Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 211


__ADS_3

Lucas menatap tajam pada pasien yang barusan masuk dia sangat  mengenali siapa yang tertidur dengan pulas di atas ranjang pasien itu.


"Dok, apa aku boleh berbicara dulu dengan sodara saya?" tanya Lucas sembari tatapan memohon pada Dokter Eka.


Dokter Eka pun hanya bisa menganggukan kepanya dengan kuat. "Bicaralah mungkin dengan kamu berbicara dengan sodara kamu, pikiran kamu jadi tenang dan kamu tidak tegang, karena itu cukup berbahaya untuk kami yang akan memakan waktu bisa hingga belasan jam melakukan operasi ini, tekanan darah kamu harus setabil kamu harus tenang jangan tegang, karena takut terjadi pendaranan pada saat operasi belangsung itu sangat membahayakan untuk kesehatan kamu." Dokter Eka mencoba mengingatkan kembali apa yang sejak tadi ia ingatkan.


"Baik Dok, saya berjanji akan menenangkan pikiran saya," balas Lucas, dengan yakin setelahnya ia berjalan dengan tertatih menghampiri Elin yang lebih dulu sudah di pasang alat-alat medis, dan Elin saat ini sudah tidak sadar.


"Elin, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk aku meminta maaf pada kamu, tetapi aku hanya takut Tuhan tidak lagi memberikan waktu  untuk aku meminta maaf pada kamu. Aku takut ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Elin tolong maafkan aku, aku adalah sodara paling jahat di dunia ini. Elin andai memberikan nyawa adalah cara yang kamu mau untuk sebuah pembuktian maaf atas semua kesalahan aku aku ikhlas. Ikhlas sekali, agar kamu bisa tetap menjalani hidup dengan ketenangan. Elin berjanjilah kamu akan sembuh dan kamu akan memaafkan aku. Mulai saat ini kita bersama-sama berjuang melawan sakit kamu. Kita berbagai sakit yah, sama seperti dulu kita satu rahim, bukannya selalu berbagai tempat dan makanan." Lucas terus merancau mengeluarkan beban yang mengganjal di benaknya.


Besar harapan Lucas agar Elin akan mendengar. Dalam bawah sadarnya Elin akan memaafkan Lucas. Tidak henti-hentinya laki-laki itu mencium tangan adik kembarnya. Terakhir dia mencium pucuk kepala Elin.


"Kamu pasti kuat kamu pasti bisa melewati ini semua. Kita berjuang bersama yah, kita adalah sodara bukan, maka dari itu kita harus berjuang bersama. Elin aku sayang kamu maafkan atas semua kesalahan aku. Aku adalah orang paling jahat di dunia ini." Lucas kembali mencium pucuk kening Elin dan yakin kalau Elin pasti akan sembuh, dan mereka akan kembali berjuang bersama-sama.


Lucas kembali menemui dokter Eka, untuk bergantian menempati meja operasi samping Elin, sebelumnya ia lebih dulu berganti pakaian operasi.


"Gimana kamu yakin, saat ini juga kita akan bekerja yang terbaik untuk kalian." Dokter Eka menepuk pundak Lucas, dan laki-laki itu terus mengembangkan senyumnya.


"Saya siap Dok, sangat siap bahkan kalau sampai terjadi sesuatu asalakan adik aku selamat aku sudah siap," balas Lucas dengan semangat dan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu, kamu harus yakin kalau kamu akan baik-baik saja, dan soal Elin yang sedang berjuang semoga saja ada jalanya, tetapi kamu juga harus yakin kalau kamu akan baik-baik saja. Keluarga kamu, terutama Jiara dan Zakia juga membutuhkan peran kamu, jangan buat dia sedih, jadi kamu juga harus kuat dan harus bisa melewati ini semua. Hilangkan pikiran kamu yang mengganjal dan kamu harus yakin kalau kamu adalah orang yang kuat, dan bikin Jiara dan Zakia bangga." Sebelum menar-benar bejuang dokter Eka kembali mengingatkan janji akan dirinya pada Jiara dan buah hatinya.


