
"Dok, kok Papah lama yah? Elin jadi takut kalau terjadi sesuatu pada Papah." Elin melihat jam sudah menunjukan jam delapan malam, tetapi papahnya belum juga kembali ke rumah sakit, padahal jarak rumah sakit dengan komplek tempat tinggal mereka tidak jauh.
"Kita tunggu sebentar lagi yah ini aku juga telpon belum di angkat mungkin lagi di jalan," jawab Arya, sembari menunjukan layar ponselnya di mana di sana tertera, laki-laki yang berada di sampingnya tengah melakukan panggilan telpon pada Eric.
Elin pun mengangguk dengan lemah dan dalam hatinya berdoa segala jenis doa yang bisa ia panjatkan untuk keselamatan papahnya. Meskipun Arya bilang dan memastikan bahwa semuanya sudah aman tetapi tetap saja Elin takut apabila dua laki-laki jahat itu justru sekarang mengincar papahnya.
Jam seolah sangat lama berputar dan Elin tidak sabar andai ia sudah di perbolehkan untuk keluar rumah sakit, sudah pasti saat ini Elin tengah menyusuri jalan untuk menyusul papahnya.
"Assalamualaikum..." sapa Eric dengan suara lembutnya, kedua tangannya membawa tas yang sudah jelas isinya makanan yang Eric masak sesuai permintaan putrinya. Laki-laki paruh baya itu nampak sedikit kerepotan dengan barang bawaan nya.
"Papah..." Pekik Elin dengan senyum merekah. Eric sampai heran dengan reaksi putrinya, hingga berjingkrak. Arya pun tidak kalah terkekeh, karena melihat Elin yang tanpa sadar saking senang dan leganya kalau papahnya tidak apa-apa, gadis sampai berjingkrak dan bertepuk tangan dengan lepas.
Eric menatap Arya seolah tatapannya bertanya ada apa dengan putrinya, kenapa nampak senang sekali dengan kedatangan Eric. Arya yang kebetulan bertemu dalam tatapan pun mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa ia juga tidak tahu dengan wanita yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Elin senang banget papah, Elin takut kalau Papah kenapa-napa, mana tadi dokter Arya coba telpon ke nomor Papah tapi tidak diangkat juga, " adu gadis yang saat ini sedang membuka bekal makan yang di bawa oleh Papahnya.
"Iya, sayang tadi waktu mau berangkat ke rumah sakit ada ibu-ibu yang nitip makanan dan kue buat kamu, dan mereka juga banyak cerita dan pada nitip salam sama kamu, jadi Papah mengobrol dulu dengan tetangga yang ingin tahu bagai mana kondisi kamu saat ini. Tetangga juga nitip ini buat kamu." Eric mengeluarkan amplop, dan memberikan pada Elin, amplop yang di berikan Pak RT sebagai bantuan dari para tetangga.
"Ya Allah mereka baik banget yah Pak, sampai ngasih beginian segala," ucap Elin terharu. Apalagi makanan yang papahnya bawa cukup banyak dan itu dari para tetangga.
"Iya mereka memang baik banget sama kita, itu sebenarnya yang membuat Papah berat juga mau ninggalin tempat ini." Eric memang sudah mempertimbangkan apa yang sempat Elin katakan tadi siang, dan Eric sudah yakin bahwa ia akan tetap tinggal di kota ini, terlebih tetangga juga sangat baik dan tidak menghakimi, dan tampa di ceritakan apa yang terjadi tetangga juga tahu apa yang menimpa putrinya. Bahkan Pak RT sempat mengatakan andai nanti Elin hamil maka warga tidak akan ada yang menghinanya, karena seluruh warga di komplek mereka tinggal sudah tahu bahwa Elin memang di culik dan di jadikan pemuas nafsu sesaat oleh laki-laki durjana, dan orangnya bernama Lexi yang sampai saat ini di hukum dengan penyesalan.
"Dokter Arya ayo makan, ini Om sudah masak loh khusus buat dokter Arya." Eric membantu mengeluarkan makanan yang ada di dalam rantang.
"Hehehe... Iya Dok, kalau dilingkungan kalangan bawah memang hal seperti ini masih banyak terjadi, tetapi kembali lagi ke lingkungannya sih Dok. Udah ah. Yuk makan dulu biar makin ngobrolnya semangat kalau belum makan ngobrolnya tidak semangat." Eric mengeluarkan makanan yang dia bawa dan karena terlalu banyak tidak mungkin habis hanya di makan oleh tiga orang.
"Ndok, ini makanannya sebagian di bagi ke petugas depan boleh tidak?" tanya Eric pada Elin, takutnya akan mengabiskan makanan yang Eric masak dan juga yang tetangga berikan.
__ADS_1
"Ya Allah, Papah kenapa mesti tanya Elin, kasih aja Pah, dari pada mubasir," jawab Elin sembari menggeser makanan yang bahkan masih banyak yang belum tersentuh.
Laki-laki paruh baya itu memisah-misahkan makanan yang dia bawa dan membagikan pada petugas yang berjaga di depan ruangan Elin, terlebih Eric sering meminta tolong, untuk menjaga Elin apabila ia ingin ke masjid atau ke kantin.
"Gimana Dok masakan Papah?" tanya Elin, kenapa Arya diam saja, tidak memberikan ulasan tentang rasa masakan yang paling enak menurut Elin.
"Jangan di tanya Lin, ini sih aku yakin kalau Papah kamu buka restoran dengan rasa seperti ini bakal banyak pelanggannya. Rasa masakan yang di olah sama Papah kamu itu sangat enak tahu, pokoknya rasanya juara. Patas saja kamu sampai enggak enak makan kalau bukan masakan Om Eric rasanya tidak tertandingi. Kalau kamu tidak tanya tadi aku nggak sempat kasih penilaian, saking enaknya, bawaannya pengin makan terus." Arya bahkan sampai nambah lagi makanya, hal yang sangat jarang di lakukan oleh Arya, laki-laki yang selalu mempertimbangkan asupan kalori yang masuk ke dalam tumbuhnya.
"Tuh kan apa Elin bilang, Papah itu chef terbaik buat Elin," balas Elin dengan menyombongkan dirinya. padahal yang di puji papahnya, tetapi yang menyombongkan diri Elin.
"Wah, berati kamu juga masakannya enak yah Lin? Jadi pengin cobain masakan kamu juga." Entah Arya serius atau tidak, tetapi berhasil membuat wajah Elin berubah drastis.
"Wah kalau itu jangan di tanya Dok, Elin kalau masak apa-apa berhasil terus. Berhasil bikin Om Eric pusing," jawab Eric, mengambil alih jawaban atas pertanyaan Arya yang sudah jelas itu adalah pertanyaan yang sulit di jawab oleh Elin. Dia adalah kebalikan dari Eric, chef yang payah, dan teledor, sehingga tidak jarang makanan yang Elin masak biasanya berwarna eksotis, alias gosong.
__ADS_1
Wajah Elin memerah. Malu? Tidak, tetapi menahan tawa, memang benar yang dikatakan papahnya bahwa ia adalah chef yang payah.