Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna bab 241


__ADS_3

"Loh, ngapain kamu ngikutin gue," dengus Lexi yang melihat kalau Lucas, teman tak ada moralnya mengikuti jejaknya untuk beristirahat di kamar hotel yang sudah di persiapkan. Padahal seharusnya Lucas masih menjadi manten menemani Arya di pelaminan.


"Loh, aku juga pusing, kepalaku tiba-tiba berdenyut," elak Lucas dengan megang kepalanya di senderkan ke pundak Lexi, seolah ia akan benar-benar kesakitan.


"Dih, alasan banget, modus. Hati-hati Jia, dia itu  pandai ngibul," ucap Lexi dengan membiarkan Lucas menggelayaut ke pundak Lexi, bahkan ada beberapa yang menatapnya dengan heran sebab Elin dan Jiara berjalan di belakang laki-laki yang seolah terlihat tengah bermanja-manjaan itu.


"Bukanya, gue dan loe sama saja," sahut Lucas dengan santai.


"Mana ada loe benga... gue mah kalem," balas Lexi terus bedebat entah apa.


"Ngomong-ngomong loe bukanya harusnya bersikap baik sama gue, kan gue adalah abang loe."


"Mana ada loe dan Elin itu kembar usianya sama, pengin banget di panggil abang, yang ada loe yang panggil gue abang secara umur gue lebih tua dari loe," dengus Lexi.


"Enggak sekalian Papah aja sekalian kan biar lebih sopan," ledek Lucas yang langsung dapat toyoran dari Lexi.


"Sembarangan loe, emang boleh gue godain emak loe." Lexi pun langsung menggandeng Elin agar masuk ke kamar mereka berhubung kamar Elin dan Lexi sudah sampai.


"Dasar, ipar laknat," dengus Lucas dengan santai, dan membalas dengan menggandeng Jiara.


"Jangan dibiasakan bertengkar terus napa, masa kalau keluarga orang-orang yang anak-anaknya yang bertengkar nah ini masa bapak-bapaknya yang bertengkar terus enggk malu sama anaknya," ucap Jiara, dan memang seperti biasa Lucas dan Lexi seolah tengah memperebutkan sesuatu yang tidak ada habisnya.


"Hehehe... habis kebiasaan Sayang, kalau sama dia itu sudah kebiasaan dari orok bawaanya kesel terus," bela Lucas dengan santai, dan kini pasangan suami istri itu pun masuk ke kamar masing-masing untuk saling menikmati indahnya merajut cinta yang halal.


Hap... Lucas langsung memeluk tubuh Jiara yang sudah dari beberapa hari yang lalu  Lucas sudah menginginkan penyatuan dan baru kali ini Lucas bisa bebas memegangnya.


Jiara pun membalik dan membekap wajah Lucas dengan kedua telapak tanganya. "Mandi dulu baru aku akan berikan hakku," ucap Jiara agar Lucas membersihkan tubuh dulu. Yah, sebenarnya tanpa membersihkan tubuh dulu juga tidak akan bau. Namun, itu adalah salah satu cara agar Jiara bisa menyiapkan segalanya termasuk mentalnya.


Tidak bisa dipungkiri bahwa wanita itu masih memiliki rasa traumanya ketika akan melewati malam pertama, rasa sakit dan juga bayangan masa lalu masih terekam dengan jelas oleh ingatan wanita satu anak itu.


"Baiklah demi Bunda tercinta papah akan mandi dulu," balas Lucas dengan bersiap beranjak ke kamar mandi, tentu lebih dulu dirnya mencuri cium pada istrinya yang Lucas yakin kalau Jiara masih malu-malu untuk kembali melakukan malam panas mereka.

__ADS_1


Hist... dengus Jiara dengan mengusap pipinya yang memerah karena kelakuan suaminya yang nakal itu.


Lucas pun terkekeh ketika Jiara menunjukan respon malu dan juga tidak biasanya. Hanya membuthkan waktu tiga puluh menit kini Lucas sudah keluar kembali dengan tubuh yang jauh lebih segar dari sebelumnya.


Tubuh atletis dengan perut kotak-kotak membuat Jiara langsung menundukan pandanganya. "Kalau gitu aku gantian yah Mas untuk bersih-bersih badan," ucap Jiara dengan wajah menerahnya, dan dengan buru-buru meninggaalkan Lucas yang baru saja ingin menjawab iya.


Tentu beda cerita dengan Lucas yang dengan sengaja ingin buru-buru selesai mandinya dan bermain congklak di atas kasur. Jiara justru seolah dengan sengaja bermain air lebih lama, agar Lucas nunggu lama Jiara.


"Sayang, buruan Kia telpon katanya ingin ngobrol dengan bundanya," pekik Lucas dari luar kamar mandi. Jiara yang tengah berendam pun buru-buru beranjak, dan merain bathrobe untuk menurup tubuhnya yang polos, dan rambutnya di gelung dengan handung kecil. Keseksianya bertambah berkali-kali lipat.


"Tunggu nih Bunda udahan," balas Jiara dengan melangkah dengan tergesa.


"Mana Kia katanya telpon?" tanya Jiara pada sang suami yang duduk di atas kasur masih dengan handuk yang menempel di tubuhnya.


