
Di lain tempat Jiara pun semakin panik, ketika Zakia terus saja meracau ingin bertemu dengan sang papah.
"Apa aku tanya sama Papah Eric yah, bagaimana kondisi Mas Lucas saat ini? Perasaan aku juga semakin tidak tenang," ucap Jiara yang saat itu masih menggendong Zakia. Jiara pun akhirnya mengirimkan pesan pada mertua laki-lakinya, yang ia tahu pasti saat ini sedang ada di rumah sakit untuk menjaga Elin bergantian dengan Lucas.
[Pah, apa kondisi Mas Lucas baik-baik saja? Hari ini Zakia sangat rewel, dan juga Kia mengiggo panggil-panggil papahnya. Jia takut terjadi sesuatu dengan papahnya Zakia.] Pada akhirnya Jiara pun menanyakan kondisi suaminya pada sang mertua yang saat ini tengah berada di rumah sakit.
"Lucas baik-baik saja Ji, dan untuk Zakia mungkin karena dia yang terlalu rindu dengan papahnya, jadi dia ngigo begitu. Suami kamu pasti akan sehat kembali.] Itu pesan yang dikirim oleh Eric.
Jiara memang sudah mengirim pesan pada sang mertua bahkan wanita itu sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanya, tetapi wanita berhijab itu pun belum bisa tenang. Justru hatinya semakin tidak karuan.
"Apa aku balik lagi ke rumah sakit yah," gumam Jiara dengan menatap wajah Zakia yang sangat menyedihkan. Dengan yakin dan entah dari mana keyakinan itu datang Jiara pun langsung mengambil jaket untuk Zakia, dan wanita itu kembali mengayunkan kakinya hendak pergi ke rumah sakit kembali. Hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mertuanya.
"Sus, Aku dan Kia akan ke rumah sakit, kamu siapkan perlengkapan Kia, dan Suster ikut yah, takutnya nanti aku butuh bantuan Sus," ucap Jiara dengan suara yang sopan.
"Baik, Nyonyah, saya siapkan saat ini juga," balas Suster Titi. Jiara pun sembari menunggu suster Titi mempersiapkan semuanya wanita itu memilih menunggu di ruang depan.
Baru saja Jiara akan keluar, tiba-tiba mendengar percakapan suster Silvi dengan Lexi dan Elin. Jiara bergeming dengan indra pendengaran ditajamkan untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
Cukup lama Jiara menguping, dan ketika ia sudah lagi mendengar percakapan suster Silvi dengan adik iparnya Jiara pun kembali mengayunkan kakinya.
"Ehemmm... Sus, Lexi dan Elin ngomong apa?" tanya Jiara dengan kepo mungkin saja ketika dirinya mendengar apa yang mereka bicarakan, bisa membuat perasaanya lebih tenang.
__ADS_1
"Itu Nyah, Bunda dan papahnya Den Eril hanya memastikan kalau Eril tidak rewel dan tidak terjadi sesuatu dengan kita yang ada di rumah, karena kata Tuan Lexi, Nyonyah Elin tiba-tiba perasaanya tidak enak." Suster Silvi pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Deg!!! Jantung Jiara kembali tidak menentu, wanita berhijab itu semakin yakin bahwa perasaan yang datang ini bukan sembarangan perasaan tidak enak biasa pasti ada yang sedang tidak beres. Belum dari sikap putrinya yang tiba-tiba berubah menambah keyakinan Jiara.
"Suster Titi, buruan tidak usah bawa barang yang tidak terlalu penting. Perasaan aku semakin tidak tenang," ucap Jiara dan suster Titi pun tidak lama keluar dengan langkah yang tergopoh. Setelah berpamitan dengan suster Silvi dan suster Vina, kini Jiar dan suster Titi pun sudah berada di dalam mobil.
Hati Jiara sedikit tenang ketika Zakia tidak lagi mengiggo, hanya saja bocah kecil itu tidak mau berpindah gendongan pada suster Titi, ia tetap maunya menempel pada sang bunda. Sedangkan Zakia saja matanya terpejam, tetapi seolah bocah kecil itu bisa merasakan apa yang terjadi, dia tahu bahwa yang menggendongnya adalah bundanya atau bukan.
*********
"Maafkan kami Tuan, Nyonya kali ini saya dan tim yang lain tidak bisa memberi pertolongan yang terbaik untuk Tuan Lucas. Beliau sudah menyerah berjuang. Putra Anda sudah sembuh untuk selamanya."
"Katakan kalau yang Anda barusan sampaikan adalah kebohongan kan Dok, Lucas tidak mungkin menyerah, dia belum bertemu dengan Elin, bahkan Elin belum tahu apa yang terjadi pada sodara kembarnya." Darya dengan suara yang meninggi dan terlihat sekali emosinya, ia tidak menyangka sama sekali bahwa Lucas akan menyerah secepat itu. Bahkan keinginanya kalau Lucas akan sembuh dan mereka akan berkumpul bersama kini sudah tidak ada harapan lagi.
