Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 150


__ADS_3

"Kalau begitu tolong pertemukan saya dengan ketiga pelaku pembunuhan itu! Saya tahu betul siapa-siapa orang-orang saya, sehingga saya bisa menyimpulakan benarkah dia adalah orangku atau justru lagi-lagi tebakan saya benar, ada orang yang menjebak saya. Karena dia tahu betul kalau saya adalah ancaman untuknya," ujar Lucas dengan wajah yang serius.


"Tunggu, saya akan bawa mereka kemari." Polisi itu bangkit dan mulai meninggalkan Lucas di ruang pemeriksaan, dan tidak lama membawa tiga orang yang tidak sama sekali Lucas kenal.


"Apa dia adalah pelaku pemmbunuhannya?" tanya Lucas, sebenarnya ia sudah tebak orang-orang itu bukan orang-orangnya, dan setelah dipertemukan dengan pelaku pembunuhan langsung, Lucas semakin yakin kalau dia hanya dijebak. Yah, pelaku pembunuhan aslinya tahu kalau Lucas pasti akan jadi penghalangnya, sehingga ia dibikin masuk jeruji besi terlebih dahulu sebelum tujuan utama tercapai.


"Iya ini adalah tersangka pembunuhan, dan mereka berkata kalau Anda adalah orang yang telah membayar mereka untuk melenyapkan Ibu Tamara." Polisi menjelaskan dengan singkat apa yang dikatakan para tersangka utama, yang berbaris menunduk, sementara Lucas duduk lebih seperti penyelidik sesunguhnya atas kasus yang membelitnya, seperti tidak ada salah.


"Baiklah kalau memang saya yang membayar Anda semua, saya membayar berapa uang itu, dan dalam jumlah cash atau transfer, lalu buktinya mana, ada bukti atau tidak?" tanya Lucas  agar semuanya semakin jelas dan transparan.


"Lima puluh juta." (Transfer). Tersangka pertama menjawab.


"Seratus juta." (Cash). Tersangka ke dua.


"Lima puluh juta." (Cash). Tersangka ketiga. Mereka menjawab hampir bersamaan dan setelah tahun kalau jawaban mereka berbeda mereka seperti terjebak dalam permainan sendiri. Ekspresi wajahnya sangat menggelikan.


Dari ketiga orang itu memiliki pengakuan yang berbeda-beda, Lucas hanya tertawa dengan geli.


"Saya kalau melakukan pembunuhan berencana tidak mungkin membayar dengan harga receh itu, minimal lima ratus juta, karena resikonya sangat tinggi, tapi sepertinya kalian kurang profesional sehingga harga kalian sangat murah," ejek Lucas pada ketiga orang itu.


Polisi yang ada di ruangan itu pun hanya diam mengamati cara Lucas mengintrogasi para pelaku. Yang sebenarnya bisa disimpulkan kalau Lucas bukan otak pertama pelaku pembunuhan itu. Namun kembali lagi semua pada penegak hukum percaya atau tidak dengan pengakuan Lucas.


"Pak polisi, kalau kalian percaya pada saya, saya tidak mengenal tiga orang ini. Orang ini bukan orang-orang saya," ucap Lucas dengan tegas.

__ADS_1


Lucas meminta mengembalikan tiga orang itu ke tahanan, karena dirinya akn berusaha nego dengan polisi.


"Lalu apa kami harus percaya dengan Anda mengingat bukti juga mengarah pada Anda?" tanya polisi itu.


"Lucas menarik pena dan kertas kosong yang ada di hadapan polisi itu, dia menulis kecurigaan satu persatu dan dia juga tentu memberikan ponselnya untuk mengecek apa yang dia katakan benar atau tidak.


"Bisa saja pesan-pesan yang lain sudah Anda hapus," sanggah polisi itu lagi setelah mengecek ponsel Lucas, dan hal itu  bebas mau dilakukan mereka atau tidak yang jelas Lucas akan tetap meyakinkan bahwa sesungguhnya incaran pembunuh itu bukan Tamara tetapi kakeknya.


"Terserah pada Anda, mau percaya atau tidak, tetapi saya melihat dari kasus ini, tujuan pembunuhan ini yang sesungguhnya adalah bukan Tamara, melainkan Tuan Philip, alias Kakek saya. Tolong beri penjagaan yang ketat pada Tuan Philip, karena aku yakin seribu persen. Tamara hanya pancingan, dan pelaku menjebak saya agar saya di pejara karena bagi dia saya terlalu berbahaya. Saya bisa menggagalkan rencana mereka, kalau saya bebas, jelas Lucas sembari tanganya membuat urutan kecurugaanya.


