Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 144


__ADS_3

Pagi hari menyapa, bibir Elin melengkung dengan sempurna, ketika kedua bola matanya menangkap sosok yang sangat dia rindukan selama ini.


"Mamah, bangun kita Sholat yuk," lirih Elin membangunkan Darya yang masih tertidur dengan pulas.


Darya mengerjapkan matanya, dan membalas senyum putrinya. "Apa ini sudah pagi? Kenapa rasanya tidur dengan kamu sangat cepat Sayang," ucap Darya dengan mata yang masih menyipit karena silau dengan sinar lampu yang sudah Elin nyalakan.


Elin terkekeh dengan ucapan sang ibu. Ternyata yang merasakan itu bukan hanya dirinya saja tetapi juga sang mamah merasakan hal yang sama. Perasaan baru saja mata terpejam tetapi sudah pagi saja.


Segini nyaman tidur dengan pelukan Ibu kandung, hal yang hampir dua puluh sembilan tahun tidak ia rasakan.


Harinya yang baru akan segera dimulai. Darya bahkan tidak sama sekali memikirkan bahwa harinya akan kembali berwarna seperti saat ini. Pelanginya sudah lama tanpa warna, tetapi mulai hari ini pelangi itu akan tergambar dengan warna yang beragam kembali.


Setelah mereka menjalankan kewajibanya, mereka pun memasak bersama. Ibu dan anak itu  menjadi teman yang baik, dan Elin pun selalu menceritakan kerjaan Papah nya dari mulai ia kecil hingga saat ini dirinya dewasa. Eric selalu bekerja dengan memasak. Tidak hanya Elin yang bercerita kenangan perjalanan hidupnya. Kini Elin juga tengah mendengarkan perjalanan cinta mereka fersi mamahnya, dan perjalanan berat mereka paska menukah hingga Elin dan Lucas lahir.


Tanpa terasa air mata Elin mengalir dengan pelan, ketika mendengan cerita masa-masa pacaran mereka hingga Elin dan Lucas lahir. Ini adalah kali pertama Elin tahu cerita papah dan mamahnya. Elin akui perjalanan mereka memang sangat berat pantas saja mereka sangat menghargai cinta mereka karena memang untuk meraihnya membutuhkan perjuangan yang berat. Papahnya tidak pernah bercerita gimana perjalanan cinta mereka.


Elin jadi ingin kenal dengan Kakeknya, apa mereka sangat jahat, sampai menghalangi papah dan mamah untuk bersatu, bahkan sampai membakar rumah mereka. Elin ingin kenal dan apakan mereka saat ini juga bisa mengganggu kita semua, kalau sampai Kakek datang untuk mengganggu apah dan mamah,maka Elin tidak akan tinggal diam.


"Wah, kalian sedang ngomongin apaan sih, kayaknya serus sekali," ujar Eric yang baru saja pulang dari masjid untuk berjamaah, dan sebenarnya Eric sudah tahu apa yang kiranya mereka sedang omongkan. Eric sudah datang dari tadi tetapi karena tidak mau merusak momen indah itu Eric pun hanya diam mendengarkan cerita mereka yang mendominasi dengan cerita dirinya.

__ADS_1


Tangan Elin buru-buru menyeka air mata yang jatuh membasahi pipi Elin, bibirnya buru-buru ditarik agar papahnya tidak curiga kalau Elin sedang menangis kisah mereka, Kalaupun Eric tahu Elin menangis, cukup Eric tahu kalau putrinya tengah menangis bahagia.


"Tidak ngomongin apa-apa Pah Elin hanya sedang mendengar cerita Mamah selama ini, dan Elin sangat senang sekali akhirnya kita bisa berkumpul bersama," lirih Elin dengan senyum mengembang bahagia. Terlebih setelah melihat bagaimana papah dan mamahnya sangat kompak untuk membuat sarapan untuk mereka. Sementara Elin karena memasak diambil alih oleh Eric dan juga Darya sehingga dia hanya duduk memperhatikan orang tuanya yang tidak kalah bahagianya dengan dirinya kali ini.


