Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Teka-Teki yang Membingungkan


__ADS_3

Diki menghirup nafas lega, akhirnya ada satu anggota yang perduli dengan nasib pasienya. Sudah lama Diki ingin merundingkan masalah ini, tetapi lagi-lagi kendalanya adalah keluarga pasien yang cuek dan masa bodo dengan perkembangan mental Dayra. Sehingga sekeras apapun Diki berusaha untuk mengobati Darya, apabila keluarganya cuek dan tidak perhatian tentu pasien juga ikutan emosinya kuat dan akan sulit juga untuk sembuh.


"Alhamdulillah, akhirnya ada yang perduli dengan nyonyah Darya, jujur saya ingin sekali sharing dengan anggota keluarga pasien saya yaitu nyonyah Darya, tetapi selama sepuluh tahun saya merawat beliau bahkan saya sulit untuk memberikan laporan perkembangan pasien dan kendala dalam penangananya apa saja. Bahkan saya sendiri hampir pasrah, dan mungkin memang pasien hingga ajal menjemput tidak akan pernah sembuh meskipun saya berjuang sebegitu keras, tetapi apabila anggota keluarga seolah tidak perduli dengan nyonyah Darya, rasanya pasien juga kasihan, yang ada dia akan tertekan, dan dengan Tuan Lucas yang mulai perhatian dengan nyoyah semoga ini adalah awal yang baik." Diki mengungkapkan apa kesulitan yang dia alami dalam merawat pasienya.


Deg!! Jantung Lucas seolah berhenti mendengar laporan dari Diki, dokter yang selama ini menangani mamihnya.


"Apa selama ini kakek tidak sungguh-sungguh ingin agar Mamih sembuh?" batin Lucas yang lagi-lagi makin penasaran dengan apa yang kakeknya kira-kira rahasiakan," batin Lucas, pandangan matanya kembali menangkap mamihnya yang selalu ketakutan itu. Bukan hanya mamihnya yang ketakutan. Lucas juga mulai merasakan ketakutan, takut apabila yang di katakan Arya adalah benar, bahwa dia sudah termakan fitnah oleh orang terdekatnya. Sehingga membuat Elin menderita.


Tidak lama sopir masuk dengan beberapa kantong pelasik besar, di mana di dalam terdapat bok makanan. Dari harum yang menguar hingga keluar dan memenuhi dalam mobil, sudah bisa di simpulkan bahwa makanan itu sepertinya memang rasanya sangat lezat.


"Ini Tuan kembalianya." Sopir mengulurkan uang kembalian untuk membeli makan siang yang masih cukup banyak.


"Kamu simpan saja!"


"Terima kasih Tuan." Uang pun ditarik kembali dan masuk ke dalam saku celananya.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Darya, hidungnya mengendus harum makanan yang membuat perutnya yang lapar.


"Makan siang, Mamih mau makan siang?" tanya Lucs dengan suara di buat halus, dan Darya langsung mengangguk dengan semangat, karena memang cacing di perutnya sudah berdemo. Ini sudah jam makan siang. Lucas mengambil satu bok makanan pesananya dan akan menyuapi Mamihnya yang ternyata wanita itu sudah tidak marah-marah lagi dan justru sekarang Mamihnya sudah tersenyum dengan tidak sabar menikmati makan siang yang dari aromanya saja sudah menggelitik perut yang lapar. Akhirnya siang ini dokter Diki, sopir Lucas dan Darya makan di halaman lestoran yang cukup mewah.


Hal yang tentunya tidak pernah Lucas rasakan dan terfikir dalam benak Lucas pun tidak pernah, tapi hari ini karena ingin memanjakan mamihnya yang masih depresi berat ia harus melakukanya.


Suap demi suap dari tangan Lucas sudah berpindah ke mulut mamihnya. Tangan mamihnya belum bisa di lepas terlebih ini tempat umum apabila Darya kambuh takut melukai orang lain. Sehingga Lucas dengan sabar melakukan tugas yang mungkin mamih nya juga lakukan ketika dia masih bayi, Menyuapinya dengan sabar.


