Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
PTW #Episode 77


__ADS_3

"Jiara kamu sudah siap hari ini kamu akan teman saya meeting, dan kamu Alfi selama kami keluar kamu kerjaan laporan yang lain, dulu. Jiara sedang belajar agar ia bisa ikut meeting untuk menggantikan kamu, atau mungkin nanti dia bisa membantu pekerjaan kamu juga," ucap Lucas, agar nantinya asistenya tidak salah sangka. Padahal kalau salah sangka sekali pun tidak masalah buat dia, malah sepertinya akan semakin bagus. Itu tandanya mungkin dia akan bisa menjadikan Jiara kekasih.


"Baiklah Tuan, semoga semuanya berjalan dengan lancar," balas Alfi dengan nada bicara yang sopan dan menundukan kepalanya dengan sopan juga. Jiara pun sudah siap berjalan mengikuti bosnya dengan map di tanganya serta tas kerja bosnya yang ia bawa.


"Bissmillahirahmanirohim, ini adalah kali pertama aku ikut meeting, semoga saja aku tidak mengecewakan bos dan kolega yang lain," lirih Jiara, saat ini Lucas sangat berbeda dengan Lucas yang kemarin-kemarin, bahkan Jiara ingin membuka obrolan pun tidak berani, justru Jiara membuka-membuka laporan yang nanti akan di bahas di meja meeting.


"Gimana kamu ngerasa nyaman kerja di kantor saya?" tanya Lucas, mengagetkan Jiara yang matanya tertuju pada barisan nominal yang banyak, sedangkan pikiranya terbang melayang, entah kemana.


"Oh, saya sangat senang Tuan, terlebih Alfi baik, dan sabar membimbing saya jadi saya merasa nyaman juga memiliki teman kerja seperti Alfi," jawab Lucas. Laki-laki itu pun di buat geram dengan pujianya Dita terhadap Alfi, sedangkan pada dirinya sendiri tidak ada pujian apapun, padahal menurut Lucas dia sudah setengah mati untuk tetap terlihat baik di mana Jiara, tetapi malah gadis itu memuji orang lain yaitu Alfi, sang asistennya. Kesal? iya tentu, Lucas  juga tentunya ingin di puji setidaknya pujian setandar, seperti baik, sama seperti Alfi.


Wajah Lucas bahkan sempat berubah, dan lagi-lagi suasana di dalam mobil kembali sepi. Jiara yang tidak tahu apa-apa pun hanya bisa diam dan tidak mau ikut campur dengan urusan bosnya yang Jiara menduga bahwa diamnya Lucas adalah karena laki-laki itu ingin fokus dengan kerjaanya.


"Tuan, saya mohon izin untuk mengganti panggilan saya terhadap Anda, saya rasa saya terlalu kurang sopan ketika yang lain memanggil Anda dengan sebutan Tuan dan lain sebagainya, tetapi malah saya memanggil Anda dengan sebutan Mas. Rasanya saya kurang nyaman Tuan. Jadi biarkan saya memanggil Anda dengan sebutan Tuan saja," lirih Jiara, seolah sudah menjadi kebiasaan dan ciri khas dari Dita di mana gadis itu setiap bicara menunduk, untuk awalnya Lucas mengira bahwa perempuan ini memang takut, tetapi ternyata yang dia lakukan adalah untuk menjaga pandanganya.

__ADS_1


Lucas menatap tajam pada Jiara, jujur sebenarnya dia sendiri lebih nyaman ketika ia dipanggil dengan sebutan Mas, dadanya langsung berdesir ketika Lucas, mendengar panggil Mas, tetapi justru sekarang Jiara meminta panggilanya diganti dengan panggilan Tuan, panggilan yang sama sekali tidak memberikan efek apapun ketika Lucas mendengarnya.


"Kenapa harus ikut-ikutan orang lain sih?" Lucas setelah cukup puas untuk menatap wajah Jiara pun kembali membuang pandanganya ke liar jendela, mengamati lalu lalang kendaraan yang lewat di hadapanya.


"Karena saya adalah bawahan Anda, dan saya tidak ingin timbul fitnah diantara kita. Andai mungkin saya tidak membutuhkan pekerjaan ini pasti saya tidak akan menerimanya Tuan, tentu alasanya karena kita nantinya akan sering jalan seperti ini itu sangat jelas kalau nantinya akan banyak yang mengira kita ada main, jujur dari tatapan karyawan lain saja saya merasa kurang nyaman. Jadi biarkan saya tetap memanggil Anda dengan sebutan Tuan," mohon Jiara berharap kalau Lucas tidak banyak protes lagi.


