Pelangi Tanpa Warna

Pelangi Tanpa Warna
Pelamgi Tanpa Warna #Episode 188


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu paska Zakia pulang dari rumah sakit....


 Untuk kasus Lucas sendiri sudah mendapatkan titik terang, tapi karena laki-laki itu ingin menembus kesalahanya pada sang adik, ia meminta Lexi untuk pura-pura belum tahu pelakunya. Padahal dua otak dari pembunuhan Tamara, dan juga dua orang ini sudah diamankan oleh Lexi, tanpa melibatkan polisi.


Meskipun nasihat Arya dan Lexi sudah berkali-kali di lakukan pada laki-laki itu, tetapi Lucas masih saja kekeh tidak ingin keluar dari penjara, karena ia merasa bersalah sekali dengan sodara kembarnya. Namun, alasan utamanya mungkin dia yang belum siap bertemu dengan Elin, dan kedua orang tuanya.


Penjara adalah tempat yang benar untuk Lucas, itu yang laki-laki itu pikirkan sehingga ia memilih tetap di penjara meskipun kasus yang dituduhkan padanya sudah selesai.


Elin sendiri selama empat bulan ini lebih banyak menghabiskan waktunya bersama ibu kandungnya dan Zakia. Wanita itu masih rutih melakukan pengobatan, tentu tidak diketahui oleh keluarganya. Ia melakukanya secara sembunyi-sembunyi dan sampai detik ini masih aman, baik sakit yang ia derita hingga kehamilannya tidak ada masalah.


Zakia, bocah kecil itu semakin hari, makin pandai dan sehat, ia bahkan sudah bisa melupakan papahnya, tidak selalu bertanya di mana keberadaan papahnya. Hubungan Elin dan Philip tidak banyak perubahan, Elin akan berkomunikasi dengan laki-laki itu seperlunya saja. Philip sendiri tidak memaksanya ia tahu betul gimana  perasaan Elin sehingga ia tidak ingin menambah beban pikiran pada cucunya.


Eric sendiri sesuai dengan rencana Philip ia bekerja di perusahaanya menggantikan Lucas yang masih di pejara. Eric dan Darya memang belum mengunjungi Lucas, hal itu karena Lucas sendiri yang belum siap bertemu dengan ayah dan ibunya.


Philip dan Jiara lah yang menggantikan posisi Lucas, hal itu tidak lepas dari bantuan Lexi. Sampai detik ini Eric maupun Darya belum begitu paham bahwa Lexi yang ia kenal selama ini adalah Lexi yang telah memperk*sa putrinya hingga hamil.


Lexi pun sejak pertemuanya terakhir dengan Elin hingga detik ini belum ada ketemu lagi, Lexi selalu mendapatkan laporan ketika Elin memeriksakan diri ke dokter dan kandunganya, tetapi karena kesibukanya laki-laki yang sudah menyandang setatus duda itu tidak juga memiliki waktu untuk bertemu dengan Elin.


"Mah, kita jadikan nanti siang mengunjungi Lucas?" tanya Eric pada Darya, dari sekian bulan Lucas di penjara baru kali ini Arya mengabari bahwa Lucas mau dijenguk oleh orang tuanya.


"Jadi dong Pah, Mamah sudah kangen banget sama anak itu." Darya bahkan sudah sangat rindu dengan putranya ingin memeluknya bercerita terutama bercerita mengenai Zakia yang sangat pintar dan berkat bocah kecil itu rumah Philip setiap hari ramai, karena celoteh-celotehnya.


"Apa Papah (Philip) juga mau ikut?" tanya Eric, mengingat beberapa yang Lalu Philip mengatakan kalau ia ingin ikut ke rumah tahanan untuk bertemu Lucas.


Darya nampak berpikir. "Lebih baik jangan Pah, Papah (Philip) beberapa hari ini sedang kurang sehat. Takutnya melihat kondisi putra kita malah semakin  sakit."


"Yang lainya. Jiara, Arya?" tanya Eric lagi. Dia sendiri bersiap akan masak untuk putranya. Di mana hari ini adalah akhir pekan sehingga kerja pun libur dan saatnya berkumpul bersama keluarga.

__ADS_1


"Jiara sudah nitip salam, dan selembar surat." Darya menunjukan surat yang dititipkan oleh Jiara untuk Lucas. Eric kembali mengangguk.


"Kalau gitu Papah ingin masak khusus untuk Lucas. Hanya ini yang bisa Papah berikan untuk Lucas." Eric pun langsung menuju dapur. Seperti biasa pemandangan pagi hari adalah cucunya yang sedang bermain dengan Jiara dan ada Philip yang sedng duduk dengan secangkir teh memperhatikan cicitnya yang sedang bermain. Bahkan taman belakang saat ini sudah menyerupai taman kanak-kanak, hampir semua permainan anak-anak ada di sana, meskipun anak kecil hanya satu, tetapi sudah membuat suasana rumah besar itu ramai.


