
Lexi menunjukan ponsel pribadi, ia menujukan ketika dirinya sudah membuat janji dengan dokter Eka dan Eki. "Besok bisa nemuin mereka, dan besok aku jemput kamu!"
"Tidak usah aku bisa mengerjakanya sendiri. Lagi pula semuanya juga tidak langsung ada penanganan, biarkan aku mengerjakanya sendiri. Kamu pasti banyak kerjaan juga."
"Lin tolong berikan aku kesempatan, satu kali saja, setelah itu terserah kamu maunya apa. Beri aku satu kali kesempatan, tetapi kalau dalam satu kali itu aku melukai atau mengecewakan kamu maupun anak kita, aku yang akan pergi dari kamu dan anak kita." Wajah Lexi benar-benar barubah dan sangat serius, terlihat mengiba.
Elin pun sejenak berpikir. "Elin akan coba, tetapi Elin akan bertanya dulu dengan Papah. Elin masih ragu dengan ini semua, itu sebabnya Elin akan bertanya sama Papah, setidaknya meminta solusi."
"Tidak masalah. Aku yakin Papah kamu adalah orang yang sangat bijaksana, dan dia pasti ingin yang terbaik untuk anak dan cucunya." Ada perasaan lega, baru kali ini Lexi merasakan itu semua. Lexi tahu bahwa Eric pasti akan adil, terlebih ia pun tahu kalau Eric itu bukan orang yang mau menghakimi seorang pendosa. Lexi sendiri memiliki kemauan untuk berusahaa bangkit dan memperbaiki semua pasti Eric akan memberikan kesempatan.
"Terima kasih untuk kesempatanya. Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh lagi, aku sudah bertaubat, dan kalau aku berbuat salah tegur aku, dan kalau aku menyakitimu, aku akan melepaskan kalian untuk kebahagia kalian. Tapi aku yakin kalian hanya akan bahagia bersama dengan aku." Lexi menatap Elin yang saat ini lebih terlihat santai dan tidak setegang tadi.
"Aku cape, dan pengin istirahat," ucap Elin dengan nada yang lirih.
"Iya istirahat lah, aku juga akan kembali pulang, masih banyak urusan. Kamu jaga diri dan makan-makanan yang sehat."
Elin sendiri hanya membalas dengan anggukan kepala yang ringan dan berdiri dengan sedikit kesusahan, tetapi ketika mau dibantu oleh Lexi tanganya memberikan isyarat kalau Lexi tidak usah membantunya. Sehingga Lexi kembali melepaskan tanganya dari pundak Elin.
"Lin, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lexi dengan tangan sigap ditakutkan Elin jatuh pingsan.
Lagi, Elin membalas dengan anggukan kepala. "Aku sudah biasa seperti ini kalau kelamaan duduk atau rebakan, sedikit pusing," balas Elin dengan sebelah tangan memijit keningnya dengan pelan.
"Kita kedokter yah, mungkin kamu kurang darah." Lexi pun memegang pundak Elin dan bersiap menuntunya. Kedua mata Elin menatap tangan Lexi yang tengah memegang pundaknya. Bayangan mengerikan itu terlintas dalam pikiran Elin, hingga Elin semakin merasakan pusing dan ketakutan.
"Lin... apa kamu baik-baik saja?" Lexi semakin panik ketika Elin seperti melihat makhluk lain, dan di wajahnya sudah banyak keringat yang keluar.
"Aku antar kamu ke rumah sakit, kita periksa sekarang!!" tanpa menunggu lama Lexi membopong tubuh Elin yang kurus. Hanya baju dan perutnya yang besar, badanya sangat enteng, itu yang Lexi rasakan.
"Lex, turunkan aku. Aku takut!" seru Elin dengan suara yang lirih.
"Kamu tenang saja aku tidak akan menyakiti kamu. Aku akan selalu melindungi kamu dan anak kita." Lexi tidak perduli apa ucapan Elin.
"Tapi aku tidak apa-apa, hal itu sudah biasa," jawab Elin, ingin berontak, tetapi dia tidak bisa karena jarak wajah Lexi yang sangat dekat dengan wajahnya. Kini Elin dan Lexi sudah ada di dalam mobi.
