
Sementara itu Lexi yang baru saja melakukan operasa satu hari yang lalu, dan kondisinya masih sangat lemah, cukup terkejut dengan apa yang Arya katakan.
"Marco kamu siapkan semua keperluanku dan aku akan pergi ke Indonesia. Lucas membutuhkan bantuanku. Aku harus kesana sekarang juga," lirih Lexi, sembari memberikan ponselnya. Marco sendiri langsung terbelalak kaget dengan apa yang di dengarnya.
"Tuan, kondisi Anda masih sanagt lemah," protes Marco, bagaimana dia akan melakukan penerbangan yang banyak memakan waktu sedangkan kemarin saja dia baru melakukan operasai besar, dan saat ini laki-laki itu masih sering mual-mual.
"Co, aku tidak bisa membiarkan Lucas menyelesaikan ini sendiri, masalah yang dia hadapi terlalu berat. Dia membutuhkan aku. Kalau memang aku harus meninggal setidaknya aku sudah melakukan kebaikan," ucap Lexi dengan gampang.
"Tuan apa yang Anda katakan, bukanya Anda yang selama ini sangat semangat untuk sembuh, tapi sekarang berbicara seolah Anda tidak akan berumur lama lagi?" geram Marco, Laki-laki itu sangat senang dengan Lexi yang sangat bersemangat untuk sembuh bahkan Lexi selalu optimis bahwa ia akan sembuh.
Namun, kali ini Marco seolah melihat sosok lain dengan bosnya itu. "Kamu laksanakanlah apa yang aku katakan, pulang ke rumah dan persiapkan pakaian, lalu katakan pada dokter kalau aku sudah sembuh dan ingin pulang, saat ini juga aku akan terbang ke Jakarta." Lexi kembali meminta ponselnya dia akan memberi kabar pada Mily, wanita yang menyadang setatus istrinya yang baru satu bulan dia menikah, tetapi dalam satu bulan menikah justru Lexi dilanda sakit yang tidak ada hentinya.
Marco pun pada akhirnya mengikuti apa yang Lexi katakan, dia mengurus semua kebutuhan yang akan dibutuhkan oleh Lexi dan semua urusan izin dari rumah sakit dan juga penerbangan. Sedangkan Lexi pun sesuai yang ia katakan. Dia menghubungi Mily.
Cukup lama Lexi menunggu sampai panggilan teleponya diangkat. Yah, ini sudah biasa Lexi alami, seolah Mily sendiri enggan untuk mengangkat pangilan telepon dari laki-laki yang menyandang setatus suamunya.
[Ada perlu apa?] tanya Mily dari balik teleponya, dengan nada yang kurang suka ketika Lexi meneleponya.
[Aku akan melakukan perjalanan saat ini juga ke Indonesia,] Lexi pun tidak banyak berbasa basi langsung menyampaikan niatanya dia menghubungi wanita itu.
[Kenapa keras kepala sekali, bukanya aku sudah bilang. Sabar setidaknya satu tahun, terserah kamu mau ke negara itu juga] geram Mily. Yah Lexi bisa rasakan dari seberang telepon kalau Mily tidak suka dengan caranya.
[Ada masalah yang menimpa perusahaanku di negara itu, dan aku harus menyelesaikanya segera mungkin. Aku pun baru kemarin melakukan operasi. Kalau bukan penting aku tidak akan melakukan ini semua,] balas Lexi tidak kalah dingin dengan suara Mily. Lexi tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya mengingat Mily adalah mantan teman kencan Lucas.
__ADS_1
[Terserahlah, itu hidup kamu jalani saja sesuka kamu, bukanya kita menikah juga karena bisnis, tidak ada cinta di antara kita,] ucap Mily dengan santai.
[Kalau gitu kenapa tidak kita akhiri saja agar semuanya lebih jelas, bersetatus, suami istri pun percuma kalau suaminya sakit istrinya tidak pernah perduli.] Lexi akhirnya menyampaikan apa yang selama ini menjadi unek-uneknya.
[Yah betul, berpisah adalah keputusan terbaik.] tantang Mily.
[Aku akan menyelesaikan hubungan kita sebelum aku meninggalkan negara ini,] jelas Lexi sebelum menutup sambungan teleponya.
[Itu adalah ide yang bagus,] Mily lagi-lagi memancing Lexi.
Nuttt...Nut... Nut... sambungan telepon terputus secara sepihak dan tentu pelakunya adalah Mily, dan Lexi tertawa getir.
