Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 132


__ADS_3

Marni  begitu keluar dari ruangan Zakia langsung melanjutkan ke rumah Eric, bahkan sejak tadi Elin sudah beberapa kali mengirim pesan menanyakan di mana  saat ini ia berada. Padahal Marni sudah bilang bahwa ia akan mengunjungi Zakia dulu, tetapi seolah wanita itu tidak ingat dan akan bertanya pertanyaan yang berulang terus. Maklum ia sangat memimpikan hal ini akan terjadi dari beberapa waktu lalu.


Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit kini Elin sudah sampai di rumah Eric, dan seperti halnya Elin. Rupanya Eric juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cinta sejatinya.


Yah, Marni bisa lihat dari cara Eric yang sudah rapih dengan semua persiapannya. Makanan yang sangat Darya suka tentu menjadi barang yang wajib Eric bawa. Terlebih Eric sangat ingin bertemu mantan istrinya ketika mendengar cerita-cerita dari Elin. Bagaimana kondisi mantan istrinya daru hari ke hari. Bagaimana Elin yang selalu bercerita dengan ibu kandungnya hingga Elin yang tidur bersama ibu kandungnya. Hal yang sejak kecil tidak pernah ia lakukan.


Hal itu yang membaut Eric semakin ingin bertemu dengan mantan suaminya. Tidak hanya itu Eric juga  berjanji bahwa ia akan merawat Darya bagaimanapun kondisinya. Eric tidak akan meninggalkannya karena tujuannya sampai ketempat ini adalah untuk bertemu dengan mantan istrinya. Yang ternyata mendapatkan nasib yang sangat buruk selama ini.


Eric bahkan berjanji dalam hatinya sendiri bahwa ia akan membahagiakan mantan istrinya di sisa hidupnya itu.


Tidak akan ada air mata lagi yang ia izinkan keluar dari matanya yang indah, kecuali air mata kebahagiaan.


Senyum terkembang sempurna ketika Eric dari kejauhan sudah melihat kendaraan yang sudah sangat di kenalinya. Yah siapa lagi kalau bukan calon keponakanya, Marni dan Arya.


"Wah, kayaknya Om Eric udah tidak sabar banget nih bakal ketemu dengan Tante Darya," ucap Marni yang membuka kaca jendelanya. Dan Eric pun bersiap akan masuk ke dalam mobilnya, dan akan mengambil duduk di kursi belakang, tetapi buru-buru Marni meminta agar Eric duduk di depan, untuk menemaninya ngobrol.


"Dokter Arya nggak ngikut Dok?" tanya Eric yang mana dari kemarin Arya adalah salah satu yang sudah tidak sabar untuk menunggu momen ini.


"Tidak Om, tadi pas mau berangkat ada pasien yang butuh jasa Arya," balas Marni sesuai dengan yang dikatakan oleh Arya bahwa Marni tidak boleh mengatakannya kalau yang sakit adalah Philip alias mantan mertuanya.

__ADS_1


 Eric membalas dengan anggukan sebagai tanda paham selama perjalanan mereka membahas cerita-cerita yang ringan, dari mulai perasaan Eric dan juga hal apa yang akan Eric lakukan kalau memang Darya diizinkan Diki untuk ikut bersama dengan Eric tinggal di rumahnya.


Tidak kalah dengan Eric yang tidak sabar dengan pertemuan ini. Darya yang depresi karena dikisahkan dengan Eric dan juga buah hatinya terlebih ketika otaknya di racuni dengan pemikiran Eric dan buah hatinya (Elin) meninggal dunia. Pikiran Darya terjebak dalam  perasaan bersalah yang teramat dalam, karena ia tidak bisa bertemu lagi dengan wanita pujaan hatinya. Namun dua minggu belakangan  pikiran dia selama ini adalah hanya kebohongan belaka, dan tiba-tiba sebuah fakta mengatakan kalau anak yang selama ini dianggap telah meninggal oleh Darya datang untuk merawatnya. Suami yang selama ini dianggapnya telah meninggal dan mengakibatkan dirinya mengalami penyesalan yang teramat hebat. Ternyata semuanya baik-baik saja.


Dan kali ini Diki dan Arya sedang mencari siapa yang meracuni Darya dengan pemikiran itu. Sungguh ini adalah kejahatan berencana. Yah, jelas ini kejahatan yang mungkin tujuannya adalah untuk menghilangkan Darya secara halus. Orang itu sudah jelas tahu kelemahan Darya sehingga menggunakannya untuk menekan dan meracuni pemikirannya hingga Darya depresi berat.


