Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelangi Tanpa Warna #Episode 175


__ADS_3

Arya berjalan ke ruangan Jiara untuk memberikan kabar yang mungkin akan membuat Jiara senang. Karena memang kabar yang akan Arya sampaikan adalah kabar yang Jiara inginkan.


"Hai... Kia." Suara Arya yang berat dan tegas berhasil membuat Zakia yang sedang menonton televisi langsung memalingkan wajahnya untuk  melihat ke arah pintu.


"Hai Om.. Kata Bunda, Kia sudah boleh pulang loh, kalau lusa hasil tesnya bagus," adu Zakia dengan suara yang masih belepotan, ia sa'at ini sedang bahagia hatinya, karena kabar yang bundanya bawa.


"Oh yah, bagus dong. Itu karena Kia makannya selalu hebat dan juga Kia tidak nangis kalau disuntik dan juga minum obatnya selalu pintar. Makanya cepat sembuh," balas Arya dengan raut wajah yang menunjukan kebahagiaanya.


Tentu sebelumnya Arya sudah lebih dulu mengetahui kabar itu. Meskipun Arya bukan dokter pembimbing untuk Zakia, tetapi dokter yang bertanggung jawab atas Zakia selalu melaporkan apa yang terjadi pada Zakia  selama menjalani pengobatan.


"Tapi kata bunda itu semua kalena Allah yang maha baik." Zakia masih ingat kalau Jiara selalu berkata seperti itu.


Glekkk... Arya menelan salivanya dengan kasar.


"Iya yang di bila Bunda itu juga benar, apa yang dikatakan oleh Bunda itu benar juga Sayang, tapi tidak lepas dari kamu yang baik, tidak nangis kalau disuntik dan minum obatnya juga pintar."  Arya menghadiahkan satu kecupan di atas pucuk kepala Zakia.


"Om, Kia kan udah mau pulang, apa itu tandanya Papah akan datang dan juga akan mengajak Kia jalan-jalan lihat binatang? Papah kemalin sudah janji kalau Kia udah sembuh akan ajak lihat binatang yang banyak," celoteh Zakia dengan suara yang langsung berubah serak dan juga mata yang berkaca-kaca. Hal itu membuat Jiara dan juga Arya yang ada di dalam ruangan itu pun semakin dibuat seba salah.


Dua orang dewasa itu tentu tahu apa yang sedang dirasakan oleh Zakia. Pasti Zakia merasakan kangen dengan papahnya, yang sudah hampir satu minggu tidak mengunjunginya. Anak usia tiga tahun itu hanya bisa melihat vidio sang papah dan juga foto-fotonya.

__ADS_1


"Kia berdoa saja yah, semoga Papah Lucas bisa pulang dari pekerjaanya dan mengajak Zakia untuk jalan-jalan seperti yang Zakia inginkan.  Kan kata Bunda juga Kia harus meminta pada Allah agar Papah bisa pulang," sela Jiara yang dia sendiri tidak tahu sampai kapan suaminya akan di penjara.


"Tapi kalau Allah tidak mengabulkan doa Kia gimana Bun?" tanya Zakia dengan suara yang berat dan putus asa.


"Itu tandanya Allah meminta agar Kia untuk bersabar. Allah tidak mungkin tidak mengabulkan doa hambanya. Allah akan mengabulkan doa hambanya asal Kia sabar, dan Allah akan mengabulkan di waktu yang tepat. Kalau Kia belum bisa jalan-jalan dalam waktu dekat, karena Papah belum pulang bekerja. Itu tandanya Allah ingin Kia istirahat dulu di rumah dan menginginkan Kia benar-benar sembuh dulu. Allah maha tahu apa yang Kia butuhkan."


Dengan sangat telaten dan juga pelan Jiara  menjelaskan agar Zakia jangan berkecil hati, apalagi  mengira kalau papahnya pembohong, dan meragukan doa yang ia panjatkan.


Arya sendiri yang mendengarnya, salut dengan Jiara yang memberikan pengertian pada anakknya, sehingga sejak usia masih dini, Zakia memang sudah dikenalkan dengan sifat sabar dan tidak selalu menuntut apa yang ia inginkan harus tercapai.


