
"Itu Mas rumah kontrakan aku ada di depan," jawab Jiara, yang dari tadi pasti setiap di tanya jawabannya selalu di depan terus. Hingga hampir ujung masih juga berkata di depan juga.
Laki-laki yang saat ini berjalan berada di samping Jiara pun tidak bertanya lagi, karena sudah tahu pasti jawabanya akan sama yaitu di depan lagi.
"Terima kasih Mas sudah mengantarkan saya sampai depan kontrakan," ucap Jiara dengan badan setengah menunduk ketika sudah sampai di ujung gang. Lucas pun tidak langsung menjawab tetapi mengmati rumah yang sangat sederhana, bahkan kalau di lihat di dalam sana hanya ada satu kasur lantai yang cukup tipis dan sebuah lemari kecil yang Jiara gunakan untuk menyimpan pakaiannya yang hanya beberapa setel saja.
"Kamu masuk dan peking pakaian dan barang yang kamu punya dan masih terpakai!" titah Lucas dengan nada yang tegas memeritah, tidak bisa di bantah.
Jiara bingung dan hanya diam mencoba mencerna apa yang Lucas katakan. "Mak... maksud Anda apa Mas?" tanya Jiara ulang, perempuan itu tentu sudah tahu maksud sebenarnya dari ucapan bos'nya yaitu ia di minta merapihkan pakaian dan barang yang masih di pakai itu tandanya Jiara di minta untuk pindah dari tempat kosnya, tetapi takutnya Jiara salah arti sehingga lebih baik Jiara bertanya lagi. Dari pada kepedean dan malah maksud Lucas lain.
"Aku tunggu di sini, kamu peking baju dan barang kamu, sekarang! Kamu tinggal di apartemen aku jangan tinggal di sini, tidak aman buat kamu, cewek tapi tinggal di tempat sepi kalau ada yang berbuat jahat bagaimana? Mana kontrakan kamu juga jauh banget dari jalan raya lagi gangnya," ucap Lucas dengan mendudukan tubuhnya di kursi yang mana ketika bokongnya di letakan berbunyi seolah mau roboh. Kreket... itu adalah suara dari kursi yang ada di pojok trelas rumah kontrakan Jiara.
"Tapi apa saya nanti tidak merepotkan Anda?" tanya Jiara memastikan sekali lagi. Kalau Jiara tentu mau-mau saja ketika Lucas menawarkan tempat tinggal yang lebih layak lagi, terutama mereka juga tidak tinggal dalam satu atap, dan yang dikatakan Lucas juga benar, tempat ini terlalu sepi dan jauh dari jalan raya, apabila pulang kerja malam seperti saat ini tentu akan sangat tidak aman untuk Jiara berjalan sendirian, Bukan takut akan hantu tetapi lebih takut pada manusia yang kadang sifatnya lebih kejam dari seorang iblis sekalipun.
"Jiara...." Tatapan Lucas sudah menjawab pertanyaan Jiara.
__ADS_1
"Baiklah Mas, tunggu sebentar saya akan menyiapkan semuanya." Jiara tanpa menunggu jawaban persetujuan dari Lucas langsung membuka pintu kontrakanya yang sudah keropos bawahnya karena di makan rayap.
"Alhamdulillah untung Jiara tidak banyak protes, kan lumayan aku balik ke mobil ada temennya coba kalau Jiara menolak dan kekeh akan tinggal di kontrakanya, aku mungkin pulang ke mobil akan kembali meminta diantar1` oleh Jiara, atau mungkin sopir yang berjalan kesini untuk menjemput aku," batin Lucas, dengan mengelus dadanya merasa lega. Ingatanya kembali membayangkan gang yang tadi ia lewati seram seolah tidak ada penduduk yang lewat udah gitu melewati makam yang tidak kalah seram lagi.
Bulu kuduk Lucas tanpa sadar berdiri ketika ia membayangkan jalanan yang barusan ia lewati. Sesuai perkataan Jiara bahwa ia tidak lama untuk merapihkan pakaian yang hanya beberapa setel dan beberapa surat-surat penting, dan tentu buku yang selalu menemani harinya ketika ia sedang merasa bosan.
