Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 154


__ADS_3

"Apa Kakek sudah dengar apa yang terjadi dengan Lucas?" tanya Arya dengan hati-hati mengingat Philip baru saja sembuh dari serangan jantung.


Philip nampak menghirup nafas dalam dan membungnya. Wajahanya nampak berubah dan lebih serius.


"Polisi barusan sudah memberitahukanya," jawab Philip dengan tenang, meskipun dari wajahnya terlihat sangat berat beban yang dia tanggung.


"Lalu apa ini yang membuat Om tetap bekerja sedangkan Om masih sakit? Om, seharusnya sudah menikmati hari tua bukan sibuk dengan tumpukan map yang tidak akan ada habisnya," lirih Arya, dengan wajah waspada dan juga wajah yang serius.


"Perusahaan banyak karyawan, dan mereka akan tetap bekerja setiap hari, kalau prusahaan bangkrut, maka mereka akan kehilangan mata pencaharian."


"Bukakah Om punya anak, menantu dan cucu Om bukan hanya Lucas, kenapa tidak coba memperbaiki hubungan dengan mereka, dan berikan mereka kepercayaan. Om Philip tidak akan lelah bekerja lagi. Om sudah waktunya bemain dengan cicit-cicit Om bukan sibuk dengan tumpukan map seperti ini," lirih Arya, dia akan secepatnya meperkenalkan laki-laki tua ini dengan keluarganya.


Untuk apa lagi saling bersitegang, sekarang Philip sudah tua dan butuh dukungan dari keluarga. Itu yang ada dalam pikiran Arya.


Philip langsung mengangkat wajahnya, dan menatap Arya dengan tatapan yang meminta kejelasan. "Dari mana kamu tahu itu semua?" tanya Philip dengan wajah yang memerah.


"Tante Ely," jawab Arya sesingkat mungkin.


"Ely? Apa dia sudah sembuh?" cecar Philip, wajahnya terlihat seperti menahan kebahagiaanya. Arya hanya membalasnya dengan anggukan samar.


"Tante ingin menemui Anda, tetapi beliau selalu takut kalau kejadian dua puluh delapan tahun lalu terjadi lagi, sehingga beliau memilih untuk tetap tinggal terpisah dengan Anda. Saat ini Anda sudah tua dan sudah saatnya bermain dengan cicit-cicit Anda apa tidak ada pintu maaf untuk Tante Ely dan menghargai keputusan beliau. Tante Ely sembuh juga karena kasih sayang keluarga kecilnya, kasih sayang suami dan anaknya yang dengan sabar merawat beliau. Sampai beliau sembuh dan bahagia meskipun jauh dari harta yang belimpah. Karena bahagia itu bukan sekedar harta yang belimpah ruah, tetapi kebersamaan dengan keluarga itu sudah memberikan bahagia yang sesungguhnya."


Arya tidak melihat Philip adalah orang yang jauh lebih tua, ia tetap menasihatinya, karena memang Philip membutuhkan anak dan cucunya.

__ADS_1


"Di mana saat ini mereka berada?" tanya Philip dengan antusias.


"Arya berjanji pada Tante Ely kalau Arya tidak akan mengatakan keberadaanya, selain membawa kabar bahagia. Tante Ely masih trauma Kek, trauma dengan perpisahan di dua puluh delapan tahun silam, di mana Anda dengan tega memisahkan mereka," balas Arya, ia tidak akan mudah percaya dengan Philip kalau memang Philip tidak membuka hatinya untuk menantu dan cucunya yang sempat ditentang karena miskin.


"Apa mereka sudah kembali bersatu lagi?" tanya Philip, semakin memerah wajahnya. Entahlah dia menahan marah pada dirinya sendiri atau justru dengan anak dan menantunya.


Lagi, Arya mengangguk dengan lemah.


"Kalau begitu, bawa mereka ke rumah ini!" Suara Philip nampak bergetar.


"Apa itu tandannya Kakek menerima Om Eric sebagai menantu Kakek? Karena Arya merasa sia-sia kalau yang di terima di rumah ini hanyalah Tante Ely, sementara Om Eric akan tetap tidak mendapatkan posisi yang semestinya di rumah ini," lirih Arya memastikan sekali lagi. Meskipun dari wajah dan suara Philip sepertinya laki-laki tua itu sudah menyesali perbuatanya, dan saat ini ia membuka pintu damai untuk anak satu-satunya.


"Saya sudah pernah melakukan kesalah sekali dan saya tidak mau mengulang kesalahan untuk kedua kalinya. Apa  saya harus memohon maaf dan bersujud untuk meyakinkan kalau saya sudah menerima mereka?" lirih Philip.


"Kapan saya bisa bertemu dengan mereka?" tanya Philip seolah laki-laki itu sangat mengharapkan hal ini terjadi.


"Saya akan bertanya dulu pada Om Eric dan Tante Ely kapan beliau siap dengan pertemuan ini?"


