Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 238


__ADS_3

Hari ini keluarga besar Philip kembali merasakan kebahagiaan, di mana di hari ini rencananya sang pemilik rumah akan pulang dari rumah sakit. pesta penyambutan pun sudah di siapkan dari pagi. Darya ingin di sisa umur sang papah wanita itu ingin memberikan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan Philip selama hidupnya.


Wanita itu ingin menunjukkan pada papahnya meskipun dirinya yang jadi korban keserakahan orang tuanya, tapi justru bisa memberikan kebahagiaan yang abadi di sisa usianya. Hubungan Elin dan Lucas pun semakin membaik, bahkan sodara kembar itu sudah bisa bercanda satu sama lain sudah bisa berbuat jahil.


"Lucas, aku titip Eril dong. Sus Rini sedang sibuk," ucap Elin sembari menghampiri sodara kembarnya yang sedang mengasuh putrinya di taman belakang.


"Kamu mau ke mana emang?" tanya Lucas sembari mengambil alih Eril dari gendongan Elin.


"Mandi, dari pagi belum mandi, sibuk!" jawab Elin dengan ketus.


"Dih, pantes bau banget dari tadi. Bunda kamu belum mandi Ril," balas Lucas dengan menimang keponakanya.


"Enak ajah, gue udah mandi, cuma sekarang mau mandi lagi gerah, habis bantu-bantu siapin kepulangan kakek, emang kamu yang dari tadi cuma main doang." Pokoknya kalau ada kesempatan untuk berantem selalu lebih sering digunakan untuk berantemnya dari pada untuk bermesra-mesraanya seperti adik dan kakak sebagai mana mestinya.


"Yeh ini juga kerja, kerja jagain anak. Nih buktinya anak kamu kalau aku jagain anteng." Lucas menujukan Eril yang anteng dalam gendonganya.


"Yah, awas ajah kalau dibikin nangis lagi, aku bakal kirim kamu ke luar angkasa." Elin masih ingat kemarin Eril dibikin nagis karena Lucas.


"Hehe... itu aku kaget doang tiba-tiba hangat ternyata dia ngompol, eh bocahnya merasa bersalah langsung nangis." Lucas kembali mengingat kejadian kemarin yang bikin Eril menangis hingga tersengal-sengal seolah dicubitin oleh omnya.


"Ya udah asuh yang benar karena aku mau mandi, dua hari lagi aku mau nikah butuh perawatan juga. Kamu seharian harus jaga Eril," ucap Elin, sembari berjalan perlahan meninggalkan Eril dan juga Lucas tentunya dengan sepupunya Zakia yang sejak tadi bermain dengan sang papah.


"Papah, ayok dedek bayinya suluh belakang," pekik Zakia di mana bocah itu sedang bermain air sendirian.

__ADS_1


"Jangan dong, nanti Papah dimarahin oleh Tante Elin.


Elin pun dari kejauhan hanya terkekeh ringan. Mendengar percakapan Lucas dan Zakia. Kia memang belum begitu tahu mana bahaya dan tidak bagi dia Eril sama saja suka bermain sama seperti dirinya.


"Ah... akhirnya aku bisa bersih-bersih dengan tenang," ucap Elin sembari menuju kamarnya, wanita itu sangat yakin kalau Lucas pasti bisa diandalkan mengasuh buah hatinya, sehingga dirinya tidak perlu terlalu cemas.


Tepat pukul satu siang yang di tunggu-tunggu pun datang Philip dan Eric serta Darya pulang ke rumahnya. Kejutan pun sudah siap untuk menyambut sang kakek. Laki-laki tua itu bahkan sempat menitikan air matanya karena sambutan dari cucu dan cicitnya.


"Yeh Eyang pulang..." Zakia yang semakin bawel pun berjingkrak-jingrak, apalagi ketika banyak balon-balon turun dari lantai atas berterbangan, bocah kecil itu sangat girang sekali. Philip sendiri merasakan sangat luar biasa harunya. Bahagianya ternyata justru hadir dari menantu yang pernah ia hina, Eric.


"Selamat datang kembali Pah," ucap Eric dengan meranagkul Zakia untuk bersama menyambut sang tertua di rumahnya.


"Terima kasih Eric," ucap Philip dengan suara yang lirih.


"Elin, Lucas ke sini, Nak." Eric meminta putra putrinya untuk mendekat padanya, di mana saat ini Philip sudah duduk di sofa dengan tubuh sedikit membungkuk karena tubuh yang semakin menua.


