
Lucas terus memperhatikan wajah sekretarisnya yang terlihat murung dari pada biasanya.
"Hemz... jadi kenapa kamu bisa murung wajahnya, ada masalah dengan kerjaan, Alvi, karyawan lain atau mungkin dengan Papah kamu?" tanya Lucas, terus memperhatikan wajahnya Jiara sangat penasaran.
Jiara buru-buru menggelengkan kepalanya, takutnya nanti Lucas salah sangka dan mengira Alvi ataupun karyawan lainya terlibat masalah dengan dirinya.
"Sebenarnya saya sedang membutuhkan uang banyak Tuan, dan saya bingung mencari pada siapa sedangkan uang itu bagi saya sangat penting," lirih Jiara pandanganya semakin menunduk, tidak berani menatap Lucas.
Jiara yakin kalau Lucas itu pasti dengan senang hati akan membantunya tetapi Jiara justru semakin merasa tidak enak dengan laki-laki itu karena itu tandanya bahwa ia akan semakin hutang budi pada Lucas yang selama ini sudah banyak membantu dirinya.
"Ceritakan kamu butuh uang itu untuk apa?" titah Lucas, sedangkan dirinya kini menyandarkan tubuhnya di kursi, tanganya di lipat dan laki-laki itu sudah siap kalau ia akan memasang telinganya dengan baik untuk mendengarkan cerita dari Jiara.
"Papah saya didiagnosa menderita kangker usus besar yang sudah semakin parah, dan untuk pengobatanya membutuhkan uang yang cukup banyak. Sedangkan tabungan yang saya miliki sudah habis Tuan. Kalau saya tidak segera mendapatkan uang itu, menurut dokter kondisi Papah saya akan semakin buruk dan saya takut kalau Papah saya akan menyusul Mamah saya, dan saya belum siap kehilangan orang tua saya lagi. Saya masih berharap kalau Papah saya bisa sembuh dan kami akan memulai semuanya bersama-sama." Jiara tidak ada pilihan lain selain menceritakan apa yang sedang mengganggu pikiran dia.
"Kenapa kamu baru mengatakan apa yang terjadi pada kamu sekarang? Kenapa tidak sejak kemarin kamu mengatakanya apakah aku tidak pantas untuk tahu masalah kamu? Apakan kalau aku tahu masalah kamu aku akan menertawakan kamu? Tidak Jiara, aku akan membantu kamu." Lucas nampak geram dengan apa yang ia dengar dari Jiara. Padahal Lucas pasti akan membantu Jiara apalagi ini soal uang yang bagi Lucas pasti akan bukan masalah yang besar, tetapi kenapa justru Jiara malah mengatakanya baru sekarang.
__ADS_1
"Mohon maaf Tuan, saya takut akan merepotkan Anda sedangkan Anda saja sudah membantu memberikan perawatan terbaik untuk Papah saya jujur saya belum bisa mebalasnya, jadi saya takut kalau Anda nanti akan menilai saya memanfaatkan Anda," jelas Jiara, tentunya ada alasan kenapa Jiara merahasiakan sakit papahnya.
"Ambil ini! Kamu ambil untuk kebutuhan kamu dan untuk pengobatan Papah kamu ambil pengobatan yang paling baik, jangan takut dan jangan berpikiran untuk mengembalikan atau membalasnya, aku ikhlas membantu kamu. Ini nomor pin'nya." Lucas tidak mau memperlambat, dan ia memberikan satu kartu berwarna gelap dari sekumpulan kartu yang ia punya.
Jiara tidak langsung mengambilnya, tetapi rasanya kalau Lucas memberikannya secara cuma-cuma ia justru merasa semakin berhutang budi pada Lucas. Jiara tahu untuk mengumpulkan pundi-pundi. rupiah tidaklah gampang. Jadi rasanya sangat tidak tahu diri kalau ia dengan gampang mengeruk harta Lucas.
"Kenapa tidak kamu ambil? Tenang saja itu yang ada di dalam sana adalah uang halal jadi kamu jangan takut. Ambilah!" Lucas berbicara dengan suara yang lembut, agar Jiara tidak merasa bersalah atau justru merasa tidak enak hati, karena Lucas nanti akan menganggapnya meminta-minta.
