
Setelah kembali dari rumah, sakit kini Darya dan Eric sudah berada di dalam kamar pribadinya, dan Elin sudah kembali ke kamarnya.
"Mah, ada yang ingin Papah bicarakan," lirih Eric begitu dirinya masuk ke dalam kamarnya.
Darya menatap serius pada suaminya. Soal Elin atau Lucas?" tanya Darya dengan singkat.
"Soal Tuan Philip."
Raut wajah Darya langsung berubah, tubuhnya yang awalnya sudah rebahan langsung duduk dengan wajah yang serius.
"Papah? ada apa dengan Papah Philip?" tanya Darya, terlihat sekali kecemasanya.
"Apa Mamah pengin ketemu dengan Tuan Philip?" tanya Eric, dan andai mau bertemu makan Eric akan mengalah dan bertemu dengan Philip juga.
Darya nampak diam dan menundukan wajahnya. Wanita itu juga masih memiliki rasa takut yang berlebihan kalau nanti papahnya akan memisahkanya kembali dengan suaminya.
"Barusan Papah ngobrol panjang dengan Arya, dia berkata kalau Tuan Philip menitipkan salam untuk kita, dan beliau sudah merestuai kita. Beliau ingin kita berkumpul," jelas Eric, kedua matanya masih mengamati Darya yang nampak terkejut lagi.
"Papah merestui hubungan kita?" tanya Darya dengan senyum yang mengembang. Dan langsung dibalas anggukan oleh Eric.
Namun, sedetik kemudian senyum Darya meredup lagi. "Tamara gimana? Kita tidak bisa balik ke rumah itu kalau ada wanita penggoda itu," lirih Darya.
"Mamah tenang saja Tamara sudah pergi kok, dia sudah meninggal," balas Eric tanpa menyebutkan kalau Tamara terbunuh, dan yang diduga menjadi tersangkanya adalah Lucas, putranya sendiri.
Kedua mata Darya langsung melebar seolah ia tidak percaya.
__ADS_1
"Ta... Ta-mara sudah meninggal?" tanya Darya memastikan dengan kabar itu. Lagi, Eric mengangguk dengan kuat sebagai tanda bahwa apa yang dia ucapkan memang benar.
"Arya berkata, kalau Philip di rumah itu hanya sendirian. Beliau menginginkaan kita kumpul," jelas Eric lagi.
"Tetapi kenapa bukan Papah saja yang nemuin kita?" Darya bukan durhaka hanya saja mereka sudah sedikit trauma dengan philip yang dulu bersikap baik, tetapi malah semuanya ia lakukan karena dirinya yang sedang menrencanakan hal lain.
"Tuan Philip akan datang ke sini kalau Mamah mengizinkanya. Beliau berkata kalau malu dan takut Mamah tidak ingin bertemu." Eric menjelaskan lagi dengan lebih detail agar Darya tidak salah penilaian.
"Anak mana yang tidak mau bertemu orang tuanya, terutama orang tuanya hanya sebatang kara?" balas Darya dengan yakin. Sebenarnya dalam hatinya yang paling Dalam Darya sedih ketika anak-anaknya sudah makin besar, tetapi belum juga mendapatkan restu. Terutama Elin yang sampai usianya menginjak dua puluh sembilan tahun, tetapi dia belum juga tahu siapa kakeknya.
"Kalau gitu nantI Papah beri tahu Arya, agar mengatakan kalau mamah mau bertemu dengan Tuan Philip," balas Eric.
"Tapi, Papah sendiri gimana kalau kita akan ketemu dengan Papah Philip?" tanya Darya, ia tidak ingin kalau suaminya terpaksa menjalankan ini semuanya.
"Jujur kalau Papah justru senang dengan kabar ini, lagi pula umur Tuan Philip sudah tidak muda lagi, dia tidak bisa egois. Benar alasan Philip ingin bermain dengan anak, cucu jadi lebih baik kita berkumpul dan tunjukan kalau kita anak yang baik dan berbakti pada orang tua," ucap Eric dengan yakin dan ia sangat yakin kalau Philip tidak akan mencari masalah lagi.
Sementara diusia dia yg sudah menginjak usia empat puluh tahunan tentu tidak baik untuk memilih buah hati lagi.
"Tidak apa-apa anak dua, tetapi kita juga mau punya cucu dua jadi akan ramai juga rumah kita," lirih Eric, sontak saja Darya langsung terkejut.
