Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Dugaan Dokter Arya


__ADS_3

Eric dan Elin pandanganya tertuju pada pintu yang baru di buka. "Oh... ternyata dokter Arya," lirih Elin. Perasaanya selalu saja ketakutan yang luar biasa apabila pintu ruanganya di buka, dia masih takut apabila Lexi atau Lucas yang masuk keruanganya saat ini.


Namun, Elin akan bernafas lega apabila yang datang adaalah Arya maupun team medis. Elin tidak bisa membayangkan apabila yang datang ke ruanganya adalah Lexi dan Lucas, Melihat ia berkumpul dengan papahnya apakah ia akan marah dan menghajarnya lagi dengan berutal. Di mana tidak akan ada orang yang berani menolong. Mereka yang menyaksikan kekerasan tidak berani berbuat apa-apa selain menyaksikan orang lain terkapar tidak berdaya, hanya keberuntungan dari Sang Pencipta yang bisa membantu para korban laki-laki jahanam itu selamat. Seperti yang dialami oleh Elin.


"Sedang ngebahas apa sih, kok kayaknya seru banget?" tanya Arya sembari meletakan bungkusan makanan yang sengaja iya beli untuk Eric, pasti Papah dari Elin itu lapar, sehingga begitu Arya melewati kedai makanan ia mampir untuk Eric, dan juga dirinya.


"Hehe... ini Dok, Papah bilang mau ajak pulang kampung kalau Elin sudah sembuh, kata Papah di sini enggak aman buat Elin, lebih baik di kampung biar hidup pas-pasan tapi kata Papah aman buat Elin dan Papah," balas Elin dengan santai, dan ada rasa gembira bagai manapun memang disini tidak akan untuk dirinya dan papahnya.


Wajah Arya langsung berubah, "Kenapa harus pindah ke kampung, bukanya lebih baik di sini ajah Om," usul Arya, rasanya laki-laki itu tidak tenang ketika Elin mengatakan akan pulang ke kampung halamanya, lalu bagaimana dengan Lucas dan Lexi apa mereka tidak akan menemukan Elin dan Papahnya. Seperti itu kira-kira pikiran yang mengganjal di pikiran Arya.

__ADS_1


"Di kaampung lebih aman Dok, saya takut kalau saya akan kehilangan putri saya. Biarkan kita kembali seperti dulu, yang penting saya bisa menjaga putri saya," jawab Eric dengan yakin dan tersenyum kepada Elin yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Tuhan sudah memberikan satu kesempatan Elin untuk hidup sehingga Eric tidak ingin menyia-nyiakan kesepataan itu, dia akan menjaga titipan Tuhan paling berharga itu.


Arya menatap mata Elin, dan kedua mata itu saling bertemu. Arya menggelengkan kepalanya dengan lemah sebagai tanda bahwa ia tidak boleh pulang kampung. Elin pun membalas kode dari Arya bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa kemauan Papahnya. Dia tidak ingin membuat Papahnya sedih sehingga Elin akan ikut dan nurut kemana pun papahnya akan membawa dia untuk tinggal. Asalkan tinggal bersama Papahnya sudah membuat Elin bahagia.


"Om, makan dulu yuk, dari tadi Arya lihat Om Eric belum makan. Jangan sampai nanti Elin sakit Om Eric juga sakit," Arya mengajak Eric untuk duduk di sova, sembari makan bersama.


"Baiklah ini semua demi putri Papah, kalau begitu Papah makan dulu yah, kamu istirahat biar cepat sembuh," ucap Eric dengan mengecup kening putrinya. Sementara Elin yang memang sudah mengantuk pun, segera merapatkan kedua kelopak matanya, mungkin efek obat yang baru di minum juga sehingga tidak lama Elin tertidur dengan tenang, di mana saat ini ada papahnya yang selalu melindungi dirinya. Tanpa harus takut Lucas maupun Lexi mencelakai papahnya, terlebih ada Arya. Laki-laki baik nomor dua setelah papahnya.