Lucas nampak menghirup nafas dalam lalu membuangnya. Dalam dadanya tentu sakit, ketika dia yang dulu selalu di puja-puja wanita, tetapi saat ini dia malah seolah di tolak dengan terang-terangan oleh Jiara, wanita yang berpakeian tertutup, bahkan kaki saja selalu memakai kaus kaki. "Apa mungkin kakinya cacat, sehingga harus di tutupin," batin Lucas, pertama kali melihat penampilan wanita yang saat ini sedang duduk di samping Lucas.


"Baiklah kalau memang mau kamu seperti itu, terserah kamu mau panggil aku apa," balas Lucas dengan pasrah saja. Yang terpenting saat ini Jiara tetap bekerja di kantornya. Bahkan untuk membayangkan kalau Jiara sudah tidak kerja dengan dirinya lagi, Lucas sudah tidak kuat. Pasti akan merasa sangat kehilangan.


"Nanti kalau kamu ada yang kurang paham kamu tanyakan saja pada saya," ucap Lucas dengan kaki tetap melankah, menuju ruangan di mana dirinya nanti akan mengadakan meeting bersama klien penting.


"Baik Tuan," jawaban yang singkat yang dilontarkan oleh Jiara.

__ADS_1


*****


"Om Eric setelah ini bakal buka usaha apa  lagi? Apa akan melanjutkan usaha ayam ungkep yang kaya kemarin. Jujur Arya penasaran loh, gimana ayam ungkep yang di jual oleh Om Eric, mungkin nanti Arya bisa bantu promosi, pada teman-teman Arya di rumah sakit." Arya memecah kesunyian, sesaat setelah ia menghabiskan satu mangkok mie instan buatan Eric yang menurut Arya, berbeda dan lagi-lagi rasanya juara.


"Rencananya ia Dok, hanya itu keahlian Om Eric, berjualan kelontong kaya gini tidak bisa diandalkan, (Eric menunjukkan warung kelontongnya) warung seperti ini hanya buat nahan ngantuk biar tidak tertidur saja kerjaanya, kalau ada kerjaan kayak masak dan lain sebagainya Om Eric lebih suka dan lebih semangat, karena memang Om Eric lebih suka memasak," jawab Eric dengan semangat, dan seperti saat ini ia besok kan mulai mengolah ayam ungkap, terlebih tidak ada anaknya di rumah kalau tidak disibukan dengan kerjaan nanti yang ada harinya akan terasa lama sekali, dan juga tentu pastinya nanti akan terasa kangen dan melow hatinya.


"Kalau gitu kapan Om Eric akan memulai membuka usahanya, biar nanti Arya pesan dan coba tawarkan kedokter di rumah sakit. Mereka kan sama seperti Arya yang sibuk jadi jarang yang masak, inginnya makan belin dan Arya lihat memang masakan Om Eric enak bisa juga Om Eric membuka cetering, pasti laku," usul Arya, dengan bersemangat.


"Aduh kalau catering modalnya harus gede Dok, dan persiapanya tidak bisa asal-asalan, lebih baik usaha gini saja Dok, insyaalloh bisa buat makan sama Om Eric dan Elin, bahkan kadang masih ada sisanya buat tabungan sedikit-sedikit. Seperti kejadian kaya gini, kalau Om tidak bia menabung mungkin Om akan kesulitan mencari pinjaman, tetapi berkat ada tabungan sedikit. Om bisa pake buat pegangan selama menjaga Elin dan sekarang masih ada sedikit lagi buat modal usaha lagi," lirih Eric, yah memang sebagai rakyat kecil harus bisa mengatur keuanganya sendiri, kalau tidak bisa ya bakal  kesusahan sendiri ketika ada  musibah, karena musibah datang tidak bisa ditebak.


Arya kembali menatap Eric, otaknya mencari akal gimana caranya agar bisa membantu laki-laki paruh baya yang ada di hadapanya, tanpa menyinggung, atau kalau bisa bukan atas nama Arya yang membantu, karena Arya takut kalau Eric akan menolak apa yang ia tawarkan. Menolak karena merasa kurang pantas mendapatkan bantuan ini, dan pasti merasa kalau nanti malah merepotkan dirinya.


"Kalau gitu besok Arya coba pesan sepuluh biji yah Om, biar Arya tawarkan ke temen-teman, kalau bisa sekali nasi dan sambelnya Om. Jadi biar langsung disantap dan bisa di review oleh teman Arya, dan kalau ada yang pesan lagi nanti Arya kabarin Om Eric." Arya pun senang ketika melihat wajah cerita Eric.

__ADS_1


"Wah Terima kasih dokter Arya, besok Om siapakan pesana dokter Arya," balas Eric, mungkin bagi Arya orderan sepuluh sangat kecil tetapi bagi Eric itu sudah sangat besar dan ucapan syukur pun tiada henti Eric ucapkan.


"Ya Tuhan semoga ini adalah awal yang baik," lirih Eric di dalam hatinya.


__ADS_2