__ADS_1
"Kamu diam saja di sini, aku tidak akan membebaskan kamu kalau aku sendiri belum tahu apa kata dokter tentang kesehatan kamu. Aku akan ke dalam untuk membertahukan pada orang rumah kalau kamu bersamaku."
Tanpa menunggu Elin memberikan jawabanya Lexi pun langsung melesat pergi ke dalam rumah mewah itu. Setelah mengetuk pintu ruangan kerja Philip dan tentunya sang penunggu ruangan itu sudah memberikan jawabannya untuk masuk.
Philip seperti biasa memberikan tatapan tegas pada Lexi, terlebih setelah laki-laki itu merasa kecewa karena ternyata Lexi justru mendekati cucunya. "Ada perlu apa kamu ke sini?" Tatapan yang sinis berhasil membuat jantung Lexi seolah sedang balap untuk saling memompa dari masing-masing serambi jantung.
Sebelumnya Lexi sudah mempersiapkan diri sehingga ia bisa mengurangi rasa gugupnya. "Saya akan pergi bersama Elin. Jadi kedatangan saya hanya untuk memberitahukan itu saja. Agar tidak ada yang bingung mencari Elin ke mana," balas Lexi dengan nada bicara yang cukup tenang.
Philip nampak mengernyitkan dahinya. "Mau kamu bawa ke mana cucuku. Dia sedang hamil besar, kalau terjadi apa-apa gimana?"
"Saya hanya ingin mengajaknya kontrol ke dokter, karena saya lihat tubuhnya terlihat ada sedikit masalah tadi dia mengeluh pusing." Sebisa mungkin Lexi tetap tenang meskipun dia juga rada dongkol, pasalnya Philip terlihat seolah dirinya adalah laki-laki yang paling bersalah, padahal semua ini tidak akan terjadi tanpa fitnah dari dirinya juga 8.
Philip nampak diam, mungkin berpikir. "Pergilah, dan jaga Elin jangan sampai kenapa-napa." Philip akhirnya tidak banyak bertanya lagi, dan Lexi setelah pamit langsung mengundurkan diri.
Sementara Elin sesuai yang Lexi katakan bahwa ia tidak protes, tidak juga pergi. Dia masih tetap menunggu Lexi. Wanita itu juga berusaha membuka hatinya membuka pintu maaf sama seperti yang Jiara lakukan pada Lucas, demi anak.
Elin menoleh ke samping, ketika pintu mobil sudah dibuka, dan Lexi pun nampak masuk dengan senyum teduhnya. "Aku sudah meminta izin pada Kakek, jadi nanti tidak akan ada yang mencari kamu lagi," ucap Lexi dengan suara yang lembut.
"Apa kepala kamu masih sakit?" tanya Lexi sembari melajukan kedaraan roda empatnya dengan perlahan. Biasanya dia yang membawa mobil seperti penguasa jalanan, berhubung sedang membawa wanita hamil, ia pun langsung mengendarainya dengan pelan dan berhati hati.
"Sudah mendingan, dan itu memang sudah biasa terjadi, dan nanti akan sembuh sendiri, kamu saja yang berlebihan." Elin membuang pandanganya ke luar jendela, memperhatikan jalanan yang panas, dan diluaran sana banyak orang-orang yang sedang mengais rezeki.
"Jangan terlalu mengatakan santai pada satu pernyakit, karena takutnya nanti berefek buruk dengan organ yang lain, harus segera diatasi." Meskipun Lexi tahu bahwa Elin tidak akan mau menanggapinya, tetapi setidaknya Elin mendengarnya, dan Elin juga pasti akan tahu kalau dirinya sangat perduli.
Lexi sendiri sejak tadi memperhatikan Elin yang selalu menatap ke luar. "Apa kamu ingin memakan sesuatu?"
Elin menggeleng dengan pelan. Kembali Lexi hanya diam, begitupun Elin, mereka lebih banyak diam di dalam mobil, dan sekali pun Lexi berbicara Elin akan tetap diam.
"Aku senang ternyata anak kita nanti laki-laki. Itu tandanya dia nanti bisa diandalkan untuk menjaga ibu dan adik-adiknya nanti." Lexi memancing pembicaraan agar tidak terlalu sepi.
