
"Kalau gitu kamu jangan pergi! Kamu hadapi ini semua, jangan jadi pengecut yang kabur begitu saja. Dan kamu Lexi, kamu juga harus perbaiki kesalahan kamu. Elin hamil anak kamu berilah kebahagiaan pada mereka, jangan bikin dia tertekan lagi, sudah cukup penderitaan Elin, kini saatnya dia memetik buah dari kesabarannya." Arya menatap Lucas lalu bergantian dengan Lexi dengan tatapan yang tajam.
"Apa... Elin hamil??" tanya Lucas hatinya semakin merasa bersalah. Beberapa saat kemudian dia langsung mengalihkan pandanganya pada Lexi yang sedang menunduk.
"Apa loe juga sudah tahu akan hal ini Lex?" tanya Lucas, suaranya terdengar berat dan terbata.
Tanpa mengangkat wajahnyaa Lexi menjawab pertanyaan Lucas dengan mengangguk. Lucas menjambak rambutnya dengan kuat.
"Oh ya Tuhan kenapa semuanya menjadi seburuk ini," sesal Lucas, tetapi ia pun tahu bahwa seluas apa ia menyesali perbuatanya, tidak akan memgembalikan keadaan seperti dulu lagi. Tidak akan dengan mudah Elin melupakan kejadian yang mereka perbuat.
Elin akan tetap jadi Elin yang mengalami trauma berat dan juga sodara kebarnya itu saat ini sedang hamil, dengan penyesalanya tidak akan kembali seperti dulu.
'Gimana kalau Lucas tahu Elin juga saat ini sedang sakit yang cukup parah?' batin Lexi. Ingin sekali Lexi menebus kesalahanya dengan merawat Elin sampai sembuh, tetapi ia juga teringat ucapan Philip. Elin tidak akan mau dirawat oleh dirinya, dan pasti ia akan memilih hidup sendiri. Apalagi kalau Elin berdekatan dengan dirinya pasti akan teringat dengan malam kejadian kelam itu.
Yang ada bukanya Elin sembuh dan pikiranya tenang, justru ia akan semakin tertekan dan itu tidak baik untuk kesehatan Elin.
"Peran yang harus kamu perbaiki itu banyak Lucas. Kamu harus perbaiki sebagai suami yang baik untuk Jiara, dia juga wanita yang pastinya mendambakan memiliki suami yang baik, perhatian dan setia. Jiara cukup baik tidak meminta pisah dari kamu meskipun mungkin alasan utamanya demi anak kalian. Tetapi dia juga wanita yang hebat, rela menahan hatinya untuk kebahagiaan buah hatinya. Tentu kamu tahu betul bahwa itu bukalah hal yang mudah." Arya benar-benar memanfaatkan momen ini untuk menasihati Lucas. Momen seperti ini sangat jarang. Di mana ia bisa menasihati Lucas dengan sedekat ini, tanpa bentahan dan umpatan balik dari Lucas seperti beberapa waktu ke belakang. Baru dia menasihati sedikit pasti di bilang jangan sok tahu.
Lexi pun ikut mendengarkan apa yang Arya sampaikan ia kepo dengan apa yang terjadi antara Lucas dengan wanita berhijab itu. 'Apa wanita berhijb itu korban wanita bayaran Lucas dan hamil, lalu punya anak, tapi dari penampilanya wanita itu bukan wanita binal,' batin Lexi menerka-nerka apa yang terjadi dengan Lucas. Namun, Lexi belum juga menemukan jawabanya. Terlalu misterius masa lalu Lucas, padahal mereka dulu selalu bersama, tetapi Lexi ketinggalan jauh tentang kehidupanya Lucas, padahal baru empat bulan ia tidak bertemu dengan Lucas.
Lucas sendiri kali ini benar-benar menurut dengan Arya, tanpa sepupunya menjabarkan perannya apa saja untuk keluarganya, tetapi Lucas sangat tahu betul kalau Anya ada di setiap keluarganya butuhkan.
__ADS_1
"Tidak hanya peran suami, peran Papah untuk putri kamu Zakia. Ini adalah momen kamu mendekatkan diri dengan anak kamu. Tiga tahun dia hidup tanpa kasih sayang Papah, seharusnya saat ini kamu hadir untuk mengobati lukanya, dan memeberikan kasih sayang yang tidak pernah bocah kecil itu dapatkan. Zakia adalah korban kejahatan kamu, dalam hatinya ada luka yang menganga karena perbuatanmu, hanya saja dia masih terlalu kecil untuk mengartikan seberapa sakit luka itu."
Lexi sendiri kembali tercengang kala mendenar ucapan Arya. "Tiga tahun? Anak Lucas tiga tahun? Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Lexi dalam batinya, ia kembali menajamkan pendengaranya. Mendengarkan kata demi kata yang Arya jabarkan. Lexi menatap Lucas yang duduk bersandar dengan loyo dan benar-benar seperti orang salah yang sedang dihakimi. Tidak melawan hanya menjadi pendengar yang baik.
Arya masih melanjutkan nasihatnya, entah sudah menunggu seberapa lama Arya ingin menyampaikan ini semua, dan baru terlaksana saat ini, sehingga Arya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Arya tahu betul kalau saat ini apa yang Arya katakan benar-benar terekam oleh ingatan Lucas.