"Terima kasih Dok, saya akan mencoba memasrahkan ini semu pada Tuhan dan saya akan berjuang semampu yang saya bisa."


Dokter Eka pun tersenyum ketika melihat Lucas yang kembali bersemangat. "Semoga kamu memang laki-laki yang menempati janji kamu."


*******

__ADS_1


Di tempat lain Arya yang baru saja membaca pesan dari Eric pun langsung menarik tangan Marni yang sedang memilih pakaian untuk buah hati Elin.


"Ar, ini ada apa? Kenapa tiba-tiba sekali kamu harus mengajak aku keluar dari toko, aku sedang memilih pakaian untuk Eril," protes Marni, tetapi sedetik kemudian wanita itu pun langsung terdiam ketika dia melihat kalau wajah Arya yang berubah. Marni akan diam dan menunggu waktu yang pas untuk bertanya sesuatu atau kalau tidak dia akan menunggu Arya yang akan menceritakanya. Itulah yang membuat Arya memilih wanita berprofesi dokter spesialis kulit itu.


Di dalam mobil cukup lama baik Arya maupun Marni masih terlibat kebisuan.


"Elin dan Lucas sedang melakukan transplantasi hati, dan  Om Eric barusan meminta doa dari kita, tetapi aku tidak tenang, jadi harus menyusul dia, dan meyakinkan semua baik-baik saja." Arya akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada kekasihnya, kenapa dia yang tiba-tiba menarik Marni begitu saja.


Wanita yang sebelumnya pandangan matanya di buang ke jalanan pun langsung memalingkan pandangan mata pada Arya. "Kamu serius? Se... sejak kapan Elin sakit liver akut? Perasaan dia baik-baik saja?" tanya Marni dengan terbata, siapa pun yang mendengar kabar ini akan sama merasa kaget, pasalnya sakit yang di derita Elin sangat cepat berkembangnya. Namun, bukan cepat berkembang hanya saja Elin tidak segera menyadari bahwa ada yang bermasalah dengan organ tubuhnya.


Sakit perut yang ia rasakan selalu ia anggap sakit perut biasa, padahal itu adalah salah satu respon dari organ hati yang bermasalah.


Arya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Dia yang selalu menutupi sakitnya, banyak yang terjebak dari sikap dia yang cukup pendiam padahal dia sedang menimbun masalah."


Marni pun mencoba mengerti memang Elin itu cukup pendiam, meskipun dirinya cukup dekat dengan Elin, tetapi Marni juga jarang sekali menerima curhatan dari wanita itu, padahal biasanya kalau cewek sudah dekat akan sangat mudah untuk bercerita, tetapi tidak dengan Elin, dia justru tetap terlihat baik-baik saja. Sehingga sulit membedakan dia sehat atau justru sedang sakit.


"Wajah tegang terlihat dari orang-orang yang berada di depan ruang operasi. Lexi adalah orang yang paling utama Arya tuju sementara Marni lebih menuju pada Jiara yang sedang mengasuh Zakia dan tidak jauh dari sana ada Darya yang sangat tegang wajahnya.


Saat ini pukul empat sore apabila operasi lancar itu tandanya selesai operasi sekitar pukul tujuh pagi atau delapan pagi esok harinya, itu perkiraan paling lama, dan Eric dan semuanya ketika dikabarkan melewati jam operasi yang cukup panjang, tetapi itu juga bisa lebih cepat ataupun lebih lambat tergantung kondisi ke dua pasien.


"Lex,  kenap tiba-tiba sekali, bukanya tadi pagi gue masih jemput Lucas dari penjara," ucap Arya pada Lexi yang berdiri cukup jauh dari keluarga Elin. Entah doa apa saja yang ia panjatkan untuk kesembuhan Elin dan juga Lucas.


Lexi bahkan tersentak kaget ketika mendengar ada yang mengajaknya mengobrol. Pandangan Lexi pun langsung memindai ke segala penjuru dan mengamati orang-orang yang masih setia di depan ruang operasi dan saat ini ada Marni dan juga Arya.