Belum selama ini Darya di kurung dibalik rumah mewah, tetapi dengan pelayanan medis yang jauh dari sempurna, ini sudah jelas sangat terencana. Andai Lucas tidak segera memindahkannya ke rumah sakit ini, mungkin untuk selamanya Darya akan terjebak dalam pemikiran yang salah, anak dan suaminya telah meninggal. Dan itu mungkin yang mengakibatkan dirinya selalu melukai tubuhnya, dan mungkin itu upaya dirinya ingin bunuh diri. Dan apabila itu terjadi berati tujuan orang itu akan berhasil.


Elin menyisiri rambut Darya yang mirip dengan dirinya. Meskipun Darya saat ini hampir berusia empat puluh lima tahun tetapi wajahnya yang hampir tidak terkena sinar matahari membuatnya tetap awet muda, hanya saja sedikit kurus dan pucat. Tetapi berkat masakan Eric selama ini yang Darya makin perlahan tubuhnya sudah semakin berisi.


"Mamah cantik sekali," puji Elin dengan mencium pipi ibu kandungnya.


"Iya Papah selalu bilang seperti itu, Elin sangat mirip dengan Mamah,, dan sekarang Elin bisa lihat sendiri. Elin memang gambaran Mamah saat masih muda, pantas Papah cinta banget sama Mamah, itu semua karena Mamah baik dan juga cantik," balas Elin, selam ia tinggal lebih dari satu minggu membuat Elin tahu alasan Papahnya tidak bisa berpaling dari san Mamah itu semua karena mamahnya yang luar biasa sabar.


"Mamah beruntung dicintai oleh Papah kamu," lirih Darya, kembali air matanya mengalir ketika wanita itu kembali mengingat kenang-kenangan kala dulu mereka memperjuangkan cinta mereka, hingga takdir memaksa mereka berhenti berjuang.


"Kenapa Mamah menangis?" Apa Mamah tidak suka bertemu dengan Papah?" tanya Elin jari jempolnya mengusap air mata yang menetes di pipinya. "Elin sudah berjanji pada Papah, akan selalu membuat Mamah bahagia, jangan buat Papah sedih dengan melihat Mamah menangis. Papah tidak suka kalau Elin menangis, dan Papah juga pasti tidak suka kalau melihat Mamah menangis. Papah ingin melihat Mamah dan Elin bahagia," imbuh Elin dengan memeluk ibu kandungnya yang sedang  bersedih ketika pikirannya bisa mengingat-ingat kebahagiaan dulu bersama dengan Eric, mantan suaminya.


Eric dan Marni sudah sampai di rumah sakit Elin bekerja dulu, rumah sakit yang sebenarnya tidak jauh dari rumah mereka. Sebenarnya Eric bisa saja datang untuk melihat wanita yang sangat di cintainya, tetapi karena Arya yang meminta Eric untuk sabar menunggu hingga momen itu hari ini tiba.

__ADS_1


"Apa Om Eric deg-degan?" tanya Marni dengan senyum mengejek.


"Banget Dok, rasanya hampir sama seperti pertama kali akan bertemu dengan dirinya saat muda dulu," balas Eric, yah  benih-benih cintanya tetap sama seperti kala muda dulu.


"Aduh Marni jadi tidak sabar gimana Om Eric dulu waktu masih muda ala pacarnya gimana? Pasti romantis banget yah?" tanya Marni sebari berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang luas ini adalah cara Eric dan Marni untuk mengurangi kegugupannya.


"Om tidak mau menceritakannya, karena bisa saja malah dokter Arya nanti sedih karena dokter Marni menginginkan calon suami yang romantis seperti Om, sedangkan dokter Arya pasti cuek yah," kelakar Eric, padahal Eric tahu kalau di balik sifat Arya yang terlihat pendiam dan cuek dia juga sebenarnya sangat pengertian.


Buktinya Arya tidak pernah meninggalkan putrinya dan juga dirinya dengan belitan masalah. Arya dengan sabar mendamping keluarga Elin hingga benar-benar masalah yang saling berbelit satu sama lain di urainya. Eric sendiri bingung bagaimana caranya untuk membalas kebaikan Arya. Bagaimana jadinya kalau Elin saat itu tidak dipertemukan dengan Arya apakah ia akan bertemu dengan mantan istrinya secepat ini.


Tanpa terasa karena asik mengobrol kini Eric sudah sampai di depan ruangan yang di dalam sana ibu dari anak-anaknya berada.


"Om Eric udah siap?" tanya Marni di mana wanita itu melihat kalau Eric nampak pucat dan terlihat sekali kalau tegang.


Huh... Eric membuang nafas kasar. "Harus siap Dok, ini adalah momen yang selalu Om minta pada Allah, untuk dipertemukan dengan istri dalam kondisi apapun. Om sudah siap," balas Eric dengan sangat yakin.


"Bismillah.... "


Ceklekkk.... suara pintu yang dibuka oleh Eric.

__ADS_1


__ADS_2