"Kali ini aku akan membahas peran Anak dan juga Kakak sebagai sodara kembar, di mana kalau kembar biasanya ikatan batinya sangat kuat, banyak hal yang seharusnya kalian lalui semasa hidup ini, mengingat kalain dari embrio saja sudah bersama, tinggal dalam rahim yang sama juga, dan dalam waktu yang sama. Apa kamu tidak ingin menebus dua puluh delapan tahun yang sudah kalian lewati karena berpisah untuk hidup rukun dan saling menyayangi? Lalu peran anak. Mamih dan Papah kamu terutama Om Eric, hancur pasti anak yang sangat ia jaga dari kecil dihancurkan oleh anaknya yang lain, meskipun Tante Ely juga pasti sedih, tetapi yang paling hancur adalah Om Eric, dia orang yang benar-benar hancur pas lihat kondisi Elin pertama kali setelah perbuatan kalian malam itu, bahkan beliau sampai jatuh pingsan saking tidak kuat menahan kesedihan, marah dan penyesalan. Lalu kamu tidak ingin datang pada mereka dan meminta maaf?" Arya untuk yang terakhir kalinya ia sampai bergetar nada bicaranya, ia setiap mengingat perjuangan Eric dan Elin hatinya teriris kembali.
"Aku akan tebus semua kesalahanku dan aku akan berubah untuk mereka," lirih Lucas. Mereka masih terus melanjutkan obrolanya mulai dari membahas Elin, kasus Tamara dan masih banyak yang ia bahas. Terutama Arya yang menasihati Lucas dan Lexi.
Sementara Jiara begitu ia keluar dari ruangan besuk langsung izin pada Arya untuk pulang, karena ia sudah janji pada putrinya ia tidak akan berlama-lama untuk mengobrolnya. Terlebih Marni juga harus kembali bekerja. Sepanjang perjalanaan dia tidak tenang karena pati akan ada keributan gara-gara ucapanya.
"Aduh kira-kira Arya kena omel gak yah? Aku jadi kepikiran, dia marah atau tidak nantinya sama aku?" gumam Jia di dalam taxi. Perasaan Jiara semakin diliputi dengan rasa bersalahnya terutama karena Arya yang lama keluar, dia menebak ada keributan di dalam sana.
Tubuh Jiara semakin panas dingin ketik ia membayangkan kalau keluarga mertuanya termasuk Elin akan marah denganya. "Elin maafkan Kakak yang telah lancang keceplosan ngebahas tentang kalian," lirih Jiara, wanita berhijab panjang itu sampai tidak berani membayangkan bagaimana kemarahan Elin.
"Padahal Elin sudah percaya banget sama aku, tapi malah aku hancurkan kepercayaan dia." Dengan langkah kaki yang berat dan tubuh yang lemas ia langsung kembali ke ruangan putrinya. Jiara tidak bisa menyembunyikan wajah kecewa pada diri sendiri.
"Assalamualaikum..." Sapa Jiara begitu dia masuk dan Zakia sedang istirahat karena baru minum obat.
"Loh Ji, kenapa sudah pulang, bahkan kamu berangkat belum ada satu jam lom," tanya Marni, padahal dia sudah berkata kalau jam prakteknya baru di mulai dua jam mendatang. Kedua mata Marni awas melihat kesekeliling, mencari Arya.
__ADS_1
"Arya sendiri mana?" tanya Marni, ketika tidak melihat kekasihnya bersama Jiara. Marni pun semakin curiga ketika melihat perubahan wajah Jiara yang cemas.
"Duduk sini." Marni menepuk sofa di sampingnya. Ia bisa menyimpulkan kalau terjadi sesuatu dengan Jiara, tetapi masalah apa Marni pun semakin penasaran.
"Apa ada terjadi sesuatu?" tanya Marni lagi, dan Jiara langsung membalasnya dengan anggukan.
"Apa? Kamu bisa cerita ke aku," lirih Marni sembari mengusap punggung tangan Jiara.
"Aku... Aku tanpa sengaja membuat kesalahan. Bibir ini justru menyinggung soal Elin dan juga kedua orang tuanya, dan saat ini Arya sedang membereskan apa yang aku ucapkan," lirih Jiara, dengan menghirup nafas dalam. Hal yang sama pun dilakukan Marni, menghela nafas panjang untuk menghilangkan ketegangan.
"Semua sudah terjadi, ya mungkin memang ini sudah menjadi takdirinya kalau Lucas harus tahu saat ini, dan kamu tidak usah merasa bersalah pasti Arya bisa mengatasinya," balas Marni, meskipun Marni sendiri sudah membayangkan gimana kacaunya Lucas dan ia juga cemas kalau Lucas akan menghajar Arya karena berbohong. Namun sedetik kemudian Marni menepis keraguanya.
"Tidak mungkin Lucas main ribut, apalagi dia sedang ada di kantor polisi pasti ada penjaganya," lirih Marni.
"Marni, aku tidak bisa membayangkan gimana kecewanya Elin dan Papah sama aku nanti," cicit Jiara, hanya satu yang mengganjal pikiranya ia akan bersitegang dengan Elin, padahal selama ini yang memberi kekuatan pada Jiara adalah Elin dan keluarganya, tetapi malah Jiara yang lancang mulutnya membuat rahasia mereka terungkap. Itu yang ada dalam pikiran Jiara saat ini.
"Elin dan orang tuanya tidak akan marah. Mereka tahu kok, cepat atau lambat Lucas akan tahu semua itu, meskipun ditutupi Lucas akan tahu semuanya," lirih Marni sembari terus menenangkan Jiara. Zakia masih sangat butuh fokus dari Jiara jadi jangan sampai wanita dengan satu anak itu justru terpecah pikiranya dengan masalah lain.
...****************...
Teman-teman sembari nunggu kisah kelanjutannya. Yuk mampir ke novel bestie othor...
__ADS_1
Kuy ramaikan...