Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PTW #Episode 109


__ADS_3

Lucas pun akhirnya pergi meninggalkan Jiara dan buah hatinya, Zakia. Meskipun ia sangat berat harus berpisah dengan Zakia. Namun, dia juga harus mengerti perasaan Jiara yang masih teringat dengan kejadian itu. Kejadian itu adalah kesalahan dia sehingga dia harus mau menerima nya.


'Pantas saja aku setiap melihat anak itu selalu terhipnotis ternyata Zakia adalah buah hatiku,' batin Lucas sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar itu. Setelah puas melihat tubuh anaknya yang tertidur dalam damai di atas sofa, kini Lucas menatap Jiara yang sedang terisak di atas kasur dan tubuhnya yang terbalut selimut serta wajah yang dibenamkan pada lipatan kakinya.


Sakit, Lucas harus merasakan sakit yang teramat ketika melihat Jiara seperti ini, tidak hanya itu wajah polos Zakia seolah menjadi hal yang sangat mengerikan untuk Lucas.


'Kenapa ya Tuhan, kenapa ketika aku ingin memperbaiki diriku aku justru dihadang cobaan yang begitu berat,' lirih Lucas, sembari ia menyeret kakinya yang semakin lemas dan terasa sangat berat.


Ini adalah pengalaman pertama buat Lucas di gantung oleh seorang perempuan ketika ia sudah sangat on menginginkan penyatuan, dan harus ditunda begitu saja tanpa kelanjutan yang jelas. Namun, bukan ini yang membuat Lucas marah dan kesal. Ia justru marah dan kesal pada diri sendiri.


'Apa ini karma?' batin Lucas. Laki-laki itu bingung tujuannya ingin menenangkan pikirannya kemana. Ia melajukan kendaraanya tidak tahu arah. Entah kemana ia menginjak pedal gasnya dan mengemudikan mobilnya. Yang jelas Lucas ingin mencari ketenangan. Berputar-putar demi menenangkan pikirannya.


Jiara masih terisak, bahkan entah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan malam ini. Ia marah pada Lucas, pada Jiny dan pada diri sendiri. Kenapa ia bisa membenci mata Zakia, tetapi kenapa ia baru sadar bahwa mata Zakia adalah keturunan dari mata Lucas. Dua orang itu memiliki mata yang sama, tetapi kenapa hanya Zakia yang mendapatkan kebencian dari Jiara. Kenapa Lucas malah hampir saja menikmati tubuhnya untuk kedua kalinya.


Jiara mengerak-gerakan tanganya seolah ia tengah mengusir tubuh yang tadi sempat di sentuh oleh Lucas. Dengan tubuh lemas Jiara kembali menyambangi kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bekas sentuhan Lucas.


Setelah cukup lama Jiara membersihkan tubuhnya di kamar mandi kini Jiara keluar dengan tubuh yang merah-merah, karena wanita itu menggosok tubuh yang sempat Lucas sentuh. Pakaian panjang kembali Jiara kenakan.


Jiara membopong buah hatinya kembali ke atas kasur. "Sayang maafkan Bunda yah, mulai saat ini kamu harus kembali kehilangan sosok Papah. Bunda berjanji akan menjadi Papah sekaligus Bunda buat kamu. Bunda berjanji tidak akan membenci kamu lagi, karena saat ini Bunda sudah ketemu dengan laki-laki yang sudah seharusnya Bunda benci." Jiara tidak henti-hentinya mencium tangan dan pipi Zakia yang sedang pulas tertidur.


Memang Jiara tahu aksinya tidak akan bisa menebus kebenciannya selama ini pada Zakia, tetapi Jiara yakin kalau Zakia pasti tahu betapa penyesalan bundanya itu.


Jiara berjanji mulai saat ini tidak akan memikirkan Lucas ataupun laki-laki lain yang datang menghampirinya. yang ada dalam pikiranya saat ini adalah gimana caranya ia bisa memberikan pengobatan yang terbaik untuk putri kecilnya. 'Benar kata Ambu dia bukanlah musibah tetapi anugrah. Disaat aku sedih dan terpuruk kamulah cahaya buat hidupku sayang,' batin Jiara hampir semalaman wanita itu tidak bia tidur selain menjaga Zakia.

__ADS_1


Wanita berhijab panjang itu juga takut apabila Lucas tiba-tiba datang dengan dan melakukan pemer-kosaan untuk kedua kalinya.


Pagi hari dengan tubuh yang lelah dan lemas Jiara  menyiapkan masakan untuk putrinya yang saat ini harus mulai menjalani pengobatan lanjutan.


"Papah... Papah..." Suara serak Zakia yang bangun tidur membuat Jiara yang berada di samping langsung terbangun.


