
Elin berjalan bergandengan tangan dengan Darya, wajah mereka terlihat sangat bahagia sedangkan Eric dan Diki berjalan di belang mereka. Marni sendiri sudah pualng lebih dulu karena ada urusan yang lain sehingga ia tidak bisa mengantarkan Elin kembali ke rumah mereka.
Wajah bahagia terlihat dari ibu dan anak itu. Akhirnya badai yang besar bisa mereka lewati dan kini mereka akan memulai kehidupan yang baru.
"Dok, tapi apa nanti keluarga Darya tidak akan mencari Darya, terutam Er... Maksud Om Lucas?" tanya Eric dengan suara yang lirih. Agar dua wanita yang berjalan di depanya tidak mendengar.
"Kalu soal itu Om Eric tidak harus khawatir, aku dan Arya yang akan mengatasinya," jawab Diki dengan santai. Kini laki-laki itu tidak harus terlalu takut dengan Lucas terlebih sejak ada Arya yang bisa mengatur Lucas semakin bisa diajak berbicara. Sangat berbeda jauh dengan Lucas yang dulu yang mana laki-laki itu terus dibikin ketakutan apabila berurusan dengan Lucas. Lucas sangat tidak bisa diajak berbicara dari hati ke hati.
"Alhamdulillah. Om hanya takut nanti akan ada masalah lagi. Om hanya ingin hidup tenang di sisa umur Om dengan anak dan istri," lirih Eric tentu ia juga ingin bisa berkumpul dengan Lucas, tapi sepertinya itu akan sulit. Elin selalu berkata tidak ingin bertemu dengan sodara kembarnya. Itu tandanya mungkin sampai nanti impian yang satu itu akan sulit terwujud. Namun, Eric sudah belajar ikhlas yang terpenting ia tahu gimana kondisi putranya.
Tidak membutuhkan waktu lama kini Elin dan keluarganya sudah tiba di rumah mereka rumah yang sederhana dan terlihat asri. Darya sebelum masuk ke dalam rumahnya sudah bisa merasakan suasana seperti dulu dirinya tinggal bersama Eric.
Yah, dari dulu Eric memang selalu seperti ini. Di dalam lingkungan rumahnya selalu saja di tanami sayur-sayuran.
Setelah melihat-lihat halaman rumah yang banyak ditumbuhi sayuran dan tanaman lainnya, Elin dan Darya pun masuk ke dalam rumah. Sedangkan Diki dan Eric memilih beristirahat di gasebo. Tempat favorite untuk para-laki-laki menghabiskan malam dan waktu santai mereka. Bahkan hampir setiap malam di rumah Eric tidak pernah sepi, selalu saja ada orang yang sekedar nongkrong, dan juga sekedar ngopi-ngopi sekaligus ronda.
"Mamah, malam ini bobonya sama Elin yah. Ini kamar Elin dan di belakang sana kamar Papah, nanti akan jadi kamar Mamah juga. Mamah tidak apa-apa kan tinggal di rumah kita yang sederhana ini?" tanya Elin, yang bahkan belum pernah tahu seperti apa keluarga mamahnya, termasuk kehidupan Lucas juga, yang Elin ingat dulu pada saat dirinya di culik, rumah Lucas memang sangat luas dan tentu sangat mewah. Sangat berbeda jauh dengan rumah Elin dan Eric yang akan mereka tempati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sayang. Mamah sangat senang sekali bisa tinggal di sini. Mamah lebih suka tinggal seperti ini. Papah kamu dari dulu tidak pernah berubah, selalu suka menanam. Dulu rumah kita juga banyak pohon seperti rumah kalian saat ini," ucap Darya menceritakan kenangan dulu dirinya tiggal bersama Eric.
Elin lagi-lagi memeluk tubuh wanita yang ada di sampingnya. "Mah, Elin sangat senang sekali. Akhirnya Elin bisa memeluk Mamah, Elin bisa tinggal bareng sama Mamah," isak Elin. Tidak memungkiri hatinya sedih ketika dirinya seharusnya bahagia, tetapi setiap mengingat bahwa dirinya hamil tanpa sumai Elin akan sedih.
Darya mengusap-usap rambut putrinya. Dalam hati Darya sendiri masih terasa sepi ketika ia tidak lagi bisa bertemu dengan putranya. Setiap bertanya pada Diki atau Arya selalu jawab dengan sibuk. Namun, setidaknya rasa kangenya dengan Lucas bisa terobati oleh Elin.
Sampai detik ini Darya belum tahu kondisi Elin yang sedang hamil. Meskipun sebenarnya perut Elin sudah sedikit membuncit, mengingat kehamilan Elin yang sudah memasuki usia empat bulan, tetapi Elin selalu memakai kaus dan pakaian yang besar sehingga sedikit tersamarkan.
