Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Dunia Gelap Untuk Jiara


__ADS_3

Cup... satu kecupan berhasil mendarat di kening Darya ketika wanita paruh baya itu sudah tertidur kembali. Cukup lama Lucas dan mamihnya saling mengobrol. Eh, bukan mengobrol seperti orang yang normal pada umunya, tetapi lebih banyak Darya bercerita entah apa saja yang jelas seolah dia tengah mengungkapkan isi hatinya, meskipun baik Lucas maupun dokter Diki yang ada di dalam sana juga tidak tahu apa yang Darya ceritakan, tidak jarang wanita itu tersenyum ketika ia bercerita. Yah, seolah cerita itu sangat lucu.


Dua laki-laki yang menjadi pendengar setianya juga ikut tertawa ketika Darya tertawa terkekeh, dan ketika wajahnya berubah murung dengan umpatan yang kasar, Lucas maupun Diki segera menyadarkanya bahwa yang sedang terjadi dengan perasaanya adalah bayangan dia bukan kenyataan sehingga Darya tidak usah sedih dan tidak usah menyakiti badanya.


Lucas menarik selimut hingga sampai dadanya dan menitipkan mamihnya pada suster agar dijaga dengan baik, dan apabila ada apa-apa dengan mamihnya segera hubungi dirinya. Kali ini ia benar-benar ingin ikut memantau perkembangan ibu kandungnya, sehingga ia bisa merasakan ikatan batin dengan wanita yang telah melahirkanya.


Tidak seperti selama ini ia yang cuek dan masa bodo dengan semua yang terjadi dengan mamihnya.


"Diki, aku nitip Mamih yah, aku yakin bahwa kamu pasti bisa merawat mamih dengan sangat baik, aku tahu bahwa usaha kita pasti tidak akan sia-sia. Seperti yang aku katakan pada kamu apabila Tamara ataupun Philip ingin datang mengunjungi Mamih, tolong jangan izinkan meskipun ada pendampingan ketika menemui Mamih, tetapi untuk sementara waktu, biarkan Mamih aku yang tangani." Bukanya Lucas menuduh kakek dan omanya jahat, tetapi hanya ingin membandingkan gimana hasilnya ketika mamih selama sepuluh tahun di rawat oleh kakeknya, tetapi ia tidak mendapatkan perubahan yang bearti, dengan ketika mamihnya di rawat oleh dirinya sendiri. Sehingga setelah melakukan pertimbangan yang cukup matang Lucas melarang apabila Darya dikunjungi oleh papihnya sendiri dan juga Tamara. Dimana Tamara seingat yang Lucas kenal dan ketahui dia adalah mamih tiri dari mamihnya setelah mamih kandungnya atau nenek Lucas sudah meninggal dunia.


"Baik Tuan, semua yang sudah Anda percayakan pada saya pasti akan saya tangani dengan sebaik mungkin," balas Diki sembari badanya setengah menunduk. Lucas pun membuka pintu kamar mamihnya dan kedua matanya terbelalak ketika melihat Jiara sedang duduk dengan menyembunyikan tanganya di balik kerudung panjangnya, mungkin udara malam terasa dingin.


"Jiara kamu masih di sini?" tanya Lucas, yang jujur laki-laki itu saking asiknya mengobrol dengan mamihnya sampai lupa bahwa ada Jiara yang dia ajak juga.


Jiara menggerakan kepalanya segera menoleh ke arah bosnya.

__ADS_1


"Sudah lumayan Mas, Anda sudah selesai?" tanya balik Jiara dengan wajah yang berlawanan dengan Lucas, ketika Lucas merasa lebih baik tubunya yang tidak terasa sakit lagi, Lucas juga perasaanya jauh lebih tenang padahal ketika keluar dari rumah sakit, ia merasakan bahwa perasaanya sangat buruk, lebih tepatnya setelah Arya mengatakan bahwa adik tirinya dengan papahnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.


"Maaf aku lupa kalau kamu juga ikut kerumah sakit ini." Lucas juga meletakan bokongnya di kursi ujung yang mana kursi yang di duduki oleh Jiara berbentuk panjang sehingga Lucas bisa memberikan jarak dengan Jiara yang memang tidak ingin terlibat kontak fisik dengan Lucas.


"Tidak masalah Mas, Mamih Anda gimana kabarnya?  Saya lihat dari raut wajah Anda nampaknya sekarang jauh lebih baik," tebak Jiara, meskipun tidak yakin bahwa wajah ceria Lucas karena kabar baik dari mamihnya, tetapi Jiara tahu bahwa Lucas saat ini sedang bahagia, sebab wajahnya terlihat bahagia tidak seperti pertama kali keluar rumah sakit.