Ada kalanya ia harus bersabar untuk menunggu doanya terkabul. Ada kalanya juga ia harus belajar ikhlas ketika Tuhan belum mengabulkan doanya. Arya sendiri yang usianya sudah tua kadang selalu berpikir buruk pada takdir, tetapi Zakia yang baru tiga tahun sudah dilatih mengenal dengan keikhlasan.


Terlihat raut wajah kecewa memang di wajah Zakia, tetapi bocah kecil itu berusaha untuk tersenyum kembali dan mengerti apa yang bundanya katakan.


Jiara pun hanya membalas dengan anggukan, dan membiarkan Zakia kembali menonton TV. Sudah beberapa hari ini Zakia berujar ingin telepon dengan Lucas, tetapi Jiara mengatakan kalau papahnya itu sedang bekerja di tempat yang sulit sinyal, sehingga sulit juga berkomunikasi.


Arya terus mengawasi cara Jiara merawat putrinya yang bisa Arya lihat kalau Jiara sendiri sangat sayang dengan Zakia.


"Dokter Arya, apa ada perlu yang penting?" tanya Jiara sembari duduk di sofa depan Arya, ketika Zakia sudah kembali fokus dengan film kartunya.

__ADS_1


"Tadi aku dapat kabar kalau Lucas sudah bisa bertemu dengan kamu," balas Arya dengan suara yang sangat lirih, agar Zakia tidak mendengar obrolan mereka.


"Kapan?" tanya Zakia dengan nafasnya yang berat, antara siap dan tidak siap. Wanita itu sendiri juga bingung kenapa dia ingin berbicara dengan Lucas sedangkan dalam hatinya ada sedikit rasa kesalnya.


'Apa persamaan ini juga rasa kangen ingin bertemu Lucas?' batin Zakia dengan meremas jari-jari tangannya.


"Kalau kamu mau, sekarang juga bisa," balas Arya setelah lebih dulu ia memastikan jam ditangannya.


"Zakia gimana?" tanya Jiara sembari menujuk putrinya.


"Kalau untuk sementara dengan Marni dia mau tidak kira-kira?" tanya balik Arya, yang belum tahu betul gimana sifat Zakia.


"Dia anak yang baik, bahkan sejak kecil sudah biasa tinggal dengan siapa pun jadi aku rasa sekarang Kia juga mau kalau dititipkan dengan Marni, tapi apa tidak mengganggu jam kerja dokter Marni?"


"Ini jam makan siang, kita tidak akan lama kan mengunjungi suami kamu?" tanya Arya memastikan.


"Tidak lah, aku sendiri bingung mau ngomong apa. Aku hanya ingin melihat kondisi dia saja, dan mengabarkan kalau Zakia sudah boleh pulang, itu pun kalau lusa hasilnya sudah baik semua," balas Jiara, memang ia sendiri bingung mau ngomong apa dengan Lucas, belum Jiara sendiri kalau ngobrol lama-lama dengan Lucas ada rasa takut salah mengucapkan, apalagi yang menyangkut Elin dan Eric, mertuanya. Wanita itu takut salah sebut, ia belum tahu betul mana yang boleh diketahui oleh Lucas dan mana yang belum itu salah satu alasannya ia jarang terlihat komunikasi dengan Lucas.


"Kalau gitu aku minta Marni untuk ke sini, dan kamu pamitlah dengan Kia!!" titah Arya.

__ADS_1


"Aku itu sebenarnya tidak enak Dok, terlalu merepotkan dokter Marni, dia wanita yang baik banget. Padahal urusan kami tidak ada hubunganya dengan dia, tetapi dokter Marni selalu siap membantu," puji Jiara, ini bukan sekedar pujian semata, tetapi memang itu adalah kenyataanya.


"Itulah sebabnya aku jatuh cinta sama dia," balas Arya dengan bangga. Bahkan ia baru merasakan sebangga ini pada pasanganya.


__ADS_2