Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pingsan


__ADS_3

Arya menatap ponselnya yang tiba-tiba berbunyi di tengah-tengah jam makan siangnya. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya ketika melihat siapa yang meneleponnya.


"Siapa Dok?" tanya Elin, yang heran dengan reaksi Arya yang melihat layar ponselnya, siapa gerangan yang memanggil.  yah seolah sudah menjadi kebiasaan Arya saat ini setiap jam makan selalu keruangan Elin untuk makan bersama-sama.


"Rekan kerja, saya tinggal dulu yah Lin, Om Eric, sepertinya ada yang emergency." Arya tanpa menunggu jawaban dari Elin dan Eric langsung meninggalkan makanannya yang masih banyak itu.


[Assalamualaikum, Hello apa ini dokter Arya?" tanya wanita dari balik nomor telepon Lucas, sepupunya.


[I... Iya saya Arya, mohon maaf ini siapa yah? Kenapa ponsel sepupu saya ada sama kamu?" tanya Arya, dia jadi cemas juga, tidak mungkin ponsel Lucas ada di tangan orang lain, kecuali memang terjadi sesuatu degan Lucas. Terlebih yang saat ini memegang telepon Lucas adalah wanita, dan lagi, sepertinya wanita baik-baik.


"Saya Jiara Dok, bisa Anda datang ke tempat ini Dok, Mas Lucas tiba-tiba perutnya sakit dan dia sekarang sedang sama saya," jawab Jia dengan suara bergetar, takut terjadi apa-apa. Dan juga saat ini di tempat duduk mereka sudah terjadi kerumunan, dan pemilik restoran juga datang. Mungkin mereka takut kalau Lucas keracunan atau alergi dari makanan yang lucas makan, itu sebabnya mereka berkumpul. Saat ini Lucas juga di tahan tubuhnya oleh pemilik restoran, agar tidak terjatuh, karena tubuh Lucas yang sudah lemas seolah dia pingsan tetapi masih bisa merasakan sakit daan merengek seperti anak kecil yang kesakitan.


"Aduh... aduh..." Itu adalah rengekan yang keluar dari bibir Lucas yang terlihat semakin pucat.

__ADS_1


Arya langsung mematikan ponselnya dan berjalan dengan tergesa menuju alamat yang sudah wanita yang bernama Jiara itu bagikan.


"Apa yang terjadi dengan Lucas, tumben sekali ponselnya boleh ada yang pegang, mana dia wanita dan panggil dengan sebutan 'Mas' apa selama ini Lucas sudah memiliki kekasih? Ah... tapi rasanya tidak mungkin kalau Lucas bisa di luluhkan hatinya oleh seorang perempuan," batin Arya, dia tidak terlalu memikirkan sakit yang di katakan oleh wanita itu, tetapi justru Arya lebih tertarik dengan siapa wanita yang tadi meneleponnya dengan telpon sepupunya.


Pikirannya di peras untuk bekerja keras mengingat siapa Jia, bahkan sekeras apapun otaknya bekerja, Arya tetap tidak kenal dengan wanita yang bernama Jia tersebut. "Jia, siapa dia? Kenapa aku bahkan baru mendengar namanya,"  gumam Arya, pikirannya terbang dan memikirkan wania dengan nama Jia itu, tetapi pandanganya tetap fokus ke jalanan. Kendaraanya melesat cukup kencang menuju restoran yang letaknya lumayan jauh dari rumah sakit tempat Arya bekerja.


Begitu mobil sudah terparkir di halaman restoran Arya langsung mengayunkan kakinya setengah berlari, ia bahkan lupa tidak membawa peralatan yang memadai, itu semua karena Arya yang sedang makan siang dan terburu-buru. Alat yang ia bawa adalah alat medis yang selalu ia bawa di dalam mobil untuk antisipasi ada pasien yang butuh pertolongan di saat dia di jalan atau di mana saja. Pandangan Arya langsung tertuju pada orang-orang yang berkerumun. Yah, Arya sudah sangat yakin kalau orang-orang itu sedang mengerumuni Lucas.


"Permisi-permisi" Arya meminta di bukakan jalan untuk memberikan pertolongan pada Lucas. Setelah memeriksa dan semuanya organ dan jantungnya masih bekerja dengan normal, Arya meminta beberapa orang membantu mengangkat tubuh Lucas untuk di bawa kerumah sakit.


