Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 217


__ADS_3

Suster Rini yang ditugaskan Lexi untuk menjaga Elin pun langsung meninggalkan antrian obat di apotik, dan kembali ke kamar pasiennya.


Lexi pun langsung mencari ke mana Elin biasanya dia tidak pernah jauh pergi dari kamarnya, tetapi kali ini Lexi tanya penjaga pun mereka belum melihat Elin balik.


"Sus, kamu bagaimana sih, kenapa Elin tidak ada juga di sekitar sini?" Lexi langsung mencecar suster Rini begitu wanita itu tergopoh datang menghampiri Lexi yang sedang panik di depan ruangan Elin.


"Maaf Tuan, saya benar-benar tidak tahu, tadi Nona Elin bilang akan balik setelah  pukul tiga, karena saya harus ambil obat maka saya tinggal sendirian di taman. Biasanya Nona Elin akan kembali ke ruangan setiap pukul tiga." Sus Rini dengan perasaan bersalah pun langsung meminta maaf pada Lexi, dengan menunduk menyadari kesalahannya.


"Udah sekarang kamu bantu cari Elin juga," ucap Lexi dengan nada yang masih kecewa. Sus Rini dan Lexi pun kembali mencari ke mana gerangan Elin pergi. Tidak biasanya ia memang pergi jauh dari ruangan rawatnya.


"Sementara di lantai yang sama hanya di bedakan ruangan Elin dengan mengenap-endap ingin melihat siapa gerangan yang ada di dalam ruangan yang Elin yakini gara-gara orang yang ada di dalam sana itulah yang membuat Jiara menangis.


"Siapa sih yang ada di dalam ruangan ini, kenapa bisa buat Kak Jia sesedih itu," batin Elin. Kini ia sudah berdiri di depan jendela kecil yang mana dari jendela kaca kecil itu, ia bisa melihat kalau di dalam sana ada pasien yang sedang berjuang untuk kesembuhanya.


Kedua mata Elin menatap dengan tajam dan berusaha mengenali siapa yang kira-kira ada di dalam sana. "Sepertinya tidak asing wajah laki-laki itu, tetapi siapa yah?" batin Elin dengan terus mencoba mengenal siapa gerangan yang sedang terbaring dengan lemah dan alat medis yang hampir memenuhi di sekujur tubuhnya.


"Kasihan sekali laki-laki itu, tapi kira-kira dia sakit apa yah, kenapa bisa separah itu. Apa dia adalah keluarga Kak Jiara atau justru teman kerja Kak Jiara?" Elin masih belum bisa mengenali orang yang ada di dalam ruangan itu. Hal itu karena wajah laki-laki itu yang sangat pucat kurus dan juga banyak alat medis yang menutup sebagian wajahnya. Masker oksigen juga yang menghalangi Elin untuk mengenali pasien itu. Tubuh Lucas memang sa'at ini jauh berbeda sehingga dia tidak begitu mengenali sodara kembarnya.

__ADS_1


"Elin, sedang apa kamu di sana?" Suara Lexi yang cemas berhasil mengagetkan Elin yang sedang termenung mencoba mengenali laki-laki yang ada di dalam sana. Meskipun Elin belum mengenali laki-laki itu, tetapi perasaanya seperti dekat. Bahkan Elin sampai tidak berkedip menatap laki-laki yang saat ini masih tidak sadarkan diri, bahkan untuk kepastian kesembuhanya dokter sendriri masih belum bisa memastikan.


Lexi yang tahu ruangan yang Elin datangi adalah ruangan Lucas pun berusaha menarik perhatian Elin agar tidak berdiri di sana yang dia takutkan adalah Elin akan mengenali siapa yang sedang ada di dalam sana dan menanyakan yang Lucas tidak mau bahwa Elin akan tahu bahwa dirinyalah yang mendonorkan hatinya untuk Elin.


"Lex, aku hanya kasihan dan penasaran dengan laki-laki yang ada di dalam sana kira-kira apa kamu kenal dengan laki-laki itu?" tanya Elin dengan raut wajah yang masih penasaran. Mungkin saja Lexi tahu, mengingat Jiara dan Lexi cukup dekat. Itu sebabnya Elin bertanya demikian.


Laki-laki itu mencoba mengintip orang yang sedang terbaring lemah di dalam sana, dan berpura-pura berpikir untuk mengenalinya. Lexi menggelengkan kepalanya. "Tidak kenal, memang kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Lexi.