"Kenapa kamu bisa tahu kalau anak yang aku kandung adalah laki-laki?" cecar Elin, kali ini wanita dengan perut buncit itu menatap ke arah Lexi.
Sementara Lexi hanya terkekeh. "Kan aku sudah bilang kalau aku dan dokter Eka, sering saling berkomunikasi, jadi dokter Eka tidak sengaja mengatakan kalau anak pertama kita adalah laki-laki. Aku langsung menyesali segala perbuatan aku yang dulu-dulu, kejahatan yang sering aku lakukan, karena aku takut kalau anakku nanti akan mengikuti jejak papahnya."
__ADS_1
Elin tersenyum sinis dengan menaikan sebelah bibirnya. "Termasuk mempermainkan wanita?" balas Elin dengan suara yang bergetar.
Deg!! Lexi cukup terkejut dengan ucapan Elin, tetapi sedetik kemudian dia memaklumi apa yang Elin katakan karena memang dirinya terlalu senang bermain wanita-wanita pemuas nafsu.
Lexi menatap Elin, wanita itu membuang pandanganya ke luar jendela dengan bibir mengerucut, sangat imut dengan wajahnya yang imut.
(Lexi belum tahu kalau Elin pernah melakukan operasi wajah karena ulah mereka, yang baru tahu hanya Lucas)
"Semuanya, semua kejahatan yang dulu sering aku lakukan,aku sudah hentikan," ucap Lexi dengan yakin. "Andai waktu bisa diputar kembali ku pasti tidak akan melakukan semua ini, tetapi semua sudah terjadi, dan benar kata papah kamu kalau aku saat ini tugasnya untuk memperbaiki semua yang telah terjadi."
Dalam hati Elin dia juga senang mendengar apa yang Lexi katakan, dan ia berharap kalau apa yang Lexi katakan barusan bukan hanya isapan jempol semata, ada bisa bertanggung jawab dengan ucapanya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, kini Elin langsung masuk ke ruangan dokter Eka, di mana dia sudah berjanji dengan dokter Eka, sementara dokter Eki sedang libur. Mengingat hari ini hari minggu.
"Aku bisa jalan, sendiri." Elin menolak ketika Lexi akan membantunya berjalan. Lexi pun langsung melepaskan tanganya dari pundak Elin.
"Apa ini mimpi?" tanya Lexi dengan senyuam tersungging di wajahnya, ketika saat ini ia berjalan dengan Elin yang sedang hamil anaknya menuju ruangan pemeriksaan kandungan. Elin sendiri hanya menatap kepada Lexi dengan tatapan yang bingung tidak tahu apa artinya tatapan itu.
"Kalau memang ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku," racau Lexi, dan membuat Elin semakin tidak mengerti dengan laki-laki yang berjalan di sampinganya.
"Siang Dok," ucap Lexi dengan wajah yang ceria. Awalnya dokter Eka kaget dengan Lexi yang ingin membuat janji untuk Elin, tetapi setelah melihat mereka datang bersama dokter Eka pun tersenyum gembira. Itu tandanya Elin dan Lexi sudah baikan. Dokter Eka memang tidak tahu apa yang terjadi di antara Elin dan Lexi itu sebabnya sudah beberapa kali dia menyarankan untuk memperbaiki hubunganya, dan sekarang sudah terjawab.
"Aku senang melihat kalian sudah baikan. Ini sangat baik untuk calon ibu ketika akan melhirkan di dampingi oleh suaminya. Krena anaknya pun bisa merasakan ikatan batin."
"Ah, terima kasih saranya Dok, semua kami lakukan untuk buah hati kami," balas Lexi meskipun hatinya tercubit ketika dokter Eka membahas suami.
Sementara Elin juga merasakan yang sama, ketika ada yang membahas suami dan istri, rasanya hantinya terasa perih, tetapi Elin tetap bersikap biasa saja dan mungkin memang ini yang terjadi apalagi dokter Eka tidak tahu permasalahan mereka.
...****************...
Teman-teman mampir ke novel besti others yuk dijamin bikin nagiah
__ADS_1