Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Berpura-pura Mengalah


__ADS_3

Pagi hari menyapa di rumah mewah Philip, cahaya matahari yang terang dan terasa hangat sudah mulai masuk dari sela-sela jendela dan membuat Lucas terbangun, karena silau matahari yang sudah mengganggu tidur nyenyaknya. Kepalanya masih berat, entah semalam Lucas bisa memejamkan matanya di pukul berapa, yang jelas Lucas merasakan sulit untuk memejamkan matanya terlebih setelah pikirannya terjebak dalam bayang-bayang Elin, bayang-bayang wanita malang itu.


Tangan Lucas memijit pelipis kepalanya dengan lembut. "Sampai kapan bayang-bayang gadis malang itu akan terus menghantui aku? Aku lelah kalau harus di kejar-kejar oleh perasaan bersalah pada dia, tetapi aku juga enggak mau meminta maaf kalau aku belum tahu semuanya," gumam Lucas, selimutnya kembali di pasang hingga menutupi batas lehernya, badannya terasa meriang, entah itu karena pikirannya terlalu memikirkan Elin atau karena semalam dia berjam-jam mengguyur tubuhnya dengan air  dingin. Sebelah tangannya meraih ponsel di nakas samping tempat tidur king size'nya. 


Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi, di mana biasanya dia sudah berangkat untuk bekerja, tetapi sudah beberapa hari Lucas merasakan tidak ada semangat lagi untuk bekerja.


Pikirnya terbang kembali ke pesan yang tanpa nama, di mana nanti setelah selesai makan siang Lucas ada janji dengan gadis berkerudung itu. Sebenarnya Lucas kalau soal jas dia tidak masalah sekali pun gadis itu tidak mengembalikannya tetapi ini soal hatinya yang merasa senang dan nyaman ketika berada di dekat gadis berhijab itu. Tidak hanya itu Lucas juga ingin tahu wajah dan nama gadis itu siapa, kenapa bisa perempuan yang belum ia tahu namanya dan belum juga ia tahu wajahnya, tetapi sudah berhasil mengganggu pikirannya.


Tubuhnya yang terasa kurang enak, dan kepala yang berdenyut, di paksa oleh Lucas untuk bangun dan akan menemui wanita yang sudah mengganggu pikirannya, dan membuat jantungnya bekerja lebih kencang lagi. Lucas juga jadi teringat dengan rencananya di mana dia ingin juga meminta maaf pada kakeknya, hanya untuk mengambil simpati lagi. Tidak masalah dia mengemis maaf dan seolah lemah di hadapan Philip yang terpenting Lucas jangan sampai terusir dari rumah ini, agar dia lebih mudah mengawasi kakeknya itu.


Air hangat membasahi tubuhnya yang kekar, kali itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan diri. "Kayaknya gue harus panggil Arya untuk memeriksa badan gue yang terasa tidak enak ini," guman Lucas di mana badannya setelah mandi justru terasa semakin tidak enak. Dengan langkah yang berat Lucas turun dari kamarnya, meskipun ia merasakan sakit, tetap ia paksakan karena yang harus di urusnya banyak hari ini.

__ADS_1


"Lucas kamu sudah bangun sayang, maafkan Kakek kamu yah, dia kemarin sedang banyak pikiran dan juga mendengar laporan dari orang rumah yang menjaga Ely bahwa Ely kamu pindahkan makanya Kakek kamu marah. Kamu jangan ambil hati yah, dan jangan marah sama Kakek, dia sebenarnya sayang kok sama kamu maupun Mamih kamu," cicit Tamara, begitu Lucas dengan wajah setengah pucat berjalan kemeja makan.


"Udah lah Oma, itu juga salah Lucas. Semalam Lucas sedang banyak pikiran sehingga jadi mudah tersulut emosinya, dan kita jadi terlibat pertengkaran yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan. Nanti Lucas akan meminta maaf pada Kakek, Oma tidak usah khawatir," jawab Lucas dengan ekspresi datar dan juga sepiring makanan dengan menu mewah disantap nya.


"Terima kasih Lucas, kamu mau mengalah. Kamu tahu kan Kakek kamu itu keras kepala dan juga dia tidak bisa di bantah makanya Oma juga tidak bisa meredakan kemarahannya. Oma percaya bahwa kamu adalah anak yang baik. Beruntung sekali Oma memiliki cucu seperti kamu." Tamara terus saja memuji Lucas hingga pemuda itu merasakan jengah. Ingin buru-buru menyelesaikan sarapannya dan pergi untuk menemui Philip dan selanjutnya tentu menemui gadis berhijab itu. Mungkin setelah bertemu dengan gadis berhijab itu perasaanya semakin membaik, dan sakitnya juga sebuh, sehingga ia tidak perlu memanggil Arya untuk memeriksa tubuhnya. Karena Lucas sudah tahu dengan pasti dan sudah yakin nantinya sepupunya hanya akan memarahinya. "Makanya kalau kerja jangan gila waktu, jangan minuman keras terus, dan istirahat." Itulah kata-kata dari Arya yang hampir setiap tubuhnya bermasalah.


