
Lucas menodongkan pistol kearah Arya tepatnya di depan kepala Arya, tetapi Arya bukanya takut atau apa, sepupunya malah mendekat dan terus mendekat kearah Lucas.
"Tembak gue, kalau itu bisa menghilangkan dendam loe, gue rela kehilangan nyawa gue buat adik tiri loe. Tembak gue sekrang juga!! Karena gue juga lelah menjalani hidup yang sudah kehilangaan warna ini. Lily adik gue adalah pelangi dalam hidup kami tetapi gue harus kehilangan warna itu. Bunuh gue agar gue bisa bertemu dengan adik perempuan gue," bentak Arya, justru meminta Lucas menembakan peluru di otaknya.
Pyarr... Lucas menembak kan pelurunya ke botol yang ada di meja, Arya tidak bergeming sama sekali dia seolah sudah biasa dengan suara yang sangat membengkakan telinga itu. Selanjutnya Lucas melempar pistolnya dan berdiri lalu memunguti pakaianya dan mengenakan. Lalu laki-laki itu duduk di atas sova yang ada di pojok kamar tersebut.
"Tujuan loe datang kesini apa? Mau membahas anak pelakor itu kan? Cepat katakan setelahnya loe pergi dari sini dan jangan kembali lagi," ucap Lucas sembari menuangkan minuman yang selalu ia konsumsi, dan dia anggap bisa menenangkan pikiranya.
Arya menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan. Ia berjalan dan duduk di sova yang bersebrangan dengan Lucas. "Gue minta loe setop jangan bikin Elin menderita lagi, sudah cukup loe buat hidupnya sehina sekarang, dia tidak salah dan gue bisa jamin kalau dia bukan anak pelakor seperti yang loe pikirkan...(Bicaraa Arya terhenti karena suara Lucas yang dengan lantang tertawa terbahak-bahak)
"Hahahah... Sudah di hasut apa ajah loe sama wanita berwajah sok polos itu? Di janjiin apa loe sampai rela pasang badan demiĀ anak pelakor itu? S*k atau apa?" tanya Lucas masih dengan tawa yang meremehkan.
__ADS_1
"Gue tanya apa loe dapat info kalau Elin anak pelakor dari Philip atau dari Tamara?" tanya Arya, dia dari tadi selalu serius dengan pembahasan ini. "Kalau dari dua orang itu, bukan dari mulut Mamih loe sendiri lebih baik loe cari tahu lagi kebenaranya, bukan gue nuduh yang tidak-tidak tetapi loe tahu sendiri sifat kakek loe seperti apa dan juga Tamar seperti apa, seharusnya loe tidak menelan mentah-mentah informasi yang keluar dari mulut dua orang itu tanpa mencari tahu dulu kebenaranya." Arya terus berusaha memberikan masukan untuk Lucas, bahkan Arya bersikap cuek dengan profokasi yang Lucas sengaja ada-ada agar Arya terpancing. Arya ingin Lucas tidak percaya begitu saja terhadap ucapan Philip dan istrinya, bukan tidak mungkin Philip memang melakukan sekenario itu agar Lucas membalaskan dendamnya, atau ada maksud lain Arya hanya menduga-duga.
"Kenapa loe sekarang jadi bawel banget sih, dan kenapa loe terlalu membela wanita itu apa istimewanya gadis kucel itu?" geram Lucas.
"Asal loe tahu gue membela seseorang bukan asal bela tampa pertembangan yang matang, loe tahu gue bukan orang yang bodoh, gue bisa nilai oraang benar atau tidak meskipun hanya dalam sekali pandangan, apalagi gue sudah mengobrol dan mencari tahu tentang kehidupan Elin dan papahnya, dan gue yakin bahwa tuduhan loe hanya isapan jempol semata, Elin tidak seperti yang loe tuduhan dan juga papah loe bisa dilihat dari cara berbicara dan cara melindungi Elin bukan ciri-ciri laki-laki yang selingkuh, tetapi tidak tahu kalau dia melakukan semua itu dengan terpaksa. Seharusnya itu jadi tugas loe buat cari kebenaranya.
Maka dari itu gue ingatin loe sebelum loe menyesali semua perbuatan loe setelah semuanya tidak ada, alangkah baiknya mulai sekarang loe cari tahu kebenaranya. Coba mulai sekarang rubah kebiasaan buruk loe. Jangan setiap ada masalah loe larikan ke s*k, hiburan wanita-wanita murahan loe taiki terus, dan minuman itu, gue yakin apabila Mamih loe tahu perbutan anaknya dia akan menangis sejadi-jadinya. Mulailah dekatkan diri ada mamih loe, siapa tahu bukan pengobatan yang bertahun-tahun yang di butuhkan mamih loe untuk bisa sembuh, tetapi perhatian dari anaknya. Siapa lagi yang akan perduli dengan mental mamih loe, kalau loe ajah tidak penah menemuinya, tidak pernah mendengarkan curhatanya.
Setelah Arya pergi, Lucas napaknya berpikir dan mungkin otak dia sedang benar. Lucas langsung menyambar jasnya dan meminta sopir mengunjungi rumah sakit tempat mamihnya di rawat. Lucas bahkan lupa kapan terakhir kali dia mengunjungi mamihnya, bahkan beberapa ulang tahun mamihnya dia sudah lewatkan tidak merayakanya lagi, setelah terakhir dia datang merayakan ulang tahun dengan ibunya tetapi justru mamihnya marah dan mengamuk karena Lucas yang mengunjunginya membawa kue ulang tahun, dari situ Lucas semakin merasa datang menemui mamihnya juga tidak ada gunanya lagi, karena justru kondisi mamihnya yang semakin parah.
Hati Lucas teriris, ketika melihat kondisi ibu kandungnya yang semakin kurus dan seolah tidak terawat, padahal mamihnya tinggal di rumah yang mewah dan tentu dokter yang menjaganya adalah dokter terbaik.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan lagi Mih untuk membuat Mamih sembuh, setidaknya bercerita apa yang sebenarnya Mamih alami hingga mamih seperti ini," batin Lucas sebelum di masuk ke kamar Mamihnya. Hatinya belum siap mendekati Mamihnya.
Terutama tinggal di rumah ini dirawat dengan baik tetapi kondisi wanita yang telah melahirkanya justru terlihat semakin parah. Dulu Lucas melihat Mamih masih segar dan bergairah. Tidak seperti ini.
Lucas dengan tangan lemasnya membuka pintu kamar Mamihnya, tentu dengan pendampingan dokter yang menjaga mamihnya.
Wanita yang sedang melamun itu pun menoleh kearah pintu dengan wajah yang tidak terawat lagi. Hati Lucas teriris, baru kali ini dia sedih melihat kondisi ibunya, sedang biasanya ia datang hanya untuk menengok bahkan tidak pasti kadang sebulan satu kali kadang lebih dari satu bulan baru datang menemu Mamihnya.
"Erlan... Apa itu Erlan anak Mamih?" lirih ibunya dengan suara bergetar.
Lucas langsung memeluk Mamihnya dengan tangis yang pecah.
__ADS_1