
"Loh ini bukanya rumah sakit jiwa yang tempatnya dekat dengan rumah Elin yah, malah kalau tidak salah dengar Elin juga pernah bekerja di rumah sakit jiwa itu," batin Arya, ketika membaca peta lokasi yang dikirimkan Lucas. "Apakah ini tanda-tanda kalau memang mereka adalah keluarga. Aku jadi tidak sabar gimana perasaan Tante Ely, ketika mencoba makanan yang dimasak oleh Om Eric, terlebih dimasak dengan cinta," imbuh Arya, dan di saat ini sedang dalam perjalanan kerumah Eric di mana tadi, Eric sudah mengirimkan pesan bahwa makanan yang di pesan oleh Arya sudah selesai dan Arya bisa mengambilnya.
Arya memarkirkan kendaraannya di depan rumah Eric, dan masuk kedalam rumah itu, tentunya sebelumnya sudah mengucapkan salam.
"Wah, ini kayaknya rasanya enak banget nih, dari harumnya ajah tadi Arya baru sampai depan rumah udah tergoda," ujar Arya ketika masuk kerumah Eric. Yah, Arya sudah bebas keluar masuk rumah Eric, dan Eric pun tidak keberatan sama sekali dengan Arya yang melakukan itu.
"Eh, dokter Arya sudah datang. Ini loh masak sayur sop ayam kampung, sama tumis cabai hijau dan cumi asin, ini dulu makanan kesukaan mantan suami Om, kalau Om masak ini pasti beliau sangat suka, dan kali ini Om masakan untuk sodara dokter Arya. Mudah-mudahan dengan masakan ini selera makanya bisa kembali daan badanya tidak kurus lagi," ujar Eric sembari menyerahkan rantang yang berisi masakan yang ia masak dan masih hangat itu.
"Amin. Wah terima kasih Om, mudah- mudahan Tante mau makan masakan Om Eric, dan kalau mau makan masakan ini, itu tandanya Om Eric bakal sibuk nih, karena pasti Arya akan pesan makanan dari sini, tapi kira-kira Om Eric tidak kebertan kan kalau Arya pesan makanan di sini?" tanya Arya untuk memastikan, kalau kecapean nanti malah jadi kasihan juga dengan Eric, takutnya cape juga dengan pesanan yang dia buat.
"Ya Allah dokter Arya, justru seharusnya Om Eric yang berterima kasih dengan Nak Arya, karena secara tidak langsung justru memberikan mata pencaharian buat Om. Jujur Om lebih suka dengan bekerja kayak gini, jadi tidak terasa kesepian karena Elin sedang berada jauh dengan Om, udah gitu memasak adalah kesukaan Om jadi Om sangat senang menjalaninya. Dari dulu Om kalau lagi cape pikiran atau mungkin kasarnya setres Om selalu lari ke dapur, memasak apa saja yang bisa Om masak sampai sekarang masakan Om banyak di sukai oleh orang-orang, yah hasil dari kesenangan Om," jawab Eric, agar Arya tidak merasa bersalah atau tidak enak dengan apa yang ia berikan pekerjaan pada Eric.
"Alhamdulillah, syukur deh, takutnya Om Eric malah nantinya kecapean juga karena bekerja terus dan nanti Arya yang di omelin sama Elin," bisik Arya sembari berkelakar.
[Gue udah di depan rumah sakit loe di mana?] tanya Lucas yang di kirimkan melalui pesan singkat.
__ADS_1
[Ok, sebentar lagi gue juga udah sampai, tunggu lima atau sepuluh menit lagi, perjalanan agak padat.] balas pesan dari Arya.
"Om Eric, Arya pamit dulu yah, ternyata makanan udah ditanyain oleh sepupu Arya," ucap Eric sembari buru-buru menuju rumah sakit tempat tantenya di rawat.
"Iya, hati-hati Dok di jalan, jangan ngebut-ngebut, dan salam juga buat sodaranya dokter Arya yang masih sakit yah, semoga cepat sembuh," balas Eric sembari mengantarkan Arya hingga depan rumah.
