
Elin berdesir bahagia ketika mendengar suara yang sangat ia kenalin dibalik telpon Arya. Bahkan seolah tubuhnya yang tengah diikat dengan ribuan tali tambang langsung terlepas secara bersamaan. Air mata bahagia ingin berlomba lari keluar. Kecemasanya selama ini ternyata tidak terbukti. Benar kata Arya bahwa yang di katakan Lexi sang predator itu hanya cara untuk menakut-nakutin Elin agar tidak berontak ketika di jamah oleh laki-laki itu.
Gigi-gigi Elin saling beradu ada rasa kesal dan geram kepada Lexi, di mana laki-laki itu selain predaor s*k juga pembohong yang handal.
"Papah, ini Elin," lirih Elin dengan rasa bahagianya, ingin ia berteriak dan mengabarkan pada papah yang tengah berada di balik teleponya, bahwa putrinya masih hidup. Entah bagaimana kecemasan papahnya itu. Elin tahu pasti papahnya saat ini tengah dirundung kesedihan yang mendalam, karena Elin tidak ada kabarnya.
"Halloh," sapa laki-laki di sebrang telepon, dengan suara lirih tanpa gairah.
"Halloh, dengan bapak Eric?" tanya Arya dengan suara yang ramah, meskipun dia tahu bahwa yang mengangkat telpon kemungkinan adalah papah dari Elin, tetapi agar tidak menimbulkan kecemasan nada bicara Arya tertap santai dan terkesan tidak terjadi apa-apa.
"I.. Iya saya Eric mohon maaf Anda dapat nomor saya dari siapa? Dan saya sedang berbicara dengan siapa?" tanya Eric, kali ini suaranya tidak selirih tadi.
"Perkenalkan pak Eric, nama saya Arya, dokter Arya. Bisa Pak Eric saat ini datang ke rumah sehat Mutiara Hospital, nanti saya akan kirimkan lokasinya." Sambung Arya tanpa basa basi langsung meminta Eric untuk mendatangi di mana Elin di rawat.
__ADS_1
"Dokter Arya, apa ini menyangkut dengan anak saya, Elin? Apa yang terjadi dengan anak saya? Dia masih hidup kan dan baik-baik saja kan?," isak Eric, laki-laki itu pikiranya langsung kehal-hal yang buruk takut kalau terjadi hal buruk pada putrinya.
"Bapak Eric, coba hirup nafas dalam dan buangkan perlahan, jangan panik dan jangan cemas, datang kerumah sakit ini dengan sehat dan bahagia. Elin pasti akan senang. Elin tidak kenapa-kenapa kok. Putri bapak baik-baik saja dan sekarang sedang menunggu Papahnya di sini," jawab Arya dengan suara yang menggambarkan kebahagiaan.
"Allhamdulillah... Alhamdulillah... terima kasih ya Allah untuk semua berkat yang Engkau berikan pada hamba," pekik Eric sembari sujud di pinggir jalan, hatinya sangat bahagia, hingga ia lupa bawa ia saat ini sedang berada di pinggir jalan dengan banyak orang-orang berlalu lalang. Eric tidak peduli pandangan orang-orang yang ia tahu hatinya saat ini sedang bahagia.
"Dokter Arya saya akan datang kerumah sakit itu saat ini juga, katakan pada putri saya agar bertahan untuk papahnya yang sangat menyayanginya," ujar Eric.
"Baik akan saya sampaikan Pak Eric, dan ingat Anda harus hati-hati karena ada putri Bapak yang tengah menunggu bapak datang dengan sehat," pesan Arya, agar Eric tidak sembrono, takutnya malah saking bahagianya malah dia tidak melihat kanan, kiri dalam berjalan.
Eric pun memilik menggunakan taxi untuk membawanya menemui putrinya, bahkan ia lupa akan motor, dan lupa juga memberikan kabar pada rekan-rekanya yang tengah berkeliling juga membantu mencari Elin.
****
__ADS_1
"Papah kamu akan kesini." Arya memberikan kabar bahagia, sembari wajahnya juga tersenyum ikut bahagia.
