
Dada Jiara kembali tidak menentu, depresinya seperti kambuh lagi. Yah, kehidupan dua tahun silam sejak ia ditinggal meninggal dunia oleh ibunya. Jiara sempat melampiaskan kemarahanya pada dunia gelap. Hingga ia kecanduan mengunjungi tempat-tempat yang banyak dihabiskan oleh orang-orang tidak baik, seperti club malam, bar dan tempat-tempat karoke, hanya untuk mencari hiburan, dan bisa melupakan kesedihanya. Melupakan perceraian orang tuanya, proses yang lama untuk pengobatan ibunya, hingga kepergian ibunya ketika dia belum siap untuk menjalani hidup sendiri.
Sampai malam kelam membuat ia kehilangan mahkotanya. Dia di jebak dan di perkosa oleh laki-laki yang tidak ia kenal, hingga satu bulan kemudian dia hamil. Berbagai cara Jiara gunakan untuk menyingkiran buah hatinya, tetapi tidak juga berhasil. Hingga ia yang setengah depresi sampai di kota kecil dan di terima dengan baik oleh pemilik pondok pesantren yang dua tahun ini menjadi tempat persembunyianya.
Kedua mata Jiara kembali memanas, dan Lucas pun semakin penasaran dengan gadis berhijab yang saat ini berada di hadapanya.
"Jiara kamu sebenarnya kenapa? Kenapa aku lihat kamu berbeda sekali, kalau kamu memang ingin mengganti uang itu, terserah pada kamu, silahkan ganti nanti setelah kamu punya uang untuk menggantinya, saat ini yang terpenting adalah pengobantan papah kamu bukan?" tanya Lucas dan menyodorkan kembali kartu yang sempat di tolak oleh Jiara.
Namun, Jiara yang memang sedang butuh ketenangan pun tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan tanpa mengambil kartu yang Lucas berikan, wanita berhijab panjang itu beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan Lucas dengan tergesa.
__ADS_1
Tangan Jiara melambai-lambai menyetop taxi yang berjalan menuju tempatnya berdiri. Tempat pertama yang ingin Jiara kunjungi adalah makam ibunya. Lalu ia ingin curhat dengan papahnya. Terakhir ingin mengunjungi buah hatinya. Bayi bermata biru muda yang saat ini ia tinggalkan di pesantren tempatnya menenangkan diri dulu, Bukan menitipkan, mungkin lebih tepatnya membuangnya karena mungkin ini adalah pertemuan terakhir Jiara dengan anaknya yang cantik, karena Jiara setiap menatap mata itu teringat laki-laki yang sudah memperkosanya. Jiara memutuskan setelah ini tidak akan lagi mengunjungi anak yang dilahirkannya. Jiara yakin bahwa anaknya akan lebih terus dan didik dengan baik ketika berada dilingkungan pondok itu, daripada harus ikut dengan dia.
"Sampai kapan aku membenci anak itu, sampai kapan?" Jiara terisak di dalam taxi yang saat ini menuju ke pemakaman ibunya. Memang hal yang paling menyakitkan adalah ketika seorang anak kehilangan sosok ibu, hidupnya menjadi hancur seperti saat ini Jiara hadapi.
Meskipun itu berlangsung sudah cukup lama dua tahun silam, tetapi Jiara belum bisa melupakanya. "Apakah aku nanti akan bisa melupakan kejadian itu dan menerima anak yang tidak bedosa itu," lirih Jiara air matanya terus menetes, langkah kakinya menuju ke satu makam yang sangat ia kenali. Baru satu minggu yang lalu Jiara kemakam ini untuk menceritakan kondisi papahnya yang makin hari semakin turun dratis kesehatanya.
