
Ambu sang pemilik pesantren sudah pulang, dan saat ini di kamar rawat Zakia tinggal Lucas, Jiara dan Zakia. Lucas masih berdiri di samping ranjang pasien, kedua pandangan matanya seolah enggan untuk lepas dari pandangan mata Zakia, gadis yang masih dalam pelukan Jiara.
"Mohon maaf Tuan, apa Anda bisa duduk di ujung sana, dari pada Anda berdiri di samping tempat tidur Kia, dia ketakutan dan malah tidak mau melanjutkan sarapanaya," ucap Jiara, jangankan Zakia yang masih kecil, Jiara saja sedikit tidak bebas ketika ada atasanya sejak tadi memperhatikanya.
Pandangan Lucas mengikuti tempat yang di tunjuk oleh Jiara, Lalu Lucas menyipitkan matanya. Ia baru sadar bahwa dalam ruangan ini bukan hanya Zakia yang di rawat tetapi mash ada pasien lainya yang tidak hanya satu tetapi ada lima dan dengan Zakia berati dalam ruangan yang di tempati Zakia ada enam pasien, tetapi mungkin keberentungan atau apa, ada dua ranjang yang kosong, alias total pasien dalam ruangan itu hanya ada enam.
Lucas tidak mengikuti arahan dari Jiara untuk duduk di ranjang yang kosong, dia hanya bergeser sedikit dari tempatnya tadi agar Zakia mau turun dan melanjutkan makanya.
"Apa aku terlalu menyeramkan, hinga anak Jiara ketakutan ketika melihat aku," lirih Lucas.
"Jia, kenapa anak kamu ditempatkan dengan pasin lain, kalau kaya gitu dia bisa tertular pernyakit lain, terlebih pasien ujung batuk terus bukanya virus berterbangan dan bisa menyebabkan Kia terserang sakit yang lain," lirih Lucas, ia juga tidak mau yang lain dengar nanti bakal marah pada dia.
"Kami hanya mampu bayar ruangan dengan kelas tiga Tuan, dan itu pun sebagian kami di bantu oleh pemerintah program kesehatan gratis," jawab Jiara sembari tanganya kembali menyuapi Zakia setelah di bujuk kembali Zakia pun mau untuk turun dan melanjutkan sarapan paginya.
"Kalau gitu kamu kenapa tidak menerima bantuan dari aku, bukanya kamu membutuhkan uang buat pengobatan putri dan Papah kamu?" tanya Lucas, dengan tatapan yang terus mencuri pandangan pada anak kecil yang memunggungi dirinya saat ini.
"Anda tahu kondisi saya Tuan, saya adalah wanita kotor, Anda akan rugi kalau menikahi saya, karena saya bukanlah perawan seperti yang seharusnya Anda dapatkan. Saya hanya wanita yang memiliki putri tanpa adanya pernikahan. Siapapun yang akan menikahi saya pasti akan berpikir seribu kali untuk melakukanya" jawab Jiara dengan suara
lirih agar tidak ada yang mendengarnya.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, aku juga bukan orang baik seperti yang kamu bayangkan. Aku juga manusia rusak, sebelum bertemu sama kamu, dan mungkin setelah bertemu sama kamu aku lebih sibuk dengan Mamih dan pekerjaan aku. Bukan lagi sibuk dengan wanita penggoda dan minuman keras yang seperti aku sering lakukan. Kalau seperti itu apa aku bisa di sebut laki-laki baik?" Tidak ada yang harus di tutupi, bagi Lucas lebih baik Jiara tahu dari dia bagaimana kelakuan dia di masa lalu, dari pada dia tahu dari orang lain.
__ADS_1
Jiara diam saja, sebenarnya dia saja sangat membutuhkan uang itu, tetapi kenapa mulutnya setiap akan berkata iya dia mau menikah dengan Lucas terasa berat. "Bunda, Bunda kenapa?" tanya Zakia yang dari tadi melihat bundanya melamun bahkan dia sudah mangap lama tetapi nasi tidak juga Jiara suapkan.
"Oh, maaf sayang tadi Bunda lagi teringat sesuatu." Jiara langsung buru-buru menyuapkan makanan untuk Zakia.
"Baiklah Tuan, saya mau menikah dengan Anda, tetapi satu permintaan saya, terima anak saya dengan iklas, dia anak yang baik jadi tidak akan dia nakal," ucap Jiara dengan mata berkaca-kaca membayangkan apabila suaminya tidak mau menerima anaknya, dan pasti Zakia akan sangat sedih.
"Tenang saja Jia, kamu harus tahu kalau aku juga menyayangi anak itu, malah aku sudah jatuh hati ketika pertama kali melihat anak itu," balas Lucas, dengan senyum mengembang. "Jadi kapan kita menikah, sekarang atau besok?" tanya Lucas dengan sangat entengnya dia bertanya seperti itu.
"Terserah Anda saja Tuan, saya akan mengikuti apa keputusan Anda," balas Jiara pasrah, toh dia juga menikah tidak akan masalah tanpa hadir dan izin dari papahnya mengingat papahnya ada ganguan daya ingatnya.
