Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PWT #Episode 90


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang Lucas buru-buru menekan nomor yang Alvi berikan, dan nomor itu menurut perkataan dia adalah nomor pengemudi taxi yang membawa Jiara pergi dari kantornya. "Semoga saja orang ini tahu kemana Jiara pergi," gumam Lucas. Tanganya langsung menekan nomor yang sudah ia ketik di ponselnya.


"Halloh," sapa sopir taxi yang berada di balik telepon.


"Bapak apakan Anda adalah pengemudi taxi dengan plat nomor kendaraan Ab 1111 MJ?' tanya Lucas dengan suara yang mencoba untuk tenang.


"Oh iya itu mobil oprasional saya Mas, apa ada yang bisa saya bantu, atau mungkin saya melakukan kesalahan?" tanya balik sang sopir dengan nada yang sudah terlihat tidak tenang.


"Bukan kesalahan Pak, saya hanya ingin bertanya apakah tandi Bapak, mengambil penumpang wanita berhijab panjang dengan warna salem di depan kantor THE KING OIL?"


"Iya saya tadi memang membawa penumpang itu, kalau boleh tahu ada perlu apa yah Mas?" tanya sang sopir taxi yang  dia juga penasaran atas apa yang kira-kira akan ditanyakan oleh lawan bicaranya.


"Bapak sedang di mana?" boleh kan ke kantor saya, nanti saya akan bayar dobel dari pendapatan bapak hari ini, bonus untuk waktu bapak yang sudah berkenan datang di kantor saya.


"Aduh sebenarnya saya mau sekali Mas datang ke kantor Masnya, tapi saya sendiri masih di luar kota, baru saja saya mengantarkan wanita yang Mas bilang."  Mungkin hari ini adalah keberuntungan sang sopir, setelah membawa Jiara untuk berkeliling, dan ongkos yang di berikan cukup besar, dan malam harinya dia juga di telepon oleh orang asing yang sepertinya berduit untuk menemuinya saja, tetapi bayaran yang di terima sangat menggiurkan, tetapi sayangnya dia sendiri baru dalam perjalanan pulan ke Jakarta, yang jaraknya cukup jauh.


"Tunggu-tunggu. Ini Bapak baru saja mengantarkan wanita itu ke mana?" tanya Lucas dengan antusias. Dadanya lebih lega, tidak secemas tadi dan itu tandanya ia akan tahu kemana Jiara.


"Kekota  Bantan Mas,  ngomong-ngomong ada apa yah?" tanya sang sopir yang terlihat dari lawan bicaranya kalau sangat cemas.

__ADS_1


"Pak, tolong share lok tempat bapak saat ini berada, dan saya akan menuju kesana, dan tolong bapak nanti  tunjukan lokasi wanita itu turun. Untuk bayaran jangan khawatir saya akan membayar berkali-kali lipat dengan wanita itu membayar." Lucas terlihat sangat bahagia, karena ia bisa mengetahui kemana Jiara pergi.


Namun sedetik kemudian bahagianya hilang. Kini justru Lucas bingung kenapa ia bisa secemas itu memikiran sekretarisnya. Hal yang tentu belum pernah ia rasakan.


"Apa ini yang di namakan jantuh cinta? Kenapa aku seolah sangat cemas dengan keadaan wanita ini." Lucas kembali termenung memikirkan perasaanya, bertepatan dengan pesan sang sopir taxi yang mengatarkan Jiara. Cukup lama Lucas memikirkan kembali keputusanya.


"Apa nanti Jiara tidak berpikiran macam-macam kalau aku menyusulnya? Tapi gimana keadaan dia saat ini, apakah baik-baik saja atau justru dia sedang dalam masalah?" Lucas justru kembali dilema dengan rencananya. Biarlah urusan Jiara berpikiran macam-macam yang terpenting aku menyusul dia, entah perasaan apa aku justru tidak tenang kalau belum tahu secara langsung kondisi dia," imbuh Lucas, laki-laki itu pun beranjak dari kursi kebangganya dan hendak menyusul Jiara.