"Alhamdulilaah, meskipun perkembanganya belum terlalu kelihatan yang banyak, tetapi aku yakin kalau Mamih pasti akan sembuh dan akan kembali seperti dulu, meskipun aku juga tidak tahu dulu Mamih itu seperti apa, tapi setidaknya mungkin aku akan tahu fakta yang selama ini aku bingungkan, fakta yang ingin aku tahu kebenarannya," jawab Lucas, terlihat kalau laki-laki itu sangat bersemangat untuk menjadi saksi untuk kesembuhan mamihnya.


"Amin, semoga semuanya di mudahkan yah, tapi kayaknya kalau aku berbanding terbalik dengan Anda Mas. Saya justru perasaanya sedang tidak karuan. Dunia saya saat ini seperti tanpa warna lagi, setelah berbicara dengan dokter yang menangani Papah." Jiara tidak lagi melanjutkan ucapanya, tetapi wanita berhijab itu sudah tidak lagi bisa untuk mengeluarkan suaranya, tenggorokannya seolah tercekak oleh sebuah keadaan yang lagi-lagi membuat dunianya seolah hancur, tinggal menunggu hari bahwa dunianya benar-benar akan gelap dan tanpa warna.


"Ji... kamu baik baik saja kan? Kabar apa yang terjadi dengan Papah kamu, apa Papah kamu sudah tidak akan ada kemungkinan untuk sembuh? Kamu jangan berkecil hati nanti biar Diki yang urus semuanya dan aku akan bantu kamu hingga Papah kamu bisa lebih baik lagi." Ingin sekali Lucas mendekat pada gadis yang saat ini sedang menunduk tidak menangis tetapi Lucas yakin dalam hati wanita itu sedang berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Gadis itu sedang berjuang untuk menata hatinya yang hancur berkeping-keping.


"Baiklah aku akan tunggu kamu sampai siap untuk bercerita, kamu siapkan hati dulu, tapi ingat kamu harus cerita dengan aku karena mungkin aku bisa bantu kamu untuk keluar dari masalah ini," ucap Lucas dengan suara yang menenangkan, bukan Lucas yang  selalu berkata kasar dan keras.


Lagi, Jiara hanya mengangguk sebagai jawaban atas saran yang Lucas katakan. Setelah itu mereka pun beranjak meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


"Kamu mau pulang kemana Ji? Atau mau pulang keapaartemen aku biar aku pulang kerumah keluarga aku," tawar Lucas sebelum mobil yang mereka tumpangi bergerak membelah jalanan.


"Kontrakan aku aja Mas, tempatnya enggak jauh dari sini kok," tunjuk Jiara, jarinya menunjuk gang yang berada tidak jauh dari rumah sakit jiwa, tempat papahnya di rawat.


"Ok. Kami antar. Ini sudah terlalu malam takut apabila ada hal yang berbahaya, terlebih kamu cewek," pinta Lucas, dan di jawab dengan anggukan lagi oleh Jiara.


Jiara pun menunjukan jalan menuju kontrakanya.


"Udah sampai sini ajah Mas," ucap Jiara ketika kendaraaan roda empat sudah berada di depan mulut gang, yang mana mobil tidak bisa masuk ke dalam gang sana.


Lucas menatap ke dalam gang yang terlihat sepi dan juga gelap. Kedua alisnya saling beradu. "Kontrakan kamu masuk ke dalam sana?" tanya Lucas dengan jari telunjuk menunjuk ke dalam gang yang gelap itu. Jiara kembali mengangguk dengan menunduk.


"Kalau begitu, ayo turun! Biar aku antar kamu," titah Lucas tanpa menunggu jawaban dari Jiara tanganya sudah membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Jiara pun yang akan menolak tawaran bosnya tidak di berikan waktu untuk melakukanya, karena seolah Lucas tahu bahwa sekretarisnya akan menolak tawarnya sehingga gerakan Lucas lebih cepat, dan bahkan saat ini Lucas sudah lebih dulu jalan di depan Jiara seolah bosnya itu tahu di mana kontrakanya.


Dengan langkan tegap dan kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya, Lucas berjalan dengan tenang, dan Jiara di belakangnya cukup berjalan dengan setengah berlari untuk mengimbangi jalan Lucas yang bagi dia itu terlalu cepat.

__ADS_1


"Terima kasih Mas sudah berkenan mengantarkan saya," ucap Jiara dengan suara yang tersenggal karena jalanya yang terlalu cepat.


"Hemz... mana rumah kontrakan kamu?" tanya Lucas yang mana ia sudah berjalan cukup jauh, tetapi tidak juga sampai, dan ia baru kefikiran gimana nanti dia cara balik ke mobilnya mana tadi sempat melewati makam, tidak luas sih, tetapi cukup sepi dan membuat bulu kuduk berdiri.


__ADS_2