
Elin terkejut ketika Lexi bilang bahwa ia ingin sesuatu. "Kapan aku bilang pengin sesuatu perasaan aku tidak minta apa-apa," ucap Elin masih dengan rasa penasarannya.
"Tepatnya waktu masih di rumah sakit. Kamu minta pengin gudeg," ucap Lexi mengingatkan lagi ucapan Elin yang ingin makan gudeg, tetapi waktu itu Lexi tidak mengizinkannya karena memang dokter juga tidak memberikan dulu.
"Ok, ya Tuhan, aku bahkan sudah lupa," ucap Elin terkekeh renyah hingga Eril yang sedang nikmat bersantai di bawah sinar matahari pagi yang hangat pun membuka matanya mungkin penasaran kenapa emaknya tertawa dengan renyah. Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
"Kalau gitu aku nitiip Eril, aku akan ambilkan piring untuk sarapan, kebetulan memang belum sarapan. Dan perut aku sudah lapar," Elin memberikan putranya yang masih sedang berjemur ke calon suaminya. Kini Elin pun beranjak ke dapur untuk mengambil piring dan juga air minum, dia tidak biasa dilayani, jadi meskipun di rumah sang kakek apa yang dia inginkan bisa terpenuhi nyatanya tidak membuat Elin besar kepala, dia lebih enak sendiri. Kini Elin pun sudah kembali dengan membawa dua piring dan juga dua gelas air dingin.
"Kamu belum sarapan juga kan?" tanya Elin sembari meletakan piring masing-masing satu dan juga membuka nasi gudek yang Lexi bawa. Sudah lama memang dia sangat ingin makanan khas dari Jogja itu.
Laki-laki yang beberapa hari lagi akan menikahi Elin pun memperhatikan Elin yang tengah menyiapkan makanan untuk dirinya. "Boleh tidak kalau aku makanya disuapin ajah," ujar Lexi dengan suara yang terdengar lirih. Elin pun mengangkat wajahnya dan membalas dengan senyumnya yang terbaik, dan senyum itu masih membuat luka di hati Lexi karena senyum itu mengingatkan Lexi pada kejahatanya tempo dulu.
Elin menatap Eril yang sedang ditimang dengan anteng oleh Lexi dengan berdiri ayun-ayunkan. "Boleh, sebagai ganti selama aku di rumah sakit selalu kamu layani dengan baik," balas Elin dengan mengulurkan satu sendok nasi gudek, yang rasanya sangat enak.
"Terima kasih," balas Lexi dengan bahagia, mungkin ini adalah sarapan terenaknya karena disuapi langsung dari ibu dari anaknya.
"Ngomong-ngomong apa orang tua kamu nanti tidak datang diacara pernikahan kita?" tanya Elin, soalnya wanita itu juga selama ini tidak dikenalkan oleh Lexi pada mertua ataupun ipar-iparnya.
__ADS_1
Wajah Lexi pun langsung berubah ketika Elin membahas keluarganya baru saja dia memikirkan hal itu dan memang Lexi juga belum membuka komunikasi lagi dengan keluarganya. Lexi tidak ingin memperkeruh suasana kalau memang papahnya belum melupakan kejadianya dengan Mily.
Meskipun Lexi sendiri sudah melupakan kejadian singkat itu.
"Maaf yah untuk sementara waktu aku belum bisa kenalkan kamu dengan orang tuaku, tetapi aku berharap suatu saat nanti akan ada kesempatan itu, dan kamu, akan aku kenalkan ke keluargaku," jawab Lexi dengan suara yang lirih.
Elin pun membalas dengan tatapan yang santai. "Tidak apa-apa aku tahu posisi itu, dan aku juga tidak masalah apabila orang tua kamu keberatan dengan aku yang menjadi menantu ayah kalian aku hanya ingin kalau mereka tetap menerima Eril, karena dia adalah darah daging kamu," balas Elin dia masih ingat ucapan Lexi yang dulu yang mana orang tuangya tidak akan mau memiliki keluarga orang rendahan seperti dirinya.