"Udah di matiin, tadi aku bilang, kalau Bunda mau nginap di hotel mau bikin adek bayi untuk Kia. Anak kita langsung semangat dan mengizinknya, malah Kia minta adik bayinya dua. Ayok bikin." Lucas mengulurkan tanganya agar Jiara duduk di pangkuanya.


Ckkk... Jiara pun langsung membuang pandangan dengan kesal. "Ini pasti akal-akalan kamu saja yah,"  tuduh Jiara. Apalgi tampang Lucas sangat tidak meyakinkan kalau Zakia habis telpon. Jiara juga tidak mendegar kalau Lucas ngobrol tadi.


"Bunda, dan ayah, boleh bobo di hotel, tapi nanti janji yah bawa adik bayi. Jangan lupa adik bayinya dua, yang kakak dede Elil, yang lucu dan tampan." Lucas memutar suara Zakia agar Jiara percaya.


"Kamu mah Mas, nanti kalau kita pulang dan dia bertanya adiknya bagaimana?" tanya Jiara gemas juga pastinya, apalagi Zakia itu kan belum tahu kalau bikin adik harus nunggu sembilan bulan, belum juga tidak pasti langsung jadi.


"Yang terpenting tidak nangis dulu saja, kalau Bunda dan Papahnya sedang produksi," goda Lucas dengan menarik tubuh Jiara hingga terduduk tepat diatas pahanya.


"Akh... Mas ini sangat keras sekali." Ah, bodoh, tentu keras kan memang  sudah tegang.


"Sekarang yah, udah tidak tahan," ucap Lucas dan Jiara pun yang mana tangan Lucas sudah menjelajah, hanya bisa menggukan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya.


Perlahan tetapi pasti akhirnya malam kelam itu terulang kembali, tetapi kali ini bukan lah malam kelam tetapi justru malam penuh dengan kebahagiaan. Seolah menjadi candu dua pasangan suami istri itu pun tidak cukup satu kali untuk  membuatkan Zakia adik, tentu dengan harapan akan sama seperti dulu di mana dalam sekali tabur langsung membuahkan hasil.


Sedangkan Arya di atas pelaminan masih terus menunjukan wajah ramahnya. Entahlah laki-laki itu ingin meluapkan kekesalanya pada sang papih. Yah, sudah jelas ini adalah ide konyol dari papihnya, Aryo. Dia adalah papih yang jahil habis. Di balik wajahnya yang berwibawa dan juga tegas. Laki-laki itu pun memiliki sisi lain yaitu jahil, dan  kadang jahilnya kelewatan seperti sore ini hampir dari pagi Arya dan Marni berdiri untuk bersalaman, tetapi tamu undangan tidak kunjung surut.

__ADS_1


"Pih, apa seluruh rakyat Indonesia Papih undang? Kenapa rasanya ini tamu undangan makin sore makin banyak," protes Arya, pada kenyataanya dia bukan titisan malaikat yang sabar-sabar saja ketika  ada hal yang tidak ia suka maka ia akan meluapkanya.


Aryo pun menyengir kuda. "Kamu harus tetap berdiri sampai acara selesai, jam sembilan malam," balas Aryo dengan santai.


"Gila yah Pih, jam sebilan? Acara apaan, apa Papih tidak ingin buru-buru punya cucu?" balas Arya dengan suara tertahan, rasanya ingin saat ini juga dia pindah KK, satu KK dengan papihnya benar-benar sangat menyebalkan selalu ada saja keisengan sang papih.


"Justru Papih ingin punya cucu sekaligus tiga," balas Aryo semakin senang mengerjai pengantin baru itu.


"Pih, coret Arya dari kartu keluarga sekarang juga," balas Arya dengan malas. Pokoknya besok dia akan akan marah dengan keluar dari kartu keluarga, tidak mau lagi bergabung dengan Aryo.


Arya pun beralih menatap wanita yang baru saja pagi tadi sah menyandang setatus sebagai istrinya.


"Kenapa, cape?"  bisik Arya dengan nada suara yang menggoda.


"He'eh, betisnya pegel," balas Marni dengan mengangkat kakinya.


"Emang mertua kamu itu sangat menyebalkan, bisa-bisanya dia undang seluruh rakyat Indonesia, mungkin dia kira dia itu kepala negara," dengus Arya tak henti-hentinya menyalahkan sang papih dalam tragedi ini.


"Udah tidak apa-apa sebentar lagi selsai kok, kata Mamih hanya sampai jam enam kita sudah istirahat," balas Marni dengan mengusap punggung suaminya agar tidak marah-marah lagi.


"Jam enam?" Gigi Arya saling gemelutuk kembali. Benar-benar sempat-sempatnya papihnya mengibuli dirinya lagi.


"Kata papih jam sembilan baru selesai," balas Arya terus saling berbisik dengan istri barunya.


"Mungkin maksud Papih jam sembilang kita lembur di kamar," goda Marni agar Arya tidak uring-uringan terus. Marni tahu pasti Arya tengah panas karena Lucas dan Lexi sudah lebih dulu mundur dan istirahat di kamar.


Benar saja wajah Arya langsung berubah terlihat lebih bahagia di balik wajah lelahnya.


"Aku ingin tes kamu langsung yah," bisik Arya.


"Tes, emang aku mesin!!"

__ADS_1


Hahhh.... lelah...!!!


__ADS_2