"Apa mereka bahagia?" tanya Philip lagi, dan langsung dibalas anggukan kuat oleh Arya.


"Mereka sangat-sangat bahagia. Cinta mereka tulus, meskipun hampir dua puluh sembilan tahun terpisah, mereka bisa menjaga kisah cinta mereka, dan kembali merajutnya dengan manis." Arya bahkan tersenyum dan terlihat sangat bahagia ketika menceritakan kisah Tante dan Omnya.


"Apa selama ini Lucas juga tahu kalau keluarganya sudah bersatu?"

__ADS_1


Kali ini Arya membalas dengan  gelengan kepala yang samar, dan sedih. "Ada masalah antar Lucas dengan adiknya, dan ini yang selama ini Arya tidak katakan. Karena masalahnya bukan masalah yang biasa," jawab Arya dengan wajah yang sangat berbanding terbalik dengan sebelumnya.


"Kalau begitu kamu segeralah bertanya pada Ely dan juga suaminya, kapan mau bertemu dengan saya. Sudah lama saya menyesal dengan semua kesalahan yang sudah saya lakukan. Bahkan saya sangat ketakutan kalau-kalau saya tidak bisa menebus kesalah yang pernah saya perbuat untuk mereka, hingga akhir hayat. Saya menyesal. Sangat-sangat menyesal." Philip tergugu dalam tangisnya,


Bahkan Arya sampai bingung untuk menenangkanya, ia takut kalau Philip akan sakit lagi.


"Kek, Kakek jaga emosi, Arya tidak mau nanti Kakek kenapa-kenapa dan Tante Ely akan sedih dan menyalahkan Arya. Lucas juga menyerahkan kesehatan Kakek pada Arya jadi jaga kesehatan yah." Arya bangkit dan mengelus punggung Philip dengan lembut, bahkan laki-laki itu baru sedekat ini dengan Philip. Biasanya ia akan menjaga jarak dengan laki-laki itu.


Tidak hanya sedekat ini dengan Philip tetapi Arya juga baru merasakan kalau Philip yang selama ini terlihat sangat mengerikan ternyata hatinya lemah juga, malahan ia menagis di hadapan Arya, hanya yang sebelumnya tidak terpikirkan, bahkan Arya berpikir kalau mata Philip tidak pernah memproduksi air mata.


"Selama ini saya sibuk bekerja semata agar saya sibuk dan melupakan Ely dan mungkin dia memang tidak akan pernah sembuh, tetapi tidak memungkiri setiap saya mencoba melupakanya, hati ini sakit. Andai waktu bisa diputar kembali saya tidak akan pernah menghalangi cinta mereka, mungkin masa tua saya tidak akan sesepi ini. Tapi ini belum terlambat kan Arya. Ely dan suaminya mau memaafkan laki-laki kejam ini?"


"Kek, mereka pasti akan sangat senang dengan kabar ini. Mereka juga rindu dengan Kakek dan juga mereka ingin meperbaiki hubungan ini," jelas Arya.


"Kalau gitu tolong bawa saya menemui mereka. Kamu bisa pegang ucapan saya. Kalau saya tidak akan membuat mereka berpisah. Saya hanya ingin meminta maaf dan akan memperbaiki hubungan ini. Saya ingin disisa umur ini keluargaku berkumpul kembali. Benar kata kamu, saya tidak ada siapa-siapa lagi kecuali mereka. Arya tolong ajak saya bertemu dengan mereka." Philip menatap Arya dengan tatapan yang memohon dengan sangat dalam.


"Besok pulang kerja Arya akan bawa Kakek menemui mereka. Tetapi Arya ingin bertanya pada Kakek, apa Kakek pernah mengatakan kalau Elin adalah anak pelakor? Dan Papahnya selingkuh, lalu  Tante Ely depresi karena masalah itu?" tanya Arya, ingin mencari kebenaranya. Kalau memang Philip yang membuat fitnah ini makan kesalahan utamanya adalah Philip yang membuat otak Lucas tercuci dan membuat dendam yang tak berujung.


Tangan Arya mengambil ponsel dan bersiap merekam jawaban Philip yang mungkin saja bisa digunakan suatu hari untuk bukti pada Lucas sehingga laki-laki itu tahu kalau semua yang ia lakukan adalah fitnah dari kakeknya sendiri.


Arya sedikit bernafas lega, seiring berjalanya waktu ternyata ia bisa mengurai masalah yang pelik. Bahkan laki-laki itu sempat ingin menyerah di tengah-tengah jalan, karena terlalu banyak masalah yang datang menyusul. Contohnya hari ini, tetapi Arya baru tahu dan sadar ternyata masalah yang datang adalah cara untuk menyelesaikan masalah yang sebelumnya.


"Tuhan, tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuannya. Sehingga Ia berikan masalah untuk menyelesaikan masalah yang lainnya."

__ADS_1


__ADS_2