Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 118


__ADS_3

Sementara di tempat lain masih dalam rumah sang sama Elin dan Mirna memilih mengobrol di kamar Elin.


"Ada kabar apa sih Dokter Marni kenapa aku jadi deg-dengan banget yah," tanya Elin begitu mereka sampai di dalam kamar tanpa terlupa Elin juga menutup pintu dan menguncinya.


"Ada amanah dari Arya yang harus aku sampaikan sama kamu, tapi kamu janji yah apapun kabar itu kamu akan terima dengan hati yang terbuka jangan sampai kamu sedih, marah ataupun kecewa," lirih Marni, dan hal itu membuat Elin dilanda rasa penasaran yang semakin memuncak.


"Ada apa Dok, kenapa aku semakin merasakan ada yang tidak beres yah." Elin semakin mencecar Marni.


"Ini ada sangkut pautnya dengan Lucas, dan semua kejadian yang kamu alami selama ini, dan itu adalah kabar yang kurang mengenakan memang." Marni membenarkan posisi duduknya yang semakin tidak nyaman, dan Elin pun sama semakin tidak nyaman dengan apa yang akan wanita berparas manis yang ada di sampingnya saat ini.


Pandangan Elin menunduk sembari kedua tangannya semakin tertaut, seolah wanita itu sedang memberikan kekuatan pada dirinya sendiri.


"Apa yang kamu lakukan kalau ternyata Lucas adalah saudara kandung kamu?" tanya Marni.


Tes... Elin meneteskan air mta, ketakutannya segera terjawab, tetapi seolah wanita itu tidak kuat untuk mendengar kabar ini. Elin menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Aku tidak pernah berpikir hal semacam ini sedikitpun. Aku ingin hidup tanpa adanya bayang-bayang Lucas," lirih Elin. dan Marni pun menarik Elin yang sudah mulai terisak ke dalam pelukannya.


"Memang perjalanan hidup itu kadang sakit Elin, sakit banget dan mau tidak mau kita harus telan rasa yang tidak mengenakan itu. Pahit, asam dan asin serta rasa-rasa yang membuat kita ingin memuntahkannya, tetapi percayalah ada kabar bahagia dari semua kejadian yang kamu alami belakangan ini." Marni membiarkan Elin menangis di dalam pelukannya.


Elin bukan menangis sedih, bukan juga menangis takut, tetapi menangis kenapa harus Lucas yang menjadi saudara dia, dan kenapa harus Lucas yang menghancurkan masa depannya.  Meskipun Marni belum menjelaskan secara detail tetapi Elin bisa menarik garis kesimpulannya bahwa apa yang ingin Mirna katakan adalah fakta mengenai siapa Lucas dan hubungannya dengan Elin.


Marni bahkan sepertinya tidak akan bisa membicarakan semua faktanya sore ini hal itu karena Elin yang ternyata malah semakin melow.

__ADS_1


Sementara di luar.


"Dokter Arya apa Om boleh mengunjungi Jiara dan Zakia malam ini, mungkin kalau dibolehkan oleh Elin Om ingin menemani Jiara berjaga di rumah sakit," ucap Eric, laki-laki paruh baya itu pengin tahu bagaimana cucunya yang sedang sakit.


"Boleh Om, nanti Elin biarkan dengan Marni, kalau perlu Elin nanti tidur di rumah Marni, biar mereka semakin akrab juga," balas Arya, dan setelahnya meminta Eric untuk mempersiapkan apa yang dibutuhkan nantinya, dan juga sekalian izin dengan Elin agar putrinya tidak mencari keberadaan Eric.


Tokk... Tokkk... Eric mengetuk pintu kamar putrinya yang di dalam sana sedang murung.


"Elin, itu kayaknya Om Eric kamu jangan nangis terus yah nanti malah Om Eric ngira kamu kenapa-napa," Lirih Marni sembari berbisik dengan suara yang pelan dan membersihkan sisa air mata di pipi Elin. Setelah semuanya di rasa bersih dan tidak ada sisa tangisan Elin menghampiri pintu dan membukakan untuk papahnya.