"Untuk pastinya saya tidak bisa menyimpulkannya saat ini Tuan, tetapi sepertinya Anda juga harus ikut kami untuk memastikan sepupu saya tidak kenapa-napa, karena kan semuanya harus di tes laboratorium untuk memastikan sebab sepupu saya seperti ini, biar semuanya jelas dan terbuka," jawab Arya dan di ikuti oleh pemilik restoran yang mengikuti mobil Arya untuk membawa ke rumah sakit. Begitu pun Jia yang saat ini memegang barang-barang Lucas termasuk ponsel, jas dan lain sebagainya. Jia menyusul mobil Arya menggunakan ojek online. Arya tidak tahu bahwa ada gadis di belakang dia yang repot dengan barang Lucas akan masuk ke mobil mereka untuk memberikan barang-barang Lucas, tetapi malah Arya menutupnya. Terpaksa Jia menyusul ke rumah sakit yang Arya tuju.


Setelah bertanya pada petugas rumah sakit Jia diarahkan ke ruangan VVIP tempat Lucas di rawat. Memang Jia tidak langsung mengikuti Lucas dan Arya masuk ke dalam rumah sakit. Jia lebih dulu menyendiri di dalam masjid, untuk memberi waktu pada Lucas mendapatkan penanganan. Cukup Lama Jia duduk seorang diri di dalam masjid rumah sakit dengan membaca buku yang selalu ia bawa.

__ADS_1


Jiara mengikuti petunjuk dari yang petugas arahkan, sesekali bertanya pada perawat, atau pengunjung yang berpapasan untuk memastikan ruangan VVIP yang di maksud petugas tadi katakan, dan tempat itu adalah ruangan yang di tempati Lucas.


"Dari nama ruangan yang di tempati saja laki-laki itu adalah orang kaya, pantas memberikan saya pekerjaan dengan gampang. Mungkin dia adalah CEO kaya," batin Jia, tetap berjalan menuju ruangan yang berada di nomor dua dari ujung lorong rumah sakit.


"Masuk!" jawab orang yang ada di dalam ruangan itu, ketika Jia mengetuk pintu berwarna putih itu. Jia membuka pintu dengan perlahan dan memberikan sapaan pertamanya dengan seulas senyum terbaiknya.


"Maaf Tuan, saya mengganggu Anda. Saya hanya ingin mengembalikan barang milik Mas Lucas." Jia menjulurkan ponsel dan jas. Di mana mereka bertemu pada hari ini adalah untuk mengembalikan jas milik Lucas, tetapi justru semuanya kacau karena Lucas yang tiba-tiba sakit perut.


"Apa Anda yang bernama Jia?" tanya Arya dengan suara ramahnya, sedangkan Lucas masih terhipnotis dengan senyum manis yang Jia berikan. Dan suara lembutnya seolah obat dari sakit-sakit nya.


"Benar saya Jiara, apa Anda adalah dokter Arya?" tanya balik Jia dengan suara lembut dan sopan. Lucas masih terus mengawasi sepupunya yang sepertinya juga tertarik dengan wanita berhijab yang sudah berhasil membuat Lucas bahagia hatinya. Meski kedatangan Jia keruangan ini untuk mengembalikan jas dan ponselnya.


"Iya betul Mba, saya Arya, sepupu dari Lucas, laki-laki yang tadi sempat di tolong sama Mba. Ngomong-ngomong terima kasih loh sudah bantuin Lucas untuk buru-buru menghubungi saya, jadi dia sampai saat ini masih hidup," kelakar Arya sembari melirik pada Lucas yang sudah mengobarkan api peperangan.

__ADS_1


"Sama-sama Dok, kebetulan kita memang siang tadi sedang melakukan pertemuan yang tidak penting, jadi sudah seharusnya saya membantu Mas Lucas. Tapi sekarang kondisi Mas Lucas gimana, Dok?" tanya Jia, entah wanita itu sadar atau tidak menanyakan seperti itu.


Arya membalikan tubuhnya dan menghadap ke Lucas dan mengedipkan sebagai ledekan kalau dia di cemaskan oleh wanita cantik dan sholehah.


__ADS_2