Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 111


__ADS_3

Pagi hari seperti biasanya Arya akan mengambil masakannya yang sudah Eric masak. Sebelum ke rumah Eric, Arya kali ini sudah ada kesibukan baru yaitu menjemput sang calon istri.


Sejak kejadian semalam Arya semakin posesif pada Marni, tidak boleh berangkat kerja sendiri harus sama calon suami.


"Bagaimana Om sudah siap?" tanya Arya dengan mengedipkan kebelah matanya, sebagai tanda yang ia tanya bukan sebatas masakannya saja yang siap melainkan apa yang sempat Arya dan Eric rencanakan.


"Siap Dok. Nitip yah Dokter Arya dan semoga berarti besar untuk kesembuhan Tantenya Arya yah," balas Eric siapa pun yang mendengar pasti akan tahu lalu Arya dan Erit saling mendo'akan biasa. Namun siapa yang mengira bahwa ada harapan yang besar yang sedang Eric dan Arya jalankan.


"Pasti Om, akan Arya beri tahu setiap perkembangan Tantri Arya."


Setelah berbasa basi kini Arya dan dan Marni berganti mengunjungi Tante Ely.


Tentu Arya yang tidak sempat untuk menyuapi Darya sebelumnya bekerjasama dengan Diky, dan jelas Arya meminta Diky menjalankan misinya dan tentu tidak diketahui Luson.


Tentu dengan pertimbangan yang matang Diky maupun bekerjasama dengan Arya tanpa Luson mengetahuinya.


******


"Jiara..." Suara Arya langsung menghentikan langkah Jiara, dan Jiara pun yang sudah hafal suara itu langsung membalikan badan dan mengembangkan senyum sempurnanya ketika Arya dan Marni berjalan menghampiri Jiara dan Zakia yang akan menuju ke resepsionis rumah sakit.


"Dokter Arya, pagi Dok. Apa kabar?" sapa Jiara dengan lembur, tidak ketinggalan Jiara juga menyapa dokter Marni yang mana Jiara belum kenal sosok dokter yang manis berdiri di samping Arya. Sejak kejadian semalam, Arya memang lebih psesif terhadap calon istrinya, contohnya pagi ini Arya tidak mengizinkan Marni untuk berangkat seorang diri ke rumah sakit. Pdahal sebelum-sebelumnya sudah biasa Marni berangkat sendiri.


"Alhamdulillah sehat, kabar kamu gimana. Cukup lama nggak ketemu lagi. Oh ia ini siapa yang cantik banget." Arya menggendong Zakia, dan anak kecil berumur dua tahun itu pun hanya diam saja. Marni pun nampak gemas dengan gadis kecil itu.


"Jawab Sayang.(Jiara menoel Zakia) Nama saya Zakia Om." Jiara yang menjawab dengan menirukan suara anak-anak. Dia anak aku dokter," imbuh Jiara. bibirnya di paksa tersenyum.

__ADS_1


"Anak?? Sejak kapan kamu punya anak? Apa kamu sudah menikah?" tanya Arya dengan kepo, sedangkan Jiara yang di lempar pertanyaan itu merasa kurang nyaman, sehingga hanya menunduk  sebelum memberikan jawabannya.


"Ceritanya panjang Dok," lirih Jiara dengan pandangan masih menunduk.


"Baiklah kalau kamu belum siap, tetapi kalau kamu sudah siap mungkin nanti aku akan bantu kamu, dan bukankah aku juga sudah beberapa kali menceritakan masalah yang aku hadapi hingga masalah keluargaku, jadi kalau kamu mau cerita aku dengan senang hati akan mendengarkanya,"ujar Arya, laki-laki itu tahu, kalau Jiara sebenarnya sedang menyembunyikan beban yang cukup berat dalam kehidupannya.


Sementara Marni hanya menyimak, dia akan jadi kekasih yang sangat mengerti Arya tidak sedikit pun menunjukan tidak suka, dan Marni pun tahu tidak mungkin Arya macam-macam dengan ibu satu anak yang ada di hadapanya. Marni tahu kalau Arya itu  tipe laki-laki setia.


"Iya Dok nanti aku akan cerita, tapi sekarang mau daftari Kia dulu, biar dapat perawatan lagi," ucap Jiara sembari meminta agar Zakia diturunkan. Arya  menyipitkan kedua bola matanya.


