Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Terbayang Wajahnya


__ADS_3

Di negara yang berbeda....


Lexi sudah melewati satu hari kembali ke negaranya, tetapi tubuhnya sangat enggan untuk beranjak dari atas kasur empuk miliknya, padahal kegiatan sudah tertata dengan rapih. Asisten kepercayaannya sudah memberika jadwal kerja untuk hari ini, dan itu semua di awali dari jam sepuluh pagi waktu setempat. Laki-laki berbadab atlentis itu tubuhnya masih terbungkus dengan selimut tebal dengan dada dibiarkan terbuka.


Pikiranya terbang kembali ke malam kejadian, di mana dia menikmati tubuh Elin yang menurut dia sangat luar biasa membuat ketagihan. Elin adalah pera-wan yang pertama yang pernah ia nikmati.


Dulu dia pernah menyewa seorang wanita penghibur yag mengaku masih perawan dan ternyata setelah di telusuri dan di ancam dengan subuah pistol dan air keras, wanita itu mengaku bahwa dia bukanlah pera-wan. Dia adalah wanita penghibur yang melakukan oprasi selaput dara agar dikira masih perawan dengan adanya cairan berwarna merah yang seperti darah keluar dari daerah sensitifnya.


Marah, murka dan bahkan mengamuk, demi menikmati wanita itu bahkan Lexi rela membayar mahal, ektingnya sempat mebuaat yakin Lexi bahwa yang sedang memuaskanya adalah perawan. Sungguh ekting yang hampir sempurnya, tetapi namanya laki-laki yang sudah sangat berpengalaman, dan beberapa keluar masuk goa yang hangat sehingga senjata pamungkasnya bisa merasakan bahwa wanita itu bukanlah pera-wan sesuai dengan pengakuanya.


Kemarahan Lexi meledak ketika wanita yang mengaku pera-wan itu, akhirnya membuka mulutnya dan mengaku bahwa dia memang melakukan operasi hanya untuk mendapatkan uang yang lebih besar. Dan pada akhirnya bukan uang yang besar yang ia dapatkan, tetapi nyawa wanita itu yang di jadikan makanan ikan hiu. Lexi yang terkenal dingin dan kejam memerintahkan orang suruhanya untuk membunuh wanita malang itu dan jasadnya di buang ke laut.

__ADS_1


Kejam? Yah, Lexi dan Lucas adalah orang yang di takuti terutama di dunia bisnis gelap. Lexi adalah orang yang selalu mempermainkan nyawa apabila ada yang membuatnya murka. Tetapi Elin, gadis pertama yang membuat pikiranya sulit berkonsentrasi, karena otaknya tanpa di suruh selalu kembali dan kembali lagi memikikan nasib gadis itu.


"Kira-kira nasib kucing kampung itu sekarang gimana yah, apakan wajah dia akan cacat seumur hidup, karena Lucas yang berengs*k itu," geram Lexi setiap mengingat nama Lucas dia menjadi naik darah, seolah Lucas adalah musuh terbesarnya. Karena kekecewaanya pada lucas juga yang membuat Lexi dalam waktu sekejap pergi meninggalkan Indonesia, itu ia lakukan karena ketika melihat wajah sahabatnya itu, emosinya menjadi menggila. Padahal Lucas adalah sahabat terbaiknya selama ini tetapi hanya karena Lucas menyiramkan air keras pada wajah cantik Elin, Lexi menjadi menganggap Lucas adalah musuhnya.


Lexi juga menjadi seperti orang yang gila, pikiranya dan hatinya berbeda-beda, di mana hati ingin melupakan Elin tetapi dalam isi otaknya dia selalu membayangkan Elin yang dia gagahi hingga nyawa hampir kematin hampir menghampiri gadis itu. Wajah Elin ketika ketakutan, ketika menangis, dan ketika dia memohon terekam dengan jelas di ingatan Lexi, dan sampai saat ini Lexi masih mengingat wajah memelas itu, dan wajah itu juga yang membuat Lexi masih betah di atas tempat tidurnya yang empuk.