Eric yang tidak melihat Elin sedang bermain dengan Zakia pun langsung ke kamarnya takut terjadi sesuatu apalagi saat ini usia kehamilanya sudah menginjak sembilan bulan, bisa saja hari kelahiran cucunya akan maju atau mundur dari yang di perkirakan dokter.


Laki-laki paruh baya itu menekan handel pintu setelah terdengar ucapan 'Masuk' dari dalam sana. Eric bisa mengelus dadanya dengan tenang ketika melihat Elin sedang duduk di balkon, ini adalah tenpat paling menenangkan untuk Elin. Wanita itu tidak sama sekali keluar rumah, ia akan keluar rumah hanya untuk kontrol kesehatan dan kandunganya.


"Papah pikir sedang tidak enak badan, kok tumben tidak main sama Kia, biasanya kalau pagi pasti sudah rame dengan suara kalian," ujar Eric sembari menuju putrinya duduk.


"Ada Kak Jia, lagi pengin malas-malasan," balas Elin benar-benar dengan raut wajah malas.


"Ini bawaan cucu Papah apa anak Papah nih. Ngomong-ngomong Papah mau masak, apa ada makanan khusus yang ingin Elin makan?" Eric melihat wajah Elin semakin pucat, entah itu karena anaknya baru bangun tidur atau memang sedang merasakan tidak enak pada kandunganya.


Elin berpikir sejenak. "Apa ajah yang Papah masak Elin akan makan. Untuk saat ini Elin tidak ingin makan sesuatu." Semenjak ia tinggal di rumah kakeknya apapun yang ia inginkan selalu dituruti malah Philip memberikan satu asisten khusus untuk melayani Elin, padahal Elin bisa mengurus keperluanya sendiri.


"Kalau gitu Papah masak dulu yah." Eric kembali pergi, dan Elin mengangguk dengan lemah. Eric memang setiap hari selalu menyempatkan  menyapa putrinya tidak sekalipun Eric melupakan kebiasaanya itu. Padahal apa yang ia tanyakan hampir sama setiap harinya. Seperti gimana kabarnya, bertanya perkembangan cucunya dan hal-hal yang itu-itu saja. Namun dari  perhatian-perhatian itu Elin merasa benar-benar diperhatikan dan papahnya adalah orang yang tidak pernah berubah selalu memberikan perhatian yang tidak pernah putus. Dari ia kecil hingga sebesar ini.


"Pah, apa kalau Elin pergi Papah akan sedih?" kelopak mata Elin memanas, setiap mengingat hasil pemeriksaan terakhirnya, buah hatinya tidak ada masalah bahkan anak Elin sangat sehat dan aktif, hanya kondisi fisiknya yang makin melemah. Seperti pagi ini, bukan karena ia sedang ingin bermalas-malasan tetapi karena rasa sesak di dadanya yang semakin sering, serta perut yang terasa kurang nyaman.


Dokter menyarankan untuk opnam, hingga hari persalinan, karena terlalu beresiko apabila di rumah dengan fisik Elin yang semakin lemah tetapi lagi-lagi Elin menolaknya. Ia tidak ingin orang tua dan keluarganya cemas.


Sehingga memilih tetap di rumah dengan catatan Elin akan selalu minum obat-obatanya.


Di tempat lain, Lexi yang baru saja mendapatkan laporan dari dokter yang memeriksa Elin mulai tidak tenang. Yah, Lexi memang diam-diam bekerja sama dengan dua dokter yang memeriksa Elin, baik dokter kandungan atau dokter yang mengatasi sakit Elin. Mereka memberikan laporan hasil pemeriksaan Elin, termasuk kondisi anak mereka dan juga jenis kelamin putranya.


"Kapan Elin melakukan check up lagi?" tanya Lexi pada dokter Eki yang menangani sakit Elin.

__ADS_1


"Lusa Elin akan datang kembali," jawab dokter Eki, beliau mau bekerja sama dengan Lexi mengenai sakit Elin, karena Lexi mengaku laki-laki yaang menghamili Elin dan juga tentunya mengaku kalau dia sangat, cinta dan perduli pada Elin.


"Kalau gitu saya mohon kerja samanya yah Dok, agar Dokter mengabarkan saya kalau Elin melakukan kunjungan untuk pemeriksaan. Saya hanya ingin menemani dia untuk melewati masa-masa berat ini," lirih Lexi dengan tatapan memohon.


"Tapi apa Elin nanti tidak marah pada saya?"