Darya pun terduduk di kursi dengan tubuh yang lemas. Sedangkan Eric, lagi-lagi dia tetap bersikap tegar dan berusaha menerima takdir ini dengan lapang meskipun, sebagai orang tua ia tidak ikhlas apabila putranya menyerah berjuang. Masih banyak cita-cita Eric belum terlaksana dengan putranya. Setidaknya Lucas memberikan sedikit saja waktu untuk Eric memperbaiki kesalahannya. Itu yang ada dalam pikiran Eric.
"Apa yang harus kami lakukan Dok? Apa tidak ada usaha lagi yang bisa kalian lakukan. Kami akan bayar berapa pun biayanya Dok, asal Lucas tidak meninggal," ucap Eric dengan suara yang parau, dalam batinya ia masih yakin kalau Lucas tidak mungkin meninggal dunia. Lucas adalah laki-laki yang kuat tidak mungkin dia meninggal dunia. Itu yang ada dalam pikiran Eric dan Darya. Sehingga laki-laki paruh baya itu yakin kalau Lucas akan kembali berjuang.
Dokter Handoko kembali menggelengkan kepalanya. "Anda harus bisa menerima kenyataan ini Tuan, Nyonya, karena memang kami sudah berjuang untuk yang terbaik untuk Tuan Lucas tetap hidup, tetapi mohon maaf putra Anda sudah menyerah, kasihan kalau dipaksa bertahan terus sedangkan jiwanya sudah menyerah. Saat ini kami minta izin untuk melepas alat-alat medis yang menempel di tubuh putra Anda dan ikhlaskan dia untuk kembali ke Penciptanya." Dokter Handoko mengusap pundak Eric, yang saat ini sedang menunduk sedih.
"Tidak!!!" Jangan lepas alat-alat itu dari tubuh suami saya. Saya yakin suami saya belum meninggal dia hanya ingin istirahat sejenak. Tolong jangan lepas alat medis dari tubuh suami saya Dok. Saya yakin dia pasti akan kembali lagi, dia hanya tersesat jiwanya dan ingin istirahat sejenak." Jiara yang sejak tadi ternyata sudah ada di antara mereka, dan mendengar semua yang dokter Handoko dan mertuanya bicarakan.
__ADS_1
"Jiara, Lucas sudah meninggal, apa dia bisa hidup lagi. Mamih tidak sanggup dan tidak percaya kalau Lucas meninggal Jia. Tolong katakan pada Lucas, Mamih marah besar kalau Lucas meninggal. Mamih akan sangat sedih kalau dia pergi," rancau Darya dengan tubuh tersender pasrah pada dinding rumah sakit.
Air mata Jiara tidak dapat dibendung lagi. Ia tidak menyangka beberapa jam lalu adalah pertemuan terakhirnya. Dengan bibir yang terpaksa Jiara pun menyunggingkan senyumnya."Jia yakin Lucas hanya ingin istirahat sesaat." Kini pandangan Jiara dialihkan untuk menatap dokter Handoko.
"Dok, izinkan saya masuk kedalam dan berbicara dengan Lucas." Jiara memohon pad dokter Handoko dengan tatapan yang mengiba. "Izinkan kami berusaha membuat Lucas kembali, tetapi apabila cara kami memang tidak ada perubahan, silahkan Anda lepas alat-alat medis itu dan kami akan berusaha ikhlas," imbuh Jiara, dengan tatapan terus memohon.
Dokter Handoko untuk beberapa saat hanya bisa diam dan dan pandangan matanya menatap Darya dan bergantian pada Eric.
"Saya hanya kasih kesempatan enam jam untuk kalian berusaha menarik kembali jiwa Tuan Lucas yang sudah terlepas dari jasadnya, tetapi apabila dalam waktu enam jam tidak ada perubahan terpaksa kami akan tetap melepas alat-alat itu, karena alat itu hanya akan menyakiti tubuh Lucas yang sudah menyerah."
Jiara pun mengangguk dengan pasrah. "Saya tahu Dok, saya akan berusaha dengaan baik memanfaatkan waktu enam jam yang Anda berikan." Jiara menatap Eric bergantian dengan Darya. Di mana di mata mereka ada sedikit garis kebahagiaan.
Meskipun tidak yakin Jiara akan tetap berusaha demi putrinya yang sampai saat ini masih belum mengerti apa yang terjadi dengan papahnya. Lalu bagaimana kalau Zakia tahu bahwa papahnya tidak akan pernah lagi datang untuk menepati janji-janjinya? Lalu Jiara akan jelaskan seperti apa? Apakah ia akan membiarkan Zakia terus berharap pada sesuatu yang tidak akan terjadi?
...****************...
#Teman-teman sembari nunggu kelanjutan Lucas dan Elin, bantu dukung novel baru othor yah. Jangan lupa Fav, like, komen dan kalau berkenan tabur mawar, kopi atau iklan juga boleh banget...
komen beri masukan yah. Terima kasih yang sudah berkenan mampir., 🙏
__ADS_1