"Sudah? Kok cepat amat,"ucap Lucas, ini sih lebih cepat dari perkiraan dia. Bahkan tangannya baru saja akan meraih gawainya untuk bermain game online di ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuhnya, tetapi belum terlaksana Jiara sudah keluar dengan tas tenteng yang tidak terlalu besar dan isinya mungkin juga hanya setengahnya.
"Sudah Mas, Jia baru tinggal tiga hari di kosan ini, jadi barang Jia hanya segini," jawab Jiara dengan mengangkat tasnya yang terlihat enteng untuk menunjukan barang-barang dirinya pada Lucas.
"Tidak usah Mas, ini enteng kok," tolak Jiara, kekeh ingin ia sendiri yang membawa tas miliknya, apalagi laki-laki yang ada di sampingnya setatusnya adalah bosnya, masa bosnya di suruh bawa tas sekretarisnya, terasa dunia terbalik. Lucas yang tidak mau berdebat pun langsung menarik tas Jiara dengan sekali tarikan kini tas itu sudah ada di tangannya, bos posesif itu langsung kembali mengambil langkah di depan Jiara dengan mulut terkunci. Ia kesal karena Jiara terlalu banyak menolak bantuanya padahal Lucas menawarkan bantuan iklas, tetapi sekrestaris selalu berkata: Tapi... tapi dan tapi, sampai Lucas heran apa Jiara ini adalah duta kata tapi.
Wanita berhijab panjang itu kembali terengah-engah ketika mengikuti langkah kaki Lucas yang panjang, mungkin satu kali langkah Lucas yaitu dua kali langkahnya.
"Terima kasih Mas, mohon maaf kalau saya selalu bikin Anda kesal," ucap Jiara begitu mereka sudah naik di dalam mobil.
__ADS_1
"Hemz... lain kali kurangi kepala kamu yang keras ini, ingat aku itu bos kamu, apa yang keluar dari mulut aku berati perintah, dan jangan kamu biasakan tapi-tapi dan tapi. Tingga iyakan saja kok repot," dengus Lucas dengan menyandarkan punggungnya.
"Tapi Mas...
"Jiara...." belum juga Jiara protes tetapi sudah di potong oleh Lucas, dengan kedua mata mau loncat.
"Ah, iya Mas tadi maksud saya mau jawab iya, tapi lupa," Jiara pun menyengir kuda, tidak lagi menggunakan kata tapi, harus iya,iya dan iya, biar dia tidak kena marah bosny lagi.
Mobil pun kembali membelah jalanan kali ini tujuan selanjutnya adalah apartemen milik Lucas, yang mulai malam ini akan di tempati oleh Jiara, sedangkan Lucas akan kembali ke rumah kakeknya. Lucas memang harus tetap berada di rumah mewah itu untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa saja mengungkap siapa Elin sebenarnya.
"Elin, aku sedang mencari kebenaranya, tetapi kenapa kalian justru sudah tidak ada lagi di dunia ini," batin Lucas hatinya kembali gundah gulana dengan kabar yang Arya bawa.
Disaat ia ingin mencari tahu sema faktanya hingga pengobatan mamihnya diusahakan semaksimal mungkin, tetapi justru Arya membawa kabar yang kurang mengenakan. Padahal kabar yang sepupunya bwa adalah kabar yang sejak lama dia inginkan, bahkan menjadi tujuan utama, tetapi ketika semuanya terjadi dan semua perlakuan pada Elin tinggal kenangan justru hatinya seolah merasa hambar. Tidak ada bahagia yang ia bayangkan, tetapi justru hanya ada hati yang tidak tenang. Hanya mamihnya yang bisa membuat hatinya sedikit tenang.
Lucas menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang, matanya terpejam, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, dan Jiara pun memilih diam saja, wanita berhijab itu berfikir bahwa tubuh Lucas masih tidak enak dan masih merasa lemas. Jadi memilih diam. Padahal dalam isi kepala Lucas banyak sekali yang ia pikirkan terutama kabar yang Arya sampaikan pagi tadi, dan juga kabar atas orang yang meninggal bunuh diri yang sekretarisnya katakan.
__ADS_1
"Kenapa aku sekarang berharap bahwa apa yang dikatakan oleh Jiara dan Arya hanylah kebohongan, kenapa aku jadi di hantui rasa tidak tenang ya Tuhan," batin Lucas, matanya masih terpejam.