
"Aduh hari ini terasa capek banget," oceh Arya begitu ia masuk ke dalam ruangan Elin. Elin yang sedang duduk di pinggir jendela langsung mengalihkan pandanganya dari taman rumah sakit, ke arah pintu di mana Arya berdiri. Wajah lelah dari laki-laki itu sudah terlihat dengan jelas.
"Banyak pasien yah Dok?" tanya Elin, sebab itu yang dikatakan oleh Arya kalau banyak pasien tugasnya semakin banyak dan pastinya lelah terasa.
"Ho'oh banyak banget, lagi musim panca roba memang seperti itu banyak yang sakit." Arya menggeser kursi untuk berdekatan di samping Elin. "Om Eric kemana?" tanya Arya sembari matanya menatap sekeliling ruangan, bukan hanya tubuhnya yang tidak terlihat tetapi juga suaranya tidak terdengar.
"Biasa Papah sedang ke masjid untuk sholat," jawab Elin dengan seulas senyum.
"Pantesan sepi, biasanya rame. Lihatin apa sih?" Arya juga mengalihkan pandangannya mengikuti mata Elin yang melihat ke taman rumah sakit.
"Lihat pohon saja, dari pada di atas kasur terus, bosen, udah pengin pulang juga, tapi dokter belum izinin, jadi hanya bisa di dalam kamar aja deh," jawab Elin sembari menunjuk pohon-pohon yang menjulang tinggi di sekitar rumah sakit.
Tidak lama Eric pun datang, "Eh, Pak dokter sudah datang, kebetulan Om mau repotin lagi nih sama Pak Dokter kira-kira keberatan tidak?" tanya Eric sembari bersalaman dengan anak dan Arya juga.
"Repotin apa Om, perasaan dari kemarin belum pernah ngerepotin," jawab Arya dengan nada yang bercanda.
__ADS_1
"Ini, Elin katanya bosen-bosen terus kalau di minta makan dengan menu rumah sakit, katanya udah pengin makan hasil masakan Om, jadi rencananya kalau dokter Arya tidak repot dan tidak keberatan mau nitip Elin, sekalian mau masakin juga buat dokter Arya, buat ucapan terima kasih, karena sudah di bantu nolongin Elin, Om tidak bisa membalas apa-apa hanya ucapan terima kasih dari makanan yang Om masak siapa tau ajah dokter Arya suka," ujar Eric, meskipun kata Elin masakanya adalah makanan terenak tetapi belum tentu di lidah orang lain akan sama selera rasanya dengan lidah Elin.
"Wah kalau gitu Arya harus ngucapin banyak terima kasih nih, karena pasti masakan Om Eric rasanya enak, Elin ajah sampai ketagihan, kalau gitu Arya harus di sini nungguin Om Eric bawa makan malam," balas Arya dengan antusias dan menggosok-gosokan tangannya seolah sudah tidak sabar untuk menikmati makanan yang akan Eric olah.
"Alhamdulillah kalau dokter Arya mau makan masakan Om Eric, kalau gitu Om titip Elin yah Dok, kalau di nakal jewel ajah dia biasanya bertingkah soalnya," kelakar Eric, padahal mana mungkin Elin bertingkah dia adalah anak yang paling baik, menurutnya sebagai orang tuanya.
"Iya hati-hati Om di jalan," ucap Arya dan menyalami Eric yang akan melakukan perjalanan pulang kerumahnya.
"Hati-hati Pah di jalan, salam untuk tetangga terkhusus buat yang sudah bantuin cari Elin, dan ibu-ibu yang sudah perhatian sama Elin sampai tanya-tanya di grup RT tempat mereka tinggal, Elin sayang semuanya," ucap Elin agar Eric menyampaikan pada warga sekitar.
"Kamu beruntung banget yah punya Papah yang sangat sayang banget sama kamu, kelihatan banget kalau Om Eric itu sayang banget sama kamu, tidak hanya itu dia juga sosok orang tua yang tidak pernah mengajarkan anaknya untuk berbuat yang aneh-aneh. Beruntung banget kamu, meskipun kamu di besarkan hanya sama Papah kamu tetapi kamu tercukupi dalam segala bidang, tidak kurang satu kasih sayang apapun, jujur aku iri loh Lin. Di mana orang tua aku yang masih lengkap saja kasih sayang kurang baik dari Mamah atau Papah aku," racau Arya badanya kembali duduk di samping Elin.
Gadis yang sedang menikmati semilirnya angin yang masuk dari celah jendela yang di buka sedikit menoleh ke arah laki-laki yang sedang mengatakan rasa irinya pada Elin karena kasih sayang Eric padanya.