Arya dan Eric makan dengan damai sembari sesekali diselingi obrolan ringan. "Mohon maaf Om, apa Om Eric membesarkan Elin seorang diri, soalnya Arya lihat Elin itu sangat sayang dengan Om Eric. Bahkan waktu pertama kali sadar yang di panggil dan di cari adalah sosok Om Eric. Arya sampai bangga sama Om Eric, itu tandanya sangat di cintai oleh Elin, bahkan mohon maaf sepertinya Elin lebih sayang Om Eric dari pada Mamahnya." Arya sengaja mengorek sedikit-sedikit tentang kehidupan Elin dan Papahnya, yang diharapkan Arya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu laki-laki paruh baya yang saat ini sedang duduk bersama dengan dia.

__ADS_1


Eric yang kebetulan sudah selesai makan langsung mengelap bibirnya dengan tisu. Seolah sudah menjadi kebiasaan Eric di mana ia sebelum mengobrol atau menjawab sesuatu selalu tersenyum lebih dahulu, sehingga siapa pun yang pertama kami melihat Eric sudah tahu dan yakin bahwa Eric adalah sosok yang ramah dan baik. Lalu dari mana bisa Lucas menuduh laki-laki seramah Eric adalah laki-laki yang tega selingkuhin mamihnya.


"Elin memang lebih dekat dengan saya, karena sejak bayi, bahkan beberapa hari setelah ibunya melahirkan saya yang merawat Elin, bahkan Elin tidak tahu sosok ibunya, mungkin itu sebabnya Elin selalu lebih dekat dengan saya dan selalu mencari saya disaat sakit atau pun ada masalah, karena bagi dia saya adalah orang yang bisa melindungi dia, tetapi kali ini semuanya terjawab, saya adalah orang yang telah mencelakai putrinya sendiri, saya gagal menjadi pelindungnya, dan dia hampir saja kehilangan nyawanya dan andai itu terjadi mungkin saya juga akan menyusul Elin, karena hanya dia harta yang saya miliki." Suara berat dan bergetar lagi-lagi terdengar setiap membahas ElinĀ  yang terluka itu. Ini adalah hal yang paling horor bagi Eric.


"Mohon maaf Om, apa Mamah Elin sudah meninggal kenapa Elin dirawat seorang diri oleh Om Eric, lalu keluarga Mamahnya Elin atau Mamahnya Om Eric masih membantu kan untuk mengasuh Elin?" tanya Arya yang semakin dibuat penasaran dengan kisah laki-laki yang ada dihadapanya itu.


"Tidak harus meminta maaf dokter Arya, masa lalu saya memang sulit di mengerti banyak kesalahan yang kami lakukan dan mungkin ini hukuman saya yang menikahi Mamahnya Elin tanpa restu dari keluarga kami. Sehingga kami pun saat ini masih dihukum kesalahan itu. Entah sampai kapan hukuman itu aku rasakan, dan aku takutnya kejadian Elin adalah sebagian dari hukuman di masa lalu saya yang tetap memilih menikahi Mamahnya Elin," jawab Eric. Dia tidak bisa bercerita masa lalu dengan siapapun bahkan dengan Elin sendiri sebagai buah hatinya, yang seharusnya tahu dengan siapa Mamahnya dan siapa sodara kembarnya yang sampai saat ini Elin tidak tahu bahwa dia memiliki sodara kembar. Semuanya Eric lakukan demi perjanjian dengan papahnya Darya, dengan ancaman Darya dan putranya akan menderita kalau Eric menceritakan kehidupanya jaman dulu. Sehingga untuk melindungi mereka Eric harus menutupi jati diri istri dan putranya.


Deg!! Jantung Arya seolah berhenti berdetak. "Jadi kalau dilihat dari jawaban Om Eric, ada kemungkinan ucapanya Lucas ada benarnya. Om Eric memilih tetap menikah mamahnya Elin dan meninggalkan Tante Ely," batin Arya dengan memperhatikan tubuh laki-laki yang berpeci putih itu. Namun, lagi-lagi pikiranya menolak dengan semua kesimpulan yang ia buat.

__ADS_1


__ADS_2