Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Kabar Gembira Untuk Elin


__ADS_3

"Pagi Elin, Om Eric," sapa Arya dan dokter Marni yang tumben pagi-pagi sudah datang keruangan Elin. Terlebih dua dokter yang tampan dan cantik seolah membawa kabar gembira hal itu bisa dilihat dari wajah mereka yang merekah dengan senyum lebarnya.


"Pagi Dok, kenapa malah Elin deg-degan yang pagi-pagi sudah dikunjungin sama dokter Marni dan dokter Arya. Mana ini juga belum jam tugas kalian tapi udah datang keruangaan Elin ada perlu apa Do?" tanya Elin sang sepagi ini sudah segar. Elin memang sudah tidak di infus, dan pagi ini ia sudah mandi dengan rambut basah dan saat ini di depan jendela besar Elin sedang di sisir oleh papahnya. Rambut gelombangnya selalu mengingatkan Eric pada mantan istrinya, Darya. Karena Elin adalah anak wanita yang sangat mirip dengan mantan istrinya.


Sungguh hal romantis seperti ini berhasil membuat yang melihatnya iri dengan keromantisan antara papah dan putrinya. "Aku tuh kalau lihat Om Eric sama Elin kaya gini iri banget, pengin punya Papah kayak Om Eric," decak Marni, sembari mengambil duduk di ranjang Elin.


Eric dan Elin hanya tersenyum manis sebagai respon dari apa yang dilontarkan oleh dokter Marni.


"Kedatangan kita sebenarnya untuk mengatakan bahwa lusa kamu sudah bisa pergi menjalani operasi ke negara ginseng, tadi donatur sudah mengabarkan dan semuanya sudah siap sehingga kamu tidak akan lama lagi bisa kembali beraktifitas." Arya mengambil alih apa yang membawanya pagi-pagi datang ke kamar Elin.

__ADS_1


Elin dan Eric saling melemparkan pandang seolah mereka tidak percaya bahwa prosesnya akan secepat ini, padahal kemarin baik dokter Marni maupun dokter Arya sepakat mengatakan palin cepat satu minggu untuk prosesnya, tetapi lagi-lagi atas bantuan Tuhan semuanya di mudahkan.


"Dokter Marni, dan dokter Arya tidak sedang bohongin Elin dan Papah kan? Tidak sedang bikin prank pada Elin kan?" tanya Elin dengan mata berkaca-kaca, seolah matanya sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Namun, kali ini bukan air mata kesedihan seperti hampir dua minggu ini Elin rasakan, air mata yang akan tumpah di pagi ini adalah air mata bahagia. Elin sangat berharap dengan adanya kabar bahagia ini semoga dengan usaha yang akan dijalani ini kehidupannya akan lebih baik lagi.


"Apa untungnya berbohong sih Elin, ini adalah jawaban atas doa yang selalu kalian untaikan pada Tuhan, ini tanda bahwa Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan tahu bahwa kamu orang baik, banyak yang sayang sama kamu sehingga doa-doa dari mereka membantu untuk memudahkan semua urusan kamu." Jawaban yang Arya berikan bukan sekedar untuk membuat Elin percaya dengan apa yang akan Arya dan Marni sampaikan tetapi memang begitu adanya bantuan dari doa-doa yang menyayangi Elin adalah jembatan kemudahan untuk semua yang akan mereka jalani.


"Kira-kira untuk pengobatan di sana butuh berapa lama Dok?" Berbeda dengan Elin yang masih tidak percaya dengan kabar bahagia yang Arya dan  marni sampaikan di pagi hari ini. Eric justru seolah takut ia akan kesepian dengan perginya putrinya, lagi-lagi ketakutan menyelimutinya, bahkan laki-laki paruh baya itu takut apabila Elin dan Marni nanti bakal kenapa-napa dalam perjalanannya terlebih tubuh Elin yang belum sembuh benar.


"Semoga semuanya berjalan lancar dan Elin cepat sembuh. Karena ini selain kabar bahagia ini juga ujian yang Tuhan kirimkan, karena Elin pasti akan kangen banget masakan Papah," hibur Elin pada papahnya yang sedang melou suasana hatinya. Tangan Elin entah beberapa kali di cium oleh Elin sebagai rasa sayangnya, dan pasti nanti kan terasa sangat kangen, dengan papahnya. Jadi bukan hanya Eric yang kangen dengan ke bawelan putrinya, Elin juga pasti akan kangen dengan segala yang di lakukan papahnya selama ini, teruta masakan papahnya yang luar biasa lezatnya

__ADS_1


Setelah memberikan arahan pada Elin barang apa saja yang nantinya di butuhkan selama di negara orang. Dokter Marni lebih dulu pamit, karena jam praktek beliau yang satu jam lebih awal dari pada jam praktek Arya. Padahal dokter Marni sebenarnya ingin lebih lama mengobrol dengan Elin dan yang lain, tetapi karea tugas ia pun harus merelakan obrolannya sang hanya icip-icip itu.


"Dok, dari semalam tidak lihat Jiara, apa mereka sudah pulang?" tanya Eric, yang ia justru merasa kehilangan dengan pasien sebelah yang belum bisa ia temui. Hanya suaranya tetapi berhasil mengganggu pikiran Eric, bahkan semalam Eric pun sempat bermimpi bahwa ia bertemu dengan sosok laki-laki yang ada di samping kamar putrinya.


"Oh Jiara sudah pulang Om, karena pasien sebelah sudah sembuh dan sudah diizinkan istirahat di dalam rumah. Ngomong-ngomong kenapa Om kok tumben tanya Jiara?" tanya Arya kepo dong, tujuannya menanyakan Jiara atau malah menanyakan sang pasien itu sendiri yang tidak lain adalah putranya juga.


"Memang yah, yang namanya ikan tatin, meskipun mereka tidak mengenalinya dan mencoba untuk ditutupi faktanya tetapi akan terasa tetap berbeda saja," batin Arya. sangat penasaran kenapa Eric bertanya seperti itu adanya.


"Enggak Om kenapa seperti kenal dengan pasien sebelah lah, dari suaranya sepertinya tidak asing, meskipun Om belum melihat wajahnya tetapi Om tetap merasa kenal," ucap Eric dengan yakin, sementara saat ini gantian Elin dan Arya yang saling melempar pandangan dan mulai curiga dengan  apa yang di pikirkan Eric.

__ADS_1


"Itu perasaan Om ajah kali, dia adalah sepupu Arya, jadi mungkin suara yang seperti Om kenali adalah suara Arya." Laki-laki dengan jas berwarna putih itu mencoba mencari masukan yang masuk akal, dan berusaha bahwa Eric percaya dengan apa yang Arya katakan.


Eric nampak berfikir. "Mungkin yang dikatakan dokter Arya benar, laki-laki itu sepertinya suaranya mirip dengan dokter, sehingga saya merasa familiar dengan suaranya," jawab Eric dengan sedikit tenang dengan kemungkinan yang Arya berikan.


__ADS_2