Namun justru air mata Elin tidak ada hentinya terus menerus mengalir dengan deras, ketika menyaksikan kebahagiaan ini, dan itu tandanya cepat atau lambai ia akan bertemu dengan Lucas, tetapi dalam hati dan perasaanya Elin belum siap, dia belum ingin dipertemukan dengan Lucas, tetapi lagi-lagi ia tidak ingin egois, pasti mamah dan papahnya sangat kangen dengan Lucas.


Mungkin kalau sekali dua kali dirinya menghindar, ok lah bisa dia tidak bertemu dengan Lucas, tetapi kalau pada kenyataanya setiap hari Lucas datang, otomatis Elin juga akan semakin sulit untuk bersembunyi, jalan satu-satunya mungkin untuk bertemu dan menyapa dengan hangat, tapi apa dia biasa melakukan itu, setelah apa yang telah sodara satu rahimnya memperlakukanya tidak manusiawi?


Bahkan saat ini karena kelakuan Lucas, Elin hamil, dan anak itu entah sampai kapan akan Elin sembunyikan dan mengatakaan pada ibu kandungnya. Setiap Eric membahas anak yang di kandungnya. Elin selalu berkata  dan mehon agar semuanya tidak di bahas.


Batinnya sangat sakit ketika membahas itu semua. Seperti beberapa waktu lalu Eric menanyakan kembali perihal kehamilan putrinya.


"Ndok, kapan kamu akan ceritakan sama  Mamah kamu kalau keadaan kamu saat ini sedang berbadan dua?" tanya Eric malam itu ketika dia akan menemui ibu kandungnya dan memutuskan untuk mengajak Darya pulang hingga Eric akan kembali menikahinya.


"Tapi Darya ibu kandung kamu, kamu wajib memberi tahukan kondisi kamu," imbuh Eric, karena Eric juga takut nanti Darya malah sedih karena nasib putrinya, meskipun kenyataanya pasti memang akan seperti itu. Orang tua mana yang tidak sedih ketika putrinya mengalami kekersan yang sangat mengerikan itu, hingga hamil?


"Elin tahu Pah, tapi tunggu sampai Elin siap, bukan saat ini Pah." Suara Elin semakin berat, dan itu tandanya Eric harus segera mengakhirinya obrolanya, dan mungkin memang benar yang dikatakan Elin dia butuh waktu untuk mengatakan kejujuranya. Mungkin bagi Eric yang tidak merasakan secara langsung akan gampang untuk mengatakan semuanya. Namun, untuk Elin yang mengalami trauma di dalam hatinya sangat parah, bahkan setiap mendengar kata anak dan hamil, hatinya sudah sakit. Biarpun dia bilang kuat dan tidak apa-apa, tetap dalam hati kecilnya terus mengingat kejadian kelam itu.


"Sayang, ayo kita sarapan. Dengan masakan Mamah," ucap Darya, mengagetkan lamunan Elin yang sedang kembali memikirkan apa kata papahnya tempo hari, dan Elin buru-buru mengerjapkan matanya berkali-kali agar air mata yang hampir jatuh, masuk kembali.

__ADS_1


"Ok Mah, Elin akan nyusul," balas Elin dan buru-buru ia bangun lalu mencuci wajahnya dan bergabung dengan ibu dan papahnya untuk menikmati makan bersama.


"Hari ini Papah akan urus persyaratan untuk menikah dengan Mamah kamu, semakin cepat kita nikah semakin bagus apalagi kita tinggal dalam satu atap takutnya nanti jadi fitnah. Biarpun kita tidak melakukan apa-apa tetapi kadang tetangga ada saja yang menggunakan kesempatan untuk membuat berita yang tidak benar." Eric menatap wajah Darya yang bersemu merah ketika mendengar mantan suaminya mengatakan seperti itu.