Setiap Arya menasihatinya dengan kata-kata yang sama setiap dia terserang sakit, makannya Lucas akan menggunakan jurus masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Sebenarnya sakit yang menyerang Lucas hanya kecapean. Buktinya setiap sehabis minum obat dan istirahat dengan cukup, tubuhnya sudah kembali fit lagi.


Lucas mengangkat tubuhnya meninggalkan Tamara yang sejak tadi berisik dengan suaranya yang  terus-teruskan memojokan suaminya dan membela Lucas. Sebenarnya Lucas tahu bahwa Tamara adalah wanita yang bermuka dua buktinya setiap dia di hadapannya selalu menjelekan suaminya, yang sudah tua itu. Dan sudah jelas sebaliknya ketika berdua dengan suaminya pasti yang disudutkan  Lucas.


Hemz... Lucas hanya menjawab dengan deheman, tampa harus menghentikan langkahnya, dan berbalik untuk meneriakkan jawabannya.

__ADS_1


"Dasar buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," gumam Tamara, wanita itu langsung beranjak ke kamarnya dan mengganti pakeian rumah dengan pakaian dan aksesoris yang modis. "Saatnya memanjakan badan setelah semalaman di naikin oleh aki-aki tua itu." Bahkan sebenarnya Tamara tidak mau melayani Philip. Yah, ia melakukanya hanya karena materi saja, mana mungkin Tamara yang cantik dan masih muda mau dan puas hanya dengan di melayani laki-laki yang sudah tua, kalau semuanya bukan karena harta.


"Kantor yah Pak." Lucas langsung merebahkan kembali tubuhnya di dalam mobilnya. Kepalanya tambah pening setelah mendengar ocehan dari Omanya.


"Semua yang aku lakukan demi kamu Mih, semoga Mamih di rumah sakit itu cepat membaik dan cepat ingat dengan apa yang menimpa Mamih," batin Lucas, kali ini Lucas sudah sedikit percaya dengan Diki dan petugas rumah sakit, karena Lucas sudah mengatakan bahwa siapa pun yang datang untuk mengunjungi Mamihnya Lucas tidak izinkan biarpun yang datang adalah Philip atau pun Tamara.


Langkah kaki tegapnya langsung menuju ruangan kakeknya, tanpa mengetuk dan tanpa mengucapkan salam, Lucas langsung masuk ke ruangan pemilik perusahaan, tentu setelah Lucas memastikan bahwa bos besarnya ada di dalam ruangan kerjanya.


Philip mengangkat wajahnya begitu suara pintu terbuka, dan sosok yang sangat dia kenal ada di hadapnya, berjalan dengan tegap dan arogan menuju kursi yang ada di hadapannya. Lucas duduk dengan angkuh di hadapan philip. Mata Philip terus memperhatikan gerak gerik tubuh cucunya.


"Lucas mau minta maaf soal semalam, Lucas terlalu banyak pikiran dan  masalah dengan kerjaan Lucas sehingga Lucas mudah tersulut Emosinya oleh Kakek," lirin Lucas, dalam hatinya bertentangan dengan apa yang diucapkannya. Dalam hatinya ia mengumpat dan mengutuk laki-laki yang sedang tersenyum mengejek terhadap cucunya.

__ADS_1


Sekuat tenaga Lucas tahan egonya agar jangan terpancing dengan kelakuan kakeknya. Semuanya ia lakukan hanya untuk tetap bisa mengawasi gerak gerik Kakeknya yang mungkin saja merencanakan sesuatu untuk kesembuhan Mamihnya, tidak hanya itu Lucas yang curiga dengan Philip pun ingin menyelidiki sesuatu di ruangan Philip dan di rumah besarnya, apa yang sebenarnya terjadi pada Mamihnya sehingga Kakek sepertinya sangat takut kalau ibu yang telah melahirkan nya akan sembuh.


"Aku memang datang pada Kakek untuk meminta maaf, tetapi aku tidak akan diam saja sampai semua yang aku curigai terjawab," batin Lucas.


__ADS_2