'Pernikahan yang singkat hanya satu bulan,' batin Lexi. Apakah dengan bercerainya dirinya dan Mily maka keluarganya akan menyalahkan semuanya pada Lexi? Namun, laki-laki itu sedetik kemudian berpikir masa bodo, dari pada dia terjebak dalam pernikahan yang tidak sehat.
[Apa yang membuatmu menghubungiku?] tanya Ferdi, nama pengacara pribadinya yang sudah lama tidak Lexi repotkan. Dulu-dulu mungkin Ferdi sendiri sampai tidak bisa bernafas dengan tenang karena selalu sibuk dengan masalah-masalah yang di buat Lexi
[Aku ingin kamu mengurus perceraianku,] balas Lexi dengan nada yang dingin.
[Perceraian? Bukanya kamu menikah baru, lalu apa yang membuat kamu bercerai?] tanya Ferdi, ini bukan sekedar kepo biasa, tetapi untuk perlengkapn berkas juga.
[Kita tidak sejalan, dan aku sadah mendapatkan persetujuan dari Mily juga. Kamu urus perceran kami, dan setelah itu Marco akan mengurus tanda tanganku,] titah Lexi, dan Ferdi pun tidak bisa merbuat banyak semuanya sudah menjadi keputusan Lexi.
[Baiklah aku tidak menasihati kamu karena yang menjalaninya adalah kamu sendiri, dan semuanya akan aku berikan infonya melalui Marco.] Setelah urusan perceraian sudah diatasi Ferdi laki-laki itu meletakan ponselnya.
__ADS_1
"Dan pada akhirnya aku akan kembali lagi ke negara itu," lirih Lexi, matanya di pejamkan dengan damai, karena masalahnya dengan Mily setidaknya sudah selesai. Dia tidak akan menceritakan masalah pernikahanya dengan Lucas mengingat Mily pernah menjadi teman tinggal bersama. Biarkan dia akan mengubur kisah pernikahanya yang hanya berjalan selama satu bulan, tetapi bisa membuat setatunya berubah, DUDA.
"Tuan, apa Anda sudah benar-benar yakin? Kondisi Anda masih belum sehat betul," tanya Marco sekali lagi terlebih Lexi terlihat masih sangat pucat, bahkan dokter saja mengatakan kalau laki-laki itu sebenarnya masih harus menjalani rawat inap sampai pencernaanya membaik. Namun Lexi tidak bisa membiarkan Lucas menanggung semua masalah itu sendiri.
"Kamu tahu Marco kalau aku tidak akan berpikir sampai dua kali," balas Lexi, dengan berhati-hati turun dari ranjang pasienya. Berjalan tertatih hendak meninggalkan ruanganya rawatnya.
"Tuan, sebaiknya Anda memakai kursi roda, kondisi Anda masih sangat lemah," tawar Marco dengan menahan Lexi yang hendak membuka pintu berwarna putih.
"Kamu bahkan tahu, kalau tubuhku beberapa kali tertembak, dan aku bisa menahanya. Sama dengan hari ini aku tidak akan mati hanya karena sayatan kecil di perutku," bentak Lexi, tatapanya tajam menatap Marco, dan laki-laki itu pun terpaksa melepaskan tanganya, membiarkan Lexi berjalan dengan dirinya yang mengekor di sampingnya.
"Apa kita akan langsung melakukan penerbangan?" tanya Lexi ketika dia baru masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Iya Tuan, sekarang kita akan langsung ke bandara," balas Marco, tidak banyak berprotes lagi, ia langsung mengantar tuanya ke bandara.
"Kamu tidak perlu ikut aku ke negara itu, kamu urus dulu surat ceraiku dengan Mily setelah itu kamu boleh menyusulku ke negara itu," jelax Lexi.
"Tapi apa Anda akan bisa melakukanya sendiri Tuan? Saya khawatir Anda kenapa-napa."
"Kamu jangan khawatirkan aku, semuanya aman," balas Lexi dengan berjalan meninggalkan Marco yang belum sempat membalas lagi ucapanua.
"Tuan kalau ada apa-apa Anda langsung hubungi saya," pekik Marco dengan suara yang cukup keras, dan Lexi hanya menjawabnya dengan simbol ok, dengan membentuk ibu jari dan jari telunjuk bersatu membentuk huruf O, membrikan kode kalau semuanya akan baik-baik saja.
Bay... bay... Lexi, kamu jangan bikin huru hara yah di Indonesia. Nanti ditendang balik mau kau!!!
__ADS_1