"Saya akan pastikan Dok, kalau Elin tidak akan marah, dan Elin tidak akan tahu kalau Anda yang memberitahukan jadwal kunjungan Elin pada saya," ujar Lexi dengan yakin. Kini setelah Eric dan Jiara semakin menguasai pekerjaanya Lexi bisa sedikit lega. Lexi tidak lagi setiap hari mengunjungi perusahaan Philip, dan ia juga tidak harus bolak balik pada perusahaanya.


"Baiklah kalau gitu, nanti saya akan beritahu Anda," balas dokter Eki, mungkin saja dengan adanya Lexi, Elin akan sembuh, dan mau menjalani operasi sesuai yang dokter sarankan. Sudah sejak lama Eki menyarankan untuk Elin menjalani operasi, tetapi hingga detik ini ia tidak mau dengan alasan ia takut kalau terjadi apa-aapa.


Lexi melangkah dari ruangan dokter Eki dengan perasaan yang lemas. Kali ini ia ingin mengunjungi dokter Eka, di mana beliau adalah dokter SPOG yang memeriksa Elin selama ini. Laki-laki itu ingin melihat buah hatinya. Ingin ia datang menemui Eric maupun Darya untuk mengakui perbuatanya, tetapi lagi-lagi Lexi teringat ucapan Philip kalau Elin pasti tidak akan mau menerima pertanggung jawaban Lexi.


"Maaf kalau saya ganggu waktunya Dok," lirih Lexi pada dokter Eka yang sebelumnya ia sudah membuat janji.


"Tidak Lex, kamu tidak mengganggu waktu saya, karena saya sendiri sedang tidak sibuk. Apa kamu siap melihat vidio anak kamu?" tanya dokter Eka, yang dengan sengaja merekam kondisi buah hatinya ketika Elin memeriksakan diri. Itu semua Lexi yang memintanya. Dia memang pernah berbuat salah tetapi saat ini Lexi benar-benar menyesalinya.


Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena bahagia Elin menjadi prioritasnya untuk apa ia berusaha bertanggung jawab apabila Elin tidak bahagia.


"Aku sudah tidak sabar Dok ingin lihat jagoan aku," lirih Lexi yang sudah diberitahu sebelumnya oleh dokter Eka bahwa jenis kelamin buah hatinya adalah laki-laki. Bahkan karena ia mendengar calon buah hatinya laki-laki sampai-sampai Lexi sudah membeli beberapa perlengkapan bayi yang lucu-lucu. Berbeda dengan Elin yang malah tetap santai tidak membeli perlengkapan bayi. Semua yang beli Darya dan Eric, Elin justru terkesan santai sekali. Setiap diajak jalan-jalan untuk membeli perlengkapan buah hatinya ia akan berkata cape dan ingin istirahat.


Dokter Eka mulai memutar vidio pemeriksaan Elin di mana di sana terlihat dengan jelas calon bayi yang tampan dan sehat. "Kamu bisa lihat kan dia sangat tampan, dan juga sehat. Dia calon anak yang baik, tidak pernah membuat ibunya susah. Tidak mengidam aneh-aneh,"  ujar dokter Eka yang nampak antusias menjelaskan dengan detail kondisi anak yang ada dalam kandungan Elin.


Lexi pun yang mendengarnya sangat bahagia, hingga tidak terasa ia menitikan air mata bahagianya tidak pernah terbayangkan dalam bayangan Lexi kalau hatinya akan sebahagia ini padahal hanya melihat vidio pemeriksaan Elin. Gimana kalau dia bisa menemani Elin lahiran dan juga menemaninya untuk menjaga buah hati mereka.


"Dok apa kalau aku menemani untuk lahiran boleh?" tanya Lexi dengan hati-hati. Terlebih setelah melihat reaksi dokter Eka yang langsung berubah.


"Untuk soal itu saya tidak bisa pastikan Lex, sebab Elin sendiri pasti tidak akan suka kalau ada kamu, tapi akan saya usahakan. Kembali lagi kalau tidak bisa kamu harap maklum, sebab aku juga tidak mau mengambil resiko," lirik dokter Eka, dan jawaban itu langsung mencubit hatinya, sakit tapi tidak berdarah.

__ADS_1


Hukuman bagi seorang pendosa memang nyata, dan saat ini Lexi sedang merasakanya. Perlahan hatinya gamang, tidak mendapatkan ketenangan, tidak mendapatkan kebahagiaan padahal harta melimpah ruah, tetapi itu semua tidak bisa memberikan ketenangan hati. Hanya satu yang membuat Lexi bahagia yatu menebus kesahalan yang beberapa bulan lalu ia perbuat. Namun nyatanya untuk menebus kesalahan itu tidak segampang pemikirannya.


Elin yang ia nilai akan gampang untuk ia atur dan rebut hatinya, nyatanya justru sangat sulit, bahkan untuk bertemu saja sangat susah.


__ADS_2