Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 224


__ADS_3

Elin meletakan kepalanya di dada Lucas, yang banyak alat medis dengan perlahan. "Aku ingin kamu bangun dan kita akan bermain bersama kamu gendong aku, dan kamu lindungi aku, aku adalah adik kamu, kamu lihat tubuh aku lebih kecil dari tubuh, kamu harus lindungi aku. Lucas bangunlah." Elin yang semakin  putus asa pun memukul mukul dada Lucas.


"Kamu jahat Lucas, kamu jahat, aku benci sama kamu, kamu tidak pernah mau tahu bagaimana sakitnya hati ini ketika kamu buat aku hina, dan menderita, kamu bahkan hancurkan masa depan aku. Kamu bukan sodara aku. Aku benci kamu, aku benci kamu." tangis Elin semakin pecah dan ambruk di tubuh sodara kembarnya.


"Kamu jahat Lucas! Kamu orang paling jahat yang pernah aku kenal!" Suara Elin kembali melemah. Dengan keputus asaan.


Namun, sedetik kemudian Elin merasakan ada yang gerak di atas kepalanya, dengan tersentak kaget Elin mengangkat tubuhnya di mana tangan lemah Lucas ada di atas kepalanya tengah mencoba membelai rambut lepek Elin. Yah gimana tidak lepek gadis itu dibersihkan rambutnya hanya dua hari sekali.


"Lucas, apa ini kamu? Kamu hidup lagi? Kamu hidup lagi Lucas." Elin sampai lupa di tanganya masih ada selang infus dia justru berjingkrak dan benar-benar memeluk tubuh Lucas, hingga tanpa sadar selang infusnya terlepas dan darah keluar dari bekas jarum yang menempel.


Elin lupa saudara kembarnya masih membutuhkan alat medis dia terlalu bahagia hingga beberapa kali memeluk bahkan mencium punggung tangan Lucas. Ini adalah kabar bahagia Elin tidak mau menyi- nyiakanya. Sehingga Elin terus memeluk tubuh lemah Lucas.


"Lucas, katakan kamu hidup lagi?" tanya Elin seolah dia tidak puas sedangkan ia bisa melihat kalau mata Lucas saja terbuka dan berkedip. Di balik masker oksigen yang menempel diarea mulut Lucas, laki-laki itu menyunggingkan senyum tipisnya dan terlihat juga wajah bahagia dari Lucas.


"Elin kembali terisak dengan tangan Lucas yang ia pegang dan ada darah dari bekas luka Elin. "Aku senang banget kamu hidup lagi Lucas, aku senang banget akhirnya aku bisa marah sama kamu. Kamu harus cepat sehat karena aku akan marah sama kamu. Kamu harus tahu bagaimana menyeramkanya ketika aku marah." Elin menagis tersedu dengaan tangan Lucas yang di tempelkan di pipi.


"Ma... Ma...af..." Dengan terbata Lucas mengucapkan kata maaf.

__ADS_1


Namun Elin buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan memaafkan kamu, pokoknya kamu sembuh dan datang ke aku untuk buktikan kalau kamu merasa bersalah, bukan seperti ini. Kamu dan aku memiliki sifat keras kepala yang sama, jadi aku masih belum memaafkan kamu . Kamu ingat itu "AKU BELUM MEMAAFKAN KAMU, LUCAS" Elin menekankan kata 'Belum memaafkan kamu'. Yah tentu tujuanya agar Lucas kembali berjuang untuk semakin sembuh dan datang untuk berkumpul bersama.


Sementara Lucas justru semakin terkekeh dengan ucapan Elin itu.


Lucas yang melihat darah dari tangan Elin, pun dengan perlahan mengusapnya. "Sa...kit?" tanya Lucas dengan suara yang lirih.


"Ini tidak seberapa sakitnya dari pada tahu bahwa kamu adalah sodara kembar aku, belum lagi kamu yang juga belum minta maaf tiba-tiba Kak Jiara bilang kamu meninggal." Elin kali ini sudah bisa mengontrol perasaanya.