"Dugaan Anda sangat masuk akal, apa Anda ada masukan untuk kami menangkap pelaku sebenarnya?" tanya polisi dan kali ini sepertinya usaha Lucas tidak sia-sia, polisi bisa memercayainya sehingga ia akan bisa bebas dengan bekerja sama dengan polisi untuk menjebak  pelaku pembunuhan sesungguhnya.


"Pelaku itu menginginkan saya untuk di penjara, tetap lakukan sesuai keinginanya, penjara saya, agar mereka tetap bisa melakukan rencana selanjutnya. Kalau Anda langsung membebaskan saya, pelaku akan mencari ide lain, dan akan semakin sulit untuk dicari dan bisa saja incaranya bukan hanya kakek saya." Lucas  sebenarnya curiga dengan laki-laki yang barusan memberikan bogeman mentah pada wajahnya.


"Ok saya akan beritahukan apapun perkembangan pemeriksaan nantinya dari perkembangan kasus ini," balas polisi.


"Tetap lakukan pemeriksaan pada saya sesuai prosedur, agar mereka yakin kalau saya adalah tersangka utamanya, maka makin gampang untuk membongkar kasus ini." Lucas tidak akan masalah kalau harus mendekam satu atau dua bulan di dalam penjara yang terpenting  keluarganya aman, dari pada dia bebas, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau justru yang jadi korban  tidak hanya satu orang.


"Baiklah, kami akan sangat berterima kasih kalau memang yang Anda katakan adalah benar, tetapi kami akan sangat kecewa kalau ternyata yang Anda katakan hanya untuk memecah konsentrasi kamu," ucap polisi dengan nada yang  mengancam.


"Anda bisa pegang kata-kata saya, Pak Polisi, dan kalau berkenan saya ingin Anda menghubungi sepupu saya. Saya akan meminta bantuan teman saya yang saya yakin dia bisa membantu memecahkan teka teki ini." Lucas menyodorkan nomor telepon Arya, dia akan meminta bantuan Arya, dan tentunya dia akan meminta bantuan Lexi.


Yah, Lucas yakin kalau Lexi bisa membantunya. Ia tidak hanya curiga dengan orang yang mengincar Philip dalam dua pikiranya bercabang antara Philip dengan bisnis gelap yang dia jalani, ada kemungkinan ini adalah satu upaya untuk menggulingkan dirinya menjabat pemimpin dibisnis itu.

__ADS_1


Padahal Lucas juga sudah terpikirkan dalam pikiranya kalau dirinya akan mengikuti jejak Lexi, tetapi sepertinya langkahnya telat sampai mungkin saja ada yang sudah merencanakan ini semua, dan untuk meyelidiki masalah ini Lucas sangat membutuhkan bantuan Lexi.


"Dia siapa?" tanya polisi, sebelum menghubungi nomor yang Lucas berikan.


"Sepupu saya, saya hanya ingin menitipkan keluarga saya pada dia, sepupu saya yang lebih tahu masalah keluarga saya, untuk melindungi orang-orang yang saya kasihi," ujar Lucas, agar polisi percaya dengan apa yang dia katakan. Mungkin kalau alasanya tidak terlalu penting dan masuk akan mereka tidak akan mau menghubngi Arya.


"Baiklah akan saya hubungi nomor tersebut dan memintanya datang kemari, tetapi awas kalau Anda merencanakan kabur," ancam polisi, dan hal itu membuat Lucas terkekeh dengan renyah.


"Tenang Pak, saya bukan anak kecil yang akan kabur dari tanggung jawab, ucap Lucas dengan serius. Salah satu polisi pun menghubungi Arya, dan lagi-lagi mereka percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lucas.


Tidak menunggu lama Arya pun langsung mengangkat sambungan telepon.


[Halloh, apa ini benar dengan sodara Arya?] ucap polisi dari sebrang telpon.


[Iya, saya Arya. Mohon maaf ini dengan siapa dan dari mana yah?] tanya balik Arya terlebih nomor itu masih baru di ponsel Arya.


[Kami dari kantor kepolisian, memberitahukan kalau sepupu Anda yang bernama Lucas kami tahan, dan saat ini beliau ingin bertemu dengan Anda,] jelas polisi dengan suara yang tegas.


Deg!!! Arya cukup terkejut dengan apa yang di katakan oleh orang yang ada di sebrang telepon. Terlebih mereka mengaku polisi.


'Lucas di penjara ada kasus apa dia?' batin Arya, tanganya mengusap wajah lelahnya.


"Apa lagi yang kamu perbuat Lucas?"

__ADS_1


__ADS_2