"Cucu dua, apa itu tandanya Jiara sedang hamil lagi?" tanya Darya dengan perasaan yang senang. Namun reaksi itu ditunjukan berbeda oleh Eric yang justru nampak terkejut dan salah tingkah.
"Kenapa Pah, kenapa Papah seperti kaget begitu. Ngomong-ngomong Jiara sudah hamil berapa bulan? Kenapa tadi tidak bilang kalau Jiara sedang hamil lagi," oceh Darya, Dan Eric semakin bingung mau berkata apa? Ia keceplosan.
"Tapi bukanya di tutupin juga nanti Darya akan tahu. Apalagi usia kandungan Elin sudah empat bulan, bahkan dari fisiknya juga sudah bisa dilihat kalau Elin memang sedang hamil.
__ADS_1
"Bukan Jiara yang sedang hamil..." jawab Eric dengan suara lirihnya.
"Tunggu kalau bukan Jiara lalau yang hamil berati E... Lin?" tanya Darya dengan suara terbata, pandangan mata Darya menatap Eric dengan tajam. "Apa benar yang hamil adalah Elin Pah?" tanya Darya dengan suara parau dan kedua mata yang berkaca-kaca.
Eric pun hanya menjawab dengan anggukan kepala. Suara tangisan terdengar dari bibir Darya.
"Mah, jangan menangis tidak enak kalau Elin sampai tahu. Dia anak yang kuat dia bisa mengatasi ini semua," ucap Elin menenangkan sang istri dengan suara yang setengah berbisik, tetapi Darya nampak masih bingung.
"Kenapa Elin bisa hamil? Lalu siapa suaminya?" tanya Darya membutuhkan penjelasan. Eric pun kembali berpikir dengan serius. Apakan laki-laki itu akan menceritakan apa yang terjadi pada putrinya yang pasti akan menarik emosi pada istrinya atau justru Eric tidak akan bercerita dengan ancaman kalau Darya pasti akan marah.
"Apa kalau Papah ceritakan semuanya Mamah tidak akan marah?" tanya Eric untuk memastikan bahwa istrinya tidak akan marah.
"Tidak, Mamah tidak akan marah dan Mamah akan mendengarkan apa yang terjadi dengan serius." Darya pun bersiap dengan apa yang terjadi pada putrinya, dan Eric pun menceritakan dengan detail sedetailnya bahkan tentang finah yang Tamara dan Philip buat sehingga terjadilah kejadian Elin, Lucas dan juga Lexi.
Jeduerrr... bak disambar petir di siang bolong, tubuh Darya kaku mendengar ini semua terutama fitnah itu adalah orang tuanya yang menyebabkan. Karena tanpa sadar Eric bercerita tetang Tamara yang terbunuh, akahirnya selama dua jam mereka mengobrol, Darya tahu kalau putranya saat ini sedang ada di dalam rumah tahanan.
"Lexi? Apa Lexi adalah laki-laki yang sudah memperkosa Elin dan mengakibatkan hamil?" tanya Darya lagi dan itu semua benar adanya. Eric cukup membalas dengan anggukan. Dirinya juga ketika harus menceritakan ini semua sakit, bahkan seolah laki-laki itu sejak yadi bercerita sembari menelan biji kedong-dong. Tenggorokannya sangat sakit.
Bukan hanya Eric yang sakit tetapi Darya juga merasakan hal yang sama.
Bahkan Darya sendiri tidak bisa menahan tangisnya. meskipun wanita itu sudah berusaha sangat kuat agar dia tidak lagi menangis, tetapi tidak bisa setelah mengetahui fakta yang menimpa Elin dan Lucas.
"Apa saat ini Lucas sudah tahu kalau dia ada sodara kembar, dan yang dia culik adalah sodara kembarnya, dan saat ini sodara kembarnya ten-gah menderita karena perbuatanya?" tanya Darya dengan gigi-gigi yang saling bergemulutuk.
Lagi Eric hanya menjawab dengan gelengan kepalanyaa yang lemah. Darya memegangi dadanya bukan hanya Darya yang dadanya sesak, tetapi juga Eric rasanya sesak.
__ADS_1
"Kalau begitu kita kembali ke rumah Papah dan selesaikan satu-satu," tegas Darya. Bahkan Eric awalnya berpikir kalau dirinya akan ragu untuk menjelaskan apa yang terjadi di antara dirinya dan anak-anaknya, mengingat Dokter Arya mengatakan kalau semua ini tidak bisa dipaksakan.