Di lingkungan tempat tinggal mereka juga belum ada yang tahu kalau Elin hamil, semuanya Elin yang meminta untuk menutupi kemahilanya, meskipun kalau terbuka sekalipun Elin yakin orang-orang, dan warga yang tinggal sekitar Elin tahu kalau Elin itu pasti hamil karena satu kejadian yang mengerikan malam penculikan itu, tetapi lagi-lagi Elin tidak mau mereka tahu. Selain ia malu juga Elin selalu beralasan tidak mau dikasihani.
********
Lalu bagai mana pernikahanya dengan Mily yang dilakukan karena bisnis? Pernikahan mereka masih berlanjut hingga detik ini dan dari kesepakatan Lexi dan Mily pernikahan mereka akan bertahan dengan waktu satu tahun. Pernikahan kontrak mungkin bisa disebut sepertinya itu.
Hubungan mereka pun hanya sebatas suami istri di atas kertas, bahkan selama Lexi sakit Mily tidak datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Pulang ke rumah puh hanya berkomunikasi seadanya. Mily sibuk dengan pekerjaannya, dan Lexi pun sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan untuk bertemu mereka bisa dibilang sangat jarang.
"Huekkk... Hueekkk... Lexi segera berlari ke kamar mandi hampir setiap pagi laki-laki itu akan bangun, karena perutnya yang mual dan tubuh lemas serta kepala pusing. Untuk sementara diagnosa yang dikatakan Dokter adalah Lexi mengindap alergi dan juga ada ganguan percernaan, dan untuk mengatasi mual yang terus menerus Lexi juga akan melakukan operasi dalam waktu dekat ini.
__ADS_1
Kedua mata Mily terbuka dan ekor matanya melirik ke arah Lexi yang sedang lari terbirit-birit menuju kamar mandi. Awal-awal Mily sangat jijik mendengar suara-suara sumbang itu terlebih hal itu sangat menjijihkan dan mengganggu kalau diingat, tetapi setelah menikah satu bulan ini Mily sudah biasa.
Lexi berjalan dengan lemah. "Kapan kira-kira kamu akan melakukan operasi?" tanya Mily dengan menyodorkan air hangat. Lexi menagmbil gelas yang berisi air hangat dan meneguknya hingga tandas. Tubuhnya yang lemas ia rebahkan di atas kasur.
"Secepatnya, ini sangat menyiksa," lirih Lexi. Ia muntah-muntah seperti ini baru beberapa hari dan biasanya dia memang berasakan sakit di perutnya, tetapi tidak sampai muntah seperti ini.
"Cepatlah kamu menjalani operasi sebelum sakit itu semakin parah," lirih Mily tubuhnya kembali di rebahkanya, jam berangkat kerja masih ada dua jam lagi sehingga wanita itu akan memanfaatkanya untuk istirahat.
"Terima kasih," balas Lexi dengan lemah.
"Cepatlah sembuh aku juga ingin merasakan menjadi istri yang dipuaskan oleh suaminya, bukan suami yang sakit-sakitan," lirih Mily yang saat ini sedang memunggungi tubuh Lexi yang sedang tertidur dengan lemas.
Sakit, itu yang Lexi rasakan dari ucapan Mily. Tidak pernah ia menginginkan sakit seperti ini.
"Maaf aku tidak bisa melayanimu karena tubuhku yang sangat lemas. Kalau kamu menginginkan kita berpisah aku tidak masalah. Perjanjian nikah kita yang satu tahu itu silahkan di batalkan, aku tidak akan menuntut. Tubuhku memang benar-benar sudah lemah," lirih Lexi dengan pasrah, meskipun Mily diam saja, tetapi Lexi tahu kalau istrinya pasti mendengarnya.
"Kamu berhak bahagia dengan laki-laki lain, dan itu bukan aku. Aku sudah sakit-sakitan. Andai aku tau kalau nasibku akan seperti ini pasti aku tidak akan setuju dengan perjodohan ini," racau Lexi, tetapi tidak ditanggapi oleh Mily.
__ADS_1
Meskipun Mily diam seolah wanita itu sudah kembali mengarungi alam mimpi, tapi Lexi yakin kalau istrinya mendengar.
Ia pun berjanji tidak akan marah dan cemburu apabila sang istri mendua. Laki-laki itu sudah merelakan kalau memang jalan hidup seperti itu. Sangat mengenaskan. Dulu ia yang selalu dengan bangga membuat hidup orang lain sulit dan menderita, tetapi sekarang justru dia yang tidak bisa berkutik dengan kondisinya.