Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 125


__ADS_3

"Aku menawarkan pilihan untuk kalian semua, kalian masih mau bekerja di tempat ini atau tidak?" tanya Lucas dengan suara yang tegas, sementara satu orang yang tidak mengetahui perselingkuhan Tamara masih dibiarkan berdiri begitu saja, ditempat yang sama.


"Mau," jawaban yang serentak. Seolah memang mereka ada yang mengomando hanya.


"Bagus, kalau mau kalian harus kerja sama denganku untuk membongkar perselingkuhan Tamara. Tetapi kalau kalian tidak mau dan justru berkhianat denganku, itu tandanya kalian sedang menyerahkan nyawa kalian semua dengan sia-sia. Atau kalian mau mundur dari sekarang pintu rumah ini terbuka lebar untuk kalian yang tidak mau bekerja sama denganku maka silahkan kalian keluar dari sini. Hidup kalian jauh lebih aman dari pada kalian tetap menetap disini dan berkhianat. nyawa kalian akan jadi taruhannya," ujar Lucas berpidato dihadapan orang-orang yang bekerja di rumahnya.


Laki-laki itu tidak pernah main-main dengan ucapannya sendiri, dia akan memegang teguh ucapannya. Jadi kalau kalian mau main-main lebih baik keluar dari sekarang.


Cukup lama Lucas memberikan waktu untuk mereka apabila ingin keluar dari kerja sama ini, tetapi tidak ada satu orang pun yang beranjak dari tempat berdirinya saat ini, itu tandanya para pekerja di rumah kakeknya mau bekerja sama dengan Lucas untuk bekerja sama membuka perselingkuhan Tamara.


"Kalian yakin tidak akan ada yang mundur, taruhannya nyawa kalian loh," ucap Lucas memperingatkan sekali lagi sehingga apabila ada yang berubah pikiran dipersilahkan dari sekarang.


Namun seperti sebelum-sebelumnya mereka dengan kompak menjawab tidak, sehingga Lucas pun melanjutkan rencananya. "Baiklah, berhubung kalian tidak ada yang mau mengundurkan diri, aku ingin kalian ceritakan apa saja yang kalian tahu dengan Tamara." Lucas sudah menunjuk orang kepercayaannya untuk mengintrogasi satu per satu pekerja di rumahnya dan merekamnya, lalu tentu nantinya akan ia gunakan untuk membongkar kebusukan Tamara. Serta tidak lupa Lucas juga memberikan aturan untuk bekerja sama dengan dirinya. Yaitu paling penting melarang siapa pun masuk ke rumah ini selain anggota keluarga inti.


Hampir seharian Lucas membereskan kecoa yang berkhianat dan tentunya ia juga tidak akan segan menyingkirkan siapa pun yang sudah berani membuat hidupnya bermasalah nantinya. Di tempat lain Tamara sudah selesai penangananya oleh sahabat Arya. Hanya butuh satu jam untuk melakukan pemasangan implan di rahimnya. Dan setelah semuanya selesai Arya sudah meminta sopir pribadi mengantarkan kembali Tamara ke rumah keluarga Philip.

__ADS_1


Sudah sejak tadi Tamara kembali ke rumah suaminya yang kaya raya, dan  saat ini sudah tidur kembali di kamarnya dengan nyaman dan nyenyak, tanpa ia ketahui sejak tadi tubuhnya berpindah dari satu tempat ketempat yang lain.


Uhhh... Tamara mulai membuka matanya yang masih sangat berat, rasa ngantuk sisa obat bius yang di berikan Lucas memang jangan diragukan lagi kemampuannya. Sampai Tamara tertidur hampir seharian. Tangan tamara meraba kepalanya yang berdenyut pening, dan pandangan mata yang masih remang-remang.


Kedua bola matanya bergerak lincah seolah wanita itu sedang mengamati lingkungan sekitar. Namun ia sedikit merasa lega karena ternyata ia saat ini berada di kamarnya. Kembali otaknya di paksa mengingat kejadian saat ia sedang sarapan dan tiba-tiba kepalanya pusing dan tidak sadarkan diri. Wanita itu juga merasakan kalau tubuhnya di pegang-pegang oleh tangan-tangan yang ingin mencelakainya.