"Siap Om, jangan lupa nanti makan siang pesanan Arya diatar kerumah sakit yah, nanti ongkir sama pembayaran makanya Arya transfer." Arya pun langsung pergi setelah urusanya beres dengan Eric.
Arya berjalan tergesa ketika melihat Lucas sedang duduk dengan santainya, sedangkan di sampingnya ada Jiara.
"Iya sorry, gue sempat salah ambil belokan jadi putar ulang, kan namanya juga baru kesini, ya wajar telat-telat dikit," balas Arya dengan santai dan di balas dengan dengusan kasar oleh Lucas.
"Nih makanan dari Umi, dan katanya salam juga buat Tante Ely, biar makin sembuh. Kata Umi juga kalau Tante Ely suka makananya, Umi siap masak setiap hari," ucap Arya, tanganya menjulurkan rantang yang di berikan oleh Eric tadi pada sepupunya.
Lucas lalu mengambil rantang yang Arya berikan dan berjalan mendahului Arya dan Jiara. "Iya sama-sama," lirih Arya, menyindir Lucas yang tanpa tau berterima kasih pergi begitu saja. Bukannya bilang terima kasih atau apa ini malah nyelonong begitu saja.
__ADS_1
"Sabar yah Dok, Tuan Lucas memang kayak gitu, suka lupa ngucapin terima kasih," ucap Jiara sedikit membuat hati Arya adem.
"Hehehe... iya Ji, enggak apa-apa Lucas memang kayak gitu kadang ngeselinya sampai ubun-ubun, aku udah biasa diginiin sama dia, bahkan berantem juga penag. Nih malah bibir masih rada nyeri karena bocah itu." Arya menunjuk bibirnya yang pecah bekas di tonjok oleh Lucas. Tentu ucapanya tidak bisa keras-keras karena kalau yang di gibahin kedengaran bisa di buat bonyok lagi.
"Ya Allah serius Dok, kok jahat banget Tuan Lucas." Jiara yang belum begitu tahu sifat Lucas pun heran dengan sikap bosnya itu yang menurut dia memang seperti sangat misterius. "Emang masalahnya apa Dok, bisa saling tonjok gitu?" tanya Jiara kepo.
"Ya biasa Ji, laki-laki kalau tidak berantem rasa ada yang kurang. Ya kayak kita-kita ini, kalau tidak ada masalah cari-cari masalah terus sampai bisa berantem," kelakar Arya dan mereka akhirnya menyusul langkah Lucas yang sudah lebih dulu berjalan di depan mereka.
"Tapi salut loh, kalau sama cowok itu kalau marahan paling hanya beberpa jam saja, setelahnya baikan lagi. Kalau cewek beda cerita Dok. Bisa -bisa satu bulan atau bahkan satu tahun tidak akan mau bertegur sapa, apalagi kalau sampai pada tonjok-tonjokan, mungkin sampai anak cucunya," ucap Jiara, dan itu memang kenyataan juga.
"Iya kalau cewek memang seperti sudah wataknya kayak gitu, kalau kita mah biasa ajah, kesel sih Lucas itu gampang banget terpancing sekali emosinya, tetapi mau gimana lagi itu sudah jadi sifatnya. Makanya aku cukup senang ada kamu di samping dia, dan mudah-mudahan Lucas itu sekarang bisa menahan emosinya tidak lagi marahan banget, yang apa-apa marah. Karena sifat buruk dia sudah banyak banget masalah yang di sebabin oleh dia, tetapi sekarang kayaknya enggak parah-parah banget kayak dulu," ujar Arya dan mungkin karena memang sekarang sudah nemu calon pawangnya.
"Amin, mudah-mudahan nanti saya sedikit-sedikit membantu mengurangi sifat emosianya yah Dok," balas Jiara dan tanpa sadar karena saking asik bercerita saat ini mereka sudah sampai di kamar rawat Darya.
Jiara pun pamit, karena dia juga akan menemui papahnya yang sekarang ruanganya tidak jauh dari ruangan mamih dari bosnya. Jiara ingin tahu gimana perkembangan papahnya setelah mendapatkan pelayanan yang lebih.
__ADS_1