"Alhamdulillah, terima kasih Arya, aku tidak tahu cara membalas kamu dengan apa. Tanpa ada kamu entah nasib aku bagaimana saat ini," ujar Elin pandangan matanya kabur, lagi-lagi selaput tipis menghalangi pandanganya. Cengeng, yah Elin memang cengeng, mungkin itu karena papahnya yang selalu memanjakan dirinya.
"Sama-sama itu karena kamu dan aku sepupu, jujur Elin aku merasa lebih dekat dengan kamu dari pada dengan sepupuku sendiri Lucas. Aku malah tidak begitu dekat dengan Lucas, sifat dia yang membuat aku malas berhubungan dengan dia. Yah tahu sih Lucas di besarkan oleh didikan Philip yang keras dan berkuasa belumĀ Tamara yang selalu ikut campur dengan urusan semuanya," ucap Arya, malas sebenarya apabila Arya membahas keluarga Philip yang tidak pernah mau mengalah, siapapun yang bersinggungan dengan philip pasti akan di buat miskin dalam waktu semalam, sehingga banyak pembisnis menakutinya, dan dia selalu yang berkuasaa di jajaran bisnis raksasa yang ada di negri ini.
"Kalau boleh tahu philip siapa?" tanya Elin, dia tidak tahu silsilah keluarga ibunya apalagi keluarga ibunya Lucas. Yah, dari perjanjian yang Eric tanda tangani memang dia tidak diizinkan Elin mengetahu mengenai ibunya dan keluarganya dan juga sodara kembarnya. Jadi bukan salah Elin apabila ia tidak tahu nama keluarga ibunya yang ia tahu nama ibunya bernama Rya, itu pun ia tahu karena papahnya yang sering memanggil ibunya dengan nama itu.
"Philip itu kakek dari Lucas," jawab Arya masih dengan wajah yang malasnya. "Oh iya Elin kamu jangan lupa yang tahu aku dan kamu sepupu adalah kita berdua, di depan papah kamu. Kita ini tetap hubunganya pasien dan dokter. Awas ajah kalau kamu sampai kelupaan atau menceritakan tentang Lucas dan Lexi, bukan nyawa kamu ajah yang terancam, nyawa aku juga nanti bisa terancam," ancam Arya, demi kebaikan semuanya, dari pada nanti Lucas dan Lexi marah, dan menembakan timah panas pada betis mereka.
"Anda tenang saja dokter, aku tidak akan keceplosan. Aku masih sayang nyawa papah dan juga nyawa aku sendiri. Cita-cita aku adalah bisa bertahan hidup setidaknya sampai papah menemukan mamah, dan mereka hidup bahagia. Mungkin di saat itu tiba, aku akan ikhlas apabila Tuhan akan mencabut nyawa aku." Elin nampak tersenyum tetapi tidak dengan hatinya, ia tetap nyeri tidak tega meninggalkan papahnya, meskipun papah sudah bertemu dengan mamahnya.
"Kamu ngomong apa sih Elin, kamu harus kuat harus hidup terus, sampai kamu tahu semua kebenaranya, sebab aku sedikit curiga kalau Lucas itu kakak kamu. Wajah kalian sangat mirip, meskipun kalian cewek dan cowok dan juga postur tubuh kalian berbeda jauh, tetapi aku seperti melihat kemiripan kalian itu sekitar delapan puluh persen dan apa mungkin kalian kembar?" tanya Arya, sebenarnya dari pertama Arya melihat Elin tanpa Lexi beritahu bahwa Elin adik tiri Lucas, dia sudah curiga dan seolah melihat sosok Lucas di wajah Elin.
__ADS_1
"Anda apa-apaan sih Arya. Mana mungkin kita kembar, papah tidak pernah bercerita bahwa mamah aku melahirkan kembar, dan anehnya papah juga tidak pernah bercerita bahwa dia memiliki istri lain selain mamah apalagi anak lain. Aku malah curiga Lucas itu hanya korban kebohongan, dan dia sebenarnya tidak ada hubungan darah denganku. Lagian aku tidak sudi kalau punya sodara kembar seperti dia," ucap Elin dengan jijik membayangkan sodara kembar adalah Lucas, orang yang menginginkan kematianya.