Hati nuraninya berkata kalau Jiara sedang tidak baik-baik saja. Meskipun Jiaraa dan Lucas baru bertemu secara tidak sengaja, dan juga peretemuan mereka juga belum genap usia dua bulan tetapi entah mengapa Lucas seperti mengenal wanita itu, dan dia juga seolah sangat tahu dengan sifat dia. Dan kali ini, ia melihat kalau bukan Jiara yang dia kenal, dan biasanya ketika orang bertindak yang berbeda pasti karena ada hal yang menimpanya, dan hal inilah yang Lucas takutkan, dan cari tau penyebabnya.


Kendaraan yang di tumpangi Lucas membelah jalanan yang sudah semakin sepi, bahkan pakaian yang menempel di tubuh Lucas pun masih lengkap yaitu pakaian kerja, tanpa terlintaas di pikiran Lucas kalau ia harus menggantinya. Didalam otaknya hanya Jiara.


Sepanjang perjalanan Lucas selalu di selimuti dengan perasaan yang sangat  tidak tenang tetapi entah apa, bahkan untuk mengistirahatkan tubuhnya Lucas tidak bisa. Pandanganya kosong memikirkan Jiara.


Berhubung kedatangan mereka yang masih terlalu pagi, dan pondok yang terletak di ujung desa pun masih sepi Lucas dan sang sopir menunggu di dalam mobil, dan taxi yang mengantarkan Lucas pun sudah kembali lagi melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jakarta tentu setela Lucas memberikan upahnya yang tidak main-main memberikan bonusnya.


Setelah sang mentari menunjukaan sinarnya yang keemasan, Lucas yang terbangun karena pantulan cahaya yang mengenai kaca mobilnya. Buru-buru Lucas mencari tahu di mana Jiara. Setelah beratanya-tanya kebeberapa santri Lucas pun diarahkan untuk menemui Abah sang pemilik pesantren.


Lucas semakin bingung kenapa justru sepertinya Jiara juga tidak ada di tempat itu. "Apa mungkin sopir taxi semalam itu bohong? Lalu kalau bohong apa untungnya, kan aku punya nomor ponselnya, urusanya akan makin runyam kalau berani membohongi aku," gerundel Lucas, tetapi tak ayal kakinya mengikuti apa yang santri katakan. Ia menuju rumah sederhana yang berada di belaang pondok yang cukup besar dan banyak anak didiknya, yang menimba ilmu di tempat ini.

__ADS_1


Lucas berjalan menyusuri jalan setapak dan mencari rumah sesui yang dikatakan oleh santri yang tadi dia tanya.


"Ah sepertinya ini adalah rumah yang di maksud pemilik pesantren, dan Lucas pun mengetuk pintu berklai-kali.


"Apa mungkin orangnya tidak ada?" batin Lucas tetapi ia tidak menyerah, kembali lagi mengetuk pintu rumah yang terbuat dari bilik bambu.


Ini adalah kali pertama Lucas datang ke lingkungan seperti ini, sebelumnya ia tidak pernah mengunjungi tempat-tempat seperti ini. Tempat yang ia kunjungi adalah tempat-tempat mewah yang di peruntukan bagi kalangan atas, tetapi demi mencari keberadaan Jiara laki-laki itu rela mengunjungi tempat semacam ini.


Tok... Tok... Tok... permisi...


Entah ini ketukan pintu keberapa kali. Tidak lama akhirnyaa muncul laki-laki berpenampilan islami dan mungkin umurnya sudah setengah abad atau bahkan lebih.


"Cari siapa yah?" tanya pemilik rumah dengan ramah.


"Apa ini adalah rumah pemilik ponndok di depan?" tanya Lucas balik, sembari tanganya menujuk bangunan pondok.


"Oh iya saya sendiri, ada perlu apa Nak?"  tanya laki-laki paruh baya yang di sebut Abah. Terlebih pria yang ada dihadapinya, berpenampilan rapih dengan setelan kemeja dan cealan kerja terlihat tampan dan bukan warga sini.


"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga," celetuk Lucas dengan suara yang tentunya terdengar jelas oleh laki-laki yang berada tepat dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2