"Tuan kalau saya menerima ini dengan cuma-cuma rasanya saya akan semakin berhutang budi. Bagai mana kalau uang yang saya pakei suatu saat akan saya balikan," tawar Jiara, meskipun wanita itu belum yakin bahwa ia akan bisa mengembalikanya.
"Saya tidak berkata seperti itu Tuan, saya hanya tidak terbiasa saja, dan saya akan lebih tenang apabila Anda meminjamkan uang itu pada saya. Dan begitu saya ada uang, akan saya gunakan untuk mencicil hutang-hutang itu, " tampik Jiara, atas ucapan Lucas, yang seolah Jiara tidak mau menerima bantuanya.
"Kalau kamu mau bayar, silahkan kamu bayar dengan tubuh kamu. Dengan kata lain kamu mau aku nikahi." Lucas yakin kalau Jiara tidak akan mau dia nikahi dan itu tandanya maka dia harus menerima uang itu.
"Ma... maksud Anda apa Tuan. Maaf saya benar-benar tidak mengerti apa maksud ucapan Anda," ucap Jiara, bukan dia tidak paham dengan apa yang Lucas ucapkan, hanya saja agar semuanya lebih jelas. Jiara tahu bahwa Lucas sedang melamarnya.
__ADS_1
"Ok aku memberikan kartu ini dengan dua pilihan. Pilihan pertama kamu boleh memakai uang itu sesukan kamu dengan cara aku memberi secara cuma-cuma, atau pilihan yang ke dua kamu memakai uang itu sebagai nafkah dari aku, alias kamu menjadi istri aku." Lucas yakin kalau Jiara tidak akan mau menjadi istrinya jadi pilihanya sudah pasti adalah pilihan pertama.
Wanita berkerudung itu kaget ketika mendengar penuturan dari Lucas sekaligus bosnya itu. "Kenapa Anda ingin menikahi saya?" tanya Jiara dengan lirih.
"Alasan kelasik dan mungkin terlihat biasa dan tidak menarik, baik, cantik, sabar dan pintar. Aku butuh orang baik, sabar dan pintar, tentunya cantik agar aku bisa memandangnya dengan kagum siap hari, karena aku orang yang ceroboh dan tentunya aku jauh dari kata baik, dan aku penikmat wanita cantik jadi kalau sudah ada yang cantik aku miliki aku bisa menahannya untuk tergoda dari wanita cantik yang lain," lirih Lucas jujur dia saat ini sudah menyadari dosa-dosanya. Dengan jawabannya yang dibuat asal Lucas semakin yakin kalau Jiara mana mau dinikahi dia.
"Apakah Anda tidak akan menyesal menikah dengan saya yang notabenya hanya rakyat biasa dan tidak memiliki apa-apa, dan apakah Anda tidak menyesal apabila ternyata saya tidak sebaik yang Anda kira?" tanya Jiara, seolah ia sedang mengatakan bahwa penampilan dia tidak sebaik dengan kenyataan dia.
"Maksud kamu apa? Apa kurangnya dari penampilan kamu, kamu terlihat sangat sempurna dengan pakaian panjang seperti ini?" tanya Lucas heran dengan ucapan Jiara.
"Saya memakai pakaian seperti ini untuk menutupi keburukkan saya. Lebih baik Anda urunkan untuk menikahi saya, karena saya akan membuat Anda kecewa," balas Jiara dengan nada yang dingin.
Jiara merasakan kedua bola matanya memanas ketika ia harus kembali mengingat kejadian kelam itu. Selama ini Jiara tidak lagi mengingat malam mengerikan itu, diper-kosa oleh orang tidak dikenal dan hamil, dan memiliki anak di luar nikah miris bukan, dan saat ini anak itu Jiara titipkan di pondok tempat ia memenangkan dirinya.
Selama di pondok tempat itulah yang dijadikan Jiara untuk bersembunyi dari gunjingan orang-orang.
__ADS_1