"Hai Mah, Jia datang lagi. Mamah jangan bosen yah, dengar curhatan Jiara, karena Jia bingung, karena Jia merasa di dunia ini sudah tidak memiliki teman lagi sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sehingga Jiara hanya bisa dan percaya kalau curhat sama Mamah. Mah, mungkin Mamah kecewa besar pada Jiara yang Mamah selalu bilang kalau Jia ini anak baik dan anak yang nurut. Jiara anak nakal Mah, karena kenakalan Jiara Tuhan menghukum Jia, dengan menghadirkan anak di dalam rahim Jiara. Jia harus gimana Mah, Jia benci sama anak itu, tetapi hari ini Jia ingin bertemu anak Jia, apa Jia pantas menjadi ibu setelah satu tahu lebih Jia tidak ingin melihat anak itu, dan Jia sekarang pun meninggalkan anak itu di tempat yang asing. Mah Jia harus bagaimana. Hati Jia keras seperti Papah, Jia sulit sekali menerima anak itu."
Langkah kaki Jira kembali menuju Taxi yang sejak tadi menunggu Jiara. Tempat berikutnya adalah rumah sakit jiwa, tempat papahnya di rawat. Entah apa sebenaarnya tujuan Jiara mengunjungi mereka semua seolah ia ingin berpamitan, atau justru ia kesepian dan mencari teman yang bisa mengerti perasaanya. Seolah Jiara sedang mengatakan bahwa kehidupanya tidak ada arah tujuan. Ia tersesat di kehidupan masa lalu yang kelam.
__ADS_1
"Hai Pah, apa kabar? Maaf Jiara hampir satu bulan ini tidak mengunjungi Papah, Jiara sibuk mencari uang untuk pengobatan Papah, tetapi Jia minta maaf apabila Jia belum bisa memberikan perawatan yang terbaik pada Papah. Jiara sibuk hingga tidak sempat menjenguk Papah, tetapi Jiara belum juga bisa memberikan Papah pengobatan yang terbaik. Jiara malu Pah. Pah terus bertahan untuk Jia yah. Jiara tidak tahu harus berlindung dan bercerita pada siapa lagi setelah Mamah pergi. Jiara sangat takut kalau Papah juga menyusul Mamah, terus nanti Jiara sama siapa?" lirih Jiara kali ini menangis di samping tubuh papahnya yang tengah lemah karena sakit yang di deritanya.
Jiara mendongakan wajahnya ketika rambutnya ada yang menyentuh, tangan papahnya yang lemah menyentuh rambut Jiara dan membelainya. Terlihat senyum yang samar dari wajah papahnya.
"Pah, Papah kenal Jia?" Isak Jiara ketika melihat perubahan papahnya yang seolah mengenali dirinya.
Bima mengangguk dengan samar. Lagi, tangis Jiara tumpah, ini respon terbaik selama papahnya dirawat di rumah sakit ini.
"Papah, bertahan yah, nanti kita akan pulang bersama-sama setelah Papah sembuh," ujar Jiara dengan berbisik di belakang teling papahnya, dan lagi-lagi Bima mengangguk dan tersenyum dengan samar. Setelah menghabiskan jam besuknya. Kali ini Jiara kembali lagi ke Taxi yang sejak tadi menunggu dia dengan sabar.
__ADS_1
Sesuai kata hatinya ia ingin melihat buah hatinya, entah perasaan apa tetapi tiba-tiba Jiara teringat dengan anak kecil yang mungkin saat ini sudah bisa berceloteh dengan gemas dan juga betjalan berlarian kesana kemari. Memang sejak melahirkan buah hatinya Jiara tidak merawatnya, yang merawat adalah Ambu pemilik pondok, dan rumah mereka dengan pondok tempat Jiara menimba ilmu di pisahkan alias tidak menyatu, sehingga Jiara hampir tidak tahu perkembangan bayinya, ditambah kebencian Jiara ketika melihat matanya yang hampir mirip dengan Lucas yaitu berwarna biru muda.
Setiap Jiara melihat mata bayinya, dia seolah sedang menatap wajah laki-laki yang dengan keji memperkosanya. Hanya matanya yang Jiara bisa ingat dan mata itu pula yang menurun pada anak perempuanya. Anak yang saat ini ingin ia temui.