Seorang laki-laki bersetelan jas rapih masuk ke dalam kamar Lexi setelah sebelumnya mengetuk pintu kamarnya tiga kali. Kedua mata Lexi menatap tajam pada Marco asistenya yang tadi sempat mengirimkan jadwal pada dia. Marco menatap kembali mata Lexi dengan tajam.


"Baca. Gue lagi malas kerja. Apa kamu tidak membiarkan aku bermalas-malasan barang satu hari saja?" tanya Lexi dengan membuang pandangan ke arah jendela yang besar.


"Ayo lah Tuan, ini bahkan hari ke dua Anda meminta malas-malasan. Kemarin Anda sudah meminta libur dengan alasan yang sama, dan kali ini Anda meminta libur lagi dengan alasan yang sama juga. Ini bukan masalah kaya atau tidak kaya Tuan Lexi, tetapi ini demi masa depan orang banyak. Apa yang membuat Anda jadi seperti ini, di mana biasanya Anda adalah laki-laki gila kerja. Bahkan aku sebagai asisten Anda kadang kewalahan dengan kegilaan Anda dalam bekerja, tetapi kenapa kali ini Anda sangat berubah. Apa Anda sedang putus cinta?" tanya Marco dengan pandangan lurus kearah Lexi, meskipun Lexi sendiri membuang pandanganya.

__ADS_1


Lexi langsung memalingkan pandangan pada Marco dan menatap asistenya itu dengan tajam. "Kamu jangan sok tahu, seorang Lexi tidak akan pernah jatuh cinta. Ingat itu!!" Lucas menatap tajam pada Marco, yang bersikap tetap berdiri tegap dan tenang, sudah biasa Marco mendapatkan perlakukan seperti itu, sehingga ia sudah tidak kaget menghadapinya.


"Kalau begitu apabila Anda tidak sedang jatuh cinta buktikan dong kalau Anda tidak akan goyah dan lemah hanya karena adanya wanita yang mengusik pikiran Anda." Marco sepertinya tahu betul apa yang sedang Lexi pikirkan.


Laki-laki bertubuh kekar dengan dada telanjang kini dengan malas mengangkat tubuhnya dari tempat tidur. "Aku masih beri kesempatan kamu untuk tetap bekerja dengan menjadi asistenku, tetapi aku tidak bisa menjamin kedepanya kamu tetap akan menjadi asisten aku atau tidak," ucap Lexi dengan mata yang membunuh pada  Marco yang tetap berdiri dengan santai dan tegap.


Marco tahu betul bahwa ancaman Lexi seperti itu tidak akan pernah terjadi, dan entah sudah berapa puluh kali Marco mendengar ancaman itu pada kenyataanya Lexi tidak pernah memecatnya. Marco lebih tahu bagaimana sifat bosnya itu dari pada orang tua Lexi atau bahkan tubuhnya sendiri.


Marco selama Lexi di kamar mandi membersikan diri, dia menyiapkan pakaian yang akan bosnya kenakan untuk bekerja, semuanya selalau Marco yang lakukan, bahkan apabila yang belum tahu apa yang terjadi pada Marco dan Lexi mereka mengira bahwa Marco mungkin adalah kekasih Lexi. Yah, mereka tingga di negara yang hubungan laki-laki dengan laki-laki adalah hal yang sudah biasa sehingga mungkin mereka yang belum tahu kebenaranya mengira demikian. Kedekatan mereka dianggap memiliki hubungan lain.


Marco duduk di sova sembari menunggu Lexi selesai membersikan diri, jari-jarinya terus bekerja. Itu adalah kebiasaan Marco selalu bekerja dengan baik, dan itu juga yang menjadi alasan Lexi tidak pernah benar-benar marah denga asistenya itu.

__ADS_1


__ADS_2