
Arya, bersungut kesal ketika papihnya lagi-lagi mengerjai dirinya. Bukan Aryo kalau tidak jahil pada aputranya.
"Kenapa kamu marah-marah, bukanya Papih udah baik kamu hanya terima tamu sampai magrib," protes Aryo yang mana anaknya manyun terus dengan tatapan yang marah pada dirinya.
"Ya tapi jangan pake bilang acara sampai jam sembilan. Demen banget bikin anaknya marah," protes Arya.
"Loh kamunya aja yang sensi banget sama Papihnya, dosa loh sama papihnya marah-marah nanti malam pertamanya nggak berkah, bagaimana kalau udah siap-siap ternyata tamu datang tak diundang." Aryo semakin membuat Arya bertanduk.
"Papih..." Aryo dan Arya pun terlibat kejar-kejaran, siapa yang melihat tidak percaya kalau dua orang yang terlibat kejar-kejaran adalah ayah dan juga anak. Mereka sangat kompak dan juga sangat romantis. Bahkan Marni sampai iri.
"Sabar yah Sayang, kamu memang sekarang harus banyak-banyak sabar karena papih mertua kamu dan suami kamu memang seperti itu bawaanya jadi kamu jangan kaget." Dinda pun mengusap punggung wanita yang sudah resmi menjadi menantunya.
"Tidak apa-apa Mih, Marni malah suka dengan ini semua. Marni sebelumnya tidak penah merasakan yang seperti ini," balas Marni dengan menatap bahagia karena melihat suaminya yang seperti anak kecil dengan papih mertuanya.
"Ayuk Sayang kita ke kamar," ucap Arya sembari nafas yang tersenggal setelah bermain kejar-kejaran dengan sang papih.
"Apaan sih Arya, orang menatu mamih lagi makan." Dinda menepis tangan sang putra ketika memegang tangan Marni yang baru saja menyuapkan makananya.
"Astaga Mih, kenapa Mamih jadi sejahat ini pada Arya, padahal Arya ini anak kesayanagn Mamih loh," cicit Arya dengan mengambil duduk di samping Marni dan dengan santainya mengambil makanan sang istri.
"Siapa bilang kamu anak kesayangan. Aku dong kesayangan Mamih dan Papih buktinya apa yang aku minta diberikan terus," sela Dira, sang kakak perempuan satu satunya. Dan Dinda pun langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Kalian memang jahat banget sama aku. Aku itu seperti anak tiri di keluarga ini." Arya pun semakin senang berekting dengan mereka apalagi Marni sejak tadi tertawa dengan renyah menyaksikan perdebatan satu keluarga itu.
"Loh, emang kamu tidak sadar Ya, kamu itu cuma angkat pungut di keluarga kami." Aryo yang baru datang rasanya tidak enak kalau tidak kembali mengejek sang putra. Marni sendiri kembali tertawa dengan renyah. Mereka pun sebelum kembali ke kamar hotel sudah makan-makan dulu sehingga kalau mau langsung tempur sudah aman pasokan energinya.
__ADS_1
"Ya, keluarga kamu asik banget yah. Aku serasa menemukan keluarga baru," ujar Marni, tidak henti-hentinya wanita itu mengucapkan rasa syukurnya karena telah di pertemukan dengan Arya dan kelurganya. Yang tidak pernah membedakan siapa dirinya yang bahkan untuk mengetahu keluarganya dia tidak tahu.
"Ya aku pun berterima kasih pada mereka yang selalu membuat rusuh, mereka benar-benar keluarga untuk aku di mana mereka tidak pernah memaksa aku untuk jadi seperti apa yang mereka mau, meskipun aku tahu orang tuaku ingin aku melanjutkan bisnis mereka. Namun pada kenyataanya mereka mengizinkan aku bekerja sebagai dokter.
"Aku seneng banget bisa jadi bagian dari keluarga kamu Arya."
"Yah, mereka juga pasti senang memiliki menantu seperti kamu. Apalagi kalau kamu langsung berikan cucu mereka pasti tambah bahagia," ucap Arya sembari menaik turin kan alisnya.