"Tidak, aku tadi sempat lihat Kak Jiara ke luar dari ruangan ini dan juga dia nampak menangis, tetapi waktu saya dekati dan tanya kenapa menangis. Kak Jiara tidak ada jawab apa-apa dan dia juga seperti tidak ingin aku tahu siapa pasien yang ada di dalam sana, aneh kan? Aku pikir kamu tahu kira-kira siapa pasien itu? Dan kenapa kondisinya sepertinya sangat parah?" ujar Elin masih dengan pandangan mata yang tertuju pada sodara kembarnya.


"Mungkin sodara Jiara, aku tidak begitu mengenali wanita itu," balas Lexi dengan singkat. "Udah yuk kembali ke ruangan kamu, ini sudah lebih dari jam kamu ke luar ruangan, jangan sampai kamu malah nanti kecapean dan berakhir jadwal rawat inap kamu diperpanjang, sedangkan kalau tidak ada penurunan fisik kamu dalam waktu dua hari ini, kamu sudah boleh pulang." Lexi langsung meraih tangan Elin agar kembali ke ruangan rawatnya.


Lexi pun mengangguk. "Itu yang dokter Eka, dan dokter Handoko katakan, makanya kamu jangan terlalu cape sehingga tubuh kamu tidak sakit lagi, dan kamu bisa bertemu Eril."


"Ok, ok besok-besok aku tidak akan ulangi jalan-jalan sampai sore begini," balas Elin dengan berjalan bersebelahan dengan Lexi.


"Siapapun yang ada di ruangan ini, kamu cepat sembuh yah. Kasihan, sepertinya Kak Jiara sangat mencemaskan kamu," ujar Elin, berdoa dalam hatinya sebelum wanita itu kembali keruangnya.

__ADS_1


"Gara-gara kamu belum pulang aku dan  Suster Rini bingung cari kamu ke mana, bahkan aku sempat marah sama Sus Rini," adu Lexi, sembari tanganya membawa selang infus.


"Hehe... maaf yah aku juga tidak tahu kenapa aku bisa jalan sampai sejauh itu. Belum tiba-tiba mata aku melihat Kak Jiara yang nangis dan karena aku yang penasaran, aku pun langsung menghampiri Kak Jiara, dia kasihan banget sepertinya laki-laki itu sangat berarti untuk dia, mungkin kakaknya," ucap Elin, dalam pikiranya masih fokus dengan Jiara, dan pasien yang tadi dia temui.


"Yah, kita cukup doakan saja biar laki-laki itu cepat sembuh." Lexi pun hanya menanggapi seperlunya dari pada ia keceplosan, dan akan membuat Elin semakin kepo dengan laki-laki yang terbaring lemah itu yang ternyata dia adalah Lucas, sodara kembarnya.


"Memang yah namanya ikatan batin tidak bisa di remehkan, tidak ada angin dan tidak ada hujan Elin berjalan ke ruangan Lucas." Lexi pun bergumam dalam batinya.


"Oh iya Lex, kamu tahu tidak siapa kira-kira orang yang mendonorkan hati untuk aku?" tanya Elin, sekali lagi, sudah hampir semua orang ia tanya mengenai masalah ini, tetapi belum ada satu pun yang memberikan info untuknya. Dokter Eka pun sama merahasiakan siapa pendonor itu.


Papah dan Mamahnya juga sama merahasiakan pendonornya. Meskipun memang Elin tahu bahwa itu semua atas permintaan pendonor itu, tetapi rasanya ia masih penasaran siapa yang berbaik hati memberikan kehidupan untuk dirinya.


"Aku tidak tahu Lin, pernah bertanya pada Dokter Eka dan juga papah kamu, tetapi mereka kompak mengatakan tidak tahu," balas Lexi dengan bersikap tetap tenang, agar Elin tidak curiga dengan apa yang ia katakan.


"Huh, padahal aku pengin sekali tahu siapa kira-kira orang baik hati itu dan mengucapkan terima kasih,"  balas Elin dengan, wajah yang sedih.


"Kalau gitu biarkan nanti aku yang mengatakan pada orang itu," jawab Lexi dengan santai.

__ADS_1


Deg!! "Apa kamu tahu siapa orang itu?" tanya Elin kembali dengan menghentikan langkahnya di mana saat ini mereka sudah berada di depan ruangan Elin.


"Astaga, kenapa dengan aku ini, selalu tidak bisa kontrol ucapanku."


__ADS_2