"Memang Zakia sakit apa? Kayaknya dia sehat-sehat ajah," tanya Arya, punggung tanganya mengecek suhu tubuh gadis kecil nan pintar itu.


"Normal" ucap Arya, Marni pun tidak ketinggalan mengecek suhu tubuh Zakia. Sama Marni juga bilang kalau itu normal.


"Zakia, terkena liokemia Dok, maka dari itu mau dilanjutkan menjalani pengobatan di rumah sakit ini," jawab Jiara, tetap optimis agar Zakia sembuh. Sementara anak kecil itu yang belum tahu sakitnya separah apapun hanya bisa diam saja tidak terlihat cemas sedikitpun.


"Kalau gitu nanti saya akan bantu untuk melakukan pendaftaran dan semuanya kamu cukup jaga Zakia ajah," ucap Arya yang langsung memasang badan untuk Jiara, kasihan kalau harus mengurus semuanya sedangkan pasti Zakia juga kelelahan menunggu dan mengantrinya.


"Terima kasih Dok, saya malah jadi merepotkan," balas Jiara.


"Kamu jangan ngomong kayak gitu Jiara, sama sekali tidak merepotkan ko. Marni ajak dulu aja Kia dan Jia  keruangan kamu biar mereka tidak kecapean." Setelah itu Arya langsung mengambil  prosedur pendaftaran untuk Zakia, dan Lucas dari kejauhan masih memperhatikan Arya yang mebantu Jiara. tanpa sepengetahuan Jiara. Lucas menghampiri Arya.


"Arya, biar gue yang urus pendaftaran dan keperluan Zakia," ucap Lucas langsung menganggetkan Arya yang sedang sedang mendaftarkan Zakia pada  resepsionis.


Arya yang sudah hafal suara Lucas  pun langsung berbalik badan. "Ngapain kamu di sini?" tanya Arya dengan heran.

__ADS_1


"Biar gue yang urus pendaftaran Zakia," ulang Lucas, tanganya hampir mengambil semua keperluan pendaftaran yang sudah Arya urus sebagian.


Namun dengan cekatan juga Arya langsung menahanya. "Alasannya loe mau bantu  urus apa, kalau alsanya tidak jelas lebih baik loe mundur," tolok Arya dengan tegas.


"Gue Papahnya.  Zakia adalah anak gue," jawab Lucas dengan wajah yang serius. Sontak Arya langsung kaget.


"A... anak dari mana?" tanya Arya setengah tidak percaya.


"Ceritanya panjang, biar gue yang urus. Sudah jelas dia anak gue, darah daging gue. Sudah sewajarnya gue yang urus." Tangan Lucas akan kembali mengambil berkas-berkas yang ada di tangan Arya, tetapi Arya yang sudah tahu pun langsung menahannya lagi.


"Ok gue kasih ini semua yang urus, tetapi setelah ini loe harus cerita sama gue. Nanti di jam makan siang temui gue di cafe pelangi," ucap Arya, melemparkan syarat untuk Lucas kalau mau semua urusan pendaftaran Zakia dia yang urus.


"Iya bawel, Mana?" Lucas mengulurkan tanganya untuk mengambil data-data Zakia. Arya pun pada ahirnya membiarkan sepupunya yang mengurus semuanya, dan Arya pun menunggu di ruangannya, sampai semuanya beres.


"Semuanya udah beres, dan loe diam saja jangan cerita apa-apa pada Jiara kalau gue yang ngurus ini semua," ucap Lucas, dan hal itu menambah Arya penasaran dengan apa yang sepupunya alami.


"Tunggu, loe bisa cerita sekarang, Gue sangat penasaran sekali apa yang terjadi dengan loe." Arya menahan Lucas dan memintanya duduk di hadapannya.


"Nanti siang saja, gue hari ini banyak kerjaan," balas Lucas, padahal laki-laki itu takut kalau ia akan bertemu Jiara dan istrinya itu akan marah.


Arya meskipun sebenarnya sangat penasaran tetapi coba mengerti apa yang Lucas ucapkan. Toh menunggu jam makan siang hanya tunggu beberapa saat lagi.


*****


Teman-teman sembari menunggu Lucas cerita pada Arya, yuk  mampir ke karya bestie othor, di jamin bikin baper....

__ADS_1


Kuy ramaikan...



__ADS_2