"Kia cari siapa?" tanya Jiara. Meskipun wanita itu sudah tahu bahwa Jiara sedang mencari papahnya.


"Papah mana Bunda?" Wajah sedih terlihat sekali dari tatapan Zakia.


"Sayang, Papah sudah berangkat kerja," jawab Jiara dengan suara yang dibikin sepelan mungkin agar Zakia tahu bahwa papahnya sudah kerja.


'Maaf yah sayang, Bunda terpaksa bohong lagi sama kamu.Sebenarnya Bunda juga tidak tega sama kamu yang baru saja merasakan kasih sayang seorang ayah tetapi kamu lagi-lagi harus kehilanganya,' batin Jiara, bukan dia jahat dengan putrinya, tetapi hatinya Jiara juga sakit apabila harus melihat orang yang dengan keji memper-kosanya ada di hadapannya, terlebih dekat dengan anaknya. Tidak ikhlas itu yang Jiara rasakan.


"Baik Bunda, tapi nanti kalau sembuh Kia bisa jalan-jalan sama Papah kan Bunda, Jia akan liat gajah, dan lumba-lumba bareng papah kan Bunda," oceh Zakia, dan hanya di balas anggukan oleh Jiara. Hatinya sedih ketika putrinya mengerti dan seolah paham bawa Lucas adalah benar-benar papah kandungnya.


Dua jam Jiara gunakan untuk mempersiapkan semuanya dan kini ia akan berangkat ke rumah sakit. Dengan satu tangan membawa tas  yang berisi perlengkapan Zakia dan satu tangan lagi menuntun putrinya yang berpenampilan sama yaitu berhijab, terlihat sangat lucu Zakia itu. Sehingga yang melihat sekilas tidak akan tahu dan menyangka kalau Zakia saat ini sedang berjuang dari sakit yang mematikan.


Bahkan tadi di dalam lift banyak yang gemas dengan wajah imut Zakia, dan Zakia pun yang sudah terbiasa dengan orang banyak dengan lucu menyapa mereka.


Lucas di sebrang jalan memantau Jiara yang sedang menunggu taxi yang ia pesan. Laki-laki itu tidak bisa menemui Jiara dan Zakia, putri kandungnya. Karena bagaimana pun dia memang salah, malam itu dia terlalu menikmati permainan dengan Jiara hingga melakukan berkali kali dan Jiara yang  memang  baru pertama kali melakukan hubungan badan sudah pasti merasakan kesakitan yang luar biasa.


Hal itulah yang membuat Jiara trauma, dan sampai detik ini masih membenci pelaku, terutama dari kejadian itu Jiara juga mendapatkan masalah baru yang dianggap sebagai sampah masyarakat.

__ADS_1


"Bunda, apa Papah pulangnya lama?" tanya Zakia, mungkin gadis kecil itu melihat mobil papahnya di sebrang jalan.


"Lama Sayang. Papah sedang tugas luar kota," jawab Jiara sembari tubuh kecil Zakia di pangku dalam pangkuannya.


"Tapi tadi Kia lihat mobil Papah," ucap Zakia sembari menunjuk arah mobil papahnya yang sudah tidak terlihat.


Jiara sebenarnya tidak terlalu kaget mengingat memang Lucas sudah mengetahui jadwal dirinya hari ini. Jiara tetap santai dan tidak ingin lagi perduli dengan Lucas.


"Mungkin itu mobil orang lain Sayang, kan yang punya mobil kayak gitu bukan Papah saja, banyak yang punya mobil samaan kayak Papah," jawab Jiara dengan santai, dan kini mereka pun sudah sampai di dalam rumah sakit di mana Arya bertugas, dan tentunya Lucas juga pernah dirawat di tempat ini,"


Zakia sepanjang perjalanan sangat antusias melihat kota yang banyak gedung tinggi dan banyak lagi yang membuat Zakia selalu berceloteh ria.


"Jiara..." Suara yang sudah Jiara kenal nampak memanggil Jiara.


"Hai Dokter Arya..." sapa balik Jiara ketika kebetulan sekali bertepatan dia baru sampai di lobi rumah sakit Arya dan Marni sampai juga.


"Ini siapa lucu sekali?" tanya Arya mengambil alih anak kecil berpenampilan hijab panjang sama dengan Jiara.


"Namanya Zakia Om, dia anak saya Dok" jawab Jiara, yakin kalau Arya pasti akan kaget. Dan benar saja Arya nampak kaget dengan jawaban Jiara mengatakan bahwa anak lucu itu adalah anaknya.


******


Teman-teman sembari nunggu kelanjutan kisa Lucas dan Elin yuk, mampir ke karya teman Othor, dijamin bikin baper. Kuy ramaikan...

__ADS_1



__ADS_2