Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 135


__ADS_3

[Kalian buat pelajaran pada wanita murahan itu, jangan biarkan wanita itu menyentuh lagi di rumah Kakekku!! Singkirkan wanita itu dari muka bumi ini!] Itu pesan yang dikirimkan oleh Lucas pada security serta  orang yang berjaga di rumah mewah Philip.  Sedangkan Tamara sendiri dari siang hingga malam hari tidak pulang dan tentunya wanita itu tidak tahu kalau suaminya jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit.


Tamara masih asik berkumpul dengan teman-temanya biasanya Tamara akan pulang menjelang jam sepuluh dan jam sebelas malam, apalagi tadi Tamara sudah izin dengan Philip sehingga ia lebih bebas untuk jam pulang.


"Yang benar saja Raka, masa uang yang kemarin sudah habis. Lama-lama kalau aku meminta jatah uang terus juga kakek-kakek tua itu akan curiga," bentak Tamara, pada Raka yang meminta uang lagi dengan alasan yang sama yaitu service mobil.


"Tidak akan Sayang, kan mintanya juga cuma sepuluh juta," balas Raka, sembari tangannya terus bermain di atas benda yang paling ia sukainya.


"Cuma sepuluh juta? Sepuluh juta itu banyak. Philip sekarang lebih perhitungan dengan uang apalagi kalau aku minta terus-terusan lama-lama kakek tua itu akan curiga lah," tolak Tamara  tetap tidak mau memberikan uang yang di minta oleh Raka.


Laki-laki yang sudah sejak lama menjadi kekasih gelap Tamara pun hanya diam dan mencari cara bagaimana caranya agar Tamara bisa menguasai harta milik suami tuanya. Selain dengan bayi sebab sudah berapa usaha yang dilakukannya ia tetap tidak juga hamil.


Satu kali permainan panas sudah dilewati oleh Tamara dan Raka. Hanya Raka yang bisa mengimbangi permainan Tamara. Sehingga ia akan selalu mendatangi laki-laki itu untuk memuaskan nafsunya, sedangkan dengan Philip ia tidak bisa mendapatkan kepuasan sedikit pun.


"Apa aku harus mengantarkan kama Sayang?" tanya Raka pada Tamara yang langsung mengenakan pakaiannya kembali setelah ia membersihkan tubuhnya, agar Philip tidak curiga karena adanya sisa  parfum laki-laki lain yang menempel di tubuhnya. dan juga sisa cairan bercinta yang mungkin saja bisa di kenali oleh suami sahnya.


"Iya dong, tidak akan ada yang curiga terlebih Philip paling sudah tidur," lirih  Tamar, berjalan saling terpisah agar tidak ada yang mengenalinya. Bahkan untuk keluar kamar hotel juga Tamara dan Raka harus sendiri-sendiri, dan mengendap-endap.


"Mereka selama ini merasa sudah aman tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Apalagi Lucas adalah orang yang gila bekerja ia akan kerja dengan keras dan Philip adalah orang yang sangat mencintainya sehingga ia tidak mungkin mencurigai dirinya, dia  sangat percaya dengan Tamara.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang cepat karena lokasi hotel mereka menghabiskan malam dengan rumah philip tidak lah jauh.


Seperti biasa  mobil Raka akan langsung masuk ke dalam rumah Philip, dan mereka menyamar Raka sebagai sopir taksi online, kumis palsu dan topi serta kaca mata menjadi alat yang wajib Raka pakai agar penyamarannya berhasil. Itu yang selama ini Raka lakukan untuk bisa masuk ke rumah mewah milik Philip.


Namun malam ini terasa beda, biasanya ketika mobil yang ditumpangi Tamara datang gerbang akan buru-buru di buka, dan disambut dengan ramah, tapi malam ini justru Tamara sudah menunjukkan wajahnya dari genus jendela mobil yang ia bukan sebagian, security rumah mewah suaminya masih diam saja di pos. Mereka malah seolah-olah tidak tahu, kalau istri majikannya udah pulang.


"Raka, loe ngelihat mereka aneh nggak sih, kenapa mereka malah kayak santai banget gitu yah. Padahal biasanya kalau aku sudah buka kaca jendela mobil dan mereka melihat aku, pintu gerbang selalu buru-buru di buka," ucap Tamara dengan heran.


"Coba kamu hampiri mereka Sayang, mungkin mata mereka sudah rabun jadi nggak bisa lihat ada majikanya pulang," balas Raka dengan ketus. Tamara pun dengan malas mulai membuka pintu mobilnya dan menghampiri para security yang masih asik berdiam di posnya.