"Terus rencana Papah, pengin besok toh hanya nikah di KUA saja, tidak harus mewah dan juga dirayakan, tadi sudah bicara dengan Mamah kamu, yang terpenting sah secara agama dan hukum saja. Apalagi kita sudah tua, anak-anak juga sudah pada besar. Malu nanti sama cucu," balas Eric, yang mendominasi percakapan malam ini, dan Darya hanya mendengarkan suaminya dan anaknya saling berunding.


"Elin akan setuju apapun yang sudah menjadi keputusan Papah dan Mamah," balas Elin, dengan segurat senyum yang manis terlihat di wajah cantiknya. Meskipun dia sudah mengalami oprasi wajah, tetapi semakin hari wajahnya seolah kembali ke wajah Elin yang dulu, dan itu siapa pun yang mendengar kalau Elin melakukan oprasi akan tidak percaya, karena wajahnya tetap sama dengan Elin yang dulu.


"Pah, dipernikahan Papah nanti tidak akan ada laki-laki itu kan?" tanya Elin di mana saat ini Eric sedang  duduk mempersiapkan sura-surat yang sekiranya dibutuhkan untuk pernikahannya, sedangkan Darya sendiri sedang membereskan sisa mereka sarapan.


Dengan sengaja Elin mencari kesempatan ini agar dirinya bisa berbicara empat mata dengan papahnya.


Eric mengangkat wajahnya dan terlihat tenang, "Lebih baik abang kamu jangan tahu dulu, karena sampai detik ini Arya belum memberi tahukan tentang setatus kita pada dia," balas Eric dengan suara yang sama pelan juga, tanpa menyebut nama Eric sudah sangat paham siapa yang dimaksud oleh putrinya itu.


"Alhamdulillah, Elin tidak siap bertemu dengan dia. Entah sampai kapan, berdosa tidak Pah kalau Elin tidak ingin memiliki sodara seperti dia?" lirih Elin yang saat ini duduk di sebelah Eric.


Tangan Eric langsung merangkul pundak putrinya dan memeluknya,  bibirnya memberika kecupan di ujung rambutnya, tangan Eric mengelus punggung putrinya. Ia tahu perasaan putrinya. Dirinya sendiri tidak memungkiri rasanya tidak siap kalau harus bertemu dengan anak laki-lakinya. Namun bukanya ini adalah ujian terberatnya di mana orang tua harus bersikap adil dalam membagi kasih sayangnya. Lucas juga putranya yang harus mendapatkan kasih sayang juga.


"Berdoa yang terbaik pada Tuhan yah, Papah sendiri juga tidak tahu mana yang terbaik untuk kalian. Maka dari itu Papah selalu berdoa jalan yang terbaik untuk semuanya, dan ketika semuanya terjadi semoga kamu bisa membuka pintu maaf itu," lirih Eric. Sementara itu Elin hanya  diam mematung dan mengerti juga posisi papahnya seperti apa. Sama-sama  merasakan yang tidak nyaman.

__ADS_1


Memang semuanya itu sudah digariskan oleh takdir, dan semuanya sudah ditakdirkan dengan sangat baik oleh Tuhan tapi rasanya sangat  sulit untuk membuka hatinya hingga dia bisa ikhlas dan berdamai dengan kedua pelaku itu. Anda boleh diminta, Elin tidak ingin bertemu kembali dengan dua laki-laki yang membawanya kemasalah yang runyam ini. Namun semuanya seperti harapan yang sia-sia, karena mau lari kemanapun dia dan Lucas adalah sodara satu ayah satu ibu dan pernah juga hidup bersama dalam satu rahim berbagi makanan dan tempat yang hangat bersama.


Tanpa terasa air mata pun kembali mengalir dengan hangat di atas pipi Elin dan mengalir dengan lembut. "Kenapa takdirku sangat berbeda dengan takdir orang lain. Kenapa meski sodara kembarku yang membuat hidupku hancur. Mungkin kalau bukan sodara kembarku sendiri aku tidak sesakit ini. Tapi ini beda orang yang menariku kedalam masalah yang berat adalah orang yang seharusnya menyayangiku dengan sepenuh hati."


__ADS_2