"Makananya enak tidak?" tanya Lucas yang dia sendiri mengiler ketika melihat mamihnya makan dengan lahap.


Satu bok makanan sudah berpidah ke perut Darya. "Mamih sudah kenyang belum?" tanya Lucas, takutnya wanita itu masih lapar, masih ada satu bok lagi jatah makan dirinya.


"Mau lagi," jawab Darya dengan suara yang tidak begitu jelas hal itu karena di mulutnya masih ada makanan yang sedang dikunyah.


Lucas terkekeh samar, tetapi senang juga ketika melihat mamihnya makanya banyak. Sebelumnya Lucas pernah  bertanya pada perawat yang mengurus mamihnya. Kenapa badan mamihnya sangat kurus seperti orang kekurangan makanan? Perawat itu memberikan alasan yang cukup masuk akal. Nyonya Darya sangat sulit untuk makan. Namun siang ini Mamihnya justru makan dengan lahap dan juga mau nambah.

__ADS_1


Satu bok terakhir makan siang. Lucas ambil lagi untuk wanita yang telah melahirkanya yang masih kelaparan. Bahkan rasa lapar dia sudah hilang ketika melihat mamihnya makan dengan sangat lahap.


"Nah, Mamih mulai sekarang makanya yang banyak yah. Biar tidak kurus. Nanti kalau Mamih sudah  sembuh kita jalan-jalan yah." Lucas kembali menyuapkan makananan ke mulut Darya.


"Jalan-jalan kepantai, sama suami aku kan?" tanya Darya dengan antusias.


"Suami-suami dan suami, siapa sebenarnya yang mamih maksud. Apa suami yang mamih maksud adalah suami yang sudah menghianatinya. Sungguh sangat disayangkan sekali laki-laki itu di cintai begitu tulus oleh mamihku, tetapi kelakuanya sebaliknya," bain Lucas. Mulutnya di kunci sudah tidak ingin bertanya apa-apa lagi dengan mamihnya, karena pada ujungnya selalu membahas suami dan suami yang Lucas sendiri tidak tahu sosok suami yang mamihnya maksud.


Dua bok makanan sudah berpindah pada perut Darya, dan kini waktunya mereka pulang dan akan langsung menuju ke rumah sakit jiwa yang mungkin kedatangan Lucas sudah di tunggu.


"Mamih sudah kenyang dan sudah jalan-jalan sekarang kita pulang yah." Lucas mengusap bibir mamihnya yang kotor karena bekas makanan yang menempel, dengan tisu.


Darya hanya mengangguk kembali fokus dengan jalanan. Lebih baik seperti itu dari pada dia mengamuk. Pikir Lucas. Yang baru tahu kondisi mamihnya sangat buruk sekarang ini. Betapa menyesalnya Lucas, ketika ia baru mengetahui kondisi mamihnya seperah ini. Setelah begitu lama mamihnya terpasung dalam kamar yang mewah, tetapi terbelenggu dengan kesepian, dan minim perhatian dari keluarganya, bahkan anaknya sendiri selama ini selalu sibuk dengan dunianya, tanpa mau peduli dengan kodisi wanita yang telah melahirkan, dan memberikan kehidupan untuknya.


"Aku akan menebus waktu yang terbuang ini, Lucas akan buktikan bahwa Lucas adalah anak yang pantut Mamih banggakan. Mamih boleh membalas dendam Mamih apabila sudah sembuh. Berjanjilah sembuh Mih, agar Mamih menjemput kebahagiaan yang selama ini Mamih tidak pernah rasakan," lirih Lucas pandangan matanya selalu menatap mamihnya, dan ingin ia menarik tubuh kurus itu dalam pelukanya, tetapi ia takut kalau justru Darya akan mengamuk lagi, dan berusaha melukai tubuhnya kembali.

__ADS_1


"Berjuang yah Mih, anakmu akan selalu ada di saat Mamih butuhkan."


__ADS_2