Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PWT #Episode 99


__ADS_3

"Holeh... Kia pulang," pekik bocah kecil yang sudah hampir satu bulan ini  berada di rumah sakit, rasa jenuh'nya membuat ia sangat bahagia sekali ketika selang infus di lepas dari pergelangan tangannya. Mungkin dia mengira bahwa ini adalah akhir dari perjuangan sakitnya, padahal dia tidak tahu, bahwa setelah ini maka akan ada perjuangan selanjutnya.


"Tapi ingat yah, Kia belum sembuh betul dan itu tandanya Kia harus berdoa sama Allah dan juga Kia tidak boleh terlalu cape." Sebelum benar-benar pulang Jiara lebih dulu membersihkan tubuh putrinya dan mengganti dengan pakaian panjang dan hijab seperti biasanya, meskipun usia anak itu masih tergolong sangat kecil, belum lengkap dua tahun tetapi gadis kecil itu sudah dibiasakan dengan pakaian panjang berhijab. Wajah cantik yang sangat mirip dengan Jiara terlihat cocok dengan hijab yang saat ini  terpasang di atas kepalanya.


"Siap Bunda, nanti Kia akan ngaji dan sholat seperti Bunda, Ambu dan Abah, dan sama kayak yang lainya," celoteh anak kecil itu.


Jiara pun menghadiahkan satu kecupan yang hangat di atas kening anak kecilnya sungguh ini adalah  hadiah yang terindah yang pernah Jiara rasakan. Anak yang pernah ia benci dengan sangat dalam, ternyata dia adalah calon penolong dia kelak diakhirat. Bagaimana tidak meskipun usia Zakia yang belum genap dua tahun tetapi gadis kecil itu sudah banyak menghafal doa-doa dan juga surat-surat pendek sudah ada yang ia hafal.


"Udah yuk kita pulang sudah makin siang, nanti malah pulang ke Jakarta kemalaman. Sini Kia biar Papah yang gendong," ujar Lucas dan sembari tangannya membopong anak kecil itu, dan Kia pun tidak protes karena kalau minta gendong sama bundanya nanti berat. Sedangkan barang-barang Jiara dan segala kerperluan selama di rumah sakit di bawa oleh supir Lucas yang sengaja Lucas panggil untuk membantu membawa barang-barang yang cukup banyak.


"Wah... mobilnya bagus," ujar Kia pertama kali ia melihat mobil milik calon papah sambungnya.


"Kia suka naik mobil ini?' tanya Lucas, padahal sudah jangan ditanya anak itu sudah terlihat dari wajahnya terlihat kalau dia sangat bahagia menaiki mobil calon papahnya.


Dengan antusias Zakia menganggukkan kepalanya. "Kia suka, mobilnya bagus," oceh anak kecil yang saat ini berada di pangkuan Lucas dan Jiara berada di sampingnya.


"Tuan, nanti kalau ada restoran ayam goreng tepung tolong  mampir yah, Kia pengin makan itu katanya." Jiara masih sangat ingat sekali apa yang diinginkan putrinya.


"Holeh... Kia boleh makan ayam Kliuk-kliuk,' pekik Kia girang, dan Lucas pun menatapnya dengan heran. Makanan yang dia sangat bosan justru sangat diimpikan oleh Zakia.

__ADS_1


"Apa Kia tidak pernah makan ayam itu, kenapa sebegitu gembiranya ketika tahu akan dibelikan ayam seperti itu?" tanya Lucas, hatinya teriris mendengar Zakia sangat bahagia dan itu menandakan kalau selama ini memang Zakia tidak pernah merasakan ayam yang dia inginkan.


"Kami bukan orang yang bergelimang harta, dan ayam seperti itu buat kami tergolong mahal, dan kata Ambu Kia pernah di kasih oleh salah satu tetangga dan mungkin dia merasa enak sehingga kemarin dia bilang ingin di belikan ayam seperti itu lagi," jawab Jiara tidak ada yang harus ditutup-titupi untuk sebuah kenyataan di mana mereka dan Lucas memang bagai langit dan bumi dalam limpahan materi.


"Kalau begitu ambil ini, kamu beli untuk beberapa porsi dan bagikan untuk yang  lain." Lucas menjulurkan kartu yang sempat Jiara tolak, dan kali ini tidak ada alasan lagi untuk Jiara menolaknya.


"Terima kasih Tuan." Jiara mengambil kartu itu dan mau tidak mau ia harus mengikuti apa yang Lucas katakan.


"Jangan panggil aku Tuan! Bahkan aku dan kamu sebentar lagi akan menjadi suami istri. Apa kata orang kalau kamu panggil Tuan sama aku," titah Lucas dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Jiara.