Benar yang dikatakan Marni ada papahnya yang sedang berdiri mematung di balik daun pintu berwarna putih.


"Ada Apa Pah?" tanya Elin meskipun ia sudah berusaha kalau tidak menangis lagi tetapi  sura serak dan berat sudah bisa memberitahukan pada Eric bahwa putrinya sudah selesai menangis.


Elin cukup diam sejenak, heran dengan maksud papahnya, ini adalah kali pertama papahnya secara tidak langsung meminta dirinya untuk menginap di rumah orang lain. Meskipun dia  adalah Marni yang notabenya dia sudah lama kenal dengan Marni bahkan satu bulan pernah tinggal bersama.


"Emang kenapa kok tumben Papah meminta Elin menginap di rumah orang lain?" tanya Elin.


"Itu... Papah mau ke  rumah sakit," jawab Eric dengan suara semakin terbata, ia bingung apakah Marni sudah menceritakan mengenai Lucas dan Jiara atau belum. Makanya Eric ada rasa takut nanti malah Elin kebingungan kalau tiba-tiba dia mengatakan mau jenguk Zakia.


"Emang siapa yang sakit Pah?" cecar Elin, sesuai dugaan Eric kalau Marni belum menceritakan semuanya.


"Kamu tanya dokter Marni saja yah Sayang. Papah sudah di tungguin di depan oleh dokter Arya," balas Eric dengan buru-buru. "Kalian nikmatin di sini ajah dulu, nanti dokter Arya  akan datang kesini lagi setelah antar Papah,' imbuh Eric setelahnya meninggalkan Elin yang masih mematung dalam kebisuan.

__ADS_1


Ingin Elin melemparkan pertanyaan lagi pada papahnya , tetapi wanita itu ingat pesan papahnya agar ia menanyakan pada Marni. Pandangan matanya langsung tertuju pada Marni. Kaki Elin kembali menghampiri wanita yang masih terduduk di atas ranjang Elin.


"Dokter Marni tahu Papah mau ke rumah sakit mau ngapain?" tanya Elin semakin penasaran. "Apa Papah sudah tahu semuanya yang menimpa Elin?" tanya Elin ulang, dan di balas anggukan oleh Marni.


"Papah kamu sudah tahu semuanya dengan kamu dan semuanya, hanya kamu yang belum mengetahui semuanya, itu sebabnya Om Eric akhir-akhir ini terlihat bahagia dan lebih tenang.


Elin pun semakin penasaran dengan apa yang akan Marni sampaikan. "Dok ayo ceritakan apa yang tadi ingin dokter Marni ceritakan?" cecar Elin mengambil duduk di tempat tadi dan sangat terlihat bersemangat.


"Kamu mau cerita dari mana dulu?" tanya Marni biar lebih tahu ia harus memulainya, mengingat masalah yang dihadapi keluarga dirinya terlalu pelik.


"Semuanya yang harus Elin tahu, dokter Marni bebas ceritakan," balas Elin dengan antusias.


"Apa kamu benar-benar ingin tahu, dan tidak akan sedih kaget dan marah?" tanya Marni memastikan lagi.


"Tidak Dokter, Elin janji," balas Elin dengan yakin.


Marni pun menghirup nafas dalam dan mulai bercerita. Dimulai Lucas salah paham, dengan menculik dan melibatkan Lexi calon papah dari bayinya yang dikandungnya sa'at ini. Hasil Dna mereka dan Ibu kandungnya yang mengalami depresi, hingga terakhir anak Jiara dan Lucas, Marni ceritakan dengan sangat detail dan tidak terlewati.


"Jadi selama ini laki-laki bere-ngsek itu adalah sodara kembaranku?" lirih Elin dengan bibir tersungging sinis. "Sodara apa yang tid mengenali sodara kandungnya sendiri," imbuh Elin dengan sangat kecewa.


Marni hanya memberikan jawaban dengan anggukan lemah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2