"Hehe tapi aku lagi datang bulan Ar..." jawab Marni dengan malu-malu.
Jedueeerrr... petir menyambar..
Tubuh Arya seketika lemas. Sedangkan Marni pun terkekeh dalam batinya. Yah, setelah Marni bergabung dengan keluarga Arya dia pun rasanya sangat rugi kalau tidak ikut-ikutan mengerjain Arya. Tentunya setelah berguru pada papih yang somplak itu, siapa lagi yang kasih ide gila macam seperti ini. Semuanya adalah ide gila Aryo, Dinda, dan juga adaiknya yang jahilnya sama seperti Aryo.
"Kamu duluan saja," balas Arya dengan tangan meraih ponselnya. Mengecek pesan yang masuk yang sudah berjibun dari teman seprofesinya maupun dari kerabat jauh, dan juga dari teman bisnisnya.
"Ya udah aku mandi duluan, tapi kamu harus mandi juga kalau tidak mau mandi aku tidak mau tidur bareng sama kamu," ancam Marni dengan berjalan meninggalkan Arya menuju kamar mandi.
Tidak menunggu lama setelah bersih wangi dan juga segar kini Marni keluar dengan mengunakan bathrobe berwarna putih dengan handuk melilit di kepalanya.
"Sayang kamu mandi kih, jangan pakai lama yah," ucap Marni dengan nada yang manja, tetapi namanya juga Arya lagi modr kesal sehingga dia pun hanya bisa membalas dengan anggukan kepala dan berjalan malas ke kamar mandi. Sedangkan Marni menyiapkan semua untuk memberikan kejutan.
Baju haram yang diberikan oleh Dinda pun Marni pakai untuk menyambut Arya yang sedang mandi di kamar mandi, dan juga tubuh menggunakan parfum kesukaan sang suami barunya dan tentu make up tipis untuk menyambut Arya agar tampil lebih menawan.
Cekkklek... pintu kamar mandi di buka, Marni pun semakin tidak menentu jantungnya. Benar-benar uji nyali dia itu.
__ADS_1
"Mas, mau aku bantu mengeringkan?" tanya Marni sembari berjalan menghampiri laki-laki itu yang baru ke luar dari kamar mandi dan tangan bergerak lincah diatas kepalanya.
Glekk...!! Arya menelan salivanya kasar ketika melihat pakaian haram Marni. Laki-laki itu bergeming dengan handuk masih diatas kepala. Lalu Marni pun mengambilnya dan menggosok rambut Arya yang masih basah. Jantung Arya seolah mau lompat dari porosnya melihat belahan yang aduhai menggoda iman.
"Marni apa kamu sengaja menggoda aku?" tanya Arya sebari suaranya tersengal-sengal karena keisengan sang istri.
"Kata orang kalau kita menggoda suami dapat pahala, aku lagi cari pahala," balas Marni dengan tangan masih memijat lembut kepala Arya.
"Iya memang dapat pahala, tapi kalau hanya memancing tapi nggak bisa menikmati malah dosa jadinya," balas Arya dengan nada yang terlihat kecewa.
"Kenapa tidak bisa menikmati? Bukanya tujuan punya istri untuk dinikmati bukan untuk dianggurin." Marni menatap tajam mata Aeya yang terlihat ada gurat bahagia di dalamnya.
"Apa kamu serius?" tanya Arya dengan wajah yang berbinar bahagia.
"Tapi ingat pelan-pelan aku masih perawan," goda Marni dengan senyum malu-malu kucing.
Akhhh... Arya pun langsung mendorong Marni hingga jatuh keatas kasur.
"Kita mulai sekarang," balas Arya dengan bersemangat. Bahkan sesuatu yang awalnya tertidur dengan lemas langsung bangun seketika.
"Kita makan dulu," elak Marni agar membuat Arya semakin kesal.
"Tidak perlu, aku masih kuat." Arya langsung memulai mengukur setiap jengkal keindahan yang ada di hadapanya. Tanpa terlewat satu senti pun.
"Akhirnya aku bisa menikmati keindahaan surga nunia juga," pekik Arya tidak sabar ingin buru-buru membuka gerabng yang lama tertutup rapat.
__ADS_1