"Kenapa ya, maaf sedang tidak fokus," balas Lexi, ia berusaha tetap baik-baik saja dan tentunya tidak lupa untuk terus berdoa. Eric mengajarkan dirinya untuk tetap mendoakan Elin dan Lucas, karena hanya doa yang saat ini mereka butuhkan.


Arya pun mengulang apa yang tadi ia tanyakan. Mengenai rencana operasi yang terkesan tiba-tiba.

__ADS_1


"Oh, itu karena kondisi Elin yang tiba-tiba drop paska lahiran, dan Lucas yang juga ingin membuktikan permintamaafanya sehingga meminta di berikan kesempatan untuk mendonorkan hatinya," jelas Lexi dengan nada bicara yang lirih.


Mungkin di antara orang-orang ini, hanya Zakia yang terliahat tetap ceria dengan permainanya. Jiara pun tetap terlihat tenang mengasuh Zakia yang cukup aktif, tetapi pasti tidak dengan perasaanya.


Detik berganti menit, dan menit berganti jam hingga sudah hampir sepuluh jam operasi berlangsung, tetapi belum ada tanda-tanda operasi akan selesai. Sementara Darya, Philip, Jiara, Marni dan Zakia mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Meskipun awalnya mereka tetap kekeh ingin ikut menunggu Lucas dan Elin, tetapi setelah di jelaskan oleh Arya mereka pun mau untuk pulang beristirahat di rumah.


Meskipun ketika di rumah mereka tetap, tidak bisa istirahat dengan tenang. Pikiran mereka akan terus berada di rumah sakit. Namun demi kebaikan bersama akhirnya Jiara dan yang lainya pun mau pulang untuk beristirahat.


"Bunda, memang Papah ke mana? Kok Papah pelgi lagi, apa Papah sedang bekelja lagi?" tanya  Zakia ketika Jiara memintanya untuk istirahat.


Ini adalah hal yang paling ditakutkan oleh Jiara kalau Zakia akan bertanya ke mana papahnya pergi. Untuk jujur pun Jiara tidak mungkin kuat, tetapi apabila terlalu sering berbohong juga rasanya hati semakin bersalah.


"Papah sedang ngobati Tante Elin, tadi Kia lihat kan Tante Elin kesakitan dan sampai menangis. Nah Papah sedang berusaha menasihati Tante agar Tante Elin tidak sakit lagi. Kia doakan yah agar Tante sembuh tidak sakit lagi, dan Papah juga tidak sakit lagi." Jiara mengusap pucuk kepala Elin dengan lembut.


Di mana bocah usia tiga tahun itu tampak mencoba mengerti dengan apa yang terjdi dengan orang tante dan juga papahnya.


"Kia mau berdoa untuk Papah dan Tante Elin, bial Papah dan Tante cepat sembuh," oceh Zakia, jantung Jiara langsung berdesir ketika mendengar ocehan itu. Terlibih ketika bocah itu langsung merentangkan tanganya dengan celotehnya yang menggemaskan.


"Ya Allah, sembuhkan Tante Elin, dan juga Papah cepat ngobatin Tante Elin. Ya Allah semoga Papah cepat pulang. Kia pengin bobo sama Bunda dan juga Papah, sama kayak dulu ya Allah."


Tanpa terasa air mata Jiara kembali luluh, ketika mendengar apa yang didoakan oleh Zakia. Bahkan gadis kecil itu tidak pernah mengatakan apa yang menjadi keinginanya.


Dia selalu berusaha untuk tetap bersikap biasa saja padahal dalam hatinya menyimpan banyak keinginan untuk berkumpul dengan papah dan juga bundanya.


"Amin." Jiara  langsung memeluk Zakia dan menciumnya bertubi-tubi ini adalah alasanya yang tetap mencoba berdamai dengan masa lalunya semua demi buah hatinya. Yang mana dia tidak pernah tahu apa yang terjadi pada orang tuanya dan dia tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa lalu, yang dia tahu keluarganya baik-baik saja seperti halnya teman-teman yang lainya.


Anak tidak berdosa itu selalu mencoba mengerti kondisi orang tuanya, meskipun dalam hatinya banyak persaan yang mengganjal tetapi ia tetap mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2