Kini Jiara pun turun di hadapan restoran siap saji yang terkenal dengan ayam goreng berbalut tepung yang terkenal kelezatannya. Sedangkan Zakia di dalam mobil sudah tidak sabar menunggu bundanya datang dengan ayam goreng yang sangat ia inginkan. Bahkan saking tidak sabarnya Zakia sempat tidak mau di tinggal, tetapi berkat bujukan dari calon papa'nya Kia kembali nurut dan hanya menunggu di dalam mobilnya.


"Kia mau makan sekarang?"


Anak kecil itu dengan antusias menganggukkan kepalanya dengan kuat, dan saat ini Kia duduk di tengah-tengah antara Jiara dan Lucas, dengan sabar Jiara menyuapinya,  terlihat lahap sekali Zakia memakan nasi'nya, tidak seperti ketika di rumah sakit yang menurut dia makanannya tidak enak. Seolah anak kecil itu juga terpaksa untuk mengunyah'nya.


Lucas sampai tidak bisa berkata-kata melihat calon anaknya makan dengan sangat pintar.


"Apa dia makanya seperti ini, sangat lahap sampai aku juga ikut senang lihatnya?" tanya Lucas, senang ketika melihat ada anak kecil makan dengan sangat lahap.

__ADS_1


"Tidak juga Mas, mungkin karena dia makan dengan makanan yang sangat dia inginkan," jawab Jiara, dan saking senangnya melihat Zakia makan, tanpa terasa kini mereka sudah sampai di halaman pesantren, dan ternyata di sana sudah banyak berlalu lalang  orang yang mempersiapkan pernikahan Jiara dan Lucas.


Kepulangan Zakia pun disambut dengan baik tidak lupa Lucas juga disambut dengan baik di tempat ini, terlebih niat Lucas yang baik ingin menikahi Jiara dan sepertinya Lucas juga sangat menyayangi calon anak sambungnya, hal itu bisa terlihat dari kedekatan Lucas dan Zakia.


Anak kecil itu juga terlihat sangat nyaman dan dekat dengan Lucas.  Sebelum benar-benar Lucas menikahi Jiara, tentu Abah memberikan banyak-banyak nasihat untuk calon menantunya.


"Lucas, Abah sudah dengar apa niat kamu pada Jiara, dan karena Jia sudah kami anggap anak sendiri, jadi Abah minta kamu sayangi Jia dan Kia dengan tulus, dan apabila kamu sudah tidak sanggup untuk menjaga mereka, kamu bisa pulangkan Jia kesini,  mereka sudah menjadi tanggung jawab Abah juga." Abah pun yang bukan orang tua Jiara sangat sedih ketika akan melepas anak angkatnya, meskipun Lucas terlihat baik dan penyayang.


Sedangkan Jiara sendiri juga sama di sebrang Abah duduk dengan pandangan menunduk. Ini adalah kali pertama ia akan melangsungkan pernikahan tidak terlintas sedikit pun bagaimana ia akan melewatinya. Benarkan Lucas akan menyayangi'nya dan juga menyayangi Zakia.  Terlebih baik Jiara dan Lucas baru kenal kurang lebih satu bulan.


"Baik Abah, Lucas akan menyayangi mereka, dan juga Zakia akan Lucas jaga layaknya darah daging Lucas, dan juga Jiara akan  Lucas jaga dengan baik. Abah tidak perlu khawatir nanti apabila Abah dan Ambu ingin mengunjungi mereka, kalian bisa hubung Jia atau Lucas nanti akan ada supir yang menjemput jadi kalian jangan takut, Lucas tidak akan memutus tali silahturahmi dengan keluarga di sini. Bebas kalau Jiara ingin sesekali pulang kesini dan menginap di sini Lucas juga akan mengizinkannya," jawab Lucas dengan yakin dan cara berbicara Lucas yang tenang membuat Abah semakin yakin kalau memang dia adalah calon suami dan ayah yang baik untuk Jiara dan Zakia.


Setelah Abah dan Lucas saling serah terima dan keluarga pengganti papahnya pun menerima niat Lucas dengan baik, secepatnya pun akan diadakan ijab kobul, dan setelah itu Zakia dan Jiara malam ini juga akan di boyong ke Jakarta, terlebih Zakia yang memang sangat membutuhkan perawatan yang terbaik.


...****************...


Teman-teman sembari nunggu kelanjutan Lucas dan Elin, yuk mampir ke karya teman othor, di jamin bikin baper....


__ADS_1


__ADS_2