki menyarankan operasi atau perawatan di rumah sakit, Elin selalu alasan semuanya baik-baik saja. Memang penangananya tidak pada saat Elin yang sedang hamil, akan ada tindakan agar sakit yang Elin derita tidak mengganggu perkembangan buah hatinya. Itu sebabnya dokter menyarankan di rawat di rumah sakit. Namun Elin selama ini juga berkata baik-baik saja, tidak mau membuat cemas papahnya dan yang lainnya.
Namun setelah Lexi bujuk akhirnya Elin mau juga di rawat di rumah sakit.
*****
Teman-teman mampir ke novel bestie othor yuk di jamin seru...
__ADS_1