Untuk beberapa saat Elin diam menyiapkan mentalnya agar berbicara bisa tertata tidak dikuasi dengan emosi. "Elin sudah memaafkan Kakek, Papah dan Mamah saja bisa memaafkan Kakek, rasanya tidak adik kalau Elin sendiri tidak memaafkan kakek, apalagi Elin juga sudah memaafkan Lucas dan Erin, tetapi masih menyimpan dendan pada Kakek, itu tidak adil," balas Elin dengan bersungguh-sungguh. Philip pun nampak menarik bibirnya dengan tipis. Bahagia pun akhirnya bisa ia rasakan diusia senjanya.


"Kakek senang kamu sudah bisa memaafkan kakek, dan kakek ucapkan selamat, lusa kamu akan menikah dengan Lexi." Pandangan Philip diedarkan untuk mencari sosok laki-laki yang hanya dalam hitungan hari akan menjadi cucu menantunya.


"Lexi tidak datang ke sini hari ini, karena sedang banyak pekerjaan. Dia akan mengambil cuti sehingga sebelumnya dia akan bekerja untuk menyelesaikan pekerjaanya yang banyak." Elin yang tahu kalau Philip sedang mencari calon cucu menantunya pun langsung menjawabnya.


Dan lagi-lagi Philip mengangguk paham. Setelah mengobrol dan bercengkrama sebentar kini mereka pun makan siang bersama, makan siang yang tertunda karena memang kepulangan Philip yang mengalami penundaan. Dan kini Elin yang nyuapin Philip, dengan sangat telaten wanita itu merawat sang kakek yang makanya hanya bubur campur brokoli dan dada ayam di  haluskan. Kini makanan yang masuk ke tubuh laki-laki tua itu sudah benar-benar harus dikontrol. Begitupun jadwal makanya benar-benar di perhatikan dengan sangat baik.

__ADS_1


"Oh iya Pah, nanti rencananya sebelum ulang tahun Zakian kita akan pulang dulu ke kampung Eric dan Elin tinggal. Darya dan Lucas ingin berkunjung ke kampung tempat tinggal kami, apa Papah akan ikut?" tanya Eric setelah makan siang bersama.


"Kalau Papah ikut nanti kita bawa tim dokter dan juga mobil dibikin senyaman mungkin untuk Papah istirahat dalam perjalanan." Kali ini Darya yang seolah merayu agar papahnya ikut dan merasakan perjuangan Elin dan Eric untuk menjalani hidupnya yang tidaklah mudah.


Philip nampak menatap Elin bergantian dengan menantunya, Eric. "Papah ingin ikut," jawabnya dengan kedua bola mata yang sudah mengembun.


Elin pun tersenyum dengan manis. Dia bisa merasakan kalau Philip memang sangat menyesal, dan ingin memperbaiki hubungan baik ini disisa umurnya.


"Elin tidak sabar ingin menunjukan bagaimana serunya bermain di sawah," ucap Elin dengan antusias. Yah, dia adalah petualang yang hebat dan tidak sabar wanita itu untuk menujukan kepiawaianya.


"Kia juga pelnah main di sawah, Tante," celetuk bocah kecil yang hanya hitungan minggu sudah memasuki usia tiga tahun.


"Oh iya, Kia suka tidak bermain di sawah?" tanya Elin dengan antusia. Sedangkan Jiara hanya mengerutkan keningnya wanita berhijab panjang itu tentu bingung kapan Kia bermin di sawah. Namun, dia segera menepisnya, mungkin memang buah hatinya pernah diajak oleh abah dan ambu untuk bermain ke sawah.


"Suka sekali dong," jawab Zakia dengan wajah berbinar bahagia.


"Kalau gitu nanti ajak Tante main di sawah yah," ucap Elin dengan semangat. Namun justru Zakia nampak diam untuk sesaat.


"Tapi Kia main di sawahnya hanya mimpi," ucapnya dengan wajah yang di tekuk, sontak saja yang lain tertawa dengan renyah.


Zakia memang masih berumur tiga tahun, tetapi mampu menghadirkan bahagia yang luar biasa terutama saat ini. Bahkan Lucas saja bisa heran dengan anaknya itu selain memiliki sifat penurut dia juga sedikit jahil.


"Anak kamu memang imajinasinya tinggi." Lucas berbisik pada Jiara.

__ADS_1


"Itu nurun dari kamu," balas Jiara dengan setengah bersisik juga.


"Itu anak kita."


__ADS_2