"Lucas, cepatlah bangun aku kasihan dengan Kakak Jiara dan juga Zakia. Bahkan Kak Jia tidak mau melihat kamu. Dia menjadi wanita yang sangat sedih ketika tahu kamu meninggal. Zakia, dia bahkan jadi anak yang rewel sejak kamu kritis." Elin kembali terisak samar.


"Aku ke luar dulu yah, untuk kabarkan pada keluarga kita yang sedang sedih di luar sana, terutama istri kamu yang cengeng itu," ucap Elin setengah bercanda, dan dibalas anggukan samar oleh Lucas.


Elin pun terakhir kalinya mengusap keringat di wajah Lucas. "Kamu cepat sembuh, dan mintalah maaf dengan cara yang baik pada aku!"


Kini Elin ke luar dengan tangan yang tidak ada lagi selang infus, alat yang hampir dua minggu menempel di tanganya, dan sudah sangat membosankan Elin tinggalkan begitu saja.


Sebelum tangan Elin membuka pintu ruangan Lucas, wanita dengan paras cantik itu kembali membalikan badan dan menatap Lucas yang dari wajahnya terlihat senyum yang sangat mirip dengan dirinya. Elin akan ke luar dengan wajah yang bahagia, dia mengusap air matanya dan bibir yang tersungging dengan sempurna.

__ADS_1


"Elin..."


Secara serempak mereka berdiri, bahkan saat ini sudah ada Arya dan Marni serta Zakia dan suster Rini, yang secara serempak mereka mengucapkan. "Alhamdulillah."


Padahal Elin belum mengabarkan apa yang terjadi dengan Lucas, dokter Handoko dan juga dokter Eka pun Elin lihat sedang berjalan dengan tergesa menuju tempatnya berdiri. Untuk kembali masuk pada kamar rawat Lucas dan memeriksa sebelum di pindahkan ke ruang yang lebih lega.


"Tante, apa Papah akan sembuh?" Suara Zakia membuat orang-orang langsung mengfokuskan pandangan mata mereka pada bocah kecil yang dalam hitungan beberapa hari akan merayakan ulang tahun.


Jiara yang sangat bahagia pun langsung memeluk Zakia. "Kia, doa-doa Kia sudah dikabulkan oleh Allah. Papah sembuh sayang," ucap Jiara dengan tangisanya dan suara yang bergetar, hingga orang yang ada di sana kembali terisak melihat pemandangan itu.


"Holleh... Jadi Kia mau layakan ulang tahun Kia deh. Kia juga mau jalan-jalan ke kebun binatang." Zakia berjingkrak gembira dalam sesaat suasana pun kembali gembira. Bahkan ketika melihat bocah kecil itu dengan gerakan gemulainya menari-nari menujukan kebahagiaanya.


Jiara pun kembali memeluk buah hatinya dan menghujani sekujur wajahnya dengan ciuman. Wanita berhijab itu sangat bersyukur karena telah memiliki Zakia. Bocah kecil yang pernah menjadi makhluk Tuhan yang paling dia benci.


"Terima kasih Tuhan, Engkau telah kirimkan Kia untuk penguat aku disaat aku rapuh, aku tidak bisa membayangkan kalau Engkau dulu mengabulkan doa aku. Maafkan aku yang dulu marah pada Mu dan juga menyalahkan takdir dari-Mu hingga aku membangkang dari ajaran-Mu, dan ternyata ini adalah rahasia takdir yang sangat indah dari Engaku untuk hamba." Jiara menatap Zakia penuh bahagia.


"Maafkan Bunda Kia, Bunda sudah jadi orang tua yang jahat untuk kamu. Bunda menyesal, ternyata kamu adalah penolong Bunda di saat Bunda lemah," ucap Jiara dengan tangisanya dan mata yang terus menatap buah hatinya.  Meskipun Jiara sudah berkali-kali meminta maaf pada Zakia, dan buah hatinya pun sudah memaafkannya dan bahkan dia tidak pernah marah dengan bundanya, tetapi rasa bersalah masih terus menghampiri Jiara. Terutama ketika Jiara mengingat masa-masa kehamilannya.

__ADS_1


__ADS_2