"Gimana kalau kita menikah sore ini di tempat pesantren yang dulu kamu tinggali, dan setelah itu kamu ikut aku, dan bawa anak kamu untuk mendapatkan perawatan yang baik dari pada di tempat ini, soal biaya dan apapun itu aku yang akan tanggung," ujar Lucas. Entah, dia juga sangat menyayangi anak itu sehingga laki-laki itu ingin memberikan perawatan yang terbaik juga untuk buah hati Jiara.
"Baiklah, Jia akan menghubungi Ambu dan Abah," jawab Jiara pasrah, bahkan dia tidak ada kuasa untuk menolak permintaan Lucas barang sedikit pun. Tangan Jiara meraba-raba saku di gamisnya, tetapi wanita itu baru ingat kalau ponselnya tertinggal di kantor.
"Ponsel aku tertinggal di kan..." Ucapan Jiara terpotong begitu mrelihat kalau ponselnya ada di hadapanya.
"Kamu meninggalkanya di atas meja," ucap Lucas, dan binar wajah gembira Jiara terlihat sangat jelas, di mana sebelumnya ia terlihat sangat panik.
Setelah ponselnya ketemu Jiara langsung menghubungi Abah dan menyampaikan niatnya Lucas datang kesini, dan pernikahan mereka yang akan di langsungkan sore ini dan setelah mereka sah menjadi suami istri Zakia akan ikut dengan mereka berdua dan Lucas berjanji kalau dia akan melakukan pengobatan terbaik untuk anak sambungnya.
Abah pun ternyata menyambut baik niat baik Lucas, terlebih niat Lucas menikahi Jiara karena ingin membantu Jiara lepas dari kesulitan ini, pengobatan papahnya dan juga pengobatan Zakia butuh uang yang tidak sedikit sehingga apabila mengandalkan Jiara kerja sangat sulit untuk mengumpulkan uang dengan nominal yang fantastis. Jiara memutuskan sambungan telepon, setelah Abah dan Ambu setuju, tinggal Jiara mengurus semua perizinan pulang Zakia. Bukan pulang, tetapi lebih tepatnya pindah ke rumah sakit yang fasilitas lebih baik.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Lucas terlihat sangat ingin tahu bagaimana hasil dari Jiara menelepon Aban dan Ambu, yang Jia bilang mereka sudah seperti orang tuanya sendiri.
"Ambu dan Abah akan mempersiapkan pernikahan kita, dan saat ini tinggal mengurus kepulangan Kia, dan mudah-mudahan dokter mengizinkanya," ucap Jiara, seharusnya dia bahagia dengan kabar ini tetapi entah perasaan apa, justru Jiara seperti terpaksa dengan pernikahanya. Padahal sudah sangat jelas kalau Lucas tidak memaksanya. Ia mau menikah dengan Lucas karena keputusanya sendiri.
"Bunda, mau kemana?" tanya Kia ketika Bundanya turun dari ranjang dia untuk meletakkan bekas makanan putrinya.
"Kia di sini sama Om Lucas yah, Bunda mau nemuin dokter dulu dan Kia mau pulang kan? Kita nanti pulang, tapi sekarang Bunda mau ketemu dokter dulu," jawab Jiara dengan mengelus lembut punggung putrinya.
"Kia sama Papah dulu yah, nanti kita lihat gajah, Kia suka gajah. Di ponsel Papah ada gajah. Nanti Kia boleh liat gajah di Hp dulu dan nanti kalau Kia sudah sembuh kita jalan-jalan sama Bunda," bujuk Lucas, dengan memanggil dirinya sebutan papah, bukan om sesuai yang Jiara ajarkan pada Zakia.
Gadis kecil itu nampak berpikir keras dan beberapa kali menatap Jiara seolah ia tengah bertanya pada Bundanya.
"Kia di sini dulu yah. Bunda tidak lama kok, nanti setelah Bunda selesai dengan dokter, kita langsung pulang. Dan sekalian kan Bunda mau tanya kalau Kia boleh makan ayam kriyuk-kriuk atau tidak. Kia pengin ayam kriuk-kriuk kan?" tanya Jiara agar Kia mau di tinggal berdua dengan Lucas, calon papah sambungnya.
Kia pun akhirnya mengangguk samar. Gadis kecil itu yang sudah sangat ingin makan ayam kriuk-kriuk pun tidak sabar untuk menikmatinya, dan akhirnya mau ditinggal bersama Lucas.
Jiara pun setelah menitipkan putrinya, langsung menuju ruangan resepsionis untuk bertanya dokter yang menangani putrinya, dan setelah mendapatkan informasi Jiara langsung mengetuk dokter penanggung jawab Zakia, untuk izin meminta izin pulang.
...****************...
Teman-teman sembari nunggu kelanjutannya si kembar Elin dan Lucas, yuk mampir ke karya teman othor, dijamin pasti bikin baper....
__ADS_1
kuy ramaikan... 🙏🙏