"Mungkin ini adalah hadiah yang Tuhan berikan pada Elin, karena sejak lahir Papah di pisahkan dari Mamah sehingga hanya Elin yang jadi teman Papah, dan Allah yang kasihan pada Elin memberikan Papah dengan cinta yang luar biasa," papar Elin, masih menatap wajah dokter Arya yang sudah terlihat sangat dewasa.
__ADS_1
"Aku jadi penasaran dengan kisah Papah kamu dan Mamah kamu. Kenapa yah rasanya hati aku menolak kalau kamu itu anak pelakor sesuai dengan yang Lucas katakan. Rasanya tidak mungkin orang sebaik Om Eric tega meninggalkan Tante aku demi wanita lain, sedangkan dia sama kamu saja sangat sayang sekali, apalagi dengan pasangan terasa mustahil, beliau tega menyakiti hati wanita yang pernah menjadi istrinya. Apa Papah kamu tidak pernah bercerita tentang wanita yang pernah dicintainya dan ibu kamu serta ibunya Lucas?" tanya Arya sangat penasaran dengan masa muda Om Ericnya.
Elin menggeleng, "Papah orang yang tidak pernah cerita masa mudanya dan juga Mamah aku apalagi Mamih dari Lucas. Setiap aku minta Papah untuk bercerita dia selalu bilang tidak kuat untuk mengingat kenangan di masa itu. Tetapi yang aku tahu Mamah aku adalah orang pertama yang singgah di hati Papah aku, dan mereka kabur dan menikah lari, tapi setelah Papah dan Mamah aku dipisahkan paksa oleh orang tua Mamah, Papah mengaku tidak pernah menikah lagi, dan Papah tidak pernah cerita kalau dia memiliki anak selain Elin, aneh kan? Elin juga penasaran apa benar yang di katakan Lucas tentang masa lalu Papah aku. tapi aku belum bisa menggali cerita dari Papah, agar tidak curiga sesuatu. Nanti kalau Papah curiga, dan tahu aku di culik ada sangkut pautnya dengan masa muda Papah malah nanti sedih," terang Elin membagikan cerita sedikit dari yang dia tahu tentang masa lalu Papahnya.
"Iya juga sih jangan sampai kita terlihat tahu siapa penculiknya, karena semuanya demi kebaikan kalian,"
"Iya Dok, Oh iya Dok aku juga tadi sudah bilang sama Papah soal rencana kepindahan kita yang Papah bilang akan pindah ke kampung, dan Papah katanya akan mencoba untuk memikirkan lagi, dan aku bilang juga bahwa dokter Arya mau ikut melindungi aku, takutnya nanti Papah tanya biar kita tidak saling salah jawaban, tidak apa-apakan kalau aku bilang seperti itu?" jelas Elin, setidaknya kalau Elin sudah meminta izin dari Arya, nanti apabila Eric bertanya pada Arya jawabanya akan sama.
"Astaga Elin, sama sekali aku tidak keberatan, dan memang kenyataanya seperti itu kok, aku juga ingin melindungi kamu, malah kalau diizinkan untuk selamanya aku ingin melindungi kamu," balas Arya dengan jujur dan memang pada kenyataanya Arya nyaman berada di samping Elin, mungkin karena mereka ada ikatan darah sebagai saudara atau memang rasa nyaman yang lain. Arya tidak bisa mengucapkan dengan jelas tetapi rasa itu sangat nyata.
"Alhamdulillah, sebenarnya banyak sekali yang ingin Elin bagi dengan dokter Arya, Elin juga ingin meminta pendapat dokter Arya. Entah nasihat Dokter Arya mampu membuat hati Elin tenang dan yakin, untuk memilih pilihan untuk hidup Elin sendiri." Elin dengan lambat gelombang, menunduk memainkan jari-jarinya, Elin takut nanti dokter Arya mengecapnya dengan pemikiran yang aneh-aneh, tetapi memang benar Elin merasa bahwa hidupnya tanpa nasihat dan masukan dari Arya itu seperti kurang puas dan ragu-ragu untuk menentukan pilihannya.
"Apa yang ingin kamu ceritakan dengan aku, katakan lah aku senang ketika kamu percaya dengan aku sebagai orang yang bisa memberikan nasihat-nasihat untuk semua keputusan yang harus kamu ambil," balas Arya, itu tandanya Elin percaya dengan dia.
Elin masih menunduk, "Ini soal keputusan yang dokter Marni tanyakan soal pengambilan keputusan atas tawaran donatur yang ingin memberikan bantuan untuk operasi wajah Elin. Menurut dokter Arya gimana?" tanya Elin, malu sih padahal ini seharusnya menjadi bahan pertimbangan yang mudah buat Elin, tetapi justru Elin meminta masukan dari Arya, Memang Arya siapanya Elin?
__ADS_1