( Selama ini tidak ada satu pun yang aku biarkan bibit unggulku bersemayan di rahim mereka. Andai harganya sesuai makan adik tirimu lah, wanita pertama yang menampung calon keturunan gue. Meskipun tidak akan pernah diakui oleh keluarga 'Rajaya' keluarga gue hanya akan mengakui anak yang lahir dari pernikahan sah dan wanita pilihan yang menurut mereka cocok menjadi pendamping gue. Tentu seharusnya kamu sadar itu. Keturunan dari keluarga Rajaya tidak main-main kalau kamu ingin adikmu hamil harus berani membayar aku dengan nilai yang cukup untuk menambah pundi-pundi asetku.)
"Aku minta maaf, saat itu mamang ucap aku keterlaluan, tapi aku janji akan memperkenalkan kalian terutama kamu, tapi tunggu kita resmi nikah dulu. Aku yakin keluarga aku akan bisa menerima kamu kok," ujar lexi kali ini sarapan pun terasa lebih enak karena di temanin oleh putranya dan juga calon istrinya.
[Hallo, ada apa Mah?" tanya Elin dengan suara yang serak karena terlalu takut kalau akan terjadi sesuatu dengan Philip.
[Tidak mamah, hanya kangen Eril sedang apa?" tanya Darya basa-basi sebelum akhirnya mengabarkan kalau papahnya sudah sadar.
Elin pun langsung menggunakan kamera belakang untuk melihatkan Eril yang sedang berjemur. [Itu Eril sedang berjemur dengan Ayahnya.]
__ADS_1
[Eyangnya ingin lihat cicitnya,] ucap Darya yang langsung membuat Elin terkejut.
[Yang benar Mah, apa itu tandanya kalau Kakek sudah sadar?] tanya Elin yang tidak ada henti-hentinya mengucapkan hamdalah.
[Iya Sayang, bahkan Kakek kamu juga kalau tidak ada halangan dalam waktu dua hari bakal pulang. Tuhan itu maha sayang sama kamu Sayang, sehingga Tuhan kabulkan apapun yang kamu inginkan,] ucap Darya denga terus memperhatikan cucunya di mana Philip bisa melihat Eril yang sedang dalam pangkuan Lexi.
Elin dan Darya maupun Philip pun terus bercerita hingga rasa kangen Philip bisa sedikit terobat. Sementara itu Elin sendiri kali ini juga hatinya sudah bisa sedikit merasakan lega.
"Benar apa kata Papah ketika kita berusaha damai dengan keadaan hati kita pin merasakan yang sangat damai," batin Elin setelah sambungan telepon terputus.
Sementara Lucas yang sudah bersiap akan pulang pun melakukan hal yang sama seperti Elin, yaitu mengunjungi Philip lebih dulu. Apalagi Lucas baru dapat kabar kalau sang kakek sudah sadar.
"Pagi Kek, Lucas senang dengan kabar Kakek sudah sadar, seboga Kakek terus membaik kondisinya yah," ucap Lucas sembari mengusap punggung tangan laki-laki yang pernah Lucas benci dengan sangat, karena kebohonganya dia telah membuat sodara kandungnya dalam masalah yang tiada henti. Kini meskipun kemarahan itu masih ada tetapi Lucas ingin menutupnya dan mulai membuka kenangan baru dengan cerita baru.
Kenapa ketika Elin saja bisa untuk memaafkan dia yang banyak masalah, tapi kenapa Lucas tidak. Sehingga laki-laki yang saat ini juga baru sembuh dari sakitnya memutuskan untuk membuka pintu maaf untuk sang kakek, toh Philip juga sudah dihantui dengan rasa bersalah terus menerus.
"Maaf, maafkan kakek," ucap Philip dengan suara yang sangat lirih. Hanya kata maaf yang terus-terusan terucap oleh Philip, hingga hati Lucas tidak bisa lagi keras karena Philip yang memiliki hati lebih keras pun bisa memaanfkan semuanya dan mengakui kesalahanya.
__ADS_1
"Sudahlah Kek, Kakek tidak boleh lagi merasa berkecil hati karena Kakek sekarang yang paling penting adalah kesembuhan. Semua orang penuh dengan salah termasuk Lucas, semua salah karena terlalu percaya. Berjanjilah kakek akan cepat sembuh," ucap Lucas, dan laki-laki itu pun menghabiskan satu jam untuk membagi kisah mereka dan saling memberika semangat. Hingga akhirnya Lucas berpamitan untuk pulang.
Lucas sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sodara kembarnya, meskipun dia dalam batinya masih bingung apa yang sebenarnya terjadi.