Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Sang Pesulap


__ADS_3

Hahaha.... Elin terkekeh di dalam sana bersama Arya yang entah laki-laki dan perempuan itu sedang membicarakan apa, tetapi sepertinya dua orang yang ada di ruangan Vip itu sedang terlibat obrolan yang lucu. Eric memegangi dadanya ada bahagia dan juga tidak memungkiri bahwa dia masih merasakan rasa yang takut ketika akan menyampaikan apa yang tadi dokter Marni sampaikan.


"Apa nanti ketika kamu sudah mendengarkan kabar dari papah kamu masih bisa tersenyum bahagia sayang," batin Eric. "Dokter Arya, siapa pun kamu, saya sangat berterima kasih, karena kamu sudah menyelamatkan putri saya dan kamu sudah membuat putri saya tertawa dengan cerita yang sedang kalian bagi." Eric tidak jadi masuk ke dalam ruangan anaknya, padahal tangan sudah menyentuh pegangan pintu, tetapi dia justru melangkahkan kakinya ke tempat duduk yang ada dihadapanya hanya beberapa langah dari tempat ia berdiri.


Eric sejak melihat kebaikan Arya, laki-laki itu seketika mengingat anaknya yang terpidah dengan dia, anak laki-laki yaitu Erlan, yang sejak lahir di bawa oleh Darya. "Apakah kalian tumbuh dan hidup bahagia sesuai yang di katakan oleh papah kamu Rya. Apakah anak kita mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik? Apakah putra kita masih hidup sampai detik ini? Lalu kabar kalian seperti apa sekarang?" batin Eric, biarpun dia di paksa dengan keras agar melupakan Darya dan lain sebaginya tetapi Eric tetap tidak bisa melakukanya, bagi dia Darya adalah jodoh satu-satunya dan jodoh dunia dan akhirat. Eric tidak akan bisa melupakan anak dan istrinya yang terpisah tempat, karena keadaan dia yang miskin itu. Dalam doanya nama mereka selalu dilangitkan bersama dengan nama Elin, jadi tidak ada istilah Eric lupa dengan mereka.


Setelah cukup lama Eric memikirkan putra dan istri yang entah saat ini bagaimana nasibnya, Laki-laki itu kembali bangun dan menghampiri pintu yang berwarna putih. Kembali Eric tidak langsung membuka pintu itu, tetapi seperti tadi berdiri dulu memastikan Elin sedang apa dengan dokter Arya, sepi hanya terdengar obrolan yang sepertinya sedang serius kali ini.


Eric membuka pintu setelah mengetuknya terlebih dahulu. Wajah bahagia Elin yang ternyata sedang tersenyum menyambut Eric dan hati yang damai kembali Eric rasakan setiap melihat pemandangan yang menyejukan itu.


"Papah sinih Pah, ternyata dokter Arya selain berprofesi sebagai dokter dia bisa sulat juga."


Elin ketika tahu bahwa yang masuk kedalam kamarnya adalah papahnya sehingga langsung meminta Eric untuk menghampiri  Arya yang sedang sulap.

__ADS_1


"Wah hebat dokter Arya, sulap itu sulit loh, Papah jadi ingin lihat juga." Eric dengan tergesa menghampiri ranjang Elin dan akan melihat pertunjukan sulap yang Arya tunjukan. Yah, ternyata karena sulap itu Elin tertawa hingga terdengar ke luar ruangan.


Eric menatap Arya dan kedua pandangan mereka saling bertemu, dan laki-laki paruh baya itu seolah mengucapkan terima kasih pada Arya dengan sorot matanya, karena sudah berhasil membuat Elin tertawa. Kembali mengembalikan senyum yang sejak kejadian malam Elin di culik telah hilang. Arya pun membalas dengan anggukan samar dan seulas senyum yang teduh.


"Yah gagal..." ujar Elin dengan wajah kecewanya, ketika sulap yang di sajikan oleh Arya gagal, padahal dari tadi berhasil terus.


"Ah... gagal deh. Kayaknya manteranya tidak manjur, karena ada Om Eric nih," protes Arya sembari terkekeh.


"Iya juga kayaknya aku yang udah kecapean deh. Kalu gitu aku pamit dulu yah Lin om Eric, mau praktek lagi, nanti kalau jam praktek kosong, aku sempatkan datang kesini lagi yah."


"Iya terima kasih yah Dok, terima kasih sudah mau menghibur Elin. Om sangat senang karena melihat Elin kembali ceria lagi. Terima kasih buat semua yang sudah di lakukan oleh dokter Arya, saya tidak bisa membalas apa-apa," ucap Eric haru dan sekaligus senang karena Arya yang perduli dengan Elin.


"Sama-sama Om, lagian tidak perlu di balas apa-apa karena Arya ikhlas melakukan semuanya," balas Arya. "Elin aku balik tugas dulu yah. Ingat yang tadi aku sampaikan kamu harus sehat dan harus cepat pulang biar nanti kita nonton sulap bareng." Arya langsung pamit dan keluar setelah mendapat jawaban dari Elin dan anggukan yang semangat dari Elin.

__ADS_1


"Dokter Arya baik banget yah sayang, dia mau cape-cape datang kesini buat kasih dukungan sama kamu, apa kalian ada hubungan sesuatau?" tanya Eric dengan wajah seriusnya.


Elin putrinya sudah besar sehingga apabila ada laki-laki baik seperti dokter Arya maka Eric rasanya akan merasakan tenang apabila Elin ingin menikah dengan dokter Arya, atau Arya yang ingin menikahi Elin.


"Maksud Papah apa? Setahu Elin dokter Arya baik sama Elin itu karena kata dia Elin itu mirip seperti adiknya Lily yang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu dan meninggalnya Lily karena kecelakaan. Maka dari itu dokter Arya menganggap Elin sebagai adiknya, kata dokter Arya pengganti Lily yang sudah kembali pada Sang pencipta," jawab Elin agar Eric tidak salah paham lagian  mungkin saja Arya di luar sana sudah mendapatkan calon istri, kasian nanti apabila dia digosipkan dengan Elin yang tidak memilki hubungan apa-apa.


"Ya Allah, maafkan Papah maafkan karena tidak tahu cerita kehidupan dokter Arya sehingga jadi kefikiran yang tidak-tidak. Kasihan banget yah nasib dokter Arya, pasti kehilangan banget ketika kehilangan adiknya, mana kejadinya tidak disangka-sangka," balas Eric, untuk membayangkanya saja Eric sudah sedih dan sakit hatinya apalagi ini dokter Arya mengalaminya sendiri.


''Iya Pah, apalagi kayaknya dokter Arya sayang banget sama adik perempuanya yang bernama Lily itu sudah pasti nyesek banget, makanya dia tidak aneh ketika menganggap Elin sebagai adiknya juga. Elin sih seneng-seneng ajah selagi bisa membalas budi pada kebaikan dokter Arya, apalagi kalau tidak ada dokter Arya kayaknya Elin tidak mungkin tertolong dan pasti Papah akan sedih terus, dan Elin juga sedih melihat Papah sedih." Elin mencoba menarik bibirnya. "Tapi sekarang Elin bisa melihat wajah papah yang ganteng lagi dan hal itu membuat Elin suka."


Eric membalas senyum putrinya, dan bahkan ia sampai lupa akan memberikan kabar yang dokter Marni katakan.


Mereka malah membahas hal yang lain dan saling bertukar cerita untuk menghidupkan suasana dan rasa bosan sudah tiga hari Elin menjalani rawat inap.

__ADS_1


__ADS_2