'Aku tadi mimpi atau memang ada orang yang ingin melecehkan aku,' batin Tamara matanya mengamati pakaiannya, yang masih sama dan juga masih rapih, sehingga pikirannya segera ditepisnya.


'Apa aku salah makan sampai kepalaku tiba-tiba sakit, atau...." Tamara tiba-tiba tersenyum penuh arti, ketika ia memikirkan bahwa kemungkinan ia pingsan karena hamil.


'Akhirnya, impianku tidak sia-sia usahaku tidak sia-sia saat ini aku hamil,' batin Tamara dengan mengusap-usap perutnya.


'Aku akan tunggu sampai jatah datang bulanku kalau sampai tidak haid juga berati aku memang benar hamil dan akan aku cek ke dokter,' lirih Tamara dengan wajah yang sangat berbahagia tentu ia pertama-tama menghubungi teman selingkuhnya untuk memberikan kabar bahagia ini.


Tanpa Tamara tahu di ruangan lain ada laki-laki yang sedang menertawakan kelakuan Tamara. Yah, dia adalah Lucas berserta Arya yang  ternyata kamar pribadi kakeknya pun tidak luput dari kamera CCTV. Lucas benar-benar tidak ingin kalau ia kecolongan lagi oleh Tamara. Saat ini Lucas memang belum bertindak tetapi bukan berarti ia lengah justru ia saat ini sedang berusaha mengumpulkan bukti sekuat-kuatnya. Hingga Tamara tidak bisa mengelak lagi.

__ADS_1


Tidak akan bisa sedikit pun Tamara lepas dari dosa-dosanya. "Aku semakin curiga selama ini Tamara memprovokasi kakak kamu untuk tidak membuat Tante Ely sembuh,' ujar Arya melihat Tamara yang seperti itu.


"Aku juga menduganya seperti itu, tidak mungkin rasanya Kakek membiarkan Mamih menderita dalam gangguan kejiwaan terjebak dalam pikiran yang cukup parah. Padahal Kakek terlihat sekali kalau beliau sangat sayang dengan Mamih," imbuh Lucas, membenarkan pikiran Arya.


"Baiklah aku sudah tahu siapa-siapa orangnya yang harus aku awasi," lirih Arya dan Lucas tentu masih bisa mendengarnya.


"Maksud kamu apa? Kok sepertinya ada kasus yang sedang loe tangani?" tanya Lucas mulai kepo dengan apa yang sedang Arya kerjakan.


"Ini masih ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada Tante Ely, saat ini kamu lebih baik fokus dengan rencana kamu, dan aku akan fokus dengan rencana aku sendiri, dan kita akan ketemu di garis finish yang sama," jawab Arya. Tidak ingin membuat Lucas berpikir macam-macam.


"Baiklah aku akan fokus dengan rencanaku yaitu mengungkap siapa Tamara sebentar." Lucas yang sekarang memang lebih bisa diandalkan dari pada dengan Lucas yang dulu, dia akan lebih fokus dengan urusan orang dan mengabaikan apa tujuannya sendiri.


"Yah, kamu, bekerja yang benar, istirahat yang cukup dan tetap pantau Tamara, dan aku akan fokus dengan semua yang sedang aku tangani, termasuk Zakia dan Jiara, dia aman bersama aku dan Marni." Arya menepuk-nepuk pundak Lucas, dan baru kali ini Lucas tidak mengartikan dengan hal yang lain padahal biasanya laki-laki itu akan sangat marah apabila diperlakukan seperti itu, sekali pun itu oleh Lucas.


Setelah Arya selesai dengan urusan Lucas ia kembali ke rumah sakit, dan tidak lupa ia juga akan mendatangi Elin yang hari ini bekerja merawat ibu kandungnya.

__ADS_1


Arya ingin tahu ada perkembangan apa saja dengan hadirnya Elin di samping tantenya.


__ADS_2