"Pak kalian gimana sih buka gerbangnya saya mau masuk," ucap Tamara, tangannya menunjuk gerbang yang tinggi menjulang, dan wajahnya menggambarkan kejutekkan yang paripurna. Jauh dari dugaan Tamara justru ketiga security yang berjaga di rumah mewah suaminya justru tidak mendengarkan apa ucapannya, mereka seperti sedang bermain-main dengan Tamara.


"Maaf, kami sudah mendapatkan perintah dari Tuan Philip kalau jangan membukakan pintu gerbang untuk siapa pun," jawab salah satu laki-laki yang berpakaian security itu. Kedua mata Tamara langsung melebar dengan sempurna.


"Hay apa kalian lupa atau sudah gila. Aku itu istri dari bos kalian. Istri sah," ucap Tamara dengan tangan yang masih menunjuk-nunjuk dengan sombongnya. Namun justru ketiga laki-laki yang biasanya akan takut dan selalu patuh pada Tamara justru terkekeh dan terlihat sangat bahagia dengan kemarahan Tamara.


"Tuan Philip yang bilang, kalau mulai saat ini kamu bukan istri dia lagi, dan itu tandanya kamu bukan bos kita di sini, jadi tidak ada alasanya kamu patuh pada perintah kamu." Security yang berkumis tebal ikut berkomentar.


Jeduerrrr... bak tersambar petir disiang bolong, itu yang saat ini Tamara rasakan. Tubuhnya seketika lemas mendengar  ucapan security yang saat ini tidak beranjak berdiri sedikit pun dari posnya.

__ADS_1


Tamara menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. "Kalian pasti salah dengar, coba kalian hubungi bos kalian. Tidak mungkin Philip menceraikan aku. Dia sangat cinta denganku tidak mungkin kalau dia bisa menceraikan saya." Tamara terus merancau bahkan tubuhnya bergetar sempurna.


"Silahkan kamu tanya sendiri Nona, karena kami di sini tidak ada yang berani untuk menanyakannya. Apapun yang sudah dikatakan oleh Tuan Philip adalah keputusan yang sudah final," ucap security dan kedua temanya pun mengangguk dengan serentak.


Tanpa terasa air mata Tamara sudah menetes. "Tidak-tidak ini pasti mimpi. Tidak mungkin Philip mau menceraikan aku. Philip sangat mencintai aku. Tidak mungkin dia bisa hidup denganku," rancau Tamara dengan kaki yang berat dan lemas tubuhnya di paksa bergerak menuju mobil yang di dalam sana ada Raka sang kekasih yang sudah dengan sempurna melakukan penyamaran.


Sedangkan Raka di dalam mobil sana sudah mulai tidak bisa duduk dengan nyaman dan dia sudah bisa mengerti dengan keributan di pos satpam sana. "Gimana kalau memang Tamara sudah ketahuan dan tidak bisa kembali lagi kedalam rumah mewah  itu. Pasti hidup aku juga akan semakin sulit," gumam Raka pandangan matanya menatap pada Tamara yang berjalan sembari gemetar menuju mobilnya.


Brugggkkk... suara pintu mobil yang ditutup oleh Tamara berhasil mengagetkan Raka yang sedang melamun. Raka menatap Tamara dengan bingung. "Ada apa ini Sayang?" tanya Raka dengan suara yang lirih dan pandangan yang tajam menatap Tamara.


Tamara sendiri  terkejut dengan suara Raka. Pandangan mata keduanya saling bertemu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Philip sudah tahu hubungan kita, security tadi mengatakan kalau aku tidak bisa masuk ke dalam rumah itu. Philip mengatakan kalau kita sudah cerai." Tangan Tamara terus menunjuk dengan apa yang dia katakan.


"Lalu, rencana kamu saat ini apa?" tanya Raka dengan wajah yang makin serius dan tegang. Dia sendiri sudah hampir sepuluh tahun tidak bekerja, hanya mengandalkan dari uang-uang Tamara yang di dapatkan dari Philip. Namun kalau Tamara sendiri tidak lagi menjadi istri Philip dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk menyambung hidupnya.


Tamara menggelengkan kepalanya lemah ia masih berharap kalau ini semua hanyalah mimpi yang sedang menghampirinya.


"Raka ini semua mimpi kan? Philip tidak mungkin menceraikan aku. Dia adalah laki-laki yang sangat-sangat mencintai aku. Selama ini dia tidak tahu hubungan kita, dan tadi aku berpamitan pada dia juga masih baik-baik saja, tidak ada kecurigaan apapun," lirih Tamar dengan air yang hangat mengalir di pipinya.

__ADS_1


Raka sendiri tidak bisa menjawabnya. Laki-laki itu